Recommended

Titik Nol 75: Diwali

Aneka ragam manisan menyambut Diwali. (AGUSTINUS WIBOWO)

Aneka ragam manisan menyambut Diwali. (AGUSTINUS WIBOWO)

Di tengah kegelapan malam, bunyi ledakan petasan bersahut-sahutan. Semua gembira menyambut datangnya Diwali.

Malam nanti adalah malam Diwali, hari raya terpenting bagi umat Hindu, Sikh, dan Jain di India. Saya berjalan ke arah kota kuno Jaipur ketika matahari baru mulai bersinar. Kota tua dikelilingi tembok berwarna merah jingga. Bentuknya kotak persegi, dengan gerbang kota masing-masing di utara, selatan, timur, dan barat.

Di gerbang barat, pagi-pagi begini sudah ramai orang berjualan bunga berwarna kuning dan merah yang diuntai menjadi kalung panjang. Di hari Diwali ini, ribuan umat membanjiri mandir – kuil Hindu yang tersebar di mana-mana. Untaian bunga-bungaan ini dikalungkan ke patung dewa dewi dalam mandir.

Selain bunga dan sesajen, Jaipur juga penuh manisan dari berbagai bentuk, warna, dan ukuran. Ada laddu yang berupa manisan bulat seperti bola, terbuat dari tepung yang berbalut cairan gula. Ada mithai dari susu. Ada pula barfi yang berbentuk kotak dan beralas kertas perak. Semua manisan ini rasanya cuma satu – manis. Segigit saja rasanya sudah seperti menelan bersendok-sendok gula yang dicampur susu.

Acara paling penting dalam Diwali adalah sembahyang puja di malam hari. Setiap tahun, waktu untuk melaksanakan puja Diwali berbeda. Orang harus mendengarkan informasi terbaru dari radio tentang saat puja yang tepat. Perhitungannya dilakukan oleh orang suci yang mengkalkulasi pergerakan bulan dan bintang. Kata Aman, tahun ini acara puja yang paling sempurna dilaksanakan pukul 19:52 sampai 20:08, atau delapan menit sebelum dan sesudah pukul delapan.

Diwali, festival cahaya, dihias ribuan lilin yang berkelap-kelip di atas diya di seluruh pelosok kota. (AGUSTINUS WIBOWO)

Diwali, festival cahaya, dihias ribuan lilin yang berkelap-kelip di atas diya di seluruh pelosok kota. (AGUSTINUS WIBOWO)

“Saya ingin sekali melihat sembahyang puja,” pinta saya kepada Aman.

“Jangan khawatir, nanti kamu pergi dengan adik sepupu saya saja,” katanya

Bukankah keluarga Aman adalah umat Muslim?

“Tak masalah,” Aman menukas, “Ada seorang kawan baik saya yang orang Hindu. Tadi saya sudah tanya mereka, katanya boleh ajak kamu.”

Sebagai Muslim India, saya merasa Aman sangat berbeda dengan tipikal Muslim di negara tetangga Pakistan. Bukan saja ia sering tak berpuasa, malah katanya ikut acara puja Diwali sama sekali tidak masalah.

Malamnya, saya dibonceng sepupu Aman ke kota kuno Jaipur. Suasana perayaan semakin terasa. Jalanan penuh oleh orang berjalan kaki. Jalan raya diblokir, kendaraan tak boleh lewat. Kami harus putar-putar sampai setengah jam lebih baru sampai di tempat umat Hindu kenalan Aman.

Rumah ini besar sekali. Lantainya keramik. Nampaknya memang bukan keluarga biasa. Teman Aman adalah seorang dokter, termasuk keluarga kasta Brahmin yang cukup terpandang. Di dahinya ada seoles coretan tika warna merah. Kami langsung menuju ruang sembahyang.

Di ruangan ini lampu dimatikan. Di sudut ruangan ada gambar Dewa Ganesh yang berwajah gajah dan Dewi Lakhsmi – dewi kemakmuran, ditempel bergandengan. Ada kalung bunga-bunga yang melingkar di atas gambar itu. Di hadapannya setumpuk sesaji, manisan, buah-buahan, dan gambar dewa-dewi lainnya. Sang ibu, berpakaian sari warna ungu, duduk di hadapan altar. Suami dan anak-anaknya bersila di sekelilingnya.

Sebelum acara puja dimulai, tangan kiri saya digelangi seutas benang berwarna merah kuning. Benang ini disebut mouli, selalu hadir dalam acara sembahyang orang Hindu. Pemasangan mouli adalah untuk menerima pemberkatan dari Dewa. Hanya perempuan kasta Brahmin saja yang boleh memasang di pergelangan tangan kanan. Tuan rumah juga memasang mouli di pergalangan tangan sepupu Aman yang Muslim. Kami berdua langsung duduk bersila di belakang keluarga Hindu ini.

Diwali Puja, untuk mendapatkan berkah di tahun baru. (AGUSTINUS WIBOWO)

Diwali Puja, untuk mendapatkan berkah di tahun baru. (AGUSTINUS WIBOWO)

Masing-masing mereka memegang sebatang dupa yang ujungnya api memercik seperti kembang api. Mereka melantunkan mantra yang berirama seperti lagu yang lembut dan monoton. Dupa itu dipegang dengan tangan kanan, diputar-putar sepanjang alunan mantra. Setelah selesai, dupa ditancap di depan altar. Tuan rumah membubuhkan tika merah di atas dahi saya. Lagi-lagi, sepupu Aman yang Muslim juga menerima tika dari keluarga itu. Tika, yang sering menjadi ciri orang India dalam film Bollywood, sebenarnya adalah bagian dari ritual Hindu setelah melaksanakan puja.

Kembali saya dibonceng pulang oleh sepupu Aman. Kami melintas daerah kota kuno yang meriah oleh kelap-kelip lampu. Jaipur semakin ramai oleh ledakan petasan di mana-mana. Berkali-kali saya tersontak kaget oleh berondongan bunyi petasan yang tiba-tiba. Bocah-bocah melemparkan petasan ke tengah jalan. Sepeda motor kami hampir melintas di atas petasan yang tepat meledak. Ada pula petasan yang sudah disulut melayang persis di sebelah telinga saya. Sungguh berbahaya.

Saya masih ingin berbaur dengan kesukariaan penduduk Jaipur merayakan Diwali. Sepupu Aman mengkhawatirkan keselamatan saya. Ia ingin mengantar saya langsung pulang. Bagaimana pun juga saya adalah tamu hotelnya (yang cuma penginapan murah seharga 100 Rupee per hari). Tetapi akhirnya saya berhasil membujuknya untuk membiarkan saya berkeliaran sendiri di kota.

Perayaan Diwali penuh dengan api dan petasan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Perayaan Diwali penuh dengan api dan petasan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Gang-gang kecil Jaipur sungguh indah di malam Diwali ini. Lilin mungil yang tersebar di berbagai sudut, gemerlap di atas mangkuk mungil diya dari tanah liat. Diwali adalah festival cahaya, di mana cahaya pencerahan nurani mengalahkan kegelapan dunia. Lilin kecil dan lentera kandil yang berkelip di sudut jalan melambahkan keteguhan terang nurani.

Semua orang tumpah ruah di jalanan Jaipur yang lurus dan teratur. Malam yang gelap menjadi terang benderang oleh semaraknya lampu jalan yang secara serentak dinyalakan. Segala macam jajanan ditawarkan di pinggir jalan. Juga ada berbagai permainan arena pasar malam.

Malam Diwali sungguh malam yang indah.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 14 November 2008

Leave a comment

Your email address will not be published.


*