Recommended

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography.

Para pekerja China membanjiri Tajikistan.

Para pekerja China membanjiri Tajikistan.

Selatan dan Utara

Realita kehidupan Tajikistan sebenarnya ada di bagian barat negeri, di dataran yang walaupun tak sampai 7 persen luas wilayahnya, dihuni mayoritas penduduknya sehingga kota-kotanya sangat padat. Namun ada hal yang selalu sama: kehidupan di sini tidak pernah terlepas dari dua sekat—garis batas dan gunung.

Bentuk negara Tajikistan begitu canggung di atas peta. Tajikistan seperti memiliki sebuah “kepala” kecil di utara yang dihubungkan dengan bagian badan di selatan oleh sebuah leher sempit yang terlihat begitu rapuh. Kenyataannya memang hanya ada satu-satunya jalan, menembus Pegunungan Fan dan Pegunungan Turkistan, yang menghubungkan ibukota Dushanbe di sisi selatan dengan kota terbesar kedua Tajikistan yang terletak di utara, Khujand.

Khujand, yang pusat kotanya dihuni orang Tajik tetapi dikelilingi desa-desa orang Uzbek, semula adalah wilayah Uzbekistan yang baru belakangan ditambahkan ke Republik Soviet Sosialis Tajikistan yang akan berdiri. Dulu, ketika masih berada di bawah Uni Soviet, jalan mulus yang menghubungkan Dushanbe dengan Khujand melewati dataran rendah Samarkand—kini wilayah Uzbekistan. Setelah kedua negara merdeka, Uzbekistan menutup perbatasannya untuk kendaraan Tajikistan (beserta warganya). Karena itu, untuk bepergian di antara kedua kota itu, warga Tajikistan terpaksa bersusah-payah mendaki dan melewati dua celah gunung raksasa: Celah Anzob dan Celah Shahristan. Kedua celah gunung ini sangat tinggi dan berbahaya, tidak bisa ditembus sama sekali apabila tertutup salju (yang sudah mulai turun sejak September). Akibatnya sepanjang musim dingin dan musim semi, Tajikistan terbelah dua. Bepergian antara Utara dan Selatan, orang hanya bisa terbang.

Saat saya pertama kali datang ke Tajikistan di tahun 2006, kondisi jalan peninggalan Rusia antara Selatan dan Utara yang dibangun pada tahun 1950an ini sangat buruk, penuh lubang besar dan dalam, sebagian besar tidak beraspal. Jalan sempit dan curam meliuk-liuk panjang di punggung gunung dan tepi jurang. Banyak truk yang mogok; mobil juga lazim mengalami kerusakan mesin parah saat melintas. Hanya taksi, truk besar, dan jip yang sanggup bertahan di medan sedahsyat ini. Biaya perjalanan pun cukup mahal: sekitar 20 dolar Amerika per penumpang shared taxi, yang lebih dari separuh gaji rata-rata bulanan penduduk Tajikistan saat itu.

Di sepanjang jalan, di mana-mana saya melihat orang China bekerja memperbaiki jalan dan membangun terowongan menembus gunung. Ada insinyur yang mengawasi, ada yang menyetir traktor, mengukur jalan, ada pula pekerja kasar yang menatah batu-batu besar. Ketika orang Tajik harus pergi ke Rusia menjadi kuli, kuli China justru datang bekerja ke Tajikistan. Melihat saya yang berwajah Mongoloid, orang Tajik juga sering menyangka saya pekerja China. Anak-anak mengerumuni saya dan menatap lekat-lekat seperti tidak pernah melihat orang asing, berusaha berkomunikasi dengan cara apa pun. Chang chung… kong fu, Dzhakie Chan, Zhet Li! Para lelaki juga tergopoh-gopoh datang dari kerumunan pasar, tiba-tiba tanpa ujung pangkal mengajukan pertanyaan memusingkan: “Berapa lebarnya jalan kami nanti?” atau “Kapan terowongan selesai?”

Sembilan tahun berselang, saya semula berharap perjalanan Selatan—Utara ini akan jauh lebih nyaman, karena konon terowongan melintasi pegunungan itu sudah dibangun. Kenyataannya, taksi yang kami tumpangi tetap harus terengah-engah mendaki Celah Anzob (3.372 meter) yang berdebu, berzig-zag, dan mematikan. Mobil kecil kami harus berhenti setiap satu kilometer karena mesinnya rusak di tengah jalan. Untunglah, ada mobil lain yang berbaik hati, mau menggeret mobil kami dengan tali tambang yang sudah dibawa sopir (ini termasuk perlengkapan wajib bagi mobil yang melintasi pegunungan Tajikistan). Setidaknya ada peraturan tidak tertulis di antara para sopir Tajikistan: harus berhenti dan menawarkan bantuan pada mobil lain yang mogok di jalan. Semua menyadari, masalah yang sama juga kapan pun bisa terjadi atas mobil mereka.

Kalau saya pergi sedikit lebih awal, mungkin kami tidak perlu mengalami nasib seperti ini. Sejak sebulan lalu, terowongan buatan Iran yang menghindari Celah Anzob ditutup untuk perbaikan, sehingga kami tetap harus melewati jalan tua warisan Rusia yang meliuk-liuk mendaki gunung itu.

Terowongan buatan Iran ini sudah bermasalah sejak dimulai pembangunannya. Iran menanamkan US$31 juta untuk membangun terowongan sepanjang 5 kilometer ini. Terowongan diresmikan Presiden Iran dan Tajikistan pada 2006, tetapi tidak bisa langsung berfungsi. Terowongan sering ditutup bahkan di musim panas karena tertimpa longsoran salju. Sejumlah teman yang pernah melintasi terowongan ini mengibaratkannya sebagai “Terowongan Maut”—sering terendam banjir, ditambah lubang-lubang yang besar dan dalam, batu dan kerikil berjatuhan dari atap, belum lagi gas pekat beracun dari mobil-mobil yang macet di terowongan yang tidak berventilasi. Kerusakan mobil di dalam terowongan bisa mengakibatkan penyakit serius, bahkan kematian karena keracunan gas CO.

Terowongan kedua, sebaliknya, dalam kondisi sangat baik, dengan jalan mulus dan penerangan benderang. Terowongan ini buatan perusahaan China sepanjang 5,2 kilometer, memangkas dua jam waktu perjalanan menembus Celah Shahristan pada ketinggian 3.345 meter. Proyek yang dimulai pada tahun 2006 ini (saat saya pertama kali datang ke Tajikistan) rampung pada tahun 2012. Dananya sebesar US$80 juta berupa pinjaman lunak dari pemerintah China. “Terowongan buatan China tidak pernah rusak seperti buatan Iran. China memang lebih berpengalaman membangun jalan, teknologi mereka lebih bagus,” kata sopir taksi yang saya tumpangi.

Bukan hanya terowongan ini, saya melihat jauh lebih banyak lagi proyek konstruksi perusahaan China di mana-mana di Tajikistan. Mulai dari pembangunan apartemen dan pabrik di Dushanbe, jalan raya di Panjakent, jembatan di sepanjang lintas Utara—Selatan, sampai pembangunan selokan di kota kuno Istaravshan. Bedanya, kini sejumlah besar pekerja di perusahaan konstruksi China itu adalah orang Tajik.

“Pada awal masuknya perusahaan konstruksi China dulu, komposisi pekerja China dan pekerja lokal adalah 70:30. Sekarang Tajikistan sudah merenegosiasi kontrak, sehingga aturannya adalah 50:50,” kata Manshur, seorang pemuda Tajik yang bekerja sebagai penerjemah freelance bagi para pekerja China. Manshur yang belajar bahasa Mandarin di Urumqi ini saat ini menemani rombongan 180 pekerja dari Sichuan yang baru dua minggu masuk Tajikistan.

Belakangan ini hubungan antara China dan Tajikistan semakin mesra, aliran bantuan dari China deras mengalir, dan reputasi China di kalangan warga Tajik sangat positif. Warga di jalan, bahkan bocah yang paling kecil pun, bisa menyapa “Nihao!” apabila melihat wajah orang Asia Timur. Semakin banyak generasi muda Tajik, seperti Manshur, yang belajar bahasa Mandarin. Dengan gencarnya proyek investasi China di Tajikistan, kesempatan kerja bagi orang Tajik yang menguasai bahasa Mandarin semakin terbuka lebar, menjadi alternatif baru daripada mencari kerja ke Rusia.

Bagi saya, ini cukup mengejutkan, karena beberapa tahun sebelumnya Tajikistan baru saja menyerahkan tanah seluas 1.158 kilometer persegi kepada China untuk mengakhiri permasalahan perbatasan. Saya tidak menemukan kekecewaan di kalangan warga Tajik yang saya temui, padahal tanah dan batas selalu adalah masalah sensitif di antara negara-negara Asia Tengah. Menteri Luar Negeri Tajikistan justru menyebut “pengembalian” tanah ini sebagai “kemenangan besar bagi diplomasi Tajik”.

Tanah yang diserahkan Tajikistan pada 2011 itu terletak di daerah perbatasan di Pamir yang tidak dihuni, tidak bernilai secara komersial, dan merupakan dataran tinggi yang gersang. China sebenarnya menuntut dikembalikannya lebih dari 28.000 kilometer persegi (20 persen luas Tajikistan), yang sudah menjadi sengketa sejak abad ke-19 ketika Tajikistan berada di bawah kekuasaan Czar Rusia.

Setidaknya, ini memenangkan Tajikistan untuk sebuah persahabatan. China mungkin adalah satu-satunya dari empat negara tetangga yang bisa diandalkan negara mungil terkunci daratan ini. Dari China, Tajikistan mendapat banyak bantuan proyek pembangunan jalan, jembatan, kabel listrik, pipa gas, pertambangan, bahkan bantuan kemanusiaan, dan yang paling penting: penyeimbang dari dominasi peranan Rusia. Sejauh ini, China tidak pernah mencoba menancapkan pengaruh militer, sebagaimana yang telah dilakukan Rusia, Amerika, atau Prancis. Sedangkan bagi China, ini adalah kesempatan menciptakan pasar bagi produksi mereka dan mempermudah akses menuju sumber daya Asia Tengah yang kaya.

“Mengembalikan sedikit tanah yang memang adalah hak mereka, ditukar jalan dan persahabatan. Bukankah ini adalah sebuah kemenangan yang cerdik?” kata Manshur bangga.

(bersambung)

 

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1): Bagasi Masa Lalu

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2): Kerinduan dari Seberang Sungai

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3): Dimensi Mimpi

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4): Selatan dan Utara

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5): Garis Batas yang Tanpa Garis Batas

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6): Pulau di Tengah Daratan

Celah Anzob yang harus didaki karena terowongan buatan Iran mengalami kerusakan.

Celah Anzob yang harus didaki karena terowongan buatan Iran mengalami kerusakan.

Perjalanan melintasi pegunungan Tajikistan membutuhkan kendaraan dan fisik yang prima.

Perjalanan melintasi pegunungan Tajikistan membutuhkan kendaraan dan fisik yang prima.

Keledai masih merupakan alat transportasi penting di Tajikistan.

Keledai masih merupakan alat transportasi penting di Tajikistan.

Ketika salju turun, penduduk Tajikistan hanya bisa mengandalkan terowongan untuk perjalanan antara daerah Utara dan Selatan.

Ketika salju turun, penduduk Tajikistan hanya bisa mengandalkan terowongan untuk perjalanan antara daerah Utara dan Selatan.

Infrastruktur jalan sangat dibutuhkan oleh Tajikistan untuk melintasi pegunungan tinggi yang mendominasi negaranya.

Infrastruktur jalan sangat dibutuhkan oleh Tajikistan untuk melintasi pegunungan tinggi yang mendominasi negaranya.

Terowongan buatan China ini adalah simbol persahabatan kedua negara.

Terowongan buatan China ini adalah simbol persahabatan kedua negara.

Proyek-proyek pembangunan dari China terlihat di berbagai penjuru negeri Tajikistan.

Proyek-proyek pembangunan dari China terlihat di berbagai penjuru negeri Tajikistan.

Apakah mereka harus membeli pembangunan infrastruktur ini dengan tanah mereka?

Apakah mereka harus membeli pembangunan infrastruktur ini dengan tanah mereka?

Kota Khujand di Utara jauh lebih padat dan sibuk daripada ibukota Dushanbe di Selatan

Kota Khujand di Utara jauh lebih padat dan sibuk daripada ibukota Dushanbe di Selatan

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*