Recommended

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti

Serial artikel untuk Chinese National Geography

150901-wakhan-jalur-sutra-5-1

Perjalanan yang Terhenti

Nama Pamir bagi kebanyakan orang Afghan adalah sinonim surga. Nama Pamir bertebaran di seluruh Afghanistan, mulai dari toko, restoran, hotel, biro wisata, perusahaan dagang, lembaga sosial, sampai maskapai penerbangan. Seperti Shangri-La, Pamir telah menjadi mitos utopia, sebuah tempat fantastis berlimpah keindahan dan kedamaian sempurna.

Namun, mengalami sendiri kehidupan di Pamir, saya tahu pasti ini bukanlah kehidupan surgawi yang dibayangkan orang-orang. Pada ketinggian yang ekstrem ini, kehidupan Pamir sama sekali tidak normal.

Sore musim panas yang berkabut dan bersalju lebat itu, saya berkuda menuju perkemahan sang Khan—raja suku orang Kirgiz di Pamir. Khan Abdul Rashid Khan, lelaki renta bertubuh ringkih itu berjalan pincang dengan dibantu sebuah tongkat kayu, masuk ke dalam yurt, duduk setengah berbaring. Tidak sedikit pun saya melihat kemegahan seorang “raja” pada diri Khan. Lima kemah pada klan keluarga Khan tidak jauh berbeda dengan permukiman klan-klan Kirgiz lainnya, bahkan jumlah ternaknya terlalu sedikit jika dibandingkan sejumlah keluarga lainnya.

“Mengapa tetap tinggal di alam yang sekeras ini?” saya bertanya.

“Tanah kami ini memang sulit, tetapi kami tak mungkin meninggalkannya,” jawabnya. “Kami sudah terlalu banyak berpindah. Sekarang kami sudah menemukan rumah. Di sini, di Pamir Afghanistan. Rumah kami, sekarang dan selamanya.”

Kirgiz adalah bangsa pengembara legendaris. Nenek moyang mereka berasal dari tepian Sungai Yenisei di barat Mongolia. Selama ribuan tahun, bangsa Kirgiz terus berpindah hingga mencapai padang rumput dan pegunungan di Asia Tengah. Nama Kirgiz berarti “empat puluh gadis”, atau “empat puluh suku”, yang bisa juga berarti “abadi” atau “tidak terkalahkan”. Namun, bagi orang-orang Kirgiz yang mendiami ujung terjauh Koridor Wakhan ini, perjalanan mereka telah final, langkah kaki mereka telah berhenti. Perpindahan mereka hanya dari padang Pamir yang satu ke padang Pamir yang lain, mengikuti pergerakan matahari dan perubahan sumber air. Dengan lintasan jalan yang begitu sulit dan berbahaya untuk keluar dari Pamir menuju Wakhan, hanya sebagian dari lelaki Kirgiz yang pernah turun gunung, dan praktis kaum perempuannya tidak pernah melihat dunia selain Pamir.

Khan menceritakan bagaimana orang Kirgiz bisa terdampar di Pamir. Padang rumput mereka semula adalah di pegunungan Pamir sebelah utara, yang kini adalah wilayah Tajikistan. Tahun 1916 terjadi revolusi Bolshevik di Rusia, dan banyak bangsa Asia Tengah yang bangkit melawan komunisme. Oleh Moskow, mereka dilabeli sebagai basmachi—“bandit”. Pemerintah Uni Soviet kemudian melakukan represi berdarah yang menyebabkan 300 ribu orang Kazakh dan Kirgiz melarikan diri ke Xinjiang di China, dan sekitar 250 keluarga Kirgiz melarikan diri ke Pamir Afghanistan.

Namun sebelum 1930an Uni Soviet tidak menyegel rapat perbatasan mereka. Orang Kirgiz Afghan masih diizinkan memasuki kembali wilayah Soviet untuk menggembalakan ternak selama empat bulan musim dingin, dengan membayar pajak. Pamir Afghanistan, dengan ketinggiannya yang ekstrem, adalah lokasi penggembalaan musim panas yang terlalu dingin untuk dihuni di musim dingin. Baru pada awal 1930an, Soviet menutup rapat perbatasan, sehingga orang Kirgiz Afghan kini terkunci di Pamir.

Tetapi perbatasan dengan China masih belum sepenuhnya tertutup, sehingga masih ada sedikit kontak berlangsung dengan Kashgar. Dalam masa itu, telah beberapa kali terjadi serangan dari Rusia kepada Kirgiz di Afghanistan. Misalnya dalam serangan terakhir yang terjadi tahun 1946 untuk membunuh Khan Kirgiz saat itu, Khan dan keluarganya terpaksa melarikan diri ke timur dan tinggal di Xinjiang. Dua tahun dia tinggal di sana, China menjadi komunis, dibayangi ketakutan Khan pun memutuskan untuk menyeberang kembali ke Pamir Afghanistan. Saat itu, perdana menteri Afghanistan sendiri yang menyambut kepulangan orang-orang Kirgiz ini dan berjanji untuk memberi perlindungan pada mereka.

Komunisme juga mulai berkuasa di Afghanistan di akhir tahun 1970an, yang membangkitkan kengerian di kalangan orang Kirgiz Pamir ini. Khan saat itu, Rahman Qul Khan, pada tahun 1978 memboyong hampir seluruh rakyatnya eksodus meninggalkan Afghanistan. Jauh sebelum Afghanistan dikenal sebagai negara sumber pengungsi, orang Kirgiz sudah menjadi pengungsi Afghanistan yang pertama. Mereka melewati perjalanan berbahaya melintasi gunung-gunung tinggi dan jurang untuk mencapai Hunza di Pakistan Utara. Rahman Qul Khan mengajukan permohonan 5.000 visa kepada Amerika Serikat untuk menempatkan semua pengungsi Kirgiz ke Alaska, yang mereka percaya memiliki iklim dan suhu serupa habitat asal mereka di Pamir. Amerika tidak juga mengabulkan permintaan ini, sementara dalam penantian bertahun-tahun banyak orang Kirgiz yang mati oleh panasnya Pakistan dan buruknya sanitasi kamp pengungsian. Sebagian pengungsi tidak tahan lagi, memutuskan kembali lagi ke Pamir. Kelompok ini dipimpin Abdul Rashid—lelaki tua yang berbaring di hadapan saya, sang “Khan” sekarang.

Pada tahun 1982, Turki yang menganggap orang Kirgiz sebagai sesama saudara Turk akhirnya setuju merelokasi Rahman Qul beserta semua pengikutnya yang masih tinggal di Pakistan ke Danau Van di Turki. Di sana mereka diberi desa yang dinamai Ulupamir (“Pamir Agung”) untuk mengenang tanah air yang mereka tinggalkan. Sementara orang-orang Kirgiz yang sekarang tinggal di Pamir Afghanistan ini adalah mereka yang tidak ikut mengungsi atau yang memutuskan pulang dari Pakistan.

“Kami tidak bisa hidup di Pakistan, tidak bisa makan makanan Pakistan, tidak bisa minum air Pakistan. Karena kami adalah orang Atap Dunia. Kami hanya bisa hidup di Pamir, bukan di mana-mana lagi,” kata Abdul Rashid Khan.

“Dan kalian lebih memilih Afghanistan yang dilanda perang?”

“Bagaimana pun inilah rumah kami.”

Malam itu, Khan menyalakan generator di salah satu yurt, demi memutar video tentang perjalanan anaknya yang mendapat undangan dari pemerintah Kirgizstan untuk melihat kehidupan orang Kirgiz yang tinggal di Kirgizstan dan Turki. Dalam video itu, terlihat jelas kekaguman Abdul Aziz putra Khan itu ketika menyaksikan mobil lalu lalang, perempuan yang bekerja di kantor, gedung-gedung tinggi, keramaian dan kesibukan kehidupan modern. Orang-orang Kirgiz yang tinggal di Pamir ini hampir semua kurus kurang gizi, sedangkan saudara-saudara mereka yang tinggal di Turki jauh lebih gemuk dan kekar. Mereka tinggal di blok-blok apartemen; anak-anak mudanya berkemeja, mengemudikan mobil, punya telepon, makan di restoran cepat saji; ada yang menjadi insinyur, mekanik, dokter. Para perempuannya tidak berkerudung merah dan putih, tetapi menggunakan kain warna-warni kecil yang diikat menutup kepala. Mereka juga tidak berpakaian merah menyala dengan manik-manik berat, tetapi pakaian pakaian universal ala Barat yang lazim dipakai di mana-mana di dunia.

Menonton video ini, Abdul Wali sang tokoh utama berkomentar, “Hidup itu seharusnya seperti di situ! Pamir memang kampung halaman, tapi apakah ini bisa disebut hidup?”

Menteri Luar Negeri Kirgiz pernah secara lisan menawarkan untuk memindahkan orang seluruh orang Kirgiz dari Pamir Afghan ke Kirgizstan, akan diberi tanah dan pekerjaan. Semua orang Kirgiz bersaudara, begitu dia bilang. Tetapi Abdul Rashid Khan menolak tegas, mengatakan, “Para perempuan kalian sudah telanjang, kalian sudah jauh dari tradisi.” Pemerintah Kirgizstan pernah menawarkan untuk memberi beasiswa untuk anak-anak Khan bersekolah di negeri itu, tetapi Khan menolak, takut anaknya belajar ilmu tak bertuhan, dan takut akan membuat pemerintah Afghanistan tidak senang.

Video tentang kemodernan Turki dan Kirgizstan terus diputar dalam tenda yurt bangsa nomaden yang menjalai hidup seperti nenek moyang mereka ratusan tahun silam. Dan Abdul Wali terus mendesah, “Kita hidup dalam sejarah. Kita masih belum tiba di masa pencerahan.”

Namun Sang Khan tua sama sekali tidak menyesal. “Hidup kita lebih baik daripada mereka. Hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Mereka bukan orang merdeka.”

 

(bersambung)

Indeks Artikel:
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Pamir terlalu dingin untuk ditinggali sepanjang tahun.

Pamir terlalu dingin untuk ditinggali sepanjang tahun.

Para perempuan merebus air untuk mencuci baju

Para perempuan merebus air untuk mencuci baju

Anak-anak Pamir hidup dalam dunia mereka yang terisolasi.

Anak-anak Pamir hidup dalam dunia mereka yang terisolasi.

Kehidupan di sini tidak lepas dari hewan ternak

Kehidupan di sini tidak lepas dari hewan ternak

Khan dan seroang cucunya

Khan dan seroang cucunya

Keluarga salah satu anak Khan.

Keluarga salah satu anak Khan.

Mengisap opium adalah bagian dari rutinitas keseharian.

Mengisap opium adalah bagian dari rutinitas keseharian.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

4 Comments on Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti

  1. mbak, bukunya bole dibeli online ga? Saya dari Malaysia

  2. mbak, bukunya bole dibeli online ga? Saya dari Malaysia

  3. thanks for sharing this. I always enjoy the story and the pictures. Love it.

  4. love the picture mas agustinus, very strong picture :) sangat keren!

Leave a comment

Your email address will not be published.


*