Recommended

Garis Batas 14: Saudara yang Hilang

Keluarga Yodgor, seorang Khalifa dari Langar, bersama potret pemimpin spiritual Ismaili - Yang Mulia Aga Khan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Keluarga Yodgor, seorang Khalifa dari Langar, bersama potret pemimpin spiritual Ismaili – Yang Mulia Aga Khan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Tiga bulan lalu, saya pernah berada di seberang sungai sana [di Afghanistan –red], bersama rombongan orang-orang penting dari Afghanistan. Ada Shah (raja) dari Panjah, petinggi kecamatan Khandud, dan para tentara perbatasan. Saya menyaksikan sendiri peresmian jembatan internasional yang menghubungkan desa Ghoz Khan di Afghanistan dengan desa Langar di Tajikistan. Jembatan kayu tua, tak lebih dari lima meter lebarnya, mengantarkan segala harapan dan impian orang-orang di Afghanistan sana akan sebuah kehidupan yang jauh lebih baik yang ditawarkan oleh Tajikistan.

Kini, setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer memutar, saya sampai di ujung lain jembatan ini. Bersama Mulloev Yodgor Dildorovich, khalifa atau pemuka agama Ismaili dari desa Langar, dikerumuni tentara-tentara perbatasan Tajikistan, saya menatap lagi jembatan kayu ini. Perbatasan ini disegel rapat-rapat. Tak ada orang yang boleh melintas. Di seberang sana nampak barisan bukit gundul Afghanistan. Entah harapan apa yang disodorkan oleh negeri seberang sungai sana.

Yodgor, khalifah sekaligus guru sekolah dasar, termasuk salah satu dari ratusan orang yang terkesima oleh pembukaan perbatasan itu tiga bulan lalu, pada tanggal 1 Agustus 2006. Pada hari itu, bazaar atau pasar internasional pertama dengan Afghanistan di desa Langar pertama kali dibuka. Orang-orang Afghan dari seberang sungai sana, berbondong-bondong datang dengan keledai dan kuda mereka. Orang Tajikistan sudah naik mobil dan jeep. Peristiwa ini bukan hanya ajang berkumpulnya pedagang dan pembeli, tetapi juga bertemunya kembali keluarga-keluarga yang terpisah oleh garis-garis batas internasional.

Waktu itu, penduduk sepanjang Sungai Pyanj memang bebas menyeberang sungai ke sana ke mari. Desa-desa sepanjang sungai ini saling berhadap-hadapan. Semuanya adalah saudara. Semuanya hidup dalam kedamaian lembah yang tersembunyi. Hingga suatu ketika pada tahun 1938, berdatangan tentara-tentara Rusia yang menyegel sungai ini. Orang-orang tak boleh lagi menyeberang sungai. Mereka senantiasa diingatkan, seberang sungai sana adalah negara lain, negerinya orang-orang berbahaya yang suka berperang dan membunuh. Bersama Tentara-tentara Merah ini datang pula banjir buku-buku merah tentang Lenin dan Karl Marx. Sebelah sungai yang sini, mulai sekarang, harus menyamakan detak jantung dan denyut nadi dengan para komrad di Moskwa sana.

Bibi Yodgor menyeberang dari Langar pada tahun 1936 dan menikah dengan seorang pemuda di Ghoz Khan sana. Ketika perbatasan disegel, wanita Tajikistan ini mendapati dirinya terperangkap di sebuah negara yang bernama Afghanistan. Tak pernah lagi, seumur hidupnya, ia pulang lagi ke kampung halamannya.

Langar hanya seberang sungai Ghoz Khan. Seperti bibinya yang memandangi kampung halamannya penuh kerinduan, Yodgor sering duduk di tepi sungai memandangi Ghoz Khan yang ada di seberang sana. Rumah-rumah nampak sayup-sayup. Sapi-sapi dan keledai asyik merumput. Orang-orang seberang sungai tampak mungil-mungil hanya berupa bayangan saja. Yodgor tumbuh dalam bayang-bayang tentang seorang bibi yang terperangkap di seberang sana.

Inilah partisi kapak yang dengan tanpa ampun memisahkan keluarga-keluarga dan tanpa belas kasihan menentukan takdir manusia-manusia. Ayah Yodgor meninggal tanpa pernah berkesempatan melihat adiknya yang hilang. Si adik, terperangkap di Ghoz Khan sana, mungkin menyimpan kerinduan yang lebih dalam lagi akan rumah tempat ia lahir dan dibesarkan. Semua hanya bayang-bayang dari seberang sungai.Antusias.

Demikian orang-orang desa sepanjang lembah Wakhan ini menyambut pembukaan jembatan di mana kedua dunia yang berbeda ini bisa berkumpul kembali. Pasar bersama, bazaar mushtarak, disambut penduduk desa kedua negara dengan gegap gempita. Di antara kerumunan orang itu ada Yodgor dan Gulchera, istrinya.

Ada pula Wali Jon dari seberang sungai sana yang mengabadikan kegembiraan itu dengan sebuah handycam mungil.Wali Jon membawa seuntai kalung dari batu-batu langka dari lekuk-lekuk pegunungan Badakhshan di Afghanistan sana. Gulchera menyambut dengan air mata bercampur dengan tawa bahagia.

Siapa Wali Jon? Orang ini adalah kepala desa Ghoz Khan, termasuk orang penting dari seberang sungai sana. Giginya putih, kecuali sepasang gigi taring, satu di kiri satu di kanan, yang terbuat dari emas dan berkilau memantulkan cahaya. Gigi emas bukan sesuatu yang lazim di Afghanistan sana tetapi sudah jadi trend di Tajikistan. Anaknya masih kecil, rumahnya besar dan termasuk yang paling mewah di Ghoz Khan. Tetapi yang paling penting dari semua itu, dia adalah anak dari bibi Yodgor, anggota keluarga yang hilang karena terperangkap di negeri seberang.

Yodgor dan Wali Jon adalah generasi kedua dari putusnya silaturahmi keluarga gara-gara sungai yang menjadi perbatasan. Keduanya tak lagi saling mengenal. Tetapi pasar mungil di pinggir desa Langar menjadi penyambung benang yang terputus. Keluarga-keluarga yang terpisah berkumpul kembali dalam haru biru, di tengah riuh rendahnya para pedagang yang menawarkan barang-barang.

“Alangkah indahnya jika pasar itu bisa rutin diselenggarakan,” kata Gulchera yang duduk di hadapan saya tiga bulan setelah pertemuan itu.

Dulu para petinggi menjanjikan pasar bersama dibuka setiap bulan. Hari itu, Gulchera menatap punggung Wali Jon sayup-sayup menyeberangi jembatan kembali ke negaranya. Gulchera tak sabar lagi menantikan datangnya bulan berikutnya, ketika ia akan bertemu lagi dengan Wali Jon. Tetapi tiga bulan berlalu dan penantiannya belum berakhir.

Air mata Gulchera menitik ketika saya menyodorkan kamera digital saya. Foto-foto Wali Jon masih saya simpan. Tiga bulan silam, saya pernah menginap di rumah besar di Ghoz Khan itu. Air mata Gulchera bercampur dengan seutas senyum keharuan menghiasi kerut-kerut pipinya. Saya bisa membayangkan, inilah air mata dan senyum yang sama ketika Gulchera menerima untaian kalung dari Wali Jon.Betapa Gulchera rindu Wali Jon.

Betapa Gulchera bahagia melihat foto-foto Wali Jon dengan bayi kecilnya. Betapa Gulchera tidak percaya, orang asing yang tiba-tiba saja muncul di pintu rumahnya datang membawa pengobat rindunya. Betapa Gulchera ingin berteriak kepada para petinggi itu, untuk terus membuka pasar bersama ini tiap bulan, kalau bisa tiap minggu, tiap hari. Betapa Gulchera …, oh, tak ada habis-habisnya foto-foto Wali Jon ini mengaduk-aduk kembali perasaannya.

Yodgor, Gulchera, dan Wali Jon, hanyalah satu di antara ribuan kisah senada di sini.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan ulang sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 25 Maret 2008

Leave a comment

Your email address will not be published.


*