Recommended

Titik Nol 86: Perang Omlet (2)

Direkomendasikan oleh Lonely Planet. (AGUSTINUS WIBOWO)

Direkomendasikan oleh Lonely Planet. (AGUSTINUS WIBOWO)

Kios omelet di depan pintu gerbang jam kota Jodhpur memang nampak biasa dari kejauhan. Yang tidak biasa adalah persaingan sengit di antara mereka gara-gara sebuah buku panduan turis berjudul Lonely Planet.

“Terletak di pintu gerbang utara menara jam kota Jodhpur, kios omelet ini memang tampak seperti kios biasa. Tetapi konon mereka berhasil menjual 1.000 telur per hari dan penjualnya sudah berkecimpung dalam bisnis ini selama 30 tahun.” Demikian Lonely Planet India menulis tentang toko omelet ini di bagian “Tempat Makan” di kota Jodhpur. Sebuah paragraf yang bahkan saya lirik pun tidak, tetapi gara-gara mendengar kisah persaingan seru kios-kios omelet di sekitar jam kota, saya pun tertarik membaca.

Sebait paragraf sederhana ini, ditambah lagi informasi tentang pedasnya omelet dan harganya yang murah, ternyata berarti luar biasa bagi bapak tua pemilik warung. Kepalanya sedikit botak, kaca matanya tebal, dan dengan bangga ia berkata, “saya sudah bekerja 33 tahun!”

Seperti di warung sebelah, pemilik warung ini juga lebih sibuk menunjukkan testimoni kejayaannya daripada menyajikan omeletnya. Saya disuguhi dua lembar fotokopian ukuran besar dari halaman Lonely Planet yang menyebut tokonya, dilaminating pula. Ini adalah kebanggaannya yang paling besar. Paragraf itu di-highlight, bagian ‘wajib baca’ untuk semua turis yang bertandang ke Jodhpur.

Pemilik warung menunjukkan koleksi ratusan foto yang tersimpan dalam album besar, bukti kunjungan para turis yang berfoto bersama dengan dirinya. Agak membosankan, karena semua foto itu menunjukkan warung yang sama, warung yang ini-ini juga. Tetapi bagi sang pemilik, betapa tak terhingga nilainya album foto ini.

Belum puas dengan foto, masih ada lagi koleksi kartu pos yang dikirim oleh penggemar omeletnya dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika, Eropa, hingga Australia.

Saya disuguhi buku testimoni. Seperti yang saya duga, jumlahnya bertumpuk-tumpuk. Bagaimana tidak, semua orang asing yang makan di sini disuruh menulis.

Sebagian besar komentar di buku itu memang memuji kelezatan omelet bikinan bapak tua. Buat saya membosankan. Omelet saja sampai perlu ribuan pujaan seperti ini, yang sampai dibukukan, dijilid, disampul, dilaminating. Mungkin suatu hari nanti malah akan dicetak dan dijual di toko buku.

Tetapi ada halaman komentar yang membuat saya cukup tercengang. Tertulis dalam huruf Mandarin, penuh nada kemarahan.

Persaingan ketat. (AGUSTINUS WIBOWO)

Persaingan ketat. (AGUSTINUS WIBOWO)

“Pemilik warung ini benar-benar harus diajar, Taiwan adalah bagian dari China!!!” Penulisnya adalah seorang turis China yang merasa semangat nasionalismenya terinjak-injak ketika ditanya oleh pemilik kios, “Kamu dari China atau dari Taiwan?”

Apalah artinya masalah Taiwan dan China bagi pemilik warung telur dadar di sebuah kota kecil India ini?

Tetapi bagi turis China dan Taiwan ini, masalah kebangsaan mereka adalah segala-galanya. Buku testimoni warung omelet ini malah menjadi ajang adu debat lewat tulisan, dan saya hanya bisa membaca sambil menyusuri jejak perselisihan turis kedua negara.

Turis Taiwan membalas komentar berbahasa Mandarin itu dengan tulisan bahasa Inggris ukuran besar, “Taiwan is always a free individual!!! Taiwan senantiasa adalah negara merdeka!!!”

Percekcokan tulisan di atas buku itu semakin ramai. Turis lain dari China, yang entah mengunjungi tempat ini berapa hari atau berapa bulan setelah komentar orang Taiwan itu, menanggapi dengan umpatan bahwa kemerdekaan Taiwan sekadar omong kosong belaka. Komentarnya panjang lebar, dilanjutkan dengan ceramah beberapa baris tentang sejarah Taiwan dan berjuta alasan kenapa Taiwan harus menjadi bagian dari China.

Turis Taiwan lainnya, seorang nasionalis yang tidak terima dengan penjelasan sejarah itu, segera membalas dengan makian lainnya, “Dasar orang daratan jelek, brengsek!”

Betapa tidak masuk akalnya, buku warung kaki lima bisa menjadi ajang debat politik dan sejarah kaum nasionalis dari negara yang letaknya ribuan kilometer dari sini. Bagaimana omelet sederhana bisa menjadi begitu rumit penuh intrik dan dramatisasi sampai menjadi fenomena antik yang belum tentu ada di mana pun?

Buku testimoni adalah cara handal untuk menggaet konsumen. Semua losmen dan penginapan punya setumpuk buku tamu yang selalu ditunjukkan dengan bangga, untuk meyakinkan calon konsumen. Persaingan berebut duit turis di kota ini begitu ketat. Bahkan warung omelet pun punya buku tamu, koleksi foto dan kartu pos, kartu nama mengkilat, sampai plakat besar mencatut nama Lonely Planet. Dan jangan heran, penarik rickshaw di kota Jodhpur pun punya bukut testimoni yang mencatat kepuasan para penumpang.

Banyak anekdot dan debat di antara tumpukan buku testimoni. (AGUSTINUS WIBOWO)

Banyak anekdot dan debat di antara tumpukan buku testimoni. (AGUSTINUS WIBOWO)

Pemilik warung tentu saja meminta saya menulis juga. Sebenarnya turis yang makan omelet di sini membayarnya tidak hanya pakai uang, tetapi juga beberapa baris kata-kata manis di buku testimoni.

Dalam bahasa Indonesia saya menulis, omeletnya lumayan, tetapi akan jadi lebih baik lagi kalau saya tidak dipaksa menulis.

Saya cuma ingin omelet. Itu saja.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 1 Desember 2008

1 Comment on Titik Nol 86: Perang Omlet (2)

  1. Untung gk ada debat malaysia vs Indonesia :v

Leave a comment

Your email address will not be published.


*