Recommended

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman

Serial artikel untuk Chinese National Geography

150901-wakhan-jalur-sutra-3-1

Koridor Zaman

Begitu meninggalkan Ishkashim, hal yang paling mengejutkan saya adalah melihat wajah perempuan—sesuatu yang hampir mustahil di Afghanistan. Di mana-mana tampak para perempuan desa Lembah Wakhan berpakaian warna-warni mencolok, melambaikan tangan sambil tersenyum ke mobil kami. Baju, kerudung, topi sulaman tangan di bawah kerudung, rompi, rok, celana kombor, juga perhiasan manik-manik berat yang menghiasi rompi mereka, semuanya dalam warna berbeda dan beraksen kuat, membuat mereka terlihat seperti khusus berdandan untuk festival.

Lembah Wakhan dihuni bangsa Wakhi, yang jumlahnya 100 ribu orang dan tersebar di daerah pegunungan Afghanistan, Tajikistan, Pakistan, dan China. Di Tajikistan mereka disebut sebagai “Tajik Pamir”, sedangkan di China hanya sebagai “Tajik”, walaupun mereka sebenarnya berbahasa, berbudaya, dan menganut kepercayaan yang berbeda dengan orang Tajik. Orang Wakhi adalah penganut sekte Islam Ismaili. Pemimpin spiritual umat Ismaili adalah Aga Khan, dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad.

Dusun Qala Panja, 80 kilometer atau dua hari perjalanan dari Ishkashim, dalam sejarahnya adalah tempat perhentian penting para musafir kuno zaman Jalur Sutra untuk mengganti kendaraan mereka dari kuda menjadi yak untuk melintasi pegunungan Pamir menuju China. Kini, Qala Panja adalah lokasi kediaman pemimpin umat Ismaili di seluruh Koridor Wakhan.

Lelaki itu dikenal sebagai Shah Panja, “Raja Panja”, tersohor untuk kemurahan hatinya menjamu dan menyediakan penginapan bagi semua musafir yang melintas. Dengan jubah kain sedikit kumal, serban miring di kepala, wajah yang memerah terbakar matahari, Shah bicara dengan karisma.

“Ajaran kami tidak mengenal cadar untuk membungkus perempuan. Perempuan kami bebas dan merdeka, sebagaimana manusia seharusnya.”

Saya bertanya inti ajaran Ismaili.

Shah menjawab, “Agama kami adalah kemanusiaan. Tidak peduli apa pun agamamu, yang pertama-tama kau adalah manusia.”

Walaupun kini umat Ismaili adalah kaum marginal yang tinggal di pedalaman pegunungan terpencil, aliran ini pernah mendominasi Asia Tengah pada masa keemasan Jalur Sutra. Ismaili melahirkan banyak pemikir Islam yang berjasa bagi dunia Muslim maupun seluruh umat manusia, misalnya Ibnu Sina yang dikenal sebagai Bapa Kedokteran Dunia. Tetapi kemudian, ketika dinasti-dinasti Turki menguasai Asia Tengah dari abad ke-10 hingga ke-13, umat Ismaili terus menjadi target penindasan dari para penguasa yang tidak bersimpati pada kehidupan dan tradisi intelektual mereka. Itu menyebabkan migrasi besar-besaran umat Ismaili dari kota-kota pusat peradaban Asia Tengah menuju daerah pegunungan terpencil di Badakhshan, termasuk ke Koridor Wakhan.

Selama ratusan tahun, isolasi total dari kepungan gunung-gunung tinggi adalah penyelamat Wakhan, membuat daerah ini sama sekali tak tersentuh radikalisasi dan kecamuk perang yang melanda seluruh Afghanistan. Tidak ada bom di sini (kecuali sedikit ranjau yang ditanam kaum Mujahidin di gunung Noshaq tak jauh dari Ishkashim), tidak pernah ada pertempuran, bahkan Taliban tidak sedikit menghiraukan untuk datang. Wakhan terus hidup dalam kedamaian dunianya sendiri, bagai Shangri-La tersembunyi.

Seperti halnya penghuni surga yang tidak terikat jerat materialisme, warga Wakhan rela mengorbankan semua demi menyambut tamu. Tak peduli semiskin apa pun mereka, ataupun apakah mereka masih punya gandum untuk disantap, mereka akan tetap membuka pintu rumah mereka untuk musafir yang membutuhkan, tanpa memandang siapa, dari mana, beragama apa. Mereka percaya, semua musafir adalah rahmat dari Tuhan yang harus disyukuri, dan memberi bantuan bagi musafir adalah ibadah.

Kemurahan hati para penduduk Wakhan inilah yang membuat saya sanggup terus melanjutkan perjalanan di medan berat ini. Saya berjalan kaki menyusuri perbukitan berbatu yang sunyi dan menyeberangi jeram-jeram yang menggelegak. Saya berjalan sepanjang aliran Sungai Amu, hingga melewati percabangannya di Langar, ketika Sungai Panj (bersama Tajikistan) membelok ke utara dan dikenal sebagai Sungai Pamir, sedangkan saya terus berjalan ke timur mengikuti aliran Sungai Wakhan yang berasal dari arah perbatasan China. Kedua cabang sungai adalah lintasan Jalur Sutra kuno.

Sepanjang Koridor Wakhan, saya menginap di rumah-rumah tradisional penduduk. Rumah tradisional Wakhi berbentuk kotak, terbuat dari batu dan lumpur, dengan langit-langit kayu. Sinar matahari menyeruak dari lubang jendela di atap rumah, menjadi sinar magis yang membuat wajah semua orang di dalam rumah berkilauan. Tanpa listrik dan peralatan modern apa pun, kehidupan mereka bahkan masih jauh lebih kuno daripada kebanyakan daerah di Afghanistan. Di dalam rumah ada sebuah panggung, tempat beradanya sebuah lubang yang berfungsi sebagai tungku untuk memasak dan memanggang roti. Mereka masak, makan, tidur di ruang yang sama. Para perempuan bahkan tidak segan menyusui bayi-bayi mereka di hadapan saya yang tamu asing ini.

Orang Wakhan hidup secara semi-menetap. Mereka tinggal di rumah permanen, bertanam gandum, tetapi juga menggembalakan ternak setiap hari. Beberapa bulan musim panas, sebagian anggota keluarga membawa kawanan kambing dan sapi ke padang rumput di balik gunung, dan baru kembali ke rumah ketika musim gugur datang. Aliran sungai berlimpah di Wakhan, tanah mereka pun subur hijau menghampar. Tetapi daerah ini sebenarnya kekurangan makanan. Musim bertani mereka teramat pendek, sedangkan musim dingin sangat kejam dan panjang.

Satu dari tiga bayi di Wakhan mati sebelum usia satu tahun, dan banyak perempuan mati saat melahirkan. Tidak ada obat, tidak ada dokter, banyak orang meninggal karena penyakit sepele seperti disentri. Untuk meredam sakit, banyak orang yang menggunakan opium hingga akhirnya menjadi pencandu. Bukan hanya lelaki, tetapi juga perempuan dan anak-anak. Semakin mereka mencandu, semakin miskin mereka karena begitu banyak ternak yang harus dijual demi mendapatkan beberapa gram opium. Kini organisasi sosial milik Aga Khan sang pemimpin Ismaili gencar melakukan program rehabilitasi bagi ribuan pencandu opium di sepanjang Koridor Wakhan.

Marco Polo adalah musafir legendaris yang pernah melintas di Wakhan pada abad ke-13, ketika Jalur Sutra mencapai masa keemasannya di bawah kuasa satu Kekaisaran Mongol yang membentang dari Asia ke Eropa. Dalam The Travels, Marco Polo melukiskan kemasyhuran batu mulia di daerah ini, ketangguhan kudanya, kemahiran pemanahnya, dan yang tidak kalah penting, keajaiban gunung-gunungnya. Menderita penyakit hampir setahun lamanya, Marco mengikuti anjuran para penduduk untuk mendaki ke puncak bukit. Di sini, penyakitnya sembuh. Satu hal penting yang mungkin sengaja dirahasiakan Marco mengenai rahasia kesembuhannya: opium. Kultur mengisap opium sudah ratusan tahun mengakar di daerah pegunungan di daerah ini, bahkan sejak jauh sebelum kedatangannya.

Catatan pertama tentang Koridor Wakhan sebenarnya adalah dari biksu China Xuanzang, yang datang ke sini pada abad ke-7. Kekaguman Xuanzang akan Wakhan adalah benteng-benteng kuno yang menjulang di puncak-puncak bukit di sepanjang aliran sungai. Hingga kini, sejumlah benteng kuno masih berdiri di sisi Tajikistan di seberang Amu Darya sana.

Sejak Zhang Qian menjadi pembuka kontak awal perdagangan antara Timur dan Barat, Koridor Wakhan perlahan menjadi lintasan penting Jalur Sutra dari kota Kashgar menuju Samarkand. Namun Koridor Wakhan hanyalah sebuah lintasan, sebuah koridor. Selama ribuan tahun, para musafir, saudagar, penyebar agama, penakluk, tentara, mata-mata, pengungsi, peziarah, penjelajah, petualang, melintasi Koridor ini menuju tujuan masing-masing. Tapi Koridor ini tidak pernah menjadi tujuan itu sendiri.

Ketika Jalur Sutra mati, dan Koridor Wakhan dikurung garis-garis perbatasan lalu menjadi seutas jalan buntu yang tidak mengarah ke mana-mana, bersama itu pula lintasan ini terisolasi, terlupakan. Wakhan bersama segenap makhluk penghuninya terkunci waktu.

 

(bersambung)

Indeks Artikel:
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Perjalanan berat di Koridor Wakhan

Perjalanan berat di Koridor Wakhan

Gunung Baba Tangi terlihat dari Koridor Wakhan

Gunung Baba Tangi terlihat dari Koridor Wakhan

Para lelaki dan perempuan Wakhan bekerja bersama di ladang

Para lelaki dan perempuan Wakhan bekerja bersama di ladang

Perempuan Wakhan

Perempuan Wakhan

Rumah Wakhan terbuat dari tanah liat

Rumah Wakhan terbuat dari tanah liat

Mereka hidup dengan cara seperti ratusan tahun lalu.

Mereka hidup dengan cara seperti ratusan tahun lalu.

Tentara perbatasan Afghan di Qala Panja

Tentara perbatasan Afghan di Qala Panja

Koridor Wakhan adalah daerah perbatasan sensitif

Koridor Wakhan adalah daerah perbatasan sensitif

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

5 Comments on Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman

  1. Sabda Nabi tamu, musafir adl rahmat. doa seorang musafir it mustajab.
    Foto-nya luar biasa keren bgt

  2. Berita tv indonesia tiap hari membahas darurat pengungsi.. jd ingat jenengan dan garis batas

  3. Syarat jadi relawan di timur tengah bgmn ya.Jadi ingin terjun langsung di kabul

  4. a picture can say more than thousand words.
    just like usual the photographs sooooo amaizing
    paling suka foto gunung baba

  5. Cerita2 perjalananan Agustinus Wibowo selalu memikat hati. Nunggu buku beliau selanjutnya..

Leave a comment

Your email address will not be published.


*