Recommended

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Serial artikel untuk Chinese National Geography

150901-wakhan-jalur-sutra-6-1

Jalan Menembus Batas

“Afghan datang! Afghan datang!” Para bocah yang tinggal di perkemahan yurt keluarga Khan bersorak meloncat-loncat menyaksikan titik kecil hitam yang bergerak di padang luas. Titik itu semakin mendekat, semakin menampakkan wujudnya. Para lelaki dari keluarga Khan berlarian menyambut. “Afghan datang!”

Orang Kirgiz Afghan secara natural tidak pernah menganggap diri mereka sebagai “Afghan”. Para “Afghan” itu adalah dua pedagang Pashtun dari Kabul yang beserban dan berjenggot, membawa karung-karung besar di punggung kuda. Keduanya langsung menuju sebuah yurt kosong yang dikhususkan menerima tamu. Di sana, mereka membongkar isi karung, sementara para lelaki keluarga Khan sibuk memilih barang, dan anak-anak hanya menonton di sudut kemah sambil terkikik-kikik.

Di Pamir tidak ada toko dan pasar. Semua barang kebutuhan orang Kirgiz di Pamir, mulai dari gandum sabun, kain, gula, selimut, radio, panel surya, potongan kayu untuk membangun tenda, kain merah untuk bahan pakaian perempuan Kirgiz, bros China untuk hiasan baju, sampai opium, dibawa oleh karavan pedagang Afghan dari bawah gunung sana. Mereka datang berkaravan, beriringan menunggang kuda. Di Pamir juga tidak ada uang. Perdagangan di abad milenium masih dilangsungkan dengan cara yang paling primitif: barter.

Satuan mata uang mereka adalah domba. Seekor domba berumur empat tahun setara 2 domba dua tahun. Seekor yak senilai 5 domba empat tahun, dan seekor kuda 15 domba. Dengan standar ini, mereka membeli barang kebutuhan: satu arloji dengan 1 domba kecil, sekarung beras atau tepung dengan 2 domba dewasa atau 4 domba kecil, satu televisi dengan 7 domba. (Dan satu istri 100 domba—tapi untuk yang ini, tidak dijual para pedagang Afghan).

Hari ini bisnis mereka lumayan. Mereka menjual sebuah permadani anyaman tangan orang Turkmen dari gurun Pasir Hitam seharga 15 domba kepada seorang anak Khan untuk menghias kemahnya. Dua bulan menyusuri Koridor Wakhan, dari desa ke desa, dari perkemahan ke perkemahan, mereka telah mengumpulkan 1.200 domba. Tapi domba-domba itu tidak langsung dibawa. Mereka akan terus berkuda dengan barang dagangan hingga ke permukiman kemah Kirgiz terjauh, di Lembah Manara dekat perbatasan China, sampai semua dagangan habis. Lalu dari sana, mereka akan menyusuri kembali satu demi satu perkemahan dan desa yang sudah disinggahi, untuk mengumpulkan domba dari setiap pembeli Kirgiz dan Wakhi.

“Apakah kalian harus melewati jalan mematikan di tepi jurang yang sama yang menghubungkan Pamir dengan Wakhan?” tanya saya.

“Tentu saja! Tidak ada jalan lain!” kata salah satu pedagang.

“Tapi bagaimana membawa begitu banyak ternak melintasi jalan maut itu?”

“Kami akan menyewa empat gembala dari sini, untuk berjalan kaki bersama sampai ke Wakhan. Lalu dari Wakhan kami akan menyewa empat gembala lagi, begitu seterusnya.” Mereka perlu 35 hari untuk berjalan kaki dari Pamir sampai ke Kabul. Di ibukota, mereka akan menjual semua domba ini sampai habis, lalu membeli barang-barang (mayoritas buatan China) yang akan dijual lagi ke Koridor Wakhan. Total perjalanan ke Koridor Wakhan memakan waktu sampai enam bulan. Dalam setahun mereka hanya bisa melakukan perjalanan ini sekali, tentu saja tidak di musim dingin.

Musim dingin, yang berlangsung lebih dari separuh tahun, ketika hewan-hewan tidak menghasilkan susu dan pedagang tidak lagi datang, adalah masa-masa tersulit bagi orang Kirgiz. Terkadang, ketika sudah sangat terdesak demi mendapat tepung untuk bahan roti, para lelaki Kirgiz akan melakukan perjalanan berbahaya dan ilegal melintasi celah-celah gunung di selatan menuju Pakistan, untuk menjual domba dan minyak. Minyak ini berasal dari susu yak yang dijadikan krim dan disimpan selama enam bulan. Minyak kemudian dimasukkan ke dalam kantung dari perut kambing, sehingga tidak busuk untuk dibawa dalam perjalanan jauh ke dataran rendah.

Pegunungan ini adalah tembok yang memisahkan manusia. Dalam sejarahnya, Pamir adalah penghalang utama bertemunya peradaban-peradaban India, Asia Tengah, Asia Barat dan Eropa untuk berkontak peradaban China di Timur. Tetapi, sejak Zhang Qian membuka lintasan Jalur Sutra kuno, Pamir dan lembah Amu Darya memiliki makna penting. Itu karena pegunungan ini bisa ditembus, dilintasi, mengizinkan pertemuan berbagai budaya yang secara total telah mengubah narasi sejarah manusia.

Jauh dibandingkan sekat sungai dan gunung, perbatasan yang lebih membunuh sebenarnya adalah garis batas internasional—garis-garis imajiner ciptaan manusia yang tergambar di peta dunia, yang sering membuat orang-orang yang hidup di tapal batas ini bertanya kenapa harus ada. Setelah Rusia menutup rapat perbatasannya pada 1930an, maka sebagian potongan Jalur Sutra kuno sepanjang Sungai Amu pun mati.

Jalur Sutra yang sudah sekarat itu ternyata masih berdenyut lemah. Perbatasan dengan China masih belum disegel, dan perdagangan antara Afghanistan dengan China masih berlangsung. Karavan pedagang China membawa permadani, tembikar, sutra, kapas, peralatan tembaga, koin emas. Sedangkan karavan pedagang Afghan menuju Kashgar membawa kacang pistacio, bulu hewan, rempah, bahkan opium. Orang Wakhi dan Kirgiz tidak pernah berdagang langsung, tetapi mereka juga hidup dari perdagangan ini. Mereka sering disewa para pedagang Afghan untuk menjadi pemandu perjalanan sepanjang Koridor Wakhan, dan 12 hari dari Pamir ke Kashgar. Mereka juga mendapat bayaran untuk memandu jemaah haji dari China yang menyeberangi pegunungan Pamir dan melintasi Afghanistan dalam perjalanan menuju tanah suci Mekkah.

Setelah Republik Rakyat berdiri, China menutup total perbatasan dengan Afghanistan. Rute perdagangan kuno berusia dua milenium yang telah dirintis leluhur bangsa China itu pun akhirnya mati. Bersamaan dengan itu, Koridor Wakhan terisolasi dan menjadi sebuah jalan buntu. Sebuah jalan from nowhere to nowhere.

Khan sudah dua kali turun gunung dan pergi ke Kabul untuk bicara langsung dengan Presiden Afghan Hamid Karzai, minta pemerintah Afghan segera membangun jalan ke Pamir. “Afghanistan hanya berjanji dan berjanji pada orang Pamir,” keluh Khan “Sekarang kepada siapa kami minta bantuan?”

“Tetapi medan Pamir ini mungkin terlalu sulit untuk dibangun jalan,” kata saya. Saya tak sampai hati memberitahu Khan bahwa negara-negara tetangga mengkhawatirkan tiga masalah utama untuk membuka perbatasan dengan Afghanistan: terorisme, luapan pengungsi, dan opium.

“Tidak ada yang mustahil,” kata Khan, “China punya teknologi maju. Saya yakin mereka akan membangun jalan ke sini, dan kami akan terbebas.”

Pamir, “surga” atap dunia, sumber sungai-sungai agung yang melahirkan peradaban luhur bangsa-bangsa, kini justru menjadi tempat yang terlupakan oleh peradaban. Alam dan garis batas boleh jadi menyekat manusia, tetapi sebagaimana sebuah Jalan kuno yang telah berlangsung ribuan tahun, Jalan adalah pendobrak garis batas yang memasung manusia. Hanya Sang Jalan yang bisa menjadikan Koridor Wakhan kembali hidup sesuai namanya—sebuah koridor.

“Impian kami cuma satu—Jalan.” Khan menarik napas panjang, memejamkan mata.
(TAMAT)

Indeks Artikel:
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti
Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Perempuan Kirgiz hampir tidak pernah melihat dunia luar

Perempuan Kirgiz hampir tidak pernah melihat dunia luar

Suasana kelas bangsa gembala

Suasana kelas bangsa gembala

Sekolah bagi anak-anak Pamir juga turut berpindah mengikuti perpindahan bangsa nomaden

Sekolah bagi anak-anak Pamir juga turut berpindah mengikuti perpindahan bangsa nomaden

Perjalanan jauh adalah hal yang hampir mustahil bagi perempuan Kirgiz

Perjalanan jauh adalah hal yang hampir mustahil bagi perempuan Kirgiz

Karavan melintasi jalanan menuju Pamir yang sangat berbahaya

Karavan melintasi jalanan menuju Pamir yang sangat berbahaya

Perjalanan ini terlalu berbahaya untuk dilintasi

Perjalanan ini terlalu berbahaya untuk dilintasi

Impian mereka hanya satu--jalan

Impian mereka hanya satu–jalan

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

  1. Al ‘ais fi zamanil Qodim fi atsnai zamanil ‘ashriyah. Masyaallah.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*