Recommended

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir

Serial artikel untuk Chinese National Geography

150901-wakhan-jalur-sutra-2-1

Sungai Pemisah Takdir

Amu Darya sang sungai ibunda mungkin memang sejak ribuan tahun telah ditakdirkan menjadi pemisah kehidupan manusia. Bangsa Yunani kuno menyebut Asia Tengah Transoxiana—“Seberang Sungai Amu” dan orang Arab Mawarannahr—“Tanah Seberang Sungai”.

Amu Darya lebih dari 2.500 kilometer panjangnya, bersumber dari mata air di Pamir, pegunungan salju atap dunia di ujung timur Koridor Wakhan. Di sana, dia berupa sungai-sungai kecil yang sempit namun bergolak deras dan mematikan, bahkan buihnya sampai melayang ke udara. Satu cabangnya di utara menjadi Sungai Pamir, yang menjadi batas antara Afghanistan dan Tajikistan di bagian timur Koridor. Lalu, turun dari Pamir, sungai ini menjadi sungai lebar berlumpur yang mengalir lambat di lembah Wakhan, terus mencapai Ishkashim, berbelok ke utara dan kembali menjadi sempit dan deras, tetap membelah provinsi yang sama-sama bernama Badakhshan di kedua negeri. Semakin ke barat, setelah selama 1.300 kilometer menjadi batas dengan Tajikistan, sungai ini kemudian menjadi batas antara Afghanistan dengan secuil wilayah Uzbekistan, bermetamorfosa menjadi sungai yang lambat namun lebar tak terkira. Semakin ke barat, sungai ini menjadi pembatas antara padang pasir Afghanistan dengan Turkmenistan yang sama keringnya. Di sana, gelegaknya sirna, bahkan terlalu lemah untuk mempertahankan arah alirannya sendiri, sehingga sering bergeser di tengah padang dan menimbulkan perselisihan antara kedua negara yang menjadikannya sebagai tapal batas. Amu Darya kemudian membelok ke utara, ke pedalaman gurun Pasir Hitam Karakum di Turkmenistan. Sebagian alirannya merembes, lenyap, ditelan keringnya gurun Pasir Merah Kyzylkum di Uzbekistan, sementara sebagian lagi berhasil mencapai muaranya di Laut Aral, danau mati raksasa yang terus menyusut di ujung Uzbekistan dan Kazakhstan.

Dalam epos bangsa Persia, Shahnama atau “Kisah Raja-Raja”, sungai ini dikisahkan sebagai batas dua negeri yang bermusuhan: Iran dan Turan. Rustam adalah pahlawan Iran yang tak terkalahkan. Tanpa sepengetahuannya, anak lelakinya terlahir di negeri Turan, dibesarkan oleh negeri musuh. Sohrab, anaknya itu, walaupun berdarah Iran kini menjadi pahlawan Turan, negeri bangsa Turki di seberang sungai Amu Darya. Hingga suatu hari, di bantaran sungai agung yang menjadi garis batas, ayah dan anak yang tak saling mengenal itu bertarung, membela negeri-negeri berbeda. Sohrab mati di ujung pedang Rustam, ayahnya sendiri. Ketika mengetahui yang dia bunuh ternyata anak kandungnya, Rustam bercucuran air mata, menyesali takdir garis batas yang tanpa iba memisahkan mereka.

Sebagaimana Rustam dan Sohrab, para warga sepanjang aliran Amu Darya di sisi Afghanistan maupun Tajikistan adalah orang-orang yang sama namun dibesarkan tuan-tuan berbeda yang bahkan pernah saling berperang dan bermusuhan. Kini telah menjadi manusia-manusia berbeda yang hidup dalam dimensi waktu berbeda.

Saya menyusuri aliran Amu Darya dari Ishkashim ke utara. Di sini, jalan berbatu dan berpasir milik Afghanistan yang bisa dilalui mobil telah berakhir, berganti jalan setapak sempit di pinggang bukit di tepi jurang terjal. Paralel dengan jalan ini, hanya dipisahkan Sang Sungai yang tak terlalu lebar, adalah jalan beraspal milik Tajikistan yang dibangun oleh Uni Soviet, dengan mobil jip dan truk berlalu lalang.

Tajikistan terlihat begitu dekat dan gamblang di depan mata. Tiang listrik dari kayunya yang doyong-doyong, rumah-rumah mungil dengan atap warna-warni bagai mainan lego, sapi-sapinya yang melenguh di padang hijau. Kita bahkan bisa mendengar suara tawa para perempuan muda dengan rambut tergerai yang berlarian, atau suitan para pemuda bertelanjang dada berjemur di pantai sungai. Bagaimana hatimu tidak bergejolak, ketika mobil jip melesat mulus di seberang sana, sementara kau harus menyepaki pantat keledai malas di sisi sungai sebelah sini? Jarak yang ditempuh selama dua hingga tiga jam di seberang sana, adalah perjalanan dua sampai tiga hari berjalan kaki atau berkeledai di sisi Afghanistan sini.

Ini sungai yang bahkan bisa sesempit 20 meter, namun memisahkan dimensi waktu di kedua sisinya sampai seratus tahun jauhnya. Di sisi Afghanistan ini, bahkan listrik pun masih diimpikan. Bagai menonton film fantasi tiga dimensi yang terus diputar tanpa henti, penduduk di sisi Afghanistan menyaksikan mobil berseliweran di tanah seberang tanpa tahu apa itu mobil, apalagi merasakan duduk di dalamnya. Mereka terus membicarakan betapa cantik dan murahnya perempuan seberang, sementara perempuan mereka sendiri nyaris tak pernah bepergian. Mereka mengagumi vila modern di seberang, sementara tinggal dalam rumah lumpur dan batu yang gelap.

Dari Ishkashim ke arah timur, tetap menyusuri Amu Darya, kita memasuki Koridor Wakhan, sementara Tajikistan terus menjadi dunia paralel tak tergapai yang selalu terpampang di depan mata.

Koridor Wakhan adalah tanah sempit membentang sejauh 300 kilometer, seperti lidah yang ditempelkan secara paksa ke wajah Afghanistan, dihimpit oleh Tajikistan di utara, Pakistan di selatan, dan China di timur. Di bagian tersempitnya, Koridor Wakhan hanya selebar 13 kilometer.

Terbentuknya wujud geografi yang aneh ini berkaitan dengan sejarah penciptaan Afghanistan—sebuah negeri yang tidak satu sentimeter pun garis batasnya ditentukan olehnya sendiri. Di abad ke-19, kekaisaran Inggris dan Rusia sama-sama bertarung demi memenangkan pengaruh di Asia Tengah, dalam pertempuran penuh intrik yang dikenal sebagai “The Great Game”. Untuk menghindari konfrontasi frontal, kedua kekaisaran berunding dan akhirnya pada 1895 sepakat membentuk sebuah zona penyangga, agar kekuasaan tsar Rusia tidak bersinggungan dengan kekuasaan Inggris di India. Penyangga itu adalah Afghanistan. Para imperialis itu menetapkan batas utara Afghanistan menggunakan kontur alam sungai Amu Darya. Koridor Wakhan ditetapkan pada tahun 1896, sebagai wilayah terakhir yang ditambahkan ke Afghanistan. Raja Afghan Abdurrahman saat itu sama sekali tidak senang menerima Koridor Wakhan. Dia sudah direpotkan konflik dalam negeri, kini masih harus ditambah ancaman para bandit Kirgiz yang mendiami pegunungan Pamir di ujung Koridor. Supaya Afghanistan mau menerima Koridor Wakhan, Inggris harus menghadiahi raja Afghan 1,85 juta rupee.

Sepanjang sejarahnya, Koridor Wakhan selalu sulit dikunjungi. Rintangan terbesar memasuki Koridor Wakhan, selain birokrasi karena statusnya sebagai daerah perbatasan sensitif, adalah alam dan jalan.

Di Koridor Wakhan memang ada jalan yang bisa dilalui mobil, tetapi jarang ada mobil melintas. Saya harus menunggu tiga hari di kedai teh Ishkashim hingga menemukan satu jip Rusia yang bisa saya tumpangi. Kondisi jalan juga sangat buruk, jip Rusia kami meloncat-loncat di jalan berbatu. Salju meleleh dari puncak pegunungan, mengalir menjadi sungai-sungai kecil yang seperti berlomba untuk mencapai sang ibunda Amu Darya, sering kali membanjir menutupi jalan. Dalam sehari perjalanan ini, setidaknya lima kali jip kami teronggok di tengah jeram. Kami para penumpang terpaksa turun, mencebur ke jeram yang sampai sepinggang dan membuat beku, mendorong mobil hingga mencapai tepian. Hanya mobil yang benar tangguh, juga pejalan yang benar tangguh, yang bisa melintas di sini.

Jalan batu ini, juga sejumlah jembatan kayu yang melintasi Amu Darya, dibangun Rusia pada 1960-an. Dalam masa invasi Uni Soviet di Afghanistan sejak 1979, mereka menduduki Koridor Wakhan dan menggunakannya sebagai salah satu pintu masuk utama tank dan pasukan. Sepuluh tahun berperang, adikuasa Uni Soviet memang tak berhasil menaklukkan Afghanistan. Pasukan terakhir Soviet kembali menyeberangi Amu Darya, meninggalkan Afghanistan pada tahun 1989. Namun invasi itu mengubah takdir Afghanistan untuk selama-lamanya. Pasca kepergian Soviet, perang terus berkecamuk di Afghanistan, antara faksi-faksi Mujahidin yang memperebutkan kekuasaan, radikalisme agama semakin merajalela, lalu disusul teror Taliban yang menerapkan hukum agama paling fundamentalis. Hingga hari ini, Afghanistan masih bergejolak, bom dan roket terus meledak di berbagai penjuru, masa depan negeri masih misteri.

Dan semua tragedi itu berawal di sebuah sungai, segaris tapal batas, seutas jalan, sepotong Koridor—yang ternyata begitu sunyi, damai, terkunci waktu.

 

(bersambung)

Indeks Artikel:
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Perjalanan di sisi Afghanistan dilakukan dengan keledai, sementara di sisi Tajikistan terlihat jalan dan pembangunan modern

Perjalanan di sisi Afghanistan dilakukan dengan keledai, sementara di sisi Tajikistan terlihat jalan dan pembangunan modern

Dua dunia dipisahkan oleh sebuah sungai

Dua dunia dipisahkan oleh sebuah sungai

Para gadis di sisi Afghanistan

Para gadis di sisi Afghanistan

Lelaki di sisi Afghanistan

Lelaki di sisi Afghanistan

Para gadis di sisi Tajikistan

Para gadis di sisi Tajikistan

Para perempuan Tajikistan terlihat memandikan domba mereka.

Para perempuan Tajikistan terlihat memandikan domba mereka.

Perjalanan dua sampai tiga jam di sisi Tajikistan dengan mobil sama dengan dua sampai tiga hari di sisi Afghanistan dengan berjalan kaki atau menunggang keledai

Perjalanan dua sampai tiga jam di sisi Tajikistan dengan mobil sama dengan dua sampai tiga hari di sisi Afghanistan dengan berjalan kaki atau menunggang keledai

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

2 Comments on Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir

  1. Subhanallah… klo org Tajik & Afghan tdk apa-apa berjumpa, sm2 ber aktifitas di sungai Amu D. semisal bersama 2 mandiin kambing , cuci baju dsb?

  2. Banyak sekali pengarang kitab zaman silam yg km pelajari berasal dr Uzbek, Naisaburi & sekitar sungai Amu Darya yang juga di sebut Mawaraannahr. klo sungai Jihun it dmn? skrg namanya ap Agustin?

Leave a comment

Your email address will not be published.


*