Recommended

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography.

Sungai Amu Darya, selebar 20 meter, memisahkan Afghanistan dan Tajikistan di kedua sisinya seabad jauhnya.

Sungai Amu Darya, selebar 20 meter, memisahkan Afghanistan dan Tajikistan di kedua sisinya seabad jauhnya.

Kerinduan dari Seberang Sungai

Gambaran fisik Tajikistan yang paling gamblang dalam imaji kebanyakan orang tentu adalah gunung-gunung tinggi bertudung salju menggapai angkasa. Tidak salah memang. Belahan timur Tajikistan adalah kawasan pegunungan Pamir yang hampir seluruhnya berada di atas ketinggian 3.000 meter, dan dijuluki dengan sangat romantis: Atap Dunia.

Jalan beraspal M-41 (dikenal juga sebagai “Pamir Highway”) yang bertabur lubang dan meliuk-liuk di tepi jurang pegunungan cadas yang nyaris tegak lurus ini menghubungkan Dushanbe dengan Pamir. Nama wilayah ini sebenarnya adalah Provinsi Otonomi Pegunungan Badakhshan, atau lebih dikenal dengan singkatan bahasa Rusia: GBAO. Luasnya sekitar 45 persen luas Tajikistan, tetapi populasinya hanya 5 persen penduduk nasional.

Jip Rusia kami menyusuri jalan sempit sepanjang tepian Sungai Amu Darya, garis batas alami antara Tajikistan dengan Afghanistan. Lembah sungai tidak terlalu lebar, siapa pun bisa melihat dengan jelas kehidupan di negeri seberang sana. Paralel dengan jalan yang kami lewati di Tajikistan ini adalah sebuah jalan setapak sempit berdebu yang menanjak dan menukik mengikuti punggung pegunungan, tepat di tepi sungai yang bergolak hebat. Seorang pria Afghan beserban terlihat berjalan tertatih-tatih, menggeret keledai malas yang mengangkut sesosok tubuh perempuan yang terbungkus kain putih dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa terlihat sedikit pun wajahnya. Sedangkan saya, di dunia Tajikistan yang hanya beberapa meter jauhnya dari mereka, duduk berdesakan di dalam jip Rusia yang sempit. Seorang gadis Tajik berambut pirang bermata hijau menyandarkan kepalanya di pundak saya, bersama kami mendendangkan lagu-lagu pop Rusia dan Iran. Penduduk di kedua sisi sungai ini sama-sama sekte minoritas Muslim Ismaili. Umat Ismaili terkenal untuk kultur menyambut tamu yang luar biasa. Dari sekadar sesama penumpang jip yang melewatkan tiga jam perjalanan dari Khorog (ibukota GBAO), Alisher Bodurbekov mengundang saya mengunjungi rumahnya di Ishkashim, desa yang merupakan pintu gerbang menuju Lembah Wakhan yang legendaris. “Menginaplah, berapa hari pun kau mau,” katanya, “karena rumah kami adalah rumahmu.” Rumah tradisional orang Tajik Pamiri berwujud kotak beratap datar, dengan lubang jendela di atap rumah sebagai tempat masuknya cahaya. Rumah disokong lima pilar, semula sebagai simbol dewa-dewa dalam kepercayaan kuno pemujaan api Zarathustra, tetapi kini sudah diganti dengan makna Islami, yaitu lima anggota utama keluarga Nabi Muhammad.

“Kaum Ismaili di Tajikistan lebih modern dibandingkan saudara-saudara kami di Afghanistan dan Pakistan,” kata Alisher, “Kuncinya adalah pendidikan. Tajikistan, walaupun miskin, tidak ada penduduk yang buta huruf.”

Uni Soviet berjasa membangun jaringan pendidikan di seluruh negeri, dan mendidik bangsa-bangsa Asia Tengah dengan cara Rusia. Namun, Uni Soviet pulalah yang memisahkan mereka dari saudara-saudara mereka di seberang sungai sana. Perbatasan sepanjang Sungai Amu Darya antara Rusia dengan Afghanistan ditetapkan pada akhir abad ke-19, dan pada tahun 1930an serdadu Uni Soviet datang untuk menyegel ketat perbatasan ini sehingga penduduk di kedua sisi sungai tidak lagi bisa berinteraksi.

“Walaupun Afghanistan hanya di seberang sana, tapi bagaimana hidup mereka kami tak pernah tahu,” kata Alisher, “Orang Rusia melarang kami untuk menatap, melambai, atau bahkan menunjuk ke arah barisan gunung di seberang sungai sana. Mereka bilang, orang Afghan berbahaya.”

Sebenarnya, lebih banyak orang Tajik yang menyeberang dari utara sungai ke selatan, daripada sebaliknya. Ketika Revolusi Bolshevik pecah, penduduk lokal di Asia Tengah angkat senjata dan melawan. Untuk memberantas gerakan yang dijuluki sebagai basmachi (“bandit”) ini, Tentara Merah melakukan represi yang menyebabkan tewasnya 10 ribu lebih orang Tajik dan Uzbek, sehingga pada tahun 1920an seperempat penduduk Tajik dan Uzbek menyeberangi sungai dan mengungsi ke selatan, ke Afghanistan. Kini, jumlah orang Tajik yang tinggal di Afghanistan jauh lebih banyak daripada total penduduk Tajikistan sendiri.

Ketika Tajikistan dilanda Perang Saudara 1992-1997, sekali lagi ribuan warga Tajikistan yang kelaparan dan ketakutan nekat menyeberangi Amu Darya untuk mencapai Afghanistan. Banyak orang, terutama anak-anak dan perempuan, mati terseret sungai yang begitu dalam dan deras. Di seberang sungai sana, justru orang Afghan dengan tulus memberi bantuan makanan bagi saudara-saudara mereka yang datang dari seberang, yang selama puluhan tahun terpisah total oleh sekat garis batas yang dibuat Rusia.

Menyusuri Lembah Wakhan yang terkunci waktu ini, tidak sulit membayangkan masa-masa kejayaan Jalur Sutra ketika barisan karavan saudagar melintasi lembah damai ini. Biksu Xuanzang dari abad ke-7 menuliskan tentang benteng-benteng yang menjulang di perbukitan Wakhan, yang berfungsi melindungi karavan dari serangan musuh. Di sejumlah dusun kita juga bisa menemukan reruntuhan kuil kaum pemuja api Zarathustra, yang merupakan agama mayoritas bangsa Persia sebelum masuknya Islam. Sedangkan Marco Polo yang melintas pada abad ke-14 mengisahkan tentang batu-batu mulia lapis lazuli yang berkilau biru azure, yang berukuran besar dan teramat berharga, yang dihasilkan rangkaian pegunungan Badakshan ini.

Ujung timur Lembah Wakhan adalah desa kecil bernama Langar. Di sini, Sang Sungai tidaklah lebar, tetapi bergejolak semakin deras. Beberapa ratus meter dari desa, sebuah jembatan yang hanya tiga meter lebarnya, 20 meter panjangnya, melintangi sungai menuju Afghanistan. Tetapi jembatan itu disegel kawat duri dan portal, dengan tentara muda Tajik berdiri tegap di bawah tiang bendera dan papan kayu bergambar lambang negara.

Beberapa tahun lalu, jembatan di desa terpencil ini pernah dibuka, dan digelar pasar bersama antara kedua desa di kedua negara. Kemeriahan itu tidak akan pernah pudar di dalam memori Gulchera, seorang perempuan penduduk Langar. “Mereka datang dengan keledai dan kuda, membawa berbagai macam barang aneh yang tak pernah kubayangkan: sulaman manik-manik, jubah kumal, serban panjang, butir-butir batu perhiasan perempuan. Mereka seperti hidup dalam sejarah. Tapi yang datang hanya lelaki, tak ada perempuan sama sekali.”

Matanya sampai terpejam, wajahnya keriputnya memancarkan senyum ketika mengenang semua itu. Sayang, pasar itu hanya pernah dibuka sekali, tidak pernah diadakan lagi. Jembatan tetap tersegel kawat berduri.

Komandan tentara perbatasan Tajikistan mengatakan pada saya, pasar itu terpaksa dihentikan karena belum ada fasilitas untuk itu: bea cukai, kontrol paspor, karantina. Sepanjang perjalanan menyusuri perbatasan ini, saya juga terus-menerus melihat patroli tentara muda Tajikistan berselempang Kalashnikov berjalan kaki pada medan yang sangat tidak bersahabat bahkan dalam cuaca yang paling tidak bersahabat. Negeri ini tentu butuh tenaga ekstra untuk mengamankan perbatasan yang bocor ini dari negara tetangga yang memproduksi 90 persen heroin dunia.

Kepada Gulchera yang masih berfantasi tentang dunia di seberang sana, saya menunjukkan foto-foto yang pernah saya ambil beberapa saat sebelumnya dari Lembah Wakhan di sisi Afghanistan. Air mata Gulchera tak tertahankan, terus menetes, membarengi senyuman di wajahnya.

“Ini aku kenal!” katanya, “Ini anak bibiku. Bibiku dulu menyeberang ke sana, menikah dengan penduduk di sana, lalu terperangkap di sana tak bisa menyeberang balik lagi ke sini setelah tentara Rusia datang. Aku bertemu sepupu ini di pasar internasional kemarin.”

Gulchera sering datang ke sungai, menatap ke arah seberang, sambil mereka-reka titik-titik bayang manusia di seberang sana, membiarkan fantasinya melayang-layang. Kini, dia hanya bisa menanti, kapan jembatan dibuka lagi.

Seperti halnya gravitasi bumi dan oksigen, garis batas tidak terlihat, namun setiap langkah dan embusan napas manusia dipengaruhi olehnya. Garis batas memang kodrat manusia. Namun, tepat berada di tepian garis batas ini, menyaksikan semua absurditas dan kemustahilan yang tercipta olehnya, saya pun turut bertanya: Kenapa semua ini harus ada?

(bersambung)

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1): Bagasi Masa Lalu

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2): Kerinduan dari Seberang Sungai

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3): Dimensi Mimpi

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4): Selatan dan Utara

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5): Garis Batas yang Tanpa Garis Batas

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6): Pulau di Tengah Daratan

Wilayah GBAO seluruhnya berupa gunung-gunung tinggi tertutup salju abadi.

Wilayah GBAO seluruhnya berupa gunung-gunung tinggi tertutup salju abadi.

Sungai Amu membelah Lembah Wakhan menjadi dua negeri berbeda.

Sungai Amu membelah Lembah Wakhan menjadi dua negeri berbeda.

Tentara perbatasan Tajik harus berpatroli di medan berat untuk mengamankan perbatasan dengan Afghanistan.

Tentara perbatasan Tajik harus berpatroli di medan berat untuk mengamankan perbatasan dengan Afghanistan.

Pedagang Afghan menunjukkan mata uang Somoni yang digunakan di pasar bersama antara kedua negara.

Pedagang Afghan menunjukkan mata uang Somoni yang digunakan di pasar bersama antara kedua negara.

Para perempuan Tajik berbelanja barang yang ditawarkan pedagang Afghan di pasar internasional di Ishkashim.

Para perempuan Tajik berbelanja barang yang ditawarkan pedagang Afghan di pasar internasional di Ishkashim.

Perempuan Tajik menutup total wajahnya karena takut terhadap para lelaki Afghan di pasar internasional.

Perempuan Tajik menutup total wajahnya karena takut terhadap para lelaki Afghan di pasar internasional.

Warga Tajik berjemur di pantai sungai Amu Darya.

Warga Tajik berjemur di pantai sungai Amu Darya.

Pendidikan membedakan kehidupan di kedua sisi sungai.

Pendidikan membedakan kehidupan di kedua sisi sungai.

Keluarga Gulchera bersama foto Aga Khan, pemimpin spiritual umat Ismaili.

Keluarga Gulchera bersama foto Aga Khan, pemimpin spiritual umat Ismaili.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

9 Comments on Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2)

  1. tulisan yang luar biasa mas Agus

  2. Btw, ko agus orang zoroastrian bukan kaum “pemuja api”. Itu label ngawur yang dicapkan oleh mayoritas di tanah persia pada kaum minoritas ini. I think you should have known better.

  3. Met mlm Mas Agustinus.salam kenal ya.saya salah satu fans mas agustinus.saya pernah baca di kompas tentang mas agustinus di tahun 2007.dh lama saya gak baca petualangan mas agustinus..setelah baca buku petualangan nya saya merasa kagum.merasa semangat saya lahir kembali..salam kenal backpacker sejati..

  4. khairul hendra // December 13, 2015 at 8:01 pm // Reply

    Asslkum.ko apakah seorang mualaf..salut buat ko agus travel sejati…

  5. maaf saya ingin tanya, apasajakah yang dibutuhkan untuk perjalanan ke tajikistan khususnya khujand, kota kairakkum. Karena saya ingin kesana tetapi tidak tahu bandara mana yang harus saya ambil dan bagaimana caranya untuk mendapatkan visa disana?

  6. Sri sugiarti // March 4, 2017 at 3:15 pm // Reply

    Insya Allah banyaknya perjalanan, indahnya alam dan mulianya sejarah islam membawa taufiq dan hidayah kepada siapapun yang membaca dengan hati tiap tulisan dan fotografi yang telah anda buat sebagai sarana untuk mentadaburi alam yang pasti ada penciptanya-Allah Subhanahuwataala. Jalur sutra bagi kami adalah jalan pembuka hidayah pendahulu kami yang selalu dirindukan ceritanya. Terimakasih Dik Agus tetap semangat.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*