Recommended

Jawa Pos (2015): Traveling Gila tanpa Lewat Udara

Agustinus Wibowo, Traveler dan Travel Writer Muda Indonesia

http://www.jawapos.com/baca/artikel/18472/agustinus-wibowo-traveler-dan-travel-writer-muda-indonesia

Traveling Gila tanpa Lewat Udara

7/06/15, 05:00 WIB

Hidup adalah perjalanan. Sebagai traveler sekaligus travel writer, Agustinus Wibowo tentu sudah akrab dengan jalanan. Stempel belasan negara telah melekat di paspor. Puluhan ribu kilo sudah ditempuh. Banyak cerita dan potret yang telah dihimpun dan dibagi. Apa lagi yang dia cari?

MELIHAT sosok Agustinus Wibowo, orang tidak akan langsung percaya bahwa empunya nama pernah menjajal profesi pewarta foto di Afghanistan. Penampilan sederhana –kaus, celana selutut, serta sepatu olahraga serbagelap– dengan didukung wajahnya yang ramah senyum, pria asal Lumajang tersebut tampak innocent. Bahkan, mengutip traveler Malaysia Lam Li, Agus tampak seperti ’’anak lelaki lucu’’.

’’Jadi, traveler adalah salah satu impian masa kecil saya. Beginilah saya sekarang. Serba berpindah-pindah,’’ kata sulung dari dua bersaudara itu. Padahal, Agus kecil bukan anak yang pemberani. Untuk menempuh jarak ratusan meter, dia lebih memilih naik becak. Padahal, kota tempat dia tinggal, Lumajang, bukan kota yang besar dan ganas. Setiap hari lelaki pemalu itu memilih berdiam diri di rumah untuk membaca buku.

Buku pintar, ensiklopedia, bahkan buku pelajaran menjadi makanan sehari-hari buat Agus. Hobi tersebut membawa berkah buatnya. Selama SD hingga SMA, dia tidak pernah luput dari predikat 10 besar. Pada tahun akhirnya di SMA Negeri 2 Lumajang, pria yang punya nama kecil Ming itu mengambil keputusan besar: kuliah ke luar kota!

Dia mendaftar di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). ’’Seumur hidup, itulah perjalanan pertama saya ke luar Lumajang,’’ ucapnya, lalu tergelak. Namun, masa studinya di Surabaya hanya berlangsung satu semester. Agus memutuskan pindah lebih jauh lagi.

’’Nggak jauh-jauh dari komputer sih. Saya ambil teknik komputer di Tsinghua University, Beijing,’’ ujarnya. Jika di Indonesia bisa menggapai nilai sempurna, di Tiongkok, Agus harus ekstrakeras untuk mendapat nilai 60. Belum lagi kendala bahasa, makanan, dan cuaca. ’’Sempat terpikir jenuh, bosan, bahkan bunuh diri. Tapi, saya punya keluarga. At least, saya harus bikin mereka bangga,’’ lanjut dia.

Studi di negeri mahaluas, Agus kembali ke cita-cita masa lalu: menjadi turis. Dia memutuskan untuk melancong ala backpacker ke Ulan Bator, Mongolia. Negara yang masih bertetangga dengan Tiongkok tersebut disambangi pada 2002. Namun, bukan cerita bagus yang dibawa. Pada awal perjalanan, Agus dirampok.

Tiga tahun setelahnya, dia kembali memulai perjalanan. ’’Meski background saya komputer, saya nggak mau kerja di depan komputer terus. Saat itu saya ingin jadi jurnalis,’’ lanjutnya. Merasa tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalis, dia memutuskan untuk menjadi travel writer. Alasannya simpel, dia bisa berbagi cerita perjalanan dengan banyak orang. Entah dalam bentuk tulisan atau foto.

Menyimak tulisan Agus, pelesirnya terasa punya rasa sendiri. Backpacker, tanpa rencana, dan ke negara-negara asing. Asing berarti jarang dikenal, jarang dikunjungi, dan minim informasi. ’’Saya bukan fans wisata museum atau tempat cantik-cantik. Banyak tanya penduduk lokal, ngobrol, dan tinggal bareng mereka,’’ tegasnya. Uniknya lagi, dia menghindari traveling via jalur udara.

Idealisme traveling ala pria kelahiran 8 Agustus 1981 tersebut membuatnya mantap membuat target gila. Traveling jalur darat Tiongkok–Afrika Selatan. ’’Tapi, akhirnya justru melenceng ke negeri berakhiran –tan. Ya sudah, dijalani saja,’’ ujar Agus, lantas tertawa. Pada 2005, dia mengawali petualangan di Afghanistan.

Bekal USD 2.000 dihemat benar. Perkara akomodasi, Agus sering menumpang di rumah penduduk setempat. Supaya semakin irit, selama berkelana, dia nebeng truk atau mobil yang lewat. Pria yang tengah menyelesaikan proyek kerja sama dengan Tiongkok tersebut juga bekerja freelance untuk menambah bekal jalan. Sifatnya yang open dan mudah percaya membuat banyak orang simpati serta menawarkan bantuan. Namun, hal itu pula yang membuatnya hampir tidak selamat.

’’Saya percaya tiap orang itu terlahir baik. Jadi, tiap menumpang, barang-barang saya tinggal begitu saja,’’ ungkapnya. Jadilah, Agus kerap berada di ujung tanduk. Kecopetan uang saku, kehilangan barang, bahkan hampir kena pelecehan seksual. Namun, dia tidak gentar. Buatnya, tantangan semacam itu adalah bumbu perjalanan. ’’Sebab, dari awal saya sudah pasang mindset bahwa traveling adalah petualangan, harus menantang,’’ tutur Agus.

Terbukti, tulisan perjalanan Agus punya rasa sendiri. Tak melulu soal perang dan kesedihan, meski yang dikunjungi adalah daerah rawan konflik. Selalu ada cerita baik dan menyentuh hati dari orang yang dijumpai. Seperti kehidupan yang tak melulu manis atau pahit. (fam/c19/dos)

150607-jawapos-agustinus-1

Fun Fact tentang Agus

  • Menguasai bahasa Inggris, Mandarin, Urdu, Persia, dan Tok Pisin, bahasa asli Papua Nugini
  • Sempat stres menulis buku ketiganya, Titik Nol
  • Pernah menunggu perahu untuk berpindah desa selama sebulan saat di Papua Nugini.
  • Mengalami hepatitis atau sakit kuning yang kambuh saat berada di India
  • Sering kangen kecap manis saat traveling.
  • Baru memiliki smartphone pada 2013 dan akun instagram pada Januari 2015
  • Jarang menggunakan smartphone saat traveling karena mengurangi kualitas perjalanan.

Tak Merasa Sendiri Saat Berkelana

JAUH dari tanah air dan keluarga tidak membuat Agus merasa sendiri. Lewat perjalanannya, dia merevisi konsep rumah. Buatnya, rumah bisa ada di segala tempat. Selama dirinya merasa nyaman dan diterima, di sanalah “rumahnya”. “Saya punya rumah di India, Pakistan, Afghanistan, dan Papua Nugini. Banyak orang baik yang bisa jadi keluarga,” ungkap Agus saat diwawancarai pada 23 Mei.

Ketika itu Agus berbagi pengalaman dengan penulis dan traveler di Kedai Kreasi, Surabaya. Tak heran, Agus sudah menelurkan tiga buku berdasar pengalaman berkelananya, yakini Selimut Debu, Titik Nol, dan Garis Batas.

Lantaran terpisah ribuan kilometer dari Indonesia, banyak yang mengira Agus semakin asing dengan negeri sendiri. Padahal, dengan melancong, pria berusia 33 tahun tersebut justru semakin bersyukur lahir dan besar sebagai orang Indonesia. Langit biru cerah Indonesia sering Agus rindukan. Dia memaparkan, di Beijing, langit benar-benar tampak jernih hanya lima hari, sisanya kelabu karena polusi.

“Yang paling saya syukuri sekaligus sesali, saya mengenal ibu justru setelah lama berpisah. Saya benar-benar baru tahu sejarah ibu,” ungkapnya. Buatnya, Widyawati adalah sosok perempuan terbaik yang pernah ditemui. Bait puisi dan cukilan pendek di buku ketiganya, Titik Nol, menjadi bukti cintanya kepada sang ibu. Dia amat beruntung karena pernah bertukar cerita sebelum sang bunda meninggal.

Keluarganya—ayah, ibu, dan seorang adik—sempat menentang habis-habisan hobi travelingnya. “Mereka tahunya saya di Tiongkok kuliah dan kerja. Ketahuan saat ulang tahun, saya ditelepon. Keceplosan, ngomong lagi di Afghanistan,” kata dia. Namun, akhirnya keluarga luluh. Murka berganti bangga lantaran tulisan di blog Agus dimuat secara berseri oleh sebuah portal berita online.

Sebagai traveler, penggemar gaya kasual tersebut tidak pernah menghitung negara yang dikunjunginya. Buatnya, perjalanan tidak diukur dari banyaknya negara yang pernah disinggahi. “Hidup kita sendiri saja adalah perjalanan. Tinggal kita mau memaknainya seperti apa. Mau jadi apa selama hidup,” ucap Agus.

Lalu, seperti apa seorang Agus menjalani hidup sekarang? Si anak laki-laki berwajah lucu tersebut kini disibukkan dengan berbagai proyek. Dia diundang ke macam-macam event literasi, mewakili Indonesia sebagai travel writer. Belum lagi proyek menjelajah Papua Nugini, bergabung dalam tip ekspedisi Jalur Sutra, hingga menerjemahkan karya dalam bahasa Mandarin.

“Ada impian membuat buku tentang Indonesia. Tapi sekarang masih fokus dengan buku ketiga saja,” kata Agus. dia menjelaskan, Titik Nol akan dibuat dalam versi bahasa Inggris plus dalam versi film.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

24 Comments on Jawa Pos (2015): Traveling Gila tanpa Lewat Udara

  1. Ditunggu buku selanjutnya Gus Weng.

  2. Hidup adalah Perjalanan…… keren (y) :)

  3. Kereeeennnn…. ^_^

  4. Agus kapan ngeluarin buku baru lagi?

  5. Titik nol mau dibuat film??? Keren abisss..

  6. Mas agus emang lucu….

  7. Kami tunggu buku berikutnya mas Agustinus Wibowo

  8. Kami tunggu buku berikutnya mas Agustinus Wibowo

  9. Ke daerah balkan mas agus..

  10. Ke daerah balkan mas agus..

  11. Ada buku cepat belajar bahasa asing ala om agustinus ga ? Hahahha keren banget

  12. Mbak Wina Bojonegoro…keren dinding cafe nya..

  13. superman ae kalah kendel nek iki…

  14. Ditunggu filmnyaaaaaa :-)

  15. kak kalo di luar indonesia bisa beli buku kk dmn ya ?

  16. PNG nya jg di buat buku dong mas.. Kami tunggu

  17. mas Doan Widhiandono yang keren nih

  18. Keren – keren~ jadi pengen coba overland di asia juga nih mas ^^

  19. Agustinus Wibowo. Saya Jay, orang Malaysia. Saya sudah beli dan baca semua buku kamu. I love them. I love the way you wrote them sungguhpun banyak indonesian words I don;t understand but I made an effort to find out what they meant from my Indonesian friends. I hopw you will continue to write and definitely I will read what is the come from you.

  20. Overland….. Menyisir setiap budaya yang ada dalam perjalanan :)

  21. bahasa asing yang dikuasainya betul-betul anti-mainstream.. pingin traveling ke luar negeri juga, sayang masih terkendala modal..

Leave a comment

Your email address will not be published.


*