Recommended

Titik Nol 56: Bahasa

Dusun Tibet yang tersembunyi. (AGUSTINUS WIBOWO)

Dusun Tibet yang tersembunyi. (AGUSTINUS WIBOWO)

Tak disangka, di desa-desa di seluk pegunungan tinggi negeri terjepit ini, saya mendengar bahasa Melayu dilafalkan di mana-mana.

Lintasan Sirkuit Annapurna sudah seperti menjadi lintasan wajib turis yang datang ke Nepal. Desa-desa di sini pun bergantung pada turisme. Kebanyakan desa yang kami singgahi tidak pernah ada sebelumnya. Hanya karena turis, desa-desa baru bermunculan, menawarkan pemondokan dan warung yang menjual makanan mulai dari dhal bat sampai makaroni, pizza, pasta, dan mashed potato.

Harga makanan di sepanjang Sirkuit ditentukan oleh ketinggian tempat dari permukaan laut. Semua bahan makanan ini diangkut dari tempat rendah di bawah, oleh porter yang membawa berkarung-karung beras, gandum, tepung, sayur, sampai ayam hidup.

Standar harga makanan sudah ditentukan oleh Annapurna Conservation Area Project (ACAP). Di setiap warung selalu tertempel daftar harga standar, biasanya selalu memasukkan dal bat – makanan tradisional Nepal yang terdiri dari nasi dan beberapa macam sayuran. Kalau makan di warung lokal yang bukan anggota ACAP, harganya lebih murah karena bukan ditujukan untuk turis. Harga makanan dengan daging jauh lebih mahal, saya pun jadi vegetarian.

Selain jadi vegetarian, saya pun jadi penggemar makanan Barat macam makaroni, pasta, spageti, apple pie, dan mashed potato. Saking terkenalnya makanan Eropa di pemondokan dan warung sepanjang lintasan Sirkuit Annapurna, jalur trekking ini sampai dijuluki Apple Pie Trail. Saya hampir sama sekali tak mengenal menu Eropa ini sebelumnya. Bagi saya menu-menu ini dulunya adalah kelas mewah. Bahkan saya pertama kali makan mashed potato di Dusun Danakya. Aneh memang, harga masakan Eropa malah jauh lebih murah daripada menu lokal seperti dhal bat yang harus mengikuti standar harga ACAP.

Masakan Eropa itu memang nikmat. Sekali mencicip mashed potato dicampur susu, saya langsung menjadikannya makanan favorit, menu wajib di setiap dusun yang disinggahi. Sampai akhirnya, saya sakit perut.

Waktu berangkat dari Chame, tubuh saya tak kuat jalan lagi. Selain perut melilit, ditambah lagi dengan batuk yang tak berhenti. Oi Lye dan Jörg terpaksa melambatkan langkah untuk menunggu saya. Mereka pun tak masalah. Untungnya lintasan hari ini tidak terlalu berat. Sejak meninggalkan Chame, jalanan sudah beraspal. Entah apa asyiknya treking di jalan aspal, tetapi saya malah bersyukur.

Perjalanan mulai berat setelah kami melewati Desa Bratang. Jalan aspal sudah berakhir. Jembatan gantung melintang, membentang panjang melintasi sungai yang mengalir deras. Bagaimana jembatan logam sebesar ini bisa dibangun di dusun terpencil tengah gunung? Kita harus berterima kasih pada jasa para porter Nepal, yang berbungkuk-bungkuk mengangkut potongan besi besar, melintasi perjalanan berhari-hari naik turun gunung hanya dengan beralas sandal jepit, dari dusun hijau di bawah sana sampai ke sini. Kalau dibandingkan para porter itu, betapa manjanya kita ini.

Perjalanan panjang dan berliku. (AGUSTINUS WIBOWO)

Perjalanan panjang dan berliku. (AGUSTINUS WIBOWO)

Selepas jembatan panjang, jalanan naik dengan curam, melintasi hutan hijau dan gunung padas. Jalan ini sebenarnya terbilang ‘datar’, tetapi ‘datar’ menurut standar orang gunung Annapurna tetap saja naik turun dan memeras keringat.

“Seperti di Indonesia,” kata seorang trekker Brazil dalam bahasa Indonesia yang fasih, “melintasi gunung-gunung ini saya jadi ingat Gunung Kerinci.”

Dia sudah pernah menjelajah Indonesia selama lima bulan, mengunjungi berbagai pulau kecil di Nusa Tenggara dan Maluku.

Saya berjumpa banyak pendaki gunung di lintasan Annapurna yang jatuh cinta dengan alam Indonesia. Selain Jörg yang suka olah raga menyelam di Bunaken, Tanimbar, dan Raja Ampat, rombongan turis Brazil ini menyatakan kecintaannya terhadap gunung dan hutan Indonesia yang katanya tiada bandingnya, juga keramahan penduduknya yang rela memberikan yang terbaik bagi tamu yang datang.

Rasa bangga membuat saya terus memantapkan kaki. Rombongan kami yang semakin lama bertambah besar dan besar, malah lebih banyak membincangkan Indonesia. Anehnya, Bahasa Indonesia jadi bahasa pemersatu kami yang berasal dari berbagai negara ini.

Jangan terkejut kalau orang Nepal pun banyak yang bisa mengerti bahasa kita. Seperti halnya Indonesia, Nepal juga mengirimkan banyak tenaga kerja ke Malaysia. Walaupun gaji mereka di Malaysia tak seberapa, tetapi begitu kembali ke Nepal banyak yang menjadi orang berada, mendirikan hotel dan restoran untuk berbisnis.

Demikan halnya pemilik hotel orang Tibet di Dusun Pisang ini yang lancar berbahasa Melayu setelah bekerja bertahun-tahun di negeri jiran. Penginapannya terbilang yang paling bagus dan sering menerima grup trekker. Karena rasa percaya dirinya yang tinggi, harga kamarnya yang gelap dan dingin sama sekali tak bisa ditawar. Kebanyakan pemondokan di sekeliling Annapurna rela menggratiskan harga kamar untuk diinapi turis, asalkan turis harus makan malam di penginapan yang sama. Harga makanan ditetapkan oleh ACAP, sesuai dengan standar orang asing dan margin keuntungan, untuk menggiatkan perekonomian penduduk.

Hutan lebat. (AGUSTINUS WIBOWO)

Hutan lebat. (AGUSTINUS WIBOWO)

“Macam mana bisa begitu? Tak boleh tawar lagi lah!” lelaki setengah baya itu menolak kami dengan kasar. Entah karena daerah ini dingin sehingga sikapnya juga dingin, atau entah ia pernah punya pengalaman buruk dengan orang-orang bercakap bahasa Melayu.

Akhirnya kami pun menginap di pemondokan ini, karena di Dusun Pisang tak ada banyak pilihan. Walaupun namanya berbau-bau Melayu, di desa ini tak ada yang jual pisang. Selain kamar yang dingin dan gelap, saya masih mendapat bonus selimut bau di atas kasur keras dan seekor lintah di lubang toilet. Pemilik hotel terlalu sibuk melayani rombongan turis Perancis yang datang dengan armada lengkap, yang tentu saja membayar lebih banyak lagi. Sungguh saya rindu suasana pemondokan kecil di dusun-dusun bawah yang lebih seperti keluarga.

Sejak memasuki Pisang, kami sudah seperti di dunia lain. Orang Hindu Newari sudah jarang. Yang nampak mendominasi adalah stupa Tibet, batu mani bertahtakan mantra om mani padme hom, dan kuil Budha Lamaisme.

“Di sini bukan hanya alamnya yang beraneka ragam, etnis dan budayanya pun sangat kaya,” Jörg menyimpulkan.

Rumah penduduk etnis Tibet. (AGUSTINUS WIBOWO)

Rumah penduduk etnis Tibet. (AGUSTINUS WIBOWO)

Dari Besisahar, setelah menempuh perjalanan hampir seminggu, alam berubah drastis. Dari pemandangan hutan seperti di Jawa, sampai tangga batu curam di lereng gunung, hingga sekarang pemandangan batu berlumut tanah tinggi Tibet. Arsitektur pun berubah dari rumah kayu beratap genteng sampai rumah batu gunung yang kokoh. Asap dupa di bawah pohon yang dipuja sekarang berganti tumpukan batu mani. Seperti spektrum, komposisi orang Newari yang Hindu berangsur-angsur digantikan orang Tibet yang selalu memutar tasbih dan silinder sembahyang.

Tetapi apa pun komposisinya, selalu ada yang bisa berbahasa Melayu, bahasa asing terpopuler kedua setelah Bahasa Inggris.

“Mungkin kelak negara ini layak menjadi koloni Malaysia,” Oi Lye bergurau, mengisi malam yang dingin di Pisang.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 20 Oktober 2008

3 Comments on Titik Nol 56: Bahasa

  1. Saya ikut bangga, bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu … 🙂
    Salam kenal om Agustinus Wibowo, your book is great 🙂

  2. Wah terharu di atas sana ketemu orang2 yg jatuh cinta dgn indonesia..bung agus baru di sini saya beranikan diri menulis komentar..selama ini silent reader bung:)

  3. pandu indra?heem sebegitu tertutupkah kepribadian saudara, heeem….

Leave a comment

Your email address will not be published.


*