Recommended

#BoycottBali: Siapa Membutuhkan Siapa?

Saat menentukan destinasi liburan, ada beberapa hal yang biasanya kita pertimbangkan: kemudahan visa, atraksi di destinasi, biaya, keamanan. Tetapi warga Australia diminta untuk mempertimbangkan hal lain: ada tidaknya hukuman mati di destinasi yang dituju.

Itu tergambar dari gerakan boikot dari media sosial Australia dan sempat menjadi trending topic beberapa hari lalu: #BoycottBali.

Gerakan ini berkenaan dengan rencana Indonesia menjalankan eksekusi mati terhadap dua gembong narkoba warga Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, yang ditangkap di Bali pada 17 April 2005. Mereka berdua adalah pemimpin dari kelompok beranggotakan sembilan orang Australia, dikenal sebagai “Bali Nine”, yang berupaya menyelundupkan 8,3 kilogram heroin senilai A$ 4 juta dari Indonesia ke Australia.

Death Row Diaries of Andrew Chan and Myuran Sukumaran (source: news.com.au)

Death Row Diaries of Andrew Chan and Myuran Sukumaran (source: news.com.au)

Di saat-saat terakhir ini, pemerintah Australia gigih meminta pengampunan kepada presiden Indonesia. Tetapi presiden Indonesia yang baru terpilih, Joko Widodo, juga gigih untuk tidak memberikan grasi terhadap kasus narkoba. Jokowi—demikian dia biasa dikenal—beralasan bahwa Indonesia dalam keadaan “darurat narkoba”, dan mengutip data mencengangkan: 4,5 juta orang Indonesia harus direhabilitasi karena narkoba dan 40-50 orang Indonesia mati setiap hari karena narkoba.

Sebagian publik Australia menuding Indonesia yang melaksanakan hukuman mati sebagai negara barbar biadab. Sementara Andrew dan Myu dipandang sebagai korban sebuah sistem peradilan negara dunia ketiga yang korup, juga bahwa mereka adalah “reformed prisoners”, “manusia yang telah berubah”, “telah cukup menjalani hukuman”, bahkan “martir yang telah menginspirasi banyak orang”, dan mengingatkan pembaca bahwa bahwa “setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan dan setiap orang layak mendapat kesempatan”.

Bagaimana gembong narkoba bisa berubah menjadi martir, tentu peran media sangat besar dalam menciptakan narasi ini. Media Australia menurunkan laporan dengan sangat detail mengenai perjalanan hidup duo Bali Nine yang penuh lika-liku itu, bagaimana mereka mengaku menyesal dan menjadi manusia baru, bagaimana orangtua mereka yang tua dan letih berangkat ke Bali demi memohon kemurahan hati Joko Widodo, dan bagaimana mereka harus pulang ke Australia dengan hati terluka setelah mengucap salam perpisahan yang mungkin untuk terakhir kalinya. Kisah-kisah ini memang sangat hidup, menggugah simpati, tetapi nyaris mengubur kenyataan bahwa mereka adalah pengedar narkoba yang tertangkap di sebuah negara Asia Tenggara, yang sayangnya, menerapkan hukuman mati.

Cerita mendetail yang memanusiakan duo Bali Nine itu setahu saya tidak ada di media di Indonesia mana pun, yang menempatkan mereka tak lebih dari sekadar kriminal kasus narkoba yang layak dijatuhi hukuman mati. Sebagian besar publik Indonesia mendukung penerapan hukuman mati ini, yang mereka pandang sebagai penegakan hukum yang tegas di tengah kegentingan bahaya narkoba. Di mata mereka, sama sekali tidak penting apakah heroin ini akan dibawa dari Indonesia ke Australia, ataukah dari Australia ke Indonesia. Gembong narkoba adalah gembong narkoba. Titik.

Australia adalah negara yang menolak hukuman mati untuk tindakan kriminalitas apa pun. Terakhir kali Australia melakukan hukuman mati adalah pada tahun 1967, tetapi sebenarnya baru pada 2010 hukuman mati dihapuskan di seluruh negara bagian dan teritorialnya. Sedangkan banyak negara Asia seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, China, dan juga Indonesia, sangat sensitif terhadap narkoba dan memberlakukan hukuman mati terhadap pengedar narkoba.

Indonesia sempat memberlakukan moratorium hukuman mati selama empat tahun, antara 2009 hingga 2012, namun pada Januari 2015 Indonesia telah mengejutkan dunia dengan mengeksekusi mati enam pengedar narkoba, termasuk warga Brasil dan Belanda. Kedua negara itu memprotes tindakan Indonesia itu dengan memanggil pulang duta besar mereka.

Australia sempat dikira tidak akan melakukan hal serupa, karena Perdana Menteri Australia Tony Abbott saat itu mengatakan bahwa Australia memang menentang hukuman mati, tetapi “yang paling penting adalah mempertahankan hubungan yang baik dengan Indonesia.” Dan hal yang tidak akan dia lakukan, katanya, adalah “mengobrak-abrik hubungan dengan Indonesia.” Australia hanya menjalankan hak yang sama, karena Indonesia juga pernah memohon pengampunan terhadap warganya yang akan dihukum mati di luar negeri.

Semakin dekat dengan eksekusi Andrew dan Myu, Tony Abbott seakan lupa dengan pernyataannya sendiri. Abbott mengancam bahwa Indonesia adalah pihak yang paling rugi apabila tetap meneruskan rencana mengeksekusi dua warga Australia itu, dan akan melakukan segala upaya agar ketidaksenangan mereka dapat diketahui Indonesia. Abbott mungkin tidak tahu, bahwa yang dilakukan Indonesia untuk membebaskan seorang warga Indonesia yang dihukum mati di Arab Saudi adalah dengan membayar ganti rugi sebesar 7 juta rial (US$ 1,87 juta), bukan dengan memaksa Arab Saudi mengubah hukum nasional mereka.

Bali adalah destinasi favorit turis Australia (AGUSTINUS WIBOWO)

Bali adalah destinasi favorit turis Australia (AGUSTINUS WIBOWO)

Reaksi keras juga ditunjukkan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop, yang mengaku telah menerima “begitu banyak keluhan dari warga Australia” dan mengatakan, “Saya pikir warga Australia akan menunjukkan ketidaksenangan mereka, bahkan dengan membuat keputusan ke mana mereka akan pergi berlibur.” Australia menggunakan jalur diplomatik internasional sampai-sampai Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon turut memohon Indonesia membatalkan hukuman mati terhadap dua narapidana pengedar narkoba dari Australia itu.

Saya sendiri tidak percaya bahwa hukuman mati bisa menyelesaikan permasalahan narkoba. Tetapi, saya memandang ini bukan sekadar perdebatan hak asasi manusia antara pendukung dan penentang hukuman mati.

Apabila Australia mengecam hukuman mati yang diberlakukan oleh Indonesia semata-mata dengan alasan hak asasi manusia, mengapa mereka diam saja ketika pada tahun 2008 Indonesia mengeksekusi Amrozi dan kawan-kawan? Mereka adalah warga Indonesia pelaku bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang (termasuk 88 orang Australia dan 38 orang Indonesia). Mengapa media Australia tidak menampilkan tulisan yang memanusiakan Amrozi dan kawan-kawan itu sebagai manusia hidup yang mungkin bisa bertobat, berubah, bahkan menginspirasi?

Kalau Australia berhasrat mengubah dunia dengan membuat semua negara menghapuskan hukuman mati, mengapa mereka tidak memboikot China yang setiap tahun mengeksekusi lebih dari 1000 orang? Mengapa mereka tidak memboikot Amerika Serikat yang pada tahun 2014 telah mengeksekusi 35 narapidana dan pada tahun ini akan mengeksekusi setidaknya 23? Mengapa mereka tidak memboikot Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, India, yang semuanya masih menerapkan hukuman mati?

Apabila mereka memang benar mencintai nyawa manusia, mengapa mereka begitu tega mengusir perahu pengungsi pencari suaka dari negara-negara bersimbah perang Timur Tengah (dengan “asylum-seekers boat turnback policy”), tanpa memedulikan bahwa ratusan orang bisa tewas ditelan ombak Samudra Hindia yang ganas? Mengapa mereka menempatkan para pengungsi itu dalam kamp yang mengenaskan di negara-negara miskin Papua Nugini atau Nauru?

Mungkin, itu karena bukan orang Australia yang menjadi korban. Tetapi kalau memang Australia benar-benar memikirkan kepentingan warganya, kenapa pula baru sekarang ini pembelaan terhadap Bali Nine baru sekarang-sekarang ini begitu bising, pada hari-hari terakhir, ketika sudah tidak ada lagi pilihan mundur bagi Presiden RI selain untuk meneruskan keputusan pengadilan?

Bahwa Andrew dan Myu akan dieksekusi oleh Indonesia juga adalah hal yang istimewa. Buktinya, pada tahun 2005, seorang warga Australia keturunan Vietnam pengedar heroin dieksekusi mati oleh Singapura, tetapi juga tidak ada gerakan orang Australia memboikot Singapura. Indonesia lazim dipandang mereka sebagai negara dunia ketiga yang miskin, terbelakang, korup, dengan sistem hukum yang kacau.

Penduduk lokal melayani turis asing (AGUSTINUS WIBOWO)

Penduduk lokal melayani turis asing (AGUSTINUS WIBOWO)

Reaksi yang terbaru, Tony Abbott mengingatkan Indonesia tentang bantuan miliaran dolar yang diberikan Australia terhadap korban tsunami 2004 di Aceh, dan untuk membalas kemurahan hati itu dengan membiarkan duo Bali Nine tetap hidup. “Saya ingin mengatakan pada orang Indonesia dan pemerintah Indonesia, kami di Australia selalu siap untuk membantu kalian dan kami berharap kalian membalasnya dengan cara ini pada saat ini,” katanya.

Mungkin Tony Abbott perlu diingatkan, bahwa dalam kultur kami mengungkit-ungkit pemberian sendiri kepada orang lain adalah hal yang sangat menghina sekaligus memalukan diri sendiri.

Saya pertama kali merasakan kegelisahan oleh ketidaksetaraan hubungan dua negara ini adalah ketika pada tahun 2005 ketika seorang perempuan Australia bernama Schapelle Corby ditangkap di Bali karena membawa masuk 4,2 kilogram ganja. Seketika ini membangkitkan gelombang simpati dan kemarahan publik di Australia, yang tidak percaya bahwa perempuan muda berkulit putih dan begitu tanpa dosa terancam hukuman mati di sebuah negara dunia ketiga. Begitu luasnya efek Corby itu, sampai-sampai kedutaan Indonesia di Canberra harus ditutup setelah menerima teror bakteri antrhax yang dikirim melalui kiriman paket pos. Televisi Australia juga menyiarkan langsung pengadilan Corby seolah dia adalah figur yang luar biasa penting, dan seorang komentator Australia saat itu menghina para hakim Indonesia sebagai “monyet” karena tidak bicara bahasa Inggris.

Di Australia, lebih dari 100.000 orang menandatangani petisi supaya Corby dibebaskan. Di Indonesia, publik justru menuntut agar Corby yang dijuluki sebagai “Ratu Ganja” itu untuk segera dihukum mati. Corby akhirnya dijatuhi hukuman 20 tahun penjara, tetapi dibebaskan bersyarat pada tahun 2014 setelah menjalani 9 tahun hukuman. Itu terjadi ketika presiden Indonesia masih Susilo Bambang Yudhoyono, dan banyak orang Indonesia yang memandang ini sebagai ketidakberdayaan Indonesia menghadapi tekanan Australia.

Bali tidak hanya tentang surga (AGUSTINUS WIBOWO)

Bali tidak hanya tentang surga (AGUSTINUS WIBOWO)

Selain Corby dan Bali Nine, pada tahun 2005 juga ada satu kasus lagi orang Australia yang ditangkap di Bali karena kepemilikan dua butir ekstasi. Michelle Leslie semula adalah model pakaian dalam, tetapi setelah ditangkap mengaku memeluk agama Islam dan tampil di pengadilan dengan memakai burka. Semua kasus ini sempat membuat hubungan antara Indonesia dan Australia memanas. Dan semuanya terjadi di Bali.

Bali adalah pulau kecil dengan mayoritas penduduk Hindu di tengah Indonesia yang mayoritas Muslim, sering dilabeli sebagai “Pulau Surga”, merupakan atraksi wisata unggulan Indonesia dan destinasi favorit orang Australia. Australia adalah negara penyumbang turis terbesar bagi Indonesia, dan mayoritas turis Australia berkunjung ke Bali. Ini destinasi model surga tropis yang terdekat dan termurah di halaman rumah mereka.

Indonesia sebenarnya tahun 2014 lalu bersiap menyambut 1 juta kunjungan turis Australia per tahun dengan menawarkan fasilitas bebas visa bagi turis Australia. Tetapi awal Januari 2015 ini, Indonesia tiba-tiba membatalkan tawaran itu. Walaupun tidak ada pernyataan resmi pemerintah, ini tentu sedikit banyak berhubungan dengan memanasnya hubungan terkait eksekusi mati duo Bali Nine.

Australia di saat bersamaan juga menggunakan turisme sebagai senjata mereka. Pernyataan Julie Bishop bahwa kasus eksekusi Bali Nine ini akan memengaruhi keputusan ke mana orang Australia akan pergi berlibur jelas-jelas adalah untuk menekan Indonesia. Di balik gerakan publik #BoycottBali adalah harapan (fantasi?) mereka bahwa dengan orang Australia tidak mengunjungi Bali akan membuat Indonesia kelabakan lalu mengubah hukum nasionalnya dan membebaskan kedua orang Australia itu dari hukuman mati.

Mereka punya alasan untuk itu, karena sesungguhnya turisme adalah sebentuk penjajahan. Tengoklah Bali hari ini. Bali telah terlalu banyak mengubah wajah aslinya hanya demi menyenangkan turis, hanya demi mendapat uang dari turis. Sawah-sawah hijau berteras telah dipenuhi hotel dan vila; pemandangan tercantik hanya ada di dalam hotel bintang lima sedangkan orang Bali sendiri semakin terdesak dan kehilangan tanah. Diskotek dan seks bebas yang dibawa para turis kulit putih sejak tahun 1970an sudah menjadi warna dominan di daerah Kuta (sekarang sudah dikategorikan sebagai destinasi rusak, “spoiled”, dan dipenuhi hippie dan backpacker miskin yang mayoritas dari Australia). Tarian-tarian sakral untuk para dewa kini menjadi pengiring turis bersantap malam yang tak menggubris kehadiran mereka di sudut restoran. Upacara suci bisa digelar untuk turis yang membayar. Mental telah terpasung untuk menyenangkan turis; mereka melestarikan budaya dan mempertahankan identitas, tapi tanpa sadar bahwa ada sebagian yang alasannya adalah “agar bule-bule masih mau datang ke Bali.”

Sebentar lagi jumlah turis China akan mengalahkan turis Australia (AGUSTINUS WIBOWO)

Sebentar lagi jumlah turis China di Bali akan mengalahkan jumlah turis Australia (AGUSTINUS WIBOWO)

Desember 2014, dua turis Australia dihajar warga desa di Bali. Kedua lelaki asing itu ditemukan sedang mengencingi toko dan pura pemujaan di halaman rumah seorang warga. Ketika ditegur, turis Australia yang dalam keadaan mabuk berat itu justru memukuli pemilik rumah hingga babak belur, bahkan mengancam akan membunuh. Polisi akhirnya menangkap kedua turis itu. Tetapi warga, termasuk korban yang dipukuli, sepakat berdamai dan membebaskan turis itu, tidak jadi dipenjara. Saya dengar, mereka khawatir kalau kasus ini diteruskan akan membuat turis takut dan tidak mau datang lagi ke Bali.

Tentu, turisme juga membawa kebaikan meningkatkan kualitas hidup. Tetapi ketergantungan total terhadap turisme itu mengkhawatirkan, bahkan membahayakan.

Bali, bagi saya, adalah kutukan sebuah surga. Bali pertama kali dilabeli “surga” oleh pengunjung Barat, yang kemudian membuat warganya menyadari bahwa mereka tinggal di “surga” yang begitu dicintai orang Barat. Imaji surga itu kemudian memasung benak mereka bahwa mereka tidak akan bisa bertahan hidup tanpa kunjungan para orang asing itu (yang mereka sebut sebagai “bule” terlepas dari apa warna kulitnya). Sekilas hubungan turis dengan surganya seperti simbiosis mutualisme, tetapi sebenarnya adalah predatorisme. Surga mengundang turis, dan turis mereduksi surga.

Justru orang-orang luar, luar negeri maupun luar pulau, para turis dan para pemilik hotel dan investor bisnis dan pemilik maskapai penerbangan, yang paling menikmati keindahan surga Bali. Sedangkan orang Bali sendiri, kebanyakan harus berjuang hidup dengan menjadi pelayan hotel, pemandu wisata, sopir, pedagang suvenir, tukang pijat, penerjemah—itu pun masih harus menghadapi persaingan ketat dari para pendatang yang semakin meluberi Bali.

Dan sekarang, dengan begitu besarnya ketergantungan Bali terhadap turisme, mungkin memang sudah sulit untuk melepaskan diri dari lingkaran setan ini. Begitu hebatnya ketakutan dan ketergantungan pada turis itu, sampai-sampai Gubernur Bali memohon kepada pemerintah pusat di Jakarta agar eksekusi mati Bali Nine jangan dilakukan di Bali. Kalau tidak, dia takut, turis Australia tidak mau datang lagi ke Bali.

Menanggapi gerakan #BoycottBali, banyak netizen Indonesia justru memasang foto-foto Bali yang indah, Bali yang “surgawi”, seakan-akan mengiming-imingi turis asing yang berniat memboikot itu untuk tetap datang. Buat apa juga? Tentunya siapa pun harus menghormati pilihan orang lain untuk pergi atau tidak pergi ke Bali, menghormati prinsip-prinsip hidup yang mereka yakini. Jika para mister itu tidak mau datang ke Bali, ya biarkanlah karena mereka berhak atas pilihan mereka. Biarkanlah mereka mencari “surga” baru pengganti Bali yang bebas dari ancaman hukuman mati, mungkin itu akan membawa kebaikan bagi semua. Sebaliknya jika kita sibuk meyakinkan orang bahwa negeri ini indah dan layak dikunjungi dan patut dicintai, mungkin justru itu karena kita sendiri pun sebenarnya belum meyakininya.

Saya mengacungkan semua jempol kepada grup band punk asal Bali, Superman Is Dead (SID) yang mengomentari gerakan #BoycottBali tanpa jejak inferioritas:

Mereka pikir dirinya raja dan semua bisa dibeli dengan dolar. Bali tidak perlu turis-turis sampah seperti itu! Tidak ada negara yang butuh sampah. RESPECT! THATS WHAT WE ALL NEED!

Hidup tidak hanya untuk menyenangkan dan melayani orang lain (AGUSTINUS WIBOWO)

Hidup tidak hanya untuk menyenangkan dan melayani orang lain (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

10 Comments on #BoycottBali: Siapa Membutuhkan Siapa?

  1. Walaupun saya bukan orang Bali dan tidak mengenal Bali secara sepenuhnya. Tapi saya miris ketika melihat warga asli Bali mau diinjak-injak harga dirinya demi uang turis semata, mereka jadi berkegantungan dan rela melakukan apa saja demi turis supaya betah, tidak peduli tanah mereka dirusak, budaya dipermainkan dan harga diri “dilecehkan”. Sedih rasanya.

  2. Kalau kita merunut sejarah, polisi federal Australia mengetahui bahwa sembilan negara Australia berencana menyelundupkan narkoba ke Indonesia pada tahun 2004. Apa yang terjadi? Mereka memberitahu bea cukai Indonesia agar semua ditangkap. Bisa dikatakan bahwa Australia telah menjual kesembilan warga negara mereka kepada hukum asing. Kini status mereka berubah menjadi selebriti.

    Hukum Indonesia memang tidak sempurna dan saya juga tidak yakin pada kinerja sistem yudisial kita, tapi mereka tahu risiko dari penyelundupan narkoba ke Indonesia. Di sisi lain, posisi kepala pemerintahan kedua negara saat ini berada dalam ancaman (akibat isu-isu lain yang tak berkaitan dengan Bali Nine). Pengalihan isu? Ya.

    Mengenai kehancuran Bali akibat pariwisata, tingkat kesenjangan antara kaya dan miskin di Bali adalah salah satu yang tertinggi di Indonesia (skor Gini sekitar 45). Bali menjadi pecandu pariwisata akibat tidak adanya hal lain yang bisa diandalkan selain sektor pariwisata. Bali adalah salah satu dari sedikit provinsi Indonesia yang tidak memiliki SDA. Pertanian tidak dapat menghasilkan uang banyak maka sawah dijual dan berubah menjadi vila, hotel, dsb. Sebelumnya, Bali tidak pernah mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negeri. Kini, ya sebagai pelayan di kapal-kapal pesiar di Karibia dan Eropa. Diversifikasi ekonomi harus dilaksanakan jika Bali ingin keluar dari lingkaran setan ini.

    Agak keluar dari topik tapi sebagai penduduk Bali (walaupun orang tua saya pendatang, saya lahir dan besar di Bali), saya tidak suka pada gubernur saat ini. Beliau terlalu menyembah pariwisata dan tidak memedulikan suara-suara dari dalam provinsi ini yang berusaha untuk mempertahankan keajegan Bali (lihat isu reklamasi Teluk Benoa).

  3. Para pemuda Bali sendiri sudah terlalu silau dengan turisme di daerah selatan. Sedangkan di utara tinggal orang-orang tua yang kebingungan menggarap tanah dan pertanian karena kurang tenaga…

  4. Survey membuktikan bahwa tingkat kunjungan turis australia ke pulau Bali di bulan ini masih sama jumlahnya. Artinya, boikot tidak pengaruh. Dan ini juga membuktikan bahwa warga di australia tidak peduli jika rekannya ternyata perusuh di negara orang lain. Buruan deh dihukum mati!

  5. Karena mereka pikir bahwa kita adalah bangsa yang lemah dan tak mampu berbuat apa2.

  6. daleeeeem banget tulisannya mas…

    sekarang saya jatuh cinta pada tulisan sampeyan :)

  7. Aq dah lama tidak ke Bali.Tapi mengetahui adanya ketergantungan seperti itu jadi sedih juga. Apalagi ada turis yg mengencingi pura, sesuatu hal yang tidak sopan dan melecehkan. Kendati dua Bali Nine dihukum mati, saya percaya Bali tetap ramai dkunjungi para turis karena alamnya yang indah, eksotik, keyakinannya yang khas dan unik.

  8. wahhh, artikelnya keren broo….
    sebenarnya, kita ga butuh australia…hehehehe, tp karena australia kasi angin dan lain-lainnya, akhirnya di mamfaatin warga Indonesia…heheheh

  9. seminggu setelah eksekusi, saya mengunjungi sydney, melbourne, dan adelaide sekaligus. dan warga australia disana tetap ramah ketika mengetahui saya dari Indonesia. padahal tadinya sempat takut juga kalo pergi kesana dan dimusuhi penduduknya

  10. Dwi_samudera // March 7, 2017 at 2:29 am // Reply

    Saya sebagai orang dari tetangga provinsinya Bali, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Pulau Surga itu. Saya rasa, saya tidak cocok di Bali. Saya seorang konservatif, tapi tak membatasi apa yang mau dilakukan orang lain selama tak merugikan yang lain pula. Sedih juga melihat Bali dan kepariwisataannya yang bak gadis dan candu-nya. Belum lagi sentimen tetangga Kaukasian kita yang kadang “sedikit berbeda” sudut pandangnya.
    Namun saya rasa, ini hanya masalah Pemerintah ke Pemerintah saja. Yah, memang menyulut hati rakyatnya karena media yang dikeraskan volumenya.
    Sebagai orang dengan cap stempel Indonesia di kartu penduduk, saya mencintai negeri ini dengan kekurangan dan keagungannya. Dan saya selalu berada di sisi ini, selama saya yakin itu benar. People say : right or wrong is my country. Bagi saya : benar atau “belum berarti salah” tetap negaraku. (Tuh, kan saya konservatif orde baru, wkwkwk)

1 2

Leave a comment

Your email address will not be published.


*