Recommended

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography.

Arka adalah sepotong Kirgizstan di tengah Tajikistan

Arka adalah sepotong Kirgizstan di tengah Tajikistan

Garis Batas yang Tanpa Garis Batas

Jalan raya A376 yang menghubungkan kota Khujand menuju Kanibadam sekilas terlihat seperti jalan raya biasa, beraspal mulus dan cukup lebar, merupakan urat nadi bagi kota-kota di Tajikistan Utara. Namun, berbeda dengan informasi pada peta mana pun, sebagian dari jalan ini adalah perbatasan antara Tajikistan dan Kirgizstan.

Di kota Histervarz, 20 kilometer dari Khujand, sebelah kiri jalan adalah Tajikistan dan sebelah kanan jalan adalah Kirgizstan. Tulisan yang ada di rumah-rumah di sebelah kiri adalah bahasa Tajik, sedangkan di sebelah kanan adalah bahasa Kirgiz. Sedangkan mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan menggunakan plat nomor bergambar bendera Tajikistan maupun Kirgizstan.

Saya turun di sisi kanan jalan. “Ini Kirgizstan?” tanya saya kepada seorang pedagang semangka yang jelas orang Tajik, dalam bahasa Tajik.

“Ya, ini Kirgizstan,” jawabnya, “Seberang jalan sana Tajikistan.”

“Orang Tajik boleh berjualan di Kirgizstan?”

“Tidak masalah. Tapi saya punya paspor Kirgizstan,” katanya.

Rumah Umedjon terletak di kampung di belakang, di sisi kanan jalan. Dia bilang, dia terpaksa masuk kewarganegaraan Kirgizstan, karena kalau tidak, dia harus pindah rumah. Sekarang di sini memang tidak ada perbatasan, orang Tajik maupun Kirgiz bebas bepergian seolah ini adalah satu negeri yang sama. Tetapi kelak, Umedjon khawatir, garis batas akan merambat sampai ke sini, karena pada Agustus 2015 Kirgizstan resmi menjadi anggota Uni Ekonomi Eurasia (EEU)—uni bea cukai yang dipimpin Rusia. Ini artinya, Kirgizstan harus membuka perbatasan bea cukainya pada negara-negara anggota, dan mengawasi penyelundupan ke dan dari negara-negara non-anggota, termasuk Tajikistan.

Di sepanjang sisi kanan jalan, saya menghitung lebih dari delapan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) berjejer berdampingan, semua milik Kirgizstan, mencatatkan harga dalam mata uang som. Harga bensin Kirgizstan 30 persen lebih murah daripada bensin Tajikistan, dan dengan dibukanya perbatasan bea cukai dengan Rusia, diperkirakan akan lebih murah lagi. Semua mobil, tidak peduli dari Kirgizstan ataupun Tajikistan, boleh mengisi bensin di sini. Di “lubang perbatasan” ini, minyak Kirgizstan bisa beredar bebas ke pasar Tajikistan tanpa hambatan bea cukai apa pun.

Melanjutkan menyusuri A376, lima kilometer dari Histervarz, adalah permukiman Arka. Jalan ini tetap jalan Tajikistan, tetapi sepanjang 300 meter jalan, baik di sisi kiri maupun kanan jalan adalah wilayah Republik Kirgizstan, yang zona waktunya satu jam lebih awal daripada Tajikistan. Semua bangunan di sini milik orang Kirgiz. Ada barisan toko yang menjual produk Kirgizstan, stasiun bus, halte, pusat layanan telepon seluler Kirgizstan, sekolah, pos polisi, bazaar, masjid, dan monumen berbendera Kirgizstan. Mata uang kedua negara berlaku di sini.

Di sisi utara jalan, batas Arka hanya sampai 50 meter, yaitu pada kanal kecil yang menurut penduduk adalah penanda batas kedua negeri. Sedangkan di sisi selatan jalan, ada tiga desa yang ditinggali 13 ribu warga. Secara teori, Arka menyambung dengan Kirgizstan, tetapi sebenarnya tidak terhubung karena hanya ada jalan yang sangat buruk menembus gunung. Untuk bepergian ke mana pun, warga Arka harus menggunakan jalan Tajikistan.

Arka adalah sebuah kejutan Kirgizstan di tengah Tajikistan. Hampir semua penduduk Arka adalah orang Kirgiz, yang memiliki karakter wajah sangat berbeda dengan orang Tajik, dan mungkin kultur nomaden bangsa gembala adalah faktor utama dari karakter mereka yang khas: sangat riang dan terbuka. Melihat saya yang juga berwajah Mongoloid seperti mereka, orang-orang Kirgiz itu begitu antusias mengundang saya masuk ke toko-toko mereka, mengobrol seperti sahabat lama, tertawa tergelak-gelak membahana untuk setiap lelucon yang paling kecil pun, dan menghujani saya dengan banyak hadiah: permen, air mineral, semangka, melon, rumput langka sebagai jimat, sampai topi bulu putih yang menjulang tinggi yang banyak dipakai lelaki Kirgiz. Benda terakhir ini diberikan oleh lima perempuan tua bergigi emas yang sedang makan di kedai teh, yang berteriak-teriak memanggil saya untuk minta difoto. “Kamu adalah anak Kirgiz sekarang,” kata mereka sambal memasangkan topi di kepala saya. “Tapi jangan pakai topi ini di Tajikistan!”

Warga Arka memberitahu saya, masalah utama mereka di sini adalah air. Desa-desa Tajikistan di sekeliling mereka tidak kekurangan air, tetapi Arka, terjepit di tengah Tajikistan, tidak mendapat akses air minum. Baru lima tahun lalu pemerintah Kirgizstan membangun pipa yang menembus pegunungan dari kota Kirgizstan sekitar 20 kilometer di selatan Arka. Sebelum ada pipa ini, mereka harus membeli air minum dari Tajikistan, dan itu sangat mahal.

Meninggalkan jalan A376, dari Kanibadam berbelok ke selatan ke arah kota Isfara, minibus melintasi hamparan padang kering seperti gurun diapit bukit-bukit cadas gersang yang nyaris tegak lurus. Di wilayah seluas ini, hanya ada satu atau dua desa, itu pun dengan jumlah rumah yang bisa dihitung dengan jari, sangat kontras dengan desa-desa dan perkotaan Tajikistan Utara yang terlalu padat. Seberapa luas tanah sebenarnya bukan masalah utama, tetapi apakah ada air. Jauh sebelum Asia Tengah dikotak-kotakkan dalam garis batas negeri-negeri modern yang kita kenal sekarang, suku-suku nomaden sudah berperang dan saling membantai demi memperebutkan secuil tanah subur dan akses sumber air yang begitu berharga di sini.

Sekitar 20 kilometer di selatan kota Isfara, perbatasan semakin tidak masuk akal. Hanya dalam jarak dua kilometer di jalan yang sama, saya melihat portal militer Tajikistan, lalu pos polisi Kirgizstan yang berupa peti kargo yang dicat merah, lalu kantor polisi Tajikistan yang berpagar dengan cat tiga warna bendera mereka. Tak ada yang tahu pasti di mana batas negara sebenarnya. “Di sini, orang Kirgiz berarti warga Kirgizstan dan orang Tajik berarti warga Tajikistan. Sedangkan tanah yang ditinggali orang Kirgiz berarti Kirgizstan, dan tanah yang ditinggali orang Tajik berarti Tajikistan,” kata seorang warga.

Hanya separuh dari 971 kilometer perbatasan antara Tajikistan dengan Kirgizstan yang sudah ditetapkan. Hampir 25 tahun merdeka, proses demarkasi garis batas antara negara-negara Asia Tengah ini tak kunjung usai. Masing-masing negeri berpegang pada peta historis peninggalan Soviet pada era yang berbeda-beda sebagai dasar perdebatan mereka.

Di daerah inilah terdapat satu perempatan jalan yang menjadi perlintasan kedua negara. Jalan yang melintang dari utara ke selatan adalah Tajikistan, sedangkan jalan dari barat ke timur adalah milik Kirgizstan. Sebenarnya, jalan Kirgizstan ini—yang aspalnya jauh lebih bagus daripada jalan Tajikistan karena sedang diperbaiki oleh perusahaan China Road—masih berada di wilayah Tajikistan. Tidak ada pos imigrasi ataupun bea cukai di sini, sehingga perempatan ini bisa menjadi “pintu belakang” bagi siapa pun yang ingin menyelundup ke negara lainnya.

Tentara Tajikistan maupun Kirgizstan, semuanya membawa senapan Kalashnikov, terlihat lalu lalang di jalanan ini. Beberapa tahun lalu, persimpangan dan desa-desa di sekitarnya, di mana Tajikistan dan Kirgizstan berselang-seling seperti papan catur, pernah menjadi saksi pertempuran berdarah antara warga Tajik dan Kirgiz. Konflik masih sesekali meletus, sehingga kedua negara meningkatkan patroli militer. Terkadang konflik justru terjadi antara tentara Tajikistan dan Kirgizstan yang terlibat baku tembak. Dua minggu sebelumnya, di sebuah desa perbatasan di sebelah timur persimpangan, sebuah pertempuran antar warga menyebabkan setidaknya seorang tentara Kirgizstan mengalami luka tembak.

Penyebab konflik di sini adalah masalah klise: air dan tanah. Dengan penduduk yang semakin padat, perebutan untuk air dan tanah pun memanas. Sumber air berasal dari pegunungan Kirgizstan di selatan, yang melintasi enklaf Tajikistan di Vorukh, lalu masuk wilayah Kirgizstan di Ak-Sai, lalu desa-desa “papan catur” sebelum masuk ke Tajikistan, dan berakhir di sebuah danau di Kirgizstan. Terkadang penduduk Tajik memblokir air untuk orang Kirgiz, dan demikian pula orang Kirgiz memblokir air untuk Tajik. Sudah tidak penting lagi siapa yang memulai dulu dan siapa yang membalas. Perselisihan ini diperparah dengan isu ras dan nasionalisme.

Waspadalah dengan garis batas. Hubungan antar desa, dibelah garis batas, menjadi hubungan internasional. Perkelahian biasa antar pemuda, disusupi garis batas, menjadi konflik bilateral. Perselisihan sepele, dibumbui garis batas, menjelma menjadi kebencian kolektif. Mereka memang masih saling bertegur sapa, bertukar salam, dan saling berbelanja. Di hadapan saya yang orang asing ini, mereka bahkan terkadang sengaja menunjukkan bahwa Kirgiz dan Tajik akur bersaudara, seolah tidak pernah terjadi masalah apa-apa. Tetapi dalam percakapan mendalam secara terpisah dengan para penduduk sini, saya tetap menemukan sentimen yang sama: orang Tajik mengatakan, “Hati-hati dengan orang Kirgiz, mereka berbahaya!” dan orang Kirgiz mengatakan, “Hati-hati dengan orang Tajik, mereka berbahaya!”

 

(bersambung)

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1): Bagasi Masa Lalu

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2): Kerinduan dari Seberang Sungai

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3): Dimensi Mimpi

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4): Selatan dan Utara

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5): Garis Batas yang Tanpa Garis Batas

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6): Pulau di Tengah Daratan

Selamat datang ke Kirgizstan, hanya sepanjang 300 meter.

Selamat datang ke Kirgizstan, hanya sepanjang 300 meter.

"Dostuk" adalah simbol Kirgizstan yang hampir selalu ada di setiap perbatasan negerinya, artinya "Persahabatan".

“Dostuk” adalah simbol Kirgizstan yang hampir selalu ada di setiap perbatasan negerinya, artinya “Persahabatan”.

Pasangan Tajik membeli arak dari toko Kirgiz di Arka. Orang Tajik sendiri tidak terlalu banyak mengonsumsi alkohol sebagaimana orang Kirgiz.

Pasangan Tajik membeli arak dari toko Kirgiz di Arka. Orang Tajik sendiri tidak terlalu banyak mengonsumsi alkohol sebagaimana orang Kirgiz.

Seorang pemuda Tajik mencoba topi kalpak khas bangsa Kirgiz.

Seorang pemuda Tajik mencoba topi kalpak khas bangsa Kirgiz.

Para perempuan Kirgiz menunjukkan bahwa di sini berlaku dua mata uang sekaligus.

Para perempuan Kirgiz menunjukkan bahwa di sini berlaku dua mata uang sekaligus.

Pom bensin Kirgizstan di sepanjang jalan Histervarz, menjual bensin dengan harga jauh lebih murah daripada Tajikistan--yang hanya tepat di seberang jalan.

Pom bensin Kirgizstan di sepanjang jalan Histervarz, menjual bensin dengan harga jauh lebih murah daripada Tajikistan–yang hanya tepat di seberang jalan.

Angkutan umum di daerah perbatasan biasa memajang simbol-simbol negeri mereka sebagai dekorasi.

Angkutan umum di daerah perbatasan biasa memajang simbol-simbol negeri mereka sebagai dekorasi.

Dalam dua kilometer di daerah "papan catur", pos polisi Tajikistan dan Kirgizstan berselang-seling.

Dalam dua kilometer di daerah “papan catur”, pos polisi Tajikistan dan Kirgizstan berselang-seling.

Tentara Tajikistan menjaga sepotong jalan yang diblokir di daerah konflik "papan catur".

Tentara Tajikistan menjaga sepotong jalan yang diblokir di daerah konflik “papan catur”.

Jalan yang lurus adalah Kirgizstan, jalan yang melintang adalah Tajikistan. Kedua negeri berpotongan di persimpangan.

Jalan yang lurus adalah Kirgizstan, jalan yang melintang adalah Tajikistan. Kedua negeri berpotongan di persimpangan.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

2 Comments on Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5)

  1. silayana setiadarma // September 16, 2016 at 8:12 pm // Reply

    Mudah2an bisa di bukukan shg lbh enak membacanya…
    Di tunggu …!

  2. Oded Pachrudin // May 28, 2017 at 12:48 pm // Reply

    asyik juga membaca tulisan bung Agustinus Wibowo Tajikistan tersekat gunung dan batas’. Paling tidak menambah pengetahuan tentang negeri jalur sutera Tajikistan , dan tetangganya Kirgistan ,Uzbekistan. bagaimana penduduk disini terpisah dari keluarganya karena penguasa membatasi perbatasan negeri mereka dg pengamanan tinggi. masyarakat Tajik juga lebih berbahasa dan budaya persia dibanding Uzbek dan negeri yg berakhiran stan, yang lebih berbahasa budaya Turki. Tajikistan di samarkhand , berbaring perawi hadist Islam terkenal Imam Buchori’ yg makamnya dipugar atas permintaan Bung Karno kepada Kruschev menjelang kedatangan BK ke Rusia / Uni Soviet thn enam puluhan.

Leave a Reply to Oded Pachrudin Cancel reply

Your email address will not be published.


*