Recommended

Titik Nol 40: Bhaktapur

Kota tua Bhaktapur (AGUSTINUS WIBOWO)

Kota tua Bhaktapur (AGUSTINUS WIBOWO)

Kota kuno ini begitu indah. Saya sampai lupa mengedipkan mata menyaksikan pagoda Nyatapola yang menjulang megah. Barisan kuil dan istana kuno, gang sempit yang meliuk-liuk, melemparkan saya kembali ke masa silam.

Di antara ketiga kota kuno di Lembah Kathmandu, bagi saya Bhaktapur adalah yang paling indah. Di sini kita terbebas dari ingar bingar kendaraan bermotor dan pengaruh buruk turisme yang merambah Kathmandu. Kota ini juga lebih teratur dan terawat daripada Patan. Keutuhan gedung-gedung masa lalu masih berbaur dengan kehidupan masyarakat yang teramat tradisional.

Kota kuno Bhaktapur atau Bhadgaon dikelilingi tembok. Untuk masuk, orang Nepal tak perlu bayar, tetapi orang asing kena karcis sepuluh dolar. Warga negara Asia Selatan dan Republik Rakyat China cukup membayar 50 Rupee saja. Bagi saya yang berkantung cekak, pilihannya hanya dua – menyamar jadi orang China atau menyelinap pagi-pagi buta ketika penjaga pintu gerbang masih belum bertugas.

Saya memilih yang terakhir, berangkat dari Kathmandu subuh-subuh, berbekal tiket pinjaman dari turis lain (selembar tiket berlaku satu minggu), dan berhasil menyelinap ke dalam kota kuno tanpa membayar sepeser pun. Penginapan di kota ini jauh lebih terbatas daripada Kathmandu. Sejak menjadi bagian dari warisan budaya dunia yang ditetapkan UNESCO, keaslian dan kekunoan Bhaktapur dilestarikan. Tetapi walaupun demikian, internet dan restoran masakan internasional sudah merambah kawasan cagar budaya ini.

Seperti halnya di Kathmandu, pagi hari penuh dengan nuansa mistis di Bhadgaon. Tetabuhan orang Hindu yang memulai puja di kuil-kuil berpadu dengan asap dupa dan harum kemenyan. Saya perlahan-lahan menyusuri jalan kota yang berbatu-batu, mengikuti aliran umat yang terbungkus ketaqwaan mengunjungi kuil yang tak terhitung jumlahnya. Setiap bangunan di kota ini membuat saya ternganga.

Cara orang Newari memanggul beban berat (AGUSTINUS WIBOWO)

Cara orang Newari memanggul beban berat (AGUSTINUS WIBOWO)

Bangunan-bangunan kuno ini terpusat di sekitar lapangan, berselimutkan ukir-ukiran indah, mulai dari gambar dewa hingga ukiran erotis Kamasutra menggambarkan berbagai posisi senggama manusia dan binatang. Ada banyak kuil kuno di Bhaktapur. Tempat favorit saya adalah Lapangan Taumadi di hadapan pagoda raksasa Kuil Nyatapola berlantai lima, atapnya berteras lima lapis. Bentuk arsitekturnya mirip Pura Danu Bratan di Bali, tetapi ini ukurannya besar sekali. Nyatapola, bangunan dari abad ke-18 dengan ukir-ukiran detail dari puncak hingga ke lantai dasar ini, adalah bangunan tertinggi di seluruh kota.

Lapangan Taumadi di pagi hari hiruk pikuk oleh pedagang sayur mayur. Saya tertarik dengan cara orang Newar membawa keranjang. Bukan diusung seperti di Jawa tetapi digantungkan dengan tali yang bertumpu di atas kepala. Pastilah kepala ibu-ibu pasar ini sangat tangguh karena keranjang bisa memuat puluhan kilogram barang. Di Kathmandu, saya pernah melihat kuli yang memanggul dua kardus lemari es besar hanya dengan tumpuan di kepala.

Seorang ibu pasar mengundang saya ke rumahnya yang sederhana. Di rumah sempit di kota kuno ini hidup tiga generasi, dari nenek hingga cucu. Mereka sama sekali bukan keluarga kaya, tetapi masih sempat membelikan sebotol Coca Cola untuk saya. Sungguh sungkan rasanya, tetapi ibu pedagang sayur itu bersikukuh bahwa inilah keramahtamahan orang Nepal.

Di sore hari, giliran pedagang kacang, kripik, biji jagung, sampai VCD yang meraup untung di Lapangan Taumadi. Penduduk desa pun membanjiri lapangan, menikmati udara sore hari yang sejuk. Hari ini langit indah sekali. Mendung biru masih menggelayut, tetapi secercah mentari senja meraupi kuil Nyatapola yang kini bersinar seperti emas.

“Jangan lupa,” kata seorang sadhu yang bisa berbahasa Inggris, “besok lusa kamu harus kembali ke Kathmandu. Ada perayaan besar di Lapangan Hanuman Dhoka.”

Ada tawa riang di rumah yang sederhana (AGUSTINUS WIBOWO)

Ada tawa riang di rumah yang sederhana (AGUSTINUS WIBOWO)

Saya sudah tak ingat lagi apa nama festival yang disebutnya. Nepal adalah negeri Hindu. Jumlah dewa-nya lebih banyak dari penduduknya. Bayangkan, ada 300 juta lebih dewa menurut keyakinan mereka, padahal jumlah penduduknya tak sampai 30 juta. Tak heran, hampir setiap hari ada perayaan. Di Bhaktapur pun hari ini saya terjebak parade tari-tarian perempuan yang merayakan ulang tahun salah satu istri Dewa Krishna. Lagi-lagi, saya tak ingat namanya. Dewa Krishna punya 16.108 istri, moga-moga tidak semuanya harus dirayakan ulang tahunnya. Krishna sangat dipuja, karena ia adalah titisan dari Wishnu atau Narayana.

Ram Ram Govinda…. Ram Ram Govinda..Narayan…Narayan….” para perempuan berbaju sari warna-warni melenggak-lenggok gembira, mengiri tetabuhan yang berharmoni.

Govinda dan Narayana adalah nama lain Dewa Wishnu. Gerakan mereka sangat lincah. Nyanyian mantra pun begitu merdu. Bak karnaval, para wanita mulai dari gadis hingga ibu-ibu, berparade keliling kota. Di bagian tengah adalah para penari, di kanan dan kiri adalah barisan ‘pagar ayu’.

Tak jauh dari parade pemuja Wishnu, di sisi lain kota, di lapangan tukang tembikar, pandita Brahmana berbaju kuning sambil melantunkan jampi-jampi melemparkan sesajian, mulai dari biji-bijian, bunga beraneka warna dan bentuk, hingga apel, dan pisang, ke arah api suci yang membara. Sang pandita dikelilingi seratusan umat, ikut melantunkan mantra suci yang diiringi musik tetabuhan. Pandita lain membagikan prasad – bunga dan sesajian – untuk berkat bagi para umat.

Di negeri yang penuh dengan festival, perayaan, upacara agama ini, sulit sekali mengetahui acara apa yang sedang berlangsung. Bahkan penduduk setempat pun sering kali tidak tahu hari besar apa yang dirayakan setiap hari. Mereka menjalani semua perayaan, gegap gempita acara keagamaan dan parade tarian, seperti rutinitas sehari-hari.

Tari-tarian memuja Narayana (AGUSTINUS WIBOWO)

Tari-tarian memuja Narayana (AGUSTINUS WIBOWO)

Tepat di sebelah umat yang sibuk beribadah dalam upacara akbar, para tukang tembikar sama sekali tak terpengaruh. Mereka sibuk menjemur pot tanah liat di lapangan. Kurva-kurva coklat beraturan, mulus dan halus, berbaris di bawah terik matahari. Upacara besar di samping ini seperti sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Bhaktapur membuat saya merenungkan betapa besarnya pengabdian rakyat kota kuno ini pada agama, pada kepercayaan yang mereka anut, pada kekuasaan yang mereka agungkan. Mereka seakan tak peduli betapa banyak waktu, tenaga, dan uang yang dihabiskan untuk setiap upacara keagamaan yang meriah dengan frekuensi hampir setiap hari, karena spiritual sudah menjadi bagian dari hembus nafas mereka.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 26 September 2008

1 Comment on Titik Nol 40: Bhaktapur

  1. oh, ini pura yang kemarin rusak karena gempa itu ya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*