Recommended

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia

Serial artikel untuk Chinese National Geography

150901-wakhan-jalur-sutra-4-1Kehidupan Gembala Atap Dunia

Jalan mobil buatan Rusia berakhir di Sarhad-e-Boroghil, 220 kilometer di timur Ishkashim. Ini menandai berakhirnya Lembah Wakhan, yang dilanjutkan dengan Pamir di timur, ke arah perbatasan China. Selepas Sarhad, yang ketinggiannya sekitar 3300 meter, jalan berubah menjadi jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau berkuda, melintasi celah-celah pada ketinggian 5.000 meter dikelilingi puncak-puncak salju yang mencapai 7.000an meter. Ini jalan berbahaya di tepi jurang curam, yang seperti tak pernah tersentuh peradaban, namun justru adalah sebuah lintasan Jalur Sutra yang tak berubah sejak zaman Marco Polo.

Karena terlalu berbahaya, saya tidak mungkin ke Pamir sendirian. Setelah empat hari menunggu di Sarhad, saya akhirnya menemukan sebuah karavan kuda para tentara Afghan yang hendak menuju Pamir. Karavan terdiri dari seorang komandan perbatasan, seorang pengawal, empat serdadu memanggul Kalashnikov. Mereka mendapat tiga ekor kuda dari penduduk Sarhad. Dua lelaki Wakhi dari Sarhad menjadi pemandu karavan.

Di hadapan saya terpampang jalan setapak berpasir licin selebar 30 sentimeter tepat di tepi jurang vertikal yang kedalamannya mungkin sampai 1000 meter, dengan sebuah sungai deras mengaum dalam perjalanannya menuju Amu Darya, sementara tepat di seberang sungai ada sebuah tebing vertikal lain yang membentuk gunung cadas dan berkerut yang kita harus mendongak untuk bisa melihat puncaknya.

“Hanya satu jalan ini?” saya bertanya pada si lelaki Wakhi.

“Ya. Masalah?” tanyanya.

“Tidak ada sama sekali.” Saya berbohong.

Kaki saya terkilir, tak sanggup lagi berjalan. Mereka kemudian terpaksa menaikkan saya ke punggung seekor kuda, yang tanpa pelana hingga pantat saya penuh darah. Ini pertama kali seumur hidup saya menunggang kuda, nyaris terjatuh dari punggung kuda ketika mendaki lintasan curam dan sempit di tepi jurang. Yang paling seram adalah Celah Marpej—yang namanya berarti “Ular”—yang sesuai namanya, berupa kelok-kelok zig-zag nyaris tegak lurus dari kaki hingga puncak gunung. Kuda tidak sanggup mendaki dengan beban, sehingga semua penumpang harus turun. Saking terjalnya, bahkan kuda pun harus berhenti setiap tiga langkah untuk mengambil napas, dan berkali-kali kaki kuda tergelincir di atas pasir. Bersama langkah kaki karavan kami, batu-batu berjatuhan, langsung mengarah ke jurang yang saya saking dalamnya sampai tak terlihat dasarnya.

Beginilah di masa lalu karavan para pedagang harus melintasi pegunungan Pamir yang menjadi tembok pemisah antara Timur dan Barat. Kami berkuda dan berjalan selama tiga hari, bermalam di alam liar atau di peristirahatan gembala dari batu di tengah padang yang penuh lolongan serigala sepanjang malam, hingga akhirnya kami tiba di permukiman gembala Kirgiz yang pertama pada ketinggian 4.200 meter.

Begitu mencapai Pamir, pemandangan jurang-jurang pegunungan terjal seketika berubah menjadi padang datar hijau yang menghampar luas, dengan barisan gunung-gunung salju yang puncaknya membulat di kejauhan, dan tampak tidak terlalu tinggi dari dataran. Hampir tidak ada vegetasi selain rumput dan belukar, langit begitu rendah seperti nyaris bisa kita gapai. Pamir sejatinya bukan nama pegunungan, melainkan fenomena geografis. Sebuah “pamir” adalah tanah datar atau lembah yang sangat tinggi dan dikelilingi gunung, terbentuk ketika lelehan es membawa batu-batu dari puncak gunung sehingga menjadi sebuah tanah berbatu.

Salju turun deras, padahal ini adalah bulan Agustus, puncak musim panas. “Tahun ini kami tidak mengalami musim panas,” keluh gembala tua di dalam yurt, “Dan itu berarti, tahun ini musim dingin akan jauh lebih dingin daripada biasa.” Di musim dingin, mereka harus merebus salju dan es untuk air minum. Dingin membuat mereka duduk di perapian seharian. Bahan bakar mereka adalah tahi yak, yang harus mereka kumpulkan sejak sekarang di musim panas. Hewan-hewan pun tak menghasilkan susu di musim dingin, sehingga makanan untuk musim dingin harus ditimbun sejak musim panas. “Hewan lapar, maka kami pun lapar. Hewan mati, kami pun mati,” kata gembala tua.

Deskripsi Marco Polo tujuh abad lalu tentang Pamir masih relevan: “Tidak ada burung yang terbang ke sini karena tinggi dan dinginnya. Dan karena dingin ini, api pun tidak terlalu terang di sini, dan warnanya tidak sama dengan api di mana pun. Makanan pun tidak bisa matang.

Berbeda dengan masyarakat Wakhi, penghuni Pamir adalah seribuan orang bangsa semi-nomaden Kirgiz, berwajah Mongoloid dan berbahasa Turki penganut Islam Sunni, berpindah empat kali dalam setahun dan tinggal di dalam kemah-kemah yurt—kecuali di musim dingin mereka tinggal di rumah kayu. Sebagai gembala, makanan mereka semua berkaitan dengan ternak: daging, lemak, susu yak, keju, keju kering, krim susu, minyak goreng dari susu yak. Sedangkan untuk beras, tepung gandum, garam, harus mereka beli dari karavan pedagang yang datang dari pedalaman Afghanistan. Roti dan nasi adalah barang mahal di sini.

Tuan rumah menjamu kami dengan sangat mewah. Dia menyembelih seekor domba dan merebusnya untuk kami. Di Pamir nyaris tidak ada tanaman, jadi tidak ada sayuran dan bumbu. Karena tidak punya garam, domba itu hanya direbus tanpa apa-apa lagi, dan disajikan ke hadapan kami setelah diiris-iris dalam bongkah-bongkah besar.

Dalam kultur Kirgiz, untuk tamu yang paling penting, mereka harus menyajikan kepala domba. Kepala domba yang sudah dibakar itu menyeringai menyeramkan ke hadapan sang tamu utama—sang komandan. Sedangkan tamu penting berikutnya mendapat bongkahan lemak dari pantat yang sebesar bola—bagian saya. Para serdadu kecil dan pengawal justru mendapat daging padat. Sungguh ingin saya memberitahu mereka, mohon perlakukan saya sebagai tamu biasa saja.

Selama bepergian dengan komandan dari satu kamp ke kamp yurt Kirgiz yang lain, saya menemukan betapa setiap keluarga selalu menjamu rombongan kami dengan menyembelih domba. Ini terlalu berharga—kekayaan gembala di sini diukur dari berapa ternak yang dimilikinya. Saya tidak tahu pasti apakah itu sungguh sebuah keramahtamahan, atau penghormatan, atau ketakutan terhadap para rombongan tentara yang berselempang bedil.

Yang saya tahu pasti, kehidupan Pamir tidaklah mudah. Ketinggian yang tidak biasa ini menyebabkan kandungan oksigen di dalam darah terlalu tipis, sehingga ini bukan habitat manusia normal. Bahkan bagi hewan pun tidak. Di Pamir, hanya kuda jantan yang bisa hidup, betina tak bisa. Demikian pula dengan keledai. Orang Kirgiz terpaksa membeli kuda dan keledai mereka dari Wakhan dan hanya menggunakannya sebagai alat transportasi. Budaya bangsa Kirgiz aslinya berkutat pada kuda—mereka peminum susu kuda yang difermentasi. Tetapi tanpa kuda betina, tradisi ini mati.

Manusia pun mengalami nasib serupa: angka kematian perempuan sangat tinggi—baik pada saat lahir, bertumbuh, bertahan hidup, atau melahirkan. Dengan jumlah lelaki yang sekitar sepertiga lebih banyak daripada kaum perempuannya, pernikahan adalah masalah sangat pelik.

Di seluruh penjuru Pamir, saya menemukan begitu banyak lelaki yang tidak menikah bahkan sampai usia lanjut. Sedangkan sejumlah besar perempuan sudah dinikahkan sejak mereka menginjak usia 13 tahun, dan hampir semua perempuan yang berusia di atas 20 tahun sudah menikah. Untuk mengetahui status pernikahan kaum perempuan, kita tidak perlu bertanya, cukup melihat warna kerudung di kepala mereka—merah untuk gadis, putih untuk nyonya.

Sebuah upacara pernikahan yang sempat saya hadiri adalah di Lembah Manara, di ujung timur Koridor Wakhan, kurang dari 10 kilometer dari perbatasan China. Pengantin adalah seorang gadis muda yang baru 20an, merupakan sosok perempuan yang tidak pernah saya saksikan wajahnya, karena disembunyikan di sudut tenda, masih dibungkus kerudung merah tebal yang menutup seluruh kepala dan wajahnya. Tetapi saya bisa mendengar suaranya—berupa raungan menyayat hati seperti orang yang ditinggal mati keluarga tercinta.

Hingga detik ini, si gadis tidak tahu siapa lelaki yang akan menjadi suaminya. Di sini, pernikahan tidak pernah karena asmara. Si suami adalah seorang lelaki berjenggot yang dua kali usianya, lebih pantas menjadi bapaknya, yang akan menjadikan gadis itu sebagai istri kedua. “Aku sangat kaya,” kata lelaki berjenggot tipis itu, “Setiap hari kemahku kedatangan banyak tamu. Sebagai tuan rumah, kami harus menyiapkan teh dan menjamu tamu. Istriku terlalu repot, karena itu aku butuh istri kedua.”

Kelangkaan perempuan membuat perempuan dihargai sangat tinggi: 100 ekor domba. Seratus domba adalah jumlah yang terlalu besar, termasuk bagi keluarga kaya sekali pun. Namun pengantin lelaki ini ternyata tidak perlu membayar domba, karena dia melakukan strategi yang lazim dilakukan di Pamir: barter perempuan. Jika keluargaku memberikan satu perempuan untuk dinikahi lelaki keluargamu, maka kau juga harus memberikan satu perempuan untuk keluargaku.

Pengantin perempuan, di bawah bungkusan kerudung dan terpal tebal bersulam benang emas, digiring keluar tenda. Di bawah kain terpal itu masih ada tiga gadis perawan lain, yang tugasnya adalah menemani pengantin menangis. Sementara di sekelilingnya, para perempuan Kirgiz, yang semuanya berbaju merah menyala dengan kalung dan manik-manik yang menghiasi seluruh tubuh, bersenandung sendu dalam bahasa Kirgiz:

Bernyanyilah, rayakanlah,

Tirai dapur dari sutra adalah milikmu.

Jangan menangis anak gadisku,

Pernikahan ini adalah milikmu…

(bersambung)

Indeks Artikel:
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Perjalanan berbahaya menuju Pamir

Perjalanan berbahaya menuju Pamir

Perjalanan di Pamir harus melintasi berbagai jeram dan jurang.

Perjalanan di Pamir harus melintasi berbagai jeram dan jurang.

Bangsa gembala Kirgiz tinggal di dalam kemah yurt.

Bangsa gembala Kirgiz tinggal di dalam kemah yurt.

Para bocah Kirgiz di tenda mereka.

Para bocah Kirgiz di tenda mereka.

Pamir adalah tanah datar yang terletak di pegunungan tinggi atap dunia

Pamir adalah tanah datar yang terletak di pegunungan tinggi atap dunia

Merayakan pernikahan yang manisnya dilambangkan dengan taburan gula-gula.

Merayakan pernikahan yang manisnya dilambangkan dengan taburan gula-gula.

Sepasang pengantin Kirgiz Pamir

Sepasang pengantin Kirgiz Pamir

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

3 Comments on Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia

  1. akhirnya cerita berlanjut, keren mas avgustinus :-)

  2. Zulfahmye Nu'an,Ch // September 26, 2015 at 1:45 am // Reply

    Izin share ya,Mas?!

Leave a Reply to Zulfahmye Nu'an,Ch Cancel reply

Your email address will not be published.


*