Recommended

Titik Nol 46: Laporan Kehilangan

Ruang kerja kantor polisi Hanuman Dhoka. (AGUSTINUS WIBOWO)

Ruang kerja kantor polisi Hanuman Dhoka. (AGUSTINUS WIBOWO)

“Sudahlah,” Lam Li menghibur saya yang masih bersedih gara-gara dompet yang tercopet, “Yang lalu biarlah berlalu. Percayalah, sekali kejadian buruk, serentetan keberuntungan akan menantimu. Bukan begitu?”

Lam Li menoleh ke arah dua pandita Rusia. Yang satu sibuk dengan butir-butir rudraksha dan satunya lagi baru saja memasak bubur warna-warni untuk sesaji.

“Tidak, bukan begitu,” kata pria bule berjubah itu, “Dalam ajaran Budha, kalau kamu mengalami kejadian buruk, itu tandanya karma burukmu berkurang. Kejadian buruk masih bisa terjadi lagi, imbalan karma dari apa yang sudah kamu perbuat. Percayalah, semuanya itu ada yang mengatur, karma adalah timbangan yang paling adil.”

Setelah semalam suntuk saya tak bisa tidur gara-gara kecopetan, hari ini pun saya masih belum tenang. Dengan berbekal fotokopi paspor dan foto diri yang memalukan – mata mengantuk dan sembab, rambut acak-acakan, karena baru dipotret dua jam lalu ketika saya masih syok dengan kejadian kemarin, saya menggeret Lam Li dan Qingqing ke kantor polisi di sebelah lapangan Hanuman Dhoka.

Kantor polisi ini tak pernah sepi. Selain polisi yang bersliweran ke sana ke mari, banyak pula pengunjung. Selain saya, ada pula turis yang melapor dompet hilang, paspor hilang, kamera hilang, dan sebagainya. Musim festival begini memang panen raya para maling.

Di ruangan khusus untuk kasus orang asing, ada sebuah papan yang penuh ditempeli kartu identitas macam-macam. Ada kartu pengenal dan kartu mahasiswa dari Polandia, Inggris, China, sampai Afrika Selatan. Di setiap kartu terpampang wajah-wajah pemiliknya. Mereka yang terpampang di sini, suatu saat pasti pernah mengalami rasanya kelabakan kehilangan kartu identitas di Kathmandu. Sayangnya, kartu saya tak ada di kumpulan ratusan kartu hilang ini.

“Petugasnya sedang tak ada,” kata polisi, “Begini saja, kamu tinggalkan foto dan fotokopi paspormu di sini. Nanti saya sampaikan. Seminggu lagi kamu datang lagi ke sini ya. Investigasi sudah bisa dimulai.”

‘Investigasi’, ah betapa indahnya kata itu. Saya menaruh harapan sepenuhnya. Tepat seminggu kemudian, saya datang lagi dengan setumpuk impian – surat laporan kehilangan sudah jadi dan dompet saya berisi kartu-kartu identitas bisa kembali ke genggaman..

Tetapi saya memang terlalu optimis. Jangankan dompet kembali, mengurus laporan kehilangan pun perjuangannya masih sangat panjang. Laporan saya sama sekali belum diketik. Foto dan fotokopi paspor yang sudah saya serahkan seminggu sebelumnya pun hilang, entah terselip di mana.

Di kantor urusan orang asing ini, seorang wanita bertubuh subur, memakai sari yang memamerkan lipatan lemak di perutnya, mengetik dengan mesin tua. Hanya suara ketikan saja yang keras, kecepatan mengetiknya teramat lambat, mengandalkan dua jari telunjuk. Ia bukan sedang mengetik laporan kehilangan tetapi masih ada setumpuk pekerjaan lainnya.

Panj minut. Lima menit lagi ya…” katanya, sementara kedua matanya masih tertuju pada kertas dan papan ketik.

Lima menit orang Nepal… Saya sudah menunggu setengah jam, tak selesai juga.

“Bagaimana kalau saya datang lagi besok lusa?” saya menawarkan.

“Ide bagus. Kalau datang besok lusa, surat ini pasti sudah selesai. Pasti!”

Dua hari penantian berlalu. Saya datang lagi ke kantor polisi. Masih ruangan yang sama, ruang gelap yang sempit bising oleh bunyi mesin ketik. Perempuan bertubuh subur itu sedang tidak ada. Dua petugas lainnya sama sekali tidak bisa bahasa Inggris.

“Tunggu saja setengah jam lagi, ia pasti datang.”

Setengah jam berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda wanita gemuk itu. Kalau kemarin mereka bilang ‘lima menit’ dan dikonversi ke waktu normal saya jadi dua hari, kali ini ‘setengah jam’ standar mereka entah sama dengan berapa hari di dunia normal. Saya minta ijin untuk sarapan dulu, nanti datang lagi.

“Jangan pergi…. Sepuluh menit lagi dia juga datang,” kata pria berkumis yang juga sibuk mengetik.

Tiga puluh, sepuluh, lima menit, semuanya keluar begitu saja dari mulutnya, seolah-olah ia adalah yang berkuasa menentukan aliran waktu yang merayap lambat di kantor ini. Saya bersikukuh untuk pergi sarapan.

Tiga jam kemudian, saya datang lagi ke kantor ini. Ini sudah kali kelima. Perempuan yang ditunggu-tunggu dari tadi belum datang juga. Untung saya tidak percaya ‘sepuluh menit’-nya pegawai yang kini juga sudah menghilang.

Tepat di saat saya sudah hendak melangkah pergi diliputi kekecewaan, perempuan bersari warna biru itu datang. Tugasnya sudah menumpuk, masih ditambah lagi saya yang rewel supaya ia cepat menyelesaikan laporan kehilangan saya.

Ia mengetik dengan dua jarinya yang gemuk. “Tak…tak… tak…”.. Pandangannya berpindah-pindah dari formulir ke papan tuts, sepertinya masih belum hapal letak huruf-huruf mesin ketik. Lima menit menunggu – standar waktu normal – akhirnya jadi pula surat itu. Saya membaca. Nama saya salah ketik. Alamat saya salah ketik. Kewarganegaraan saya salah ketik. Jumlah uang yang hilang pun salah ketik.

Sambil mendengus kesal, ia mengetik ulang. Kecepatan yang sama, tetapi diiring kesal karena pekerjaannya tidak selesai-selesai.

Saya dibawa ke gedung tinggi di sebelah, gelap gulita seperti penjara. Di sini saya menemui atasan perempuan itu. Laporan kehilangan ditandatangani, dan saya diminta bayar 200 Rupee.

Korban kecopetan masih harus bayar pula. Tidak murah untuk selembar kertas ketikan awut-awutan yang saya juga tidak tahu apa gunanya.

“OK, masalah kamu sudah selesai,” kata perempuan itu, meminta saya pulang dan mengecek email tiap hari kalau-kalau dompet saya berhasil ditemukan.

Yang dimaksud dengan ‘masalah kamu’ sebenarnya adalah masalahnya sendiri. Sekarang ia sudah bisa lepas dari turis lugu yang menyambanginya hampir tiap hari. Investigasi… lupakan saja. Melihat cara mereka membuat laporan, saya sudah tak punya harapan lagi dompet saya ketemu, apalagi janji gombal sampai dikirim via DHL ke kedutaan saya di New Delhi.

“Masalahmu sudah selesai. Good luck!” Perempuan itu tersenyum. Saya melangkah gontai meninggalkan kantor polisi Hanuman Dhoka.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 6 Oktober 2008

Leave a comment

Your email address will not be published.


*