Recommended

Manda 20 September 2014: Terdampar di Tempat yang Salah

140920-png-manda-stranded-1

Saya sudah banyak mendengar rumor tentang Manda dari warga Obo. Tempat itu tepat berada di perbatasan PNG—Indonesia, mereka bilang. Orang-orang Manda adalah warga Papua Nugini tetapi tanah mereka ada di Indonesia. Saking dekatnya dengan Indonesia, orang Manda semua bisa bahasa Indonesia. Sempurna! Ini adalah tempat yang penuh cerita. Saya harus pergi ke Manda!

Perjalanan meninggalkan Obo sebenarnya agak terlalu mulus buat saya. Penduduk bilang, sangat jarang ada perahu yang berangkat dari Obo ke arah utara. Tetapi kebetulan, besok ada rombongan dokter yang hendak berangkat dengan perahu speedboat dengan mesin 60 HP menuju Kiunga. Siapa tahu saya bisa menumpang mereka?

Keesokan paginya, subuh-subuh saya meninggalkan gubuk milik Gids Salle, menyeberangi sungai yang memisahkan Obo Lama dari Obo Baru dengan rakit, lalu berlari menuju rumah sakit di sebelah landasan udara yang lebat tertutup ilalang, demi mencari dokter Felix. Dokter muda yang berasal dari daerah Highlands di bagian tengah Papua Nugini itu kemudian membawa saya menemui dokter perempuan kepala rombongan. Saya memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan perjalanan saya. Dokter kepala dengan senang hati menerima saya dalam perahu itu.

Semua dokter dalam rombongan dari Kiunga ini berasal dari luar Western Province. Dokter kepala rombongan berasal dari Sepik di utara dan satu dokter perempuan berasal dari Pulau Bougenville di ujung timur Papua Nugini.

Walaupun berasal dari daerah yang berbeda-beda, para dokter ini semua sepakat Western Province sangat terbelakang. Para penduduk Western Province rata-rata menyalahkan ketidakpedulian pemerintah pusat sebagai penyebab keterbelakangan itu, tetapi mereka tidak pernah seperti penduduk Pulau Bougenville yang angkat senjata dan memberontak. Di mata para dokter ini, keterbelakangan Western Province ini bukan salah siapa-siapa melainkan para warga yang terlalu pasif dan hanya menunggu mukjizat. Menunggu datangnya orang yang akan mengubah nasib mereka.

“Tidak ada siapa-siapa yang akan mengubah nasib mereka kalau bukan mereka sendiri,” kata dokter Felix, “Mereka sangat berbeda dengan kami orang Highlands. Alam kami sangat keras, kami tinggal di pegunungan gersang. Tapi itu yang membuat kami kerja keras, dan menguasai bisnis. Sekarang di mana pun di Papua Nugini bisa kau lihat orang Highlands. Sedangkan Western Province ini, tanahnya subur tetapi penduduknya malah sangat miskin, karena mereka malas.”

“Dan mereka tidak punya semangat bertarung seperti kami orang Bougenville,” kata dokter perempuan muda dari Bougenville. Pulau di ujung timur Papua Nugini yang penduduknya paling hitam legam warna kulitnya itu pernah berperang melawan pemerintah pusat karena alam mereka yang kaya dieksploitasi oleh pemerintah dan perusahaan pertambangan asing.

Dia bilang begitu, padahal dia dan para dokter yang lain ini bekerja untuk perusahaan pertambangan Ok Tedi, yang aktivitas pertambangan emas dan tembaganya di hulu sungai sana telah menimbulkan kerusakan parah bagi Sungai Fly dan penderitaan berkepanjangan bagi warga sini. Ironisnya, penduduk Sungai Fly kini justru berterima kasih pada Ok Tedi karena program-program pembangunan Ok Tedi, termasuk program kesehatan yang dikerjakan para dokter ini, telah membantu hidup mereka. Perusahaan pertambangan kini telah menggantikan fungsi pemerintah sebagai pembangun negeri. Sang pembunuh kini telah menjadi pahlawan.

Perjalanan menyusuri Sungai Fly bagian tengah

Perjalanan menyusuri Sungai Fly bagian tengah

Perahu kami melewati sungai dengan hutan rimba yang sangat pekat di kiri dan kanan. Sekitar satu jam perjalanan melintasi rawa-rawa yang menjadi jalan pintas, kami singgah di Ayambak untuk mengisi bensin, lalu melanjutkan perjalanan melewati rawa. Mesin perahu ini terlalu kuat, sehingga pemandangan sungai menjadi gambar kabur yang cepat berlalu. Tetapi jelas terlihat, desa-desa semakin jarang dan semakin miskin. Lusinan anak-anak yang nyaris telanjang sempurna berlarian untuk melambaikan tangan pada kami. Seolah menyaksikan perahu melintas merupakan hiburan istimewa bagi mereka.

“Kami sangat mengkhawatirkan kamu. Sebaiknya kamu ikut kami sampai ke Kiunga,” kata dokter Felix.

“Tetapi saya perlu pergi ke Manda. Desa ini terletak tepat di perbatasan Indonesia dan saya sangat tertarik dengan isu perbatasan,” kata saya.

“Kamu bisa-bisa tersangkut di sana. Itu desa kecil dan miskin. Mereka tidak punya bensin dan perahu,” kata dokter Felix.

“Tetapi mereka terletak di aliran utama Sungai Fly. Banyak perahu yang melintas naik turun ke Kiunga. Saya bisa melambaikan tangan dan menyetop perahu untuk menumpang,” kata saya.

“Setahu saya, tidak akan semudah itu.”

Saya sungguh tidak menyangka, dengan perahu bermotor 60 HP ini, perjalanan ke Manda sangat singkat. Tidak sampai tengah hari, perahu kami merapat di sisi kiri sungai.

Sisi kiri? Bukankah Manda seharusnya berada di sisi kanan?

Kalau kita melihat peta, perbatasan antara Papua Nugini dan Indonesia berupa garis lurus. Di bagian tengah agak ke bawah garis lurus itu ada sebuah “benjolan” yang menjorok ke arah Indonesia. Lekukan itu adalah Sungai Fly. Pada bagian lekukan itu, di sisi kiri sungai adalah Indonesia dan di sisi kanan adalah Papua Nugini.

140920-png-manda-stranded-7

Bayangan saya, Manda adalah desa Papua Nugini yang berhadapan dengan wilayah Indonesia, karena itu seharusnya berada di sisi kanan sungai. Ada yang salah. Tapi saya sudah tidak ada jalan mundur lagi. Perahu kami merapat. Di bantaran, seorang perempuan bertelanjang dada berdiri dikerumuni anak-anak yang memandang takjub. Kulit mereka dipenuhi bercak putih karena kudis yang sangat parah; ada beberapa anak yang kudisnya merata di seluruh tubuh.

Para dokter itu bicara dengan berteriak dari perahu kepada perempuan itu, bahwa saya adalah turis dari Indonesia yang ingin melihat kehidupan mereka. Mohon sediakan tempat menginap. Perempuan itu mengangguk, tersenyum.

“Jangan khawatir,” kata dokter kepala rombongan, “saya pernah ke Manda. Ini desa yang indah dan penduduk sangat ramah.”

Saya turun dari perahu, seperti pasukan terjun payung yang mendarat sendirian di tanah yang sama sekali asing.

“Kau masih bisa ikut kami ke Kiunga kalau kau mau.” Untuk terakhir kali dokter Felix menawarkan.

“Tidak. Saya berhenti di sini saja.”

Saya menyaksikan perahu itu beranjak pergi, para dokter melambaikan tangan untuk berpisah. Seketika itu pula kecemasan menggerayangi saya.

Salam perpisahan

Salam perpisahan

Kesan pertama Manda

Kesan pertama Manda

Dalam perjalanan saya selama ini, saya selalu menumpang perahu yang bisa memperkenalkan saya kepada penduduk desa yang saya datangi. Itu sebabnya saya selalu bisa tinggal dengan keluarga dan membaur dalam kehidupan mereka dari dekat. Tetapi kini, saya tiba di Manda tanpa tahu siapa-siapa. Saya hanya tahu nama kepala desa mereka.

“Di sini ada Terrence Loka?” tanya saya pada para lelaki, dalam bahasa Indonesia.

“Tidak ada. Kepala kampung dia orang ada di Manda 1. Ini Manda 2,” jawab salah seorang dari mereka dalam bahasa Indonesia terbata-bata.

“Manda 1 jauh?”

“Tadi sudah kamu lihat sebelum datang ke sini.”

“Di sini Indonesia?”

“Tidak, Mas. Ini Papua Nugini.”

Saya menunjukkan peta, menuding pada lekukan di perbatasan garis lurus itu.

No.”

Saya terdampar di tempat yang salah.

Baju yang mereka pakai berasal dari Indonesia

Baju yang mereka pakai berasal dari Indonesia

Semua sangat berhati-hati ketika bicara dengan saya.

Semua sangat berhati-hati ketika bicara dengan saya.

Mereka menaruh tas saya di sebuah rumah kosong dari bilah-bilah kayu di depan bibir sungai. Ini tampaknya rumah khusus tamu, yang tidak dihuni. Rumah ini cukup baru, tetapi saya tidak bisa bayangkan jika harus tidur sendirian di sini sepanjang malam. Dingin dan tak bersahabat. Sedangkan mereka sama sekali tidak mengundang saya untuk menengok rumah keluarga mereka.

Para lelaki itu duduk di balai-balai di depan rumah untuk tamu itu. Saya menggelar peta. Sekali lagi saya menunjuk pada lekukan perbatasan. “Bagaimana cara ke sini?” tanya saya.

Mereka bicara sendiri dalam bahasa mereka, sambil sesekali mata mereka melirik pada saya. Tapi tidak seorang pun menjawab saya.

“Saya dengar ada patok perbatasan Indonesia dan Papua Nugini di perbatasan. Di mana itu?” tanya saya.

“Ada di mil 322,” kata seorang dari mereka. Manda 2 berada di mil 314.

“Bisa antar saya ke sana?”

Mereka sekali lagi bicara satu sama lain dalam bahasa mereka. Cukup lama. Saya mengulangi pertanyaan saya. Seorang dari mereka menggumam tidak jelas, dan saya menangkap dua kata bahasa Indonesia: uang dan dayung. Tentu bukan perjalanan gratis.

Sekali lagi saya menunjuk ke peta, pada lekukan perbatasan. “Ada kampung di sini yang bisa saya datangi?”

Pertanyaan itu seketika membuat suasana menjadi tegang. Mereka berbisik-bisik hingga mendesis-desis, dan sorot mata yang ditujukan pada saya sangat tidak bersahabat.

“Tidak ada kampung di sana, cuma ada kamp,” kata seorang.

“Kamp orang West Papua,” kata yang lain.

“OPM,” sambung yang lain lagi.

“Mereka akan bikin mati kamu…”

Lalu meledaklah tawa mereka. Seketika bulu tengkuk saya merinding. OPM adalah singkatan Organisasi Papua Merdeka, gerakan perlawanan di Papua yang dikuasai Indonesia untuk memerdekakan diri dari Jakarta.

“Nama kamu siapa?” tanya saya pada seorang lelaki, untuk mengubah topik pembicaraan. Charles, kata lelaki berjaket tentara dengan nama Korea Lee di depan dada. Nama belakang?, tanya saya. Dia membisu. Semua membisu.

Saya menanyai satu per satu nama mereka, dan kini tidak ada satu pun yang menjawab. Mereka hanya bicara satu sama lain dalam bahasa mereka, yang sama sekali tidak saya mengerti. Tetapi saya tahu topik utama bahasan mereka: saya.

Seketika saya sangat menyesal turun dari perahu para dokter itu. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan ada perahu berikut yang melintas menuju utara. Seminggu? Dua minggu? Sebulan? Sementara saya adalah tamu yang tidak diharapkan kedatangannya di sini. Bagaimana saya bisa bertahan? Tanpa kehangatan di hati, bahkan penantian setengah hari pun adalah siksaan berkepanjangan.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

3 Comments on Manda 20 September 2014: Terdampar di Tempat yang Salah

  1. tidak mengutuk bom bunuh diri di Istanbul dan Jakarta gus ?

  2. apakah perbatasan PNG sisi papua indonesia juga akan di jelajahi

Leave a comment

Your email address will not be published.


*