Recommended

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography.

Patroli tentara Kirgiz di daerah perbatasan Tajikistan.

Patroli tentara Kirgiz di daerah perbatasan Tajikistan.

Pulau di Tengah Daratan

Tujuh kilometer di selatan desa-desa “papan catur”, ada sebidang tanah Tajikistan sepenuhnya dikelilingi Kirgizstan. Vorukh terpisahkan dari “daratan utama” Tajikistan oleh sebuah desa Kirgizstan bernama Ak-Sai.

Untuk mencapai Vorukh, secara teori orang harus keluar dari Tajikistan, masuk Kirgizstan, keluar Kirgizstan lalu masuk lagi ke Tajikistan. Tetapi tidak ada portal perbatasan antara kedua negara di daerah ini, sehingga dari Tajikistan orang bebas pergi ke Vorukh dengan melintasi wilayah Kirgizstan. Semakin mendekati Vorukh, saya merasakan aroma ketegangan semakin kuat. Sopir sangat gelisah melihat kamera saya, berulang kali memperingatkan, “Jangan ambil foto dari wilayah Kirgizstan. Kami berperang dengan orang-orang ini.” Warga Vorukh pun sangat mewaspadai kehadiran saya yang jelas orang asing. “Kamu orang asing pertama yang datang ke sini,” kata Husein Nodirov, seorang lelaki pemilik warung, “Bagaimana saya bisa tahu kamu orang baik-baik?” Saya butuh dua jam untuk meyakinkan Husein sampai dia setuju menampung saya di rumahnya dan melindungi saya dari polisi yang sangat mungkin akan menginterogasi saya.

Wilayah Vorukh berupa perbukitan, yang mengawali barisan Pegunungan Turkistan yang menjadi batas selatan Lembah Ferghana. Di pusat Vorukh yang berjarak lima kilometer dari perbatasan, orang akan melihat Vorukh tak lebih dari sebuah desa Tajikistan biasa. Di sini terdapat sekolah, bank, kantor polisi, pos militer, juga menghampar ladang-ladang pertanian yang merupakan mata pencaharian utama. Jalanannya didominasi kaum perempuan, yang hampir semuanya berjilbab atau berkerudung. Sekitar 90 persen lelaki mudanya bekerja ke Rusia begitu menyelesaikan pendidikan sekolah menengah. Rumah-rumah penduduk masih bergaya tradisional, terbuat dari lumpur, dikurung tembok padat yang tinggi, berjajar sepanjang gang sempit yang meliuk-liuk bagai labirin.

Sejumlah warga Vorukh mengatakan khawatir karena satu-satunya jalan mereka menuju Tajikistan hanya melewati Ak-Sai, dan mobil mereka sering dilempari batu oleh orang-orang Kirgiz saat melintas. Kekhawatiran terbesar mereka sebenarnya adalah apabila orang Kirgizstan memblokir jalan itu, dan mereka akan terisolasi.

150930-tajikistan-batas-6-vorukh

Namun, warga Ak-Sai sesungguhnya juga memiliki kekhawatiran yang sama. Vorukh memang dikurung Kirgizstan, namun sebenarnya Ak-Sai pun terkurung Tajikistan, karena semua jalan menuju Ak-Sai harus melewati Tajikistan. Beberapa tahun ini, dengan konflik masalah air dan tanah yang semakin memanas, penduduk sering memblokir air lalu dilanjutkan memblokir jalan. Karena itu, Kirgizstan memutuskan membangun jalan yang bisa menghubungkan Ak-Sai dengan kota-kota lain Kirgizstan tanpa melintasi Tajikistan. Tapi rencana itu justru menciptakan masalah baru. Di daerah yang garis batasnya tidak jelas ini, warga Tajik mengklaim jalan yang akan dibangun Kirgizstan itu melewati wilayah Tajikistan. Tahun 2014, gara-gara perselisihan jalan ini, tentara perbatasan Tajik dan Kirgiz di Vorukh dan Ak-Sai terlibat baku tembak, setidaknya delapan tentara terluka.

Lembah Ferghana Asia Tengah ditaburi lusinan enklaf—wilayah sebuah negara yang sepenuhnya dikelilingi negara lain. Di dalam Kirgizstan ada Uzbekistan, di dalam Uzbekistan ada Kirgizstan, dan ada Tajikistan di dalam Uzbekistan dan Kirgizstan. Keanehan geografis ini adalah produk kebijakan Soviet di tahun 1930an, yang mungkin memang hanya Tuhan dan Stalin yang tahu kenapa bisa ada.

Selain Vorukh, Tajikistan memiliki dua enklaf lain. Qalacha Barat juga terletak di dalam Kirgizstan, berupa daerah sempit yang memanjang dua kilometer di jalan utama di ujung barat Kirgizstan, berupa gunung-gunung gersang yang nyaris tanpa penghuni. Sedangkan Sarvak yang dikelilingi Uzbekistan adalah permukiman satu desa, dihuni sekitar 100 keluarga, hanya berjarak 1,2 kilometer dari Tajikistan tetapi sangat sulit dijangkau dari Tajikistan. Sebaliknya, Uzbekistan memandang Sarvak adalah wilayahnya, dan memberi kewarganegaraan Uzbek pada sebagian besar penduduk Sarvak. Di sini tidak ada televisi, radio, surat kabar, sekolah, kantor pemerintahan Tajik, sehingga banyak penduduk tidak menyadari mereka sebenarnya di bawah kekuasaan Tajikistan. Pernah seorang pejabat Tajikistan berkunjung ke sekolah di sini dan menanyai para siswa, “Siapa nama presiden kita?” Para siswa kompak menjawab, “Islam Karimov!” Itu presiden Uzbekistan.

Kebanyakan enklaf berada di wilayah Kirgizstan, tetapi mungkin justru Kirgizstanlah yang paling menderita karena enklaf. Uzbekistan pernah membuat Kirgizstan berang karena menanami perbatasan enklaf miliknya dengan ranjau. Uzbekistan juga beberapa kali secara mendadak memblokir akses jalan Kirgizstan yang melintasi enklaf miliknya, sehingga banyak daerah di Provinsi Batken di Kirgizstan selatan yang terisolasi dan harus bertahan dengan suplai makanan yang minim. Kesulitan hidup karena isolasi membuat banyak penduduk pedalaman Batken pindah keluar. Negara kedua termiskin di Asia Tengah ini harus menghabiskan anggaran jutaan dolar hanya untuk membangun jalan-jalan baru berzig-zag di pegunungan demi menghindari kepingan-kepingan milik negara lain yang ada di wilayahnya.

Penduduk Ak-Sai juga banyak yang pindah, sehingga harga tanah di desa berpenduduk 3.000 jiwa ini sangat murah. Sebaliknya, bagi Vorukh yang seluas 130 kilometer persegi dan dihuni 30.000 penduduk, tanah semakin langka. Banyak pemuda Vorukh keluar dari enklaf dengan membeli tanah di Ak-Sai. Penduduk Kirgiz khawatir jika ini terus berlanjut, lama-lama daerah ini juga akan diklaim Tajikistan. Sedangkan di mata warga Vorukh, Ak-Sai pada mulanya memang tanah mereka.

“Dulu kakek kami yang memberi tanah pada satu atau dua orang Kirgiz untuk menolong mereka,” kata seorang lelaki tua di Vorukh, “Tetapi tambah lama orang-orang Kirgiz itu tambah banyak, sampai ribuan. Mereka makan tepung Vorukh, mereka minum air Vorukh, sekarang mereka tidak mau pergi lagi.”

Pada peta Soviet 1920an, Vorukh bukanlah sebuah enklaf, melainkan tersambung langsung dengan Tajikistan. Tetapi pada peta tahun 1950an, Vorukh tiba-tiba menjadi enklaf yang dikelilingi oleh Kirgizstan. Dulu, ketika Uni Soviet masih berkuasa, semua konflik ini tidak terlalu terasa, bisa diredam di bawah kendali tunggal Moskow. Jalan yang melintasi republik-republik ini tak lebih bagai jalan yang masuk provinsi satu keluar provinsi lain. Demikian juga dengan tanah dan saluran air, semuanya adalah milik satu negara besar yang sama. Orang Kirgiz dan orang Tajik sama-sama adalah orang Soviet. Sekolah di Ak-Sai dan Vorukh menerima murid dari semua bangsa. Anak-anak Tajik dan Kirgiz pun biasa bermain bersama.

Tetapi kini, ketika republik-republik kecil ini merdeka, semua masalah seketika menjadi problem antar-negara. Ditambah dengan nasionalisme yang semakin menguat terutama di kalangan generasi muda, sedikit saja gesekan mudah menjadi isu “kita-versus-mereka”.

Konflik memang merusak hubungan antara warga kedua desa. Kunjungan pertemanan antara warga Tajik dan Kirgiz di daerah ini hampir tidak ada lagi. Tetapi interaksi masih berlangsung, walaupun sekadar transaksional. Di pasar Vorukh memang tidak terlihat orang Kirgiz atau mobil Kirgiz, tetapi saya pernah menyaksikan tentara Kirgizstan menyeberang batas untuk belanja di toko Tajik tepat di belakang monumen Selamat Datang di Vorukh. Di perbatasan sisi Ak-Sai juga terdapat tangki truk minyak Kirgizstan, tempat warga Vorukh belanja minyak dengan harga murah. Bahkan patroli mobil militer Kirgizstan pun sesekali melintasi jalan utama Vorukh yang sepanjang 20 kilometer itu, karena sesudah Vorukh masih ada jalan sepanjang 5 kilometer milik Kirgizstan, tempat beradanya barak militer Kirgiz di tengah pegunungan cadas yang tidak ada penduduknya sama sekali.

Mungkin semua kekacauan ini adalah sebuah desain akbar Stalin agar republik-republik di bawah Uni Soviet ini tidak akan bisa memberontak dan merdeka, karena benih konflik sudah ditanam di antara mereka satu dengan lainnya. Tentu tidak ada yang menduga, suatu hari kemudian republik-republik ini benar-benar merdeka, dan masalah-masalah absurd pun membeludak keluar dari kotak pandora.

Kepada Husein si pemilik warung, saya menunjukkan peta Vorukh dan Lembah Ferghana yang saya bawa. Mendadak dia tercengang. “Mengapa begitu? Kenapa kami bisa dikelilingi Kirgizstan?” Empat puluh dua tahun dia hidup, tak pernah sekali pun dia menyadari bahwa selama ini dia tinggal di dalam enklaf. Selama bermenit-menit, dia kehilangan kata.

 

Tamat

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1): Bagasi Masa Lalu

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2): Kerinduan dari Seberang Sungai

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3): Dimensi Mimpi

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4): Selatan dan Utara

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5): Garis Batas yang Tanpa Garis Batas

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6): Pulau di Tengah Daratan

Vorukh, sebuah enklaf Tajikistan yang dikelilingi Kirgizstan.

Vorukh, sebuah enklaf Tajikistan yang dikelilingi Kirgizstan.

Penduduk Tajik dan Kirgiz sering terlibat konflik terkait tanah dan air.

Penduduk Tajik dan Kirgiz sering terlibat konflik terkait tanah dan air.

Vorukh adalah salah satu daerah paling terpencil di Tajikistan, terpisah dari daerah lain Tajikistan oleh sebuah desa Kirgizstan.

Vorukh adalah salah satu daerah paling terpencil di Tajikistan, terpisah dari daerah lain Tajikistan oleh sebuah desa Kirgizstan.

Jalanan Vorukh yang sangat lengang.

Jalanan Vorukh yang sangat lengang.

Mayoritas penduduk Vorukh adalah perempuan karena hampir semua lelaki mudanya bekerja ke Rusia.

Mayoritas penduduk Vorukh adalah perempuan karena hampir semua lelaki mudanya bekerja ke Rusia.

Simbol Tajik terasa sangat kuat di sini.

Simbol Tajik terasa sangat kuat di sini.

Pos militer perbatasan Kirgizstan di Ak-Sai, hanya 100 meter dari batas Vorukh.

Barak militer perbatasan Kirgizstan di Ak-Sai, hanya 100 meter dari batas Vorukh.

Berpatroli bersama militer Kirgizstan di Ak-Sai

Berpatroli bersama militer Kirgizstan di Ak-Sai

Penduduk Kirgiz di Ak-Sai pun memiliki kekhawatiran yang serupa dengan warga Tajik di Vorukh.

Penduduk Kirgiz di Ak-Sai pun memiliki kekhawatiran yang serupa dengan warga Tajik di Vorukh.

Hanya separuh dari 900an kilometer perbatasan Tajikistan dan Kirgizstan yang sudah didemarkasi.

Hanya separuh dari 900an kilometer perbatasan Tajikistan dan Kirgizstan yang sudah didemarkasi.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*