Recommended

Titik Nol (66): Lumbini

Pagoda Mongolia di Lumbini. (AGUSTINUS WIBOWO)

Pagoda Mongolia di Lumbini. (AGUSTINUS WIBOWO)

Setelah mendapatkan visa India, saya langsung menggeret Nefransjah – seorang kawan backpacker Indonesia, untuk bersama-sama berangkat menuju negeri Hindustan.

Perbatasan India dan Nepal yang paling sering dilintasi adalah Sunauli, terletak tiga kilometer di selatan kota Bhairawa yang panas dan kering. Debu langsung memenuhi kerongkongan, begitu kami meloncat dari bus.

Lurus ke selatan adalah India. Belok ke kanan adalah Lumbini – tempat kelahiran Budha. Saya menganjurkan untuk singgah dulu ke Lumbini, bermalam di kota suci itu, dan melanjutkan ke India esok hari. Langit sudah mulai gelap, kendaraan pun tak banyak. Masuk ke negeri yang sama sekali asing di tengah kegelapan malam tentunya bukan hal yang menyenangkan.

Jalan berdebu ke arah Lumbini sunyi senyap, tak ada kendaraan ke arah desa kecil itu. Hanya turis dan peziarah Budha yang ke sana. Sebagian besar kendaraan umum dan truk barang hanya menuju ke India, negara tetangga raksasa yang menawarkan gelimang kemakmuran.

Bulan purnama bersinar, menerangi malam yang berdebu. Saya, Nef, dan seorang backpacker Israel terguncang-guncang di bak truk melintasi jalan batu menuju Lumbini.

Lumbini sungguh berbeda dengan kota Nepal kebanyakan. Biksu Budha dari berbagai negara ada di sini.

Selamat datang di India. Orang Nepal dan India bebas keluar masuk perbatasan tanpa prosedur apa pun. (AGUSTINUS WIBOWO)

Selamat datang di India. Orang Nepal dan India bebas keluar masuk perbatasan tanpa prosedur apa pun. (AGUSTINUS WIBOWO)

“Biksu, apakah Anda tahu tempat di mana besok pagi hari kami bisa memotret sunrise yang paling bagus?” Nef bertanya kepada seorang pria botak berjubah kuning. Sang biksu, seperti sudah diduga, tidak tahu.

Tak ada yang benar-benar kuno di bangunan yang nampak di Lumbini hari ini. Tempat kelahiran Budha Gautama ini baru ditemukan di akhir abad ke-19 oleh arkeologis Nepal. Petunjuknya berasal dari tiang pilar Asoka, bertulis huruf Pali yang isinya bahwa di sinilah tempat lahir Sang Budha. Di sekitar tempat itu kemudian ditemukan pohon Bodhi suci, bekas kolam dan kuil Mayadewi. Yang disebut terakhir kemungkinan adalah tempat Sang Budha terlahir.

Mengenai tempat kelahiran Budha, ada beberapa tempat di India yang punya klaim serupa. Tetapi pilar Ashoka di Lumbini menjadikan kota ini sebagai kandidat terkuat. Pilar, kuil, dan kolam dibangun kembali di tempat ini. Lumbini menjadi tempat ziarah penting umat Budha dari seluruh dunia, bersama dengan Kapilawastu, Bodh Gaya, dan Sarnath di wilayah India.

Nuansa ‘internasionalisme’ itu terasa di kota kecil ini. Negara-negara Budha mendirikan kuilnya masing-masing. Kuil Budha Thailand megah menjulang, membawa detail kecantikan arsitektur khas negeri Siam. Pagoda Burma berwarna emas, berbentuk gemuk menggapai angkasa. Nefransjah begitu terpesona ketika memasuki kuil China Zhonghua Si. Saya terkagum-kagum oleh bunyi genderang biksu Vietnam yang bersembahyang pagi di kuilnya. Masih ada lusinan kuil lain – Mongolia, Bhutan, Tibet, Kamboja, Jepang, India, Korea, bahkan Perancis.

Tak lama kami di Lumbini, sudah harus bergegas menuju pintu gerbang India di perbatasan Sunauli. India dan Nepal memberlakukan aturan perbatasan yang unik. Penduduk kedua negara bebas menyeberang tanpa perlu menunjukkan kartu identitas apa pun, seolah-olah tak ada garis batas yang memisahkan kedua negara. Istilahnya, open border. Keluhan di sana-sini tentang keamanan Nepal yang memburuk dengan datangnya imigran miskin dari India dan kekhawatiran India disisipi gerilyawan Maois dari Nepal, menyebabkan perbincangan kedua negara untuk memperketat perbatasan.

Imigrasi India hanya sebuah meja, bangku, tiga orang petugas berteduh di pinggir jalan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Imigrasi India hanya sebuah meja, bangku, tiga orang petugas berteduh di pinggir jalan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Begitu melewati pintu Nepal yang baru dan bergaya etnik, pintu gerbang India yang bobrok, dari tumpukan batu bata menyambut. “Selamat Datang di India”.. Salah satu kekuatan ekonomi dunia ini ternyata punya wajah yang begitu buruk di pintu gerbangnya.

Lewat pintu ini, sebuah dunia yang sama sekali lain langsung menyambut. Pasar yang campur aduk dan kumuh, penuh dengan sapi yang melenggang santai di mana-mana. Jalan penuh lobang dan genangan air. Orang lalu lalang di mana-mana. Negara ini memang penuh manusia.

Pos imigrasi India terletak seratusan meter dari pintu gerbang, tersembunyi di antara himpitan toko kumuh. Kalau tidak hati-hati, mudah sekali terlupa. Orang India dan Nepal memang bebas keluar masuk tanpa paspor, tetapi orang asing yang lupa mengecapkan paspornya akan mendapat hukuman berat ketika meninggalkan negeri ini.

Kami menumpang bus yang penuh sesak menuju kota Gorakhpur, 70 kilometer dari Sunauli. Dari sini ada kereta api yang langsung berangkat ke Delhi.

Stasiun kereta api Gorakhpur adalah kejutan awal India bagi saya. Stasiun ini penuh sesak dengan manusia, tak terbandingkan dengan stasiun mana pun di China sekali pun. Orang tidur di mana-mana. Bau pesing menusuk hidung. Sapi melenggang santai di ruang tunggu, tak ada yang berani menghalau. Bocah-bocah pengemis berambut gimbal, dengan nada meratap dan menangis, memeluk erat-erat kaki saya, terseret ke mana pun saya melangkah. Bagaimana hati ini tak iba melihat para bocah pengemis ini yang sampai menciumi kaki orang – lambang penghormatan tradisi Hindu India – hanya untuk mendapatkan sekeping uang Rupee? Tetapi begitu sekeping uang Rupee terlempar, puluhan anak lainnya langsung datang menyerbu, menerapkan taktik yang sama, merendahkan martabat dengan menciumi kaki.

Tak ada tempat di dalam kereta India yang penuh sesak. (AGUSTINUS WIBOWO)

Tak ada tempat di dalam kereta India yang penuh sesak. (AGUSTINUS WIBOWO)

Kereta api merapat. Orang-orang dengan tak sabar, tanpa sedetik pun yang bisa dibuang, berloncatan masuk dengan beringas. Pertama kali pula saya melihat keberingasan para penumpang. Saring dorong, pukul, desak, hanya untuk bisa masuk ke dalam kereta. Yang lebih ganas lagi masuk lewat jendela. Untungnya tak sampai ada yang duduk di atap kereta seperti di Jakarta.

Mengapa harus berdesakan? Para penumpang ini adalah mereka yang tak kebagian tiket tempat duduk. Adu jotos pun diperlukan kalau ingin tempat yang nyaman. Perjalanan ke New Delhi tidak main-main, semalam suntuk. Saya pun termasuk kategori penumpang tanpa karcis penuh, berimpitan dalam kereta sesak penuh orang.

India, dengan penduduk lebih dari semiliar, wajahnya begitu nyata. Di kereta penuh sesak ini, bahkan berdiri pun susah karena terlalu banyak orang. Waktu tidur, saya memeluk semua barang, karena kereta ini rawan pencuri dan pencopet. Sepasang kaki bau menempel di wajah saya, dan kaki saya menindih perut seorang pria berkumis.

Kejutan India belum berakhir di sini.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 3 November 2008

Leave a comment

Your email address will not be published.


*