Recommended

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography.

Para tentara Tajikistan memberikan penghormatan kepada Rudaki, sang pujangga pahlawan nasional.

Para tentara Tajikistan memberikan penghormatan kepada Rudaki, sang pujangga pahlawan nasional.

Bagasi Masa Lalu

Alkisah, seribu tahun silam, Rudaki sang pujangga Tajik cemas melihat raja junjungannya terlena pada kenyamanan hidup di kota Herat (kini wilayah Afghanistan) dan tampaknya akan melupakan takhta kerajaan di ibukota Bukhara. Kepada sang raja, Rudaki melantunkan puisi legendaris ini:

Kucium semerbak harum Sungai Muliyan,

Bangkitkan kenangan manis pada dia tercinta

Gerunjal bebatuan Sungai Amu tajam meradak,

Di telapak kakiku begitu lembut laksana sutra

Puisi itu seketika membuat raja Nasr II dari Dinasti Samani bangkit dari duduknya, langsung meloncat ke punggung kuda bahkan lupa mengenakan sepatunya, memacu kuda dengan kecepatan penuh tanpa berhenti hingga mencapai ibukota tercinta: Bukhara.

Itulah satu dari begitu banyak kisah menakjubkan tentang Rudaki yang saya dengar dari penduduk desa Panjrud. Desa tempat beradanya makam Rudaki ini terletak 55 kilometer di barat kota tua Panjakent, kota perbatasan Tajikistan yang pernah menjadi salah satu kota paling ramai di dunia pada masa keemasan Jalur Sutra. Desa ini berada di selatan aliran Sungai Zeravshan (namanya berarti “Penyebar Emas”), tersembunyi di balik lekukan pegunungan cadas di mana sejumlah perusahaan pertambangan emas dari China kini beroperasi.

“Di sini semua orang, termasuk anak yang paling kecil pun, hafal syair-syair Rudaki,” kata Maruf Kamilov, seorang guru dari desa ini, “Karena syair-syair itu mengalir dalam darah kami.”

Rudaki diagungkan sebagai Bapa Pendiri Kesusastraan Klasik Persia, orang pertama yang menulis syair dalam huruf Arab Persia. Sebuah bangunan berkubah seperti masjid didirikan di desa pada tahun 1958, di lokasi yang dipercaya sebagai makam sang pujangga besar. Di dalamnya terdapat sebuah nisan kecil di atas lantai pualam. Orang-orang dari berbagai penjuru negeri datang berziarah, memanjatkan doa di sekeliling nisan. Pada museum, perpustakaan, dan taman di sekeliling makam juga bertaburan papan bertulis kutipan syair Rudaki, dalam huruf Sirilik Rusia, sebagaimana bahasa Persia Tajik sekarang dieja. Huruf Arab Persia yang dirintis oleh Rudaki itu kini tak terbaca oleh mayoritas penduduk Tajikistan.

Orang Tajik adalah satu-satunya bangsa penutur bahasa Persia di Asia Tengah, sementara Uzbek, Kirgiz, Kazakh dan Turkmen adalah penutur rumpun bahasa Turk. Orang Tajik juga memiliki karakter fisik yang sangat “Barat”: hidung mancung, kulit putih, garis wajah yang tegas, mata besar, alis mata tebal yang terkadang bersambung di atas hidung, beberapa bahkan memiliki bola mata hijau atau biru. Negara bagi bangsa mereka,

Tajikistan, adalah negara terkecil di Asia Tengah, kira-kira hanya seluas provinsi Liaoning di China, dengan 93 persen wilayahnya berupa pegunungan, dan lebih dari 50 persen berada di atas ketinggian 3.000 meter yang sulit dihuni manusia. Keterbatasan geografis ini menyebabkan tidak banyak peninggalan peradaban tua Jalur Sutra yang tertinggal di wilayah Tajikistan. Namun bangsa Tajik percaya bahwa merekalah bangsa tertua di Asia Tengah, jauh sebelum datangnya orang-orang Turki yang kini mendominasi wilayah ini.

Salah satu penjelasan dari nama “Tajik” adalah kata taj—dalam bahasa Persia berarti “mahkota”— orang-orang yang memakai mahkota. Bangsa Tajik merunut sejarah mereka sebagai keturunan bangsa Sogdiana, bangsa pedagang Persia kuno yang membangun kota tua Samarkand, yang konon menyuapi bayi-bayi mereka dengan gula sejak masih orok sehingga senantiasa bisa bermulut manis demi menjadi saudagar piawai. Bangsa Persia di Asia Tengah ini juga menghasilkan begitu banyak ilmuwan yang berkontribusi penting bagi peradaban dunia. Sebut saja Ibnu Sina Sang Bapa Kedokteran, Al Biruni Sang Bapa Matematika dan Astronomi, Firdausi penulis epos Kisah Raja-Raja (Shahnama), dan Umar Khayyam pujangga Persia yang karyanya tak lekang zaman.

Kebanggaan bangsa Tajik yang paling utama adalah dua kota agung yang namanya bersinar sejak zaman Jalur Sutra: Samarkand dan Bukhara. Keduanya adalah bekas ibukota kerajaan Samani—dianggap sebagai negeri Tajik pertama—yang berdiri pada abad ke-9. Kerajaan Muslim ini membentang dari Iran hingga seluruh Afghanistan, dari Kazakhstan Selatan menyambung ke Kirgizstan dan Turkmenistan, mencakup seluruh Uzbekistan hingga mencapai pesisir selatan Pakistan. Namun, kota tua Samarkand dan Bukhara yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang berbahasa Tajik itu kini berada di wilayah Uzbekistan, dan semakin dikenal dunia sebagai ikon Uzbekistan—bukan Tajikistan.

Tajikistan, sebagaimana halnya Uzbekistan dan negara-negara “Stan” lain di Asia Tengah, sebenarnya adalah entitas modern bentukan Uni Soviet. Tajikistan berawal sebagai daerah otonomi di bawah Republik Sosialis Soviet Uzbekistan pada tahun 1924, lalu berdiri sebagai Republik Sosialis Soviet terpisah pada tahun 1929. Saat garis batasnya ditetapkan, Tajikistan mendapat daerah gunung-gunung gersang di sebelah timur, dengan ibukota Dushanbe, yang semula adalah sebuah desa kecil tempat diselenggarakan pasar setiap hari Senin. Nama Dushanbe sendiri berarti “Hari Senin”.

Orang Tajikistan menganggap bahwa mereka telah diperlakukan tidak adil untuk mendapatkan negara yang begitu sempit dan tanahnya tidak terlalu berharga ini. Sedangkan kota-kota yang dihuni orang Tajik tetap berada di Uzbekistan. Saat itu terjadi keanehan dalam sensus penduduk yang menjadi dasar penetapan batas Tajikistan. Misalnya di Samarkand, yang pada tahun 1920 tercatat memiliki 45 ribu orang Tajik dan hanya 3 ribu orang Uzbek, dalam sensus 1926 mendadak menjadi 10 ribu orang Tajik dan 43 ribu orang Uzbek.

Tajikistan menuduh bahwa warga Tajik dipaksa untuk mencatatkan diri sebagai Uzbek, dengan diancam akan diusir dari Uzbekistan ke gunung-gunung terpencil Tajikistan jika berani menolak. Sedangkan Uzbekistan memandang, orang-orang berbahasa Persia di negaranya sesungguhnya adalah orang Uzbek yang telah mengadopsi bahasa dan budaya Persia, sehingga bahasa tidak bisa digunakan sebagai dasar penentuan etnis. Dalam kebanyakan kasus, orang Tajik dan orang Uzbek memang sulit dibedakan secara fisik.

Hingga hari ini, hubungan antara Tajikistan dan Uzbekistan tetap tegang. Sejarah hanyalah satu isu dari begitu banyak permasalahan antara kedua negara bertetangga yang sebenarnya paling berdekatan dan bermiripan ini. Perselisihan kedua negara tak pernah lepas dari isu perbatasan. Misalnya baru-baru ini, ketika Tajikistan yang kekayaan paling berlimpahnya adalah gunung dan sungai deras ini berencana membangun pembangkit hidroelektrik Rogun yang akan menjadi bendungan tertinggi di dunia, Uzbekistan protes keras karena khawatir akan mengganggu aliran air ke negeri mereka; Presiden Uzbekistan bahkan terang-terangan menyebut proyek Tajikistan itu “proyek bodoh”.

Tidak ada penerbangan langsung antara kedua negara, antara Tashkent dan Dushanbe yang berjarak hanya 300 kilometer, penumpang harus transit dulu di Moskow atau Almaty. Kedua negara menerapkan visa kunjungan satu sama lain yang sulit didapat. Uzbekistan melarang mobil berplat nomor Tajikistan masuk ke wilayahnya, dan Tajikistan menerapkan pajak bagi mobil berplat Uzbekistan. Uzbekistan juga sering tiba-tiba menutup pintu perbatasannya. Tanpa seorang warga Tajikistan pun yang tahu sebabnya, perbatasan antara Samarkand dengan Panjakent (yang hanya berjarak 70 kilometer) telah beberapa tahun ini ditutup Uzbekistan. Yang jelas, semua ini mempersulit interaksi antara sesama orang Tajik di kedua sisi perbatasan.

Kini, dengan tanah yang terbatas, Republik Tajikistan modern yang berdiri pada tahun 1991 berusaha membangun kebanggaan mereka sebagai bangsa besar. Ketika Uzbekistan mengangkat figur Timur pendiri Dinasti Timuri dari abad ke-14 sebagai pahlawan agung, Tajikistan membanggakan sejarah yang lebih tua lagi, sejarah ribuan tahun, dengan menjadikan Ismail Somoni pendiri Kerajaan Samani sebagai “Bapa Pendiri Tajikistan”.

Patung-patung raksasa Ismail Somoni didirikan di berbagai kota Tajikistan, menggantikan patung-patung Lenin yang pernah mendominasi negeri ini. Demikian juga patung-patung berbagai pujangga dan ilmuwan yang pernah bersinar di zaman Dinasti Samani. Tajikistan menamai mata uang mereka “Somoni”, dengan dua pecahan tertinggi bergambar Ismail Samani dan Rudaki. Nama-nama jalan utama di berbagai kota Tajikistan umumnya adalah Jalan Ismoil Somoni atau Jalan Rudaki. Puncak gunung tertinggi di Tajikistan dan seluruh bekas Uni Soviet, pada ketinggian 7.495 meter di rangkaian Pegunungan Pamir, yang semula bernama Puncak Stalin kemudian menjadi Puncak Komunisme, pada tahun 1998 diganti namanya menjadi Puncak Ismoil Somoni.

Ironisnya, wilayah pegunungan Tajikistan-modern ini hanyalah kawasan pinggiran dan perbatasan kerajaan besar Samani. Dengan Samarkand dan Bukhara—akar masa lalu mereka—berada di seberang batas sana dan semakin mustahil untuk dikunjungi, nostalgia kebanggaan peradaban ribuan tahun itu kini berwujud simbol-simbol yang bertaburan di seluruh penjuru republik mungil ini.

(bersambung)

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1): Bagasi Masa Lalu

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2): Kerinduan dari Seberang Sungai

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3): Dimensi Mimpi

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4): Selatan dan Utara

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5): Garis Batas yang Tanpa Garis Batas

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6): Pulau di Tengah Daratan

Patung Ismail Somoni bertaburan di seluruh negeri.

Patung Ismail Somoni bertaburan di seluruh negeri.

Semua orang di sini hapal syair-syair Rudaki.

Semua orang di sini hapal syair-syair Rudaki.

Kota Istaravshan merayakan ulang tahun ke-2500 tahun.

Kota Istaravshan merayakan ulang tahun ke-2500 tahun.

Tajikistan adalah negara Asia Tengah yang paling cepat menjadikan Islam sebagai identitas baru pasca-Soviet.

Tajikistan adalah negara Asia Tengah yang paling cepat menjadikan Islam sebagai identitas baru pasca-Soviet.

Di tengah menguatnya identitas Islam, patung Lenin masih bertahan di Tajikistan

Di tengah menguatnya identitas Islam, patung Lenin masih bertahan di Tajikistan

Wilayah Tajikistan dulunya adalah tanah suci umat Buddha.

Wilayah Tajikistan dulunya adalah tanah suci umat Buddha.

Generasi masa depan.

Generasi masa depan.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1)

  1. Terimaksih wawasannya Agustine.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*