Recommended

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional

Serial artikel untuk Chinese National Geography

150901-wakhan-jalur-sutra-1-1

Seperti kata pepatah, “banyak jalan menuju Roma”, lintasan Jalur Sutra kuno pun bercabang-cabang, bagai jalinan serabut akar yang menghubungkan China dengan Barat. Di antara semua fragmen Jalur Sutra itu, mungkin tidak ada yang bisa menandingi kemisteriusan Koridor Wakhan. Teronggok di sudut terjauh Afghanistan, perlintasan penting Jalur Sutra itu kini menjadi salah satu tempat paling terpencil di dunia, namun justru terletak tepat di seberang batas China. Dia juga telah menjadi saksi terakhir matinya rute perdagangan legendaris ribuan tahun itu—yang terjadi hanya tujuh dekade silam.

 

Pasar Internasional

Ishkashim, satu-satunya pintu gerbang menuju Koridor Wakhan, adalah sebuah desa pegunungan Afghanistan yang sepi dan malas, berlumpur dan berdebu. Perbukitan diselimuti padang rumput; para bocah gembala menggiring domba, kambing, dan sapi, sambil bersiul dan bersenandung merayakan pagi yang dingin. Nuansa padang hijau tak bertepi di wilayah utara Afghanistan ini membuat saya serasa telah dilemparkan ke Asia Tengah.

Di utara dusun, bergolak aliran sungai Panj, gemuruhnya menenggelamkan semua suara. Ini adalah anak sungai Amu Darya yang menjadi perbatasan antara Afghanistan dengan republik-republik Asia Tengah pecahan Uni Soviet. Sungai Panj bagaikan cermin, memisahkan barisan gunung Afghanistan dari barisan gunung Tajikistan, dan dusun-dusun Afghanistan berhadapan simetris dengan dusun-dusun Tajikistan di seberang sungai. Saudara kembar Ishkashim adalah sebuah dusun pegunungan Tajikistan yang juga bernama Ishkashim.

Walaupun hanya di seberang sungai, dan gunung-gunung bertudung saljunya berbaris di depan mata, Tajikistan adalah tanah yang tak tersentuh. Untuk meraba bagaimana kehidupan di negeri seberang, saya menuju kedai teh terbesar di dusun.

Orang Afghan bilang, tidak ada hal yang tidak mungkin tidak bisa kau pelajari dari kedai teh. Orang Afghan adalah peminum teh paling fanatik—mereka minum teh seperti kita minum air, pagi, siang, sore dan malam. Teh dari negeri China, dibawa dan disebarluaskan melalui Jalur Sutra, menjadi minuman semua bangsa Asia Tengah. Bagi orang Afghan, teh bukan sekadar minuman; teh adalah perekat hubungan, dan kedai teh adalah universitas kehidupan. Para lelaki berjenggot lebat dan berjubah panjang duduk bersila di atas balai-balai kayu kedai teh. Mereka tanpa henti berbagi cerita, sambil menyeruput teh hijau atau teh hitam dari cangkir, dan menuang teh dari poci. Bersama itu, segala jenis cerita dan gosip, berita dan ilmu, perdebatan dan lelucon memenuhi udara.

Di kedai teh ini, Mehruddin seorang pedagang onderdil mesin bercukur rapi dari pedalaman Afghanistan menunjukkan lembaran uang Somoni yang didapatnya dari Tajikistan. Saya mengeja huruf-huruf Rusia pada uang itu. Hasilnya bukan bahasa Rusia, melainkan bahasa Persia yang sama dengan yang digunakan di Afghanistan (yang mereka tulis dengan huruf Arab).

“Di sana mereka sebenarnya orang yang sama dengan kami,” katanya, “Mereka bicara bahasa yang sama, tapi menjalani hidup yang total berbeda.”

“Apa yang berbeda?” tanya saya.

“Di Tajikistan semua ada,” kata Mehruddin, “Jalan, sekolah, rumah sakit, rumah bagus, segala jenis makanan… dan yang paling luar biasa: perempuan.”

Mehruddin bilang perempuan Tajikistan bertebaran di mana-mana: jalan, toko, sekolah, warung. Mereka bekerja seperti lelaki. Mereka berpakaian terbuka, tidak seperti perempuan Afghan yang berkerudung, menutup wajah bahkan mata, tidak keluar rumah. Itulah sebabnya orang Afghan bercanda, tiga hal yang paling murah di Tajikistan adalah: buah, bir, janda.

Tajikistan, walau hanya di seberang sungai, adalah sebuah tanah terlarang. Untuk mencapainya, Mehruddin harus melakukan perjalanan memutar seribu kilometer ke ibukota Kabul dan membayar ratusan dolar untuk selembar stiker visa Tajik yang hampir mustahil didapat tanpa koneksi, lalu menempuh seribu kilometer lagi untuk menyeberangi sungai ini.

Tetapi satu hari dalam sepekan, yaitu setiap Sabtu, orang Afghan berkesempatan bersinggungan langsung dengan orang-orang dari negeri seberang sungai, bebas tanpa dokumen apa pun. Itu ketika dibuka jembatan menuju sebuah pulau netral di tengah sungai, yang dijadikan pasar bersama.

Pagi-pagi sekali, saya bersama seratusan lelaki Afghan (hanya ada lelaki) sudah gelisah berbaris menunggu pembukaan portal jembatan oleh polisi perbatasan. Mereka memanggul gulungan permadani atau koper-koper besar, dan berlarian seperti serigala lapar begitu portal dibuka. Sedangkan yang berdatangan dari Tajikistan justru didominasi kaum perempuan, berpakaian daster warna-warni dan berteriak melengking.

Para pedagang menggelar dagangan mereka di atas tanah, di lapangan terbuka. Pasar ini diresmikan tahun 2000, dan pada tahun-tahun awalnya orang Afghan yang negerinya terisolasi karena perang hanya datang sebagai konsumen yang membeli barang buatan Rusia yang ditawarkan pedagang Tajik, mulai dari minyak, gula, cerutu, makanan. Sekarang kebalikannya, pedagang Afghan justru merajai pasar. Mereka menjual minyak dan gula bagi orang Tajik, juga berbagai alat elektronik murah buatan China, balon buatan China, boneka buatan China, permadani buatan tangan, foto pahlawan nasional pejuang mujahidin yang etnik Tajik, minuman bersoda Amerika made in Afghanistan, dan CD pengajian Islami buatan Arab Saudi. Ini pertanda ekonomi Afghanistan lebih dinamis, atau setidaknya aliran barang mereka lebih efisien.

Seorang pejabat Afghan mengatakan yakin, kelak suatu hari Ishkashim akan menjadi kota modern yang besar, karena ini perlintasan strategis Jalur Sutra abad ke-21 yang menghubungkan China dengan Tajikistan, Afghanistan, Pakistan. Namun pasar ini justru membangkitkan imajinasi saya akan nuansa bazar Jalur Sutra kuno, ketika berbagai bangsa dan budaya berinteraksi, ketika berita dan pengetahuan dipertukarkan dan berbagai fantasi dibenturkan.

“Saya dulu kira Afghanistan miskin. Tapi mereka ternyata lebih kaya dari kami,” kata seorang lelaki Tajik dari Ishkashim-nya Tajikistan.

“Orang Tajik punya kebebasan, budaya, pendidikan, tetapi mereka tidak punya uang. Kasihan mereka,” kata seorang pedagang Afghan.

“Orang Afghan? Dulu saya kira mereka cuma bisa perang. Sekarang bagus, kami bisa melihat mereka. Ternyata mereka berbicara seperti manusia, tertawa seperti manusia,” kata seorang gadis muda Tajik.

“Perempuan Tajik memang bebas. Tapi kami mempertahankan adat. Kami tak mau perempuan kami belajar dari mereka, jadi kami tak pernah izinkan perempuan kami datang ke pasar ini,” kata seorang guru Afghan dari Ishkashim.

“Aku takut orang Afghan, mereka tidak suka perempuan. Aku tak akan pernah menyeberang ke sana. Aku takut wajahku terlihat mereka,” kata seorang perempuan Tajik yang khusus menutup seluruh wajahnya dengan kain hitam hanya demi datang ke pasar ini, tetapi tetap memakai baju daster kembang-kembang warna-warni dan membiarkan leher putih mulus dan lengannya terbuka.

Matahari semakin tinggi, pasar pun menyepi, dan bubar pada tengah hari. Para manusia dari dua sisi garis batas ini satu demi satu kembali ke tanahnya masing-masing, ke dunia masing-masing, membawa pulang fantasi masing-masing akan dunia lain di seberang sungai.

(bersambung)

Indeks Artikel:
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Sebuah kedai teh Afghan di Ishkashim

Sebuah kedai teh Afghan di Ishkashim

Berbondong-bondong menuju pasar internasional

Berbondong-bondong menuju pasar internasional

Para perempuan Tajik menjajakan barang dagangan mereka.

Para perempuan Tajik menjajakan barang dagangan mereka.

Ini adalah tempat interaksi kedua bangsa

Ini adalah tempat interaksi kedua bangsa

Para pedagang Afghan menjual foto pahlawan nasional Afghanistan etnik Tajik, Ahmad Shah Massoud.

Para pedagang Afghan menjual foto pahlawan nasional Afghanistan etnik Tajik, Ahmad Shah Massoud.

Jembatan menuju negeri seberang

Jembatan menuju negeri seberang

Sebuah toko di pasar Ishkashim Afghanistan yang dibanjiri berbagai produk.

Sebuah toko di pasar Ishkashim Afghanistan yang dibanjiri berbagai produk.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

10 Comments on Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional

  1. akhirnya semalam saya beli buku titik nol nya koko Agus…😊

  2. Berarti buat orang pashtun guyonan nya “nge teh sek ben ra salah paham”

  3. Saya masih bermimpi #traveling ke sini. Semangat membara, tp tubuh menua

  4. Sy kira karpetnya made in China.

  5. Great story, boi! DItunggu kelanjutannya…

  6. Hmm.. kebutuhan tiap daerah memang berbeda. Permadani memang identik dgn padang pasir.

    Kl dipikir2, jual permadani di pasar padang pasir, urgensinya dimana :)
    Tuhan maha besar, maha tahu kebutuhan manusia

  7. dari penjelasan mas agus tentang ciri2 fisik orang phastun ada pada keluarga ayu azhari yg katanya keturunan afhanistan/ pakistan

  8. Zulfahmye Nu'an,Ch // September 26, 2015 at 1:51 am // Reply

    Izin share ya,Mas?!

Leave a comment

Your email address will not be published.


*