Recommended

Pakistan: Ketika Tuhan Menjadi Negara

Pakistan Zindabad (AGUSTINUS WIBOWO)

Perbatasan Wagah (disebut Attari oleh India) terletak hampir tepat di tengah jarak antara Lahore di Punjab Pakistan dengan Amritsar—kota suci umat Sikh di Punjab India. Walaupun ini satu-satunya perlintasan resmi sepanjang 2.900 kilometer garis batas kedua negara, perbatasan biasanya sepi sepanjang hari. Sangat sulit bagi penduduk mereka untuk saling mendapatkan visa; minat saling berkunjung juga rendah. Perbatasan ini sesungguhnya adalah pseudo-stadion, dengan tribun-tribun berhadap-hadapan bagi penonton, di sisi Pakistan maupun India. Menjelang sore, perbatasan mendadak ramai oleh penduduk kedua negeri yang membanjiri tribun masing-masing seperti suporter sepak bola fanatik.

Di sisi India, dari lautan manusia berbaju warna-warni memenuhi tribun di seberang garis batas dan berkilau keemasan dibilas matahari senja, terdengar meriahnya dendang musik pop Bollywood, juga gemuruh pekikan: “Hindustan Zindabad!” Hiduplah India! Di sisi Pakistan, di bawah bayang-bayang Gerbang Kebebasan, kami tak mau kalah, memekik sekencang-kencangnya, “Pakistan Zindabad! Pakistan Zindabad!”

Pemandu sorak kami adalah seorang kakek berjenggot putih. Konon dia tak pernah absen agar semangat kami Pakistan jangan sampai kalah dari India. Dia selalu mengenakan pakaian hijau yang sama, bergambar bulan sabit dan bintang—lambang Islam dan lambang Pakistan—dan bertuliskan huruf Urdu: Pakistan Zindabad.

Nara e Takbir!!!” Pekikkan kebesaran Allah! kakek itu berteriak.

Allahuakbar!” Tuhan Maha Besar! para lelaki Pakistan menyahut.

Suara ini terlalu lemah, tidak mungkin mengalahkan tabuhan genderang di sisi India sana. Kami bagai Daud melawan Goliat. Mereka ribuan: tentara berseragam, bocah-bocah sekolah, perempuan bersari, lelaki berjaket, para penari, turis-turis kulit putih berkamera, sepeleton band. Sedangkan kami hanya ratusan, masih dipisah berdasar—ya, seperti kau duga—jenis kelamin. Tribun di utara untuk perempuan, tribun di selatan untuk lelaki. Suami terpisah dari istri, abang terpisah dari adik perempuan. Tribun masih dibagi lagi menjadi tiga kelas: VIP, turis, warga lokal. Mata kakek itu menatap kami tajam, mengayunkan bendera nasional seukuran setengah tinggi tubuhnya yang terikat pada tongkat bambu di genggaman tangannya. Kakinya menghentak tanah keras-keras, dia meraung. “NARA E TAKBIR!!!”

Tuhan Maha Besar” balasannya kini terdengar sedikit lebih nyaring.

Nara e Risallah!” Pekikkan kenabian!, jerit kakek.

Ya Rasulullah!” Ya Muhammad sang utusan Allah!

Nara e Haideri!” Pekikkan nama Ali!

“Ya… Ali!” Kata “Ya” kami ucapkan panjang, dan nama Ali diludahkan dalam satu hentakan cepat. Kakek tersenyum puas. Musik latar belakang kami adalah lantunan doa-doa berbahasa Arab.

Bendera India dan Pakistan turun bersama-sama (AGUSTINUS WIBOWO)

Bendera India dan Pakistan turun bersama-sama (AGUSTINUS WIBOWO)

Pertunjukan utama dimulai. Para tentara perbatasan Pakistan ber-shalwar qameez hitam beserban hitam dengan lipatan kipas raksasa tegak lurus di atas kepala, membuat mereka seperti merak berjambul, bertubuh jauh lebih tinggi daripada rata-rata serta berjenggot berkumis rimbun, berjalan dengan langkah angsa tegap berjingkat-jingkat termental-mental, dengan pandangan mata yang ganas, gagah membuka pintu pagar perbatasan yang berwarna hijau yang didominasi bintang dan bulan sabit warna putih. Hanya beberapa sentimeter di seberang garis putih—garis batas sebenar-benarnya antara kedua negara—sudah bersiap tentara perbatasan India, semuanya berkumis tebal dan pekat tapi berpostur lebih pendek daripada tentara Pakistan, berseragam khaki dan topi merah berkipas yang juga seperti jambul merak. Tentara India melakukan gerakan sama persis, membuka gerbang mereka yang berwarna safron, putih, hijau—warna nasional negeri mereka. Setiap gerakan sangat terhitung, termasuk sentakan badan berlenggok dan tolehan-tolehan gesit seperti kepala merak, menjadi perpaduan yang aneh antara aroma pertempuran dan kemolekan balet. Bagaimana negara yang bermusuhan bisa bekerja sama merancang suguhan tontonan kompetisi dengan koreografi yang begitu saksama dan simetris ini memang mengundang keingintahuan. Mereka menurunkan bendera perlahan-lahan, kedua bendera merayap diagonal pada ketinggian yang selalu sama, karena tak satu pun negara beserta suporternya yang rela kalau bendera mereka lebih rendah daripada bendera negara seterunya. Prosesi inti penurunan bendera ini sendiri sebenarnya kurang dari dua menit, tetapi keseluruhan pertunjukan berlangsung hampir satu jam, tanpa henti mengencangkan otot-otot nasionalisme orang-orang di kedua sisi garis batasPara tentara memegang bedil dan pentungan. Para penduduk memegang bendera dan genderang. Siapa pemenang dari duel tak berdarah ini memang tak pernah diumumkan, tetapi parameternya mungkin adalah kontingen mana yang sanggup menarik sorak-sorai paling meriah dari pendukungnya.

Satu garis batas, satu cermin, dua bayangan saling bermimikri. Konflik mereka pun seperti bayangan di cermin yang berbalasan. Dalam enam puluh tahun terakhir, isu perbatasan masih menjadi sumber permusuhan kedua negara, yang menyebabkan berperang sampai tiga kali, menggunakan anggaran miliaran dolar yang seharusnya bisa untuk mengenyangkan perut dan mencerdaskan rakyat. India menjajal nuklir, maka Pakistan langsung menyiapkan bom atom yang lebih dahsyat. Pakistan membuat serial drama anti-India, maka India pun tak mau kalah dengan sederetan film Bollywood yang menggambarkan Pakistan sebagai negeri para bajingan.

Dari perbatasan ini, untuk memasuki tanah Pakistan, orang melewati gerbang nasional megah bertuliskan “Gerbang Kebebasan”. Di puncaknya, terpasang foto besar sang Bapa Bangsa dan Pahlawan Agung, Muhammad Ali Jinnah. Di samping kanannya ada papan bertuliskan pertanyaan: “Apa artinya Pakistan?” Di samping kiri foto adalah jawabannya: “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah.” Berhadapan dengan gerbang nasional Pakistan, di ujung perbatasan sana, adalah gerbang nasional India, terbuat dari tumpukan batu bata merah, dengan lambang negara berupa empat singa kerajaan kuno Ashoka di puncaknya (kelak lambang ini diganti dengan foto Gandhi, berhadapan simetris dengan foto Jinnah dan berukuran sama besar). Di belakang gerbang itu, adalah papan bertuliskan “India Demokrasi Terbesar Di Dunia Menyambut Anda”.

Si kakek nasionalis itu masih mengayunkan bendera Pakistan yang dipegangnya. Melihatku orang asing, dia mengacung-acungkan telunjuknya di hadapan saya, menghadap angkasa, dan semakin menggelegar dia berseru, “Arti Pakistan adalah Tiada Tuhan Selain Allah! Bas!

Beragam agama hidup bersama di India (AGUSTINUS WIBOWO)

Beragam agama hidup bersama di India (AGUSTINUS WIBOWO)

Cerita tentang Pakistan diawali dari sebuah ketakutan. Di tahun 1930, sang pujangga Allama Iqbal menyatakan bahwa Muslim India perlu negara bagian khusus. Islam tidak bisa dipisahkan dari negara, kata Iqbal; bagi Muslim, negara haruslah Islami. Di India yang tidak dipecah dan Hindu menjadi mayoritas, Iqbal memastikan, Islam dalam bahaya. Beberapa tahun setelah pidato Iqbal itu, lahirlah nama “Pakistan”, yang berarti “Tanah yang Murni”, juga merupakan singkatan dari lima wilayah Muslim: Punjab, Afghan, Kashmir, Sindh, Baluchistan.

Muslim dan Hindu India memang tidak bercampur, sedekat apa pun mereka hidup. Muslim memuja satu Tuhan, memandang Hindu sebagai pemuja berhala. Muslim mengagungkan Al Quran berbahasa Arab, Hindu berpanduan kitab kuno Bhagavad Gita berbahasa Sanskerta. Muslim dan Hindu tidak saling menikah, ritual dan filosofi mereka teramat berbeda. Mereka juga tidak makan bersama: Muslim makan sapi, Hindu memuja sapi. Di kereta api, penumpang Muslim minum “air Muslim”, penumpang Hindu minum “air Hindu”.

Namun di hadapan musuh bersama, mereka bisa bersatu. Hindu dan Muslim India sama-sama melakukan hartal, ketidakpatuhan sebagai wujud perlawanan terhadap penguasa imperialis terkuat di dunia saat itu—Inggris. Mahatma Gandhi, seorang Hindu, memulai kampanye tanpa-kekerasannya dari konsep jihad Islam. Sedangkan Muhammad Ali Jinnah, seorang Muslim, mendapat julukan kehormatan: “Duta Persatuan Hindu—Muslim”. Tetapi semakin dekat cita-cita itu di hadapan mata, semakin kuat kekhawatiran, semakin nyaring pertanyaan penting: siapa akan berkuasa atas siapa? Apakah Hindu yang mayoritas dalam jumlah akan berkuasa atas Muslim? Ataukah Muslim akan kembali berkuasa atas Hindu seperti raja-raja Mughal sebelum datang penjajah Inggris? Jinnah, seperti Iqbal, menuntut berdirinya negara terpisah bagi Muslim.

Gelindingan bola salju ini sudah tak bisa distop lagi. Bunuh-bunuhan antara warga Hindu dan Muslim merebak di berbagai kota, telah menelan beribu korban. Gandhi tak ingin India terbelah, sempat menawarkan Jinnah kursi Presiden asalkan India tetap bersatu. Tapi Jinnah, seorang peminum anggur pemakan babi berpendidikan Barat, kukuh bahwa India harus dipecah demi melindungi Islam. Beberapa pemimpin Hindu pun menuntut Inggris segera membuat negara terpisah buat Muslim, bagi mereka ini adalah “potong kepala untuk menghilangkan sakit kepala”.

Ketika jarum jam, jarum menit, dan jarum detik tepat bertemu di tengah malam yang memisahkan 14 dengan 15 Agustus 1947, dunia menyambut lahirnya dua bayi kembar: India dan Pakistan.

“Pakistan Zindabad!” diteriakkan orang menyambut negara modern pertama yang berdiri atas dasar agama. “Pakistan Zindabad!” diteriakkan para penumpang kereta-kereta yang mengangkut Muslim melintasi garis batas menuju tanah air baru mereka. “Pakistan Zindabad!” dan “Hindustan Zindabad!” diteriakkan para perusuh dan pembunuh, dibubuhkan sebagai tato pada para perempuan korban perkosaan. Partisi ditandai migrasi terbesar dalam sejarah: tujuh juta Muslim meninggalkan India menuju Pakistan, tujuh juta Hindu dan Sikh meninggalkan Pakistan menuju India. Antara 200 ribu hingga satu juta tewas dalam proses ini.

Mereka menyebut Islam satu-satunya identitas bagi Muslim. Mereka mengira jika dunia hanya berisi Muslim, maka semua masalah akan selesai. Tapi itu fiksi. Islam bahkan tak cukup kuat mempertahankan kedua sayap Pakistan yang terpisah sejauh 1.700 kilometer, dengan musuh India di tengahnya. Berpisah dari India tidak membuat Muslim di Pakistan Timur menjadi manusia setara. Mereka tetap warga kelas dua, di bawah 55 juta orang yang mendiami Pakistan Barat. Fisik, bahasa, budaya, sejarah mereka semua berbeda; hanya iman yang sama. Jinnah menetapkan Urdu yang digunakan oleh 4 persen penduduk Pakistan sebagai bahasa nasional. Jinnah melabeli para pejuang Pakistan Timur mempertahankan bahasa Bengali mereka (yang tidak berhuruf Arab) sebagai komunis dan pengkhianat bangsa. Lagi-lagi perang meletus, kini antara sesama Pakistan, sesama Muslim. Di tahun 1971, Pakistan Timur merdeka, memisahkan diri dari negara agama Pakistan, menjadi negara linguistik Bangladesh. Antara 300 ribu hingga tiga juta jiwa tewas dalam proses ini.

Di sebuah desa perbatasan di Azad Kashmir—bagian daerah sengketa yang menjadi perebutan India dan Pakistan sejak kedua negara merdeka—saya pernah bertemu seorang veteran perang Pakistan Timur (“Perang Pembebasan Bangladesh”). Dia bangga berkata, perang itu adalah jihad, wujud cintanya pada negara dan agama, pada Pakistan dan Islam. Saya bertanya, bagaimana rasanya membunuh saudara seiman. Santai lelaki tua itu berkata, “Oh, musuh kami tetap Hindu dan Hindustan.”

Tentara perbatasan India di seberang kibaran bendera Pakistan (AGUSTINUS WIBOWO)

Tentara perbatasan India di seberang kibaran bendera Pakistan

Jinnah sebenarnya tidak menginginkan ini menjadi negara agama. “Kalian merdeka,” dia pernah memberitahu warga Pakistan, “Kalian bebas pergi ke kuil-kuil kalian, ke masjid-masjid kalian, atau tempat ibadah lainnya di negeri Pakistan….” Tetapi Pakistan menjadi Republik Islam pada tahun 1973. Jenderal Zia-ul-Haq, presiden Pakistan yang naik pada tahun 1977 setelah melakukan kudeta, mendeklarasikan, “Pakistan diciptakan dalam nama Islam, dan akan bertahan hanya apabila berpegang pada Islam.” Program utamanya adalah Islamisasi. Dia mengubah hukum sekuler menjadi Syariah demi dukungan dari Islamis Sunni dan kelompok garis keras. Zia juga menerapkan aturan perempuan wajib menutup kepala mereka di ruang publik, membatasi partisipasi perempuan di berbagai bidang, menghapus bahan “tidak-Islami” dalam buku pelajaran dan menghilangkan buku-buku “tidak-Islami” dari perpustakaan, melarang makan dan minum di bulan Ramadhan, mewajibkan salat lima kali sehari, memberlakukan hukum anti-penghujatan agama dan menerapkan hukuman mati bagi penghujat Nabi, melarang minoritas religius Ahmadiyah menyebut diri sebagai Muslim, melarang musik dan budaya Barat.

Agama telah menjadi benteng terakhir mereka. Lambat laun Islam menjadi identitas tunggal Pakistan. Tuhan telah menjadi negara dan negara telah menjadi Tuhan. Agama telah menjadi satu-satunya solusi untuk menghadapi ketidakpastian masa depan. Saat negara menemui kegagalan, mereka tidak menganggap itu salah sistemnya, tetapi karena iman yang kurang, justru menuntut keimanan yang lebih sempurna, kesetiaan terhadap Tuhan yang lebih penuh, aturan agama yang lebih ketat dan penghancuran yang lebih dahsyat terhadap apa pun yang mereka anggap sebagai “perusak moral”.

Setelah Partisi, India masih menjadi tanah air bagi umat Muslim yang hampir sama banyaknya dengan jumlah semua penduduk Pakistan, sedangkan Pakistan hampir menjadi sebuah negeri yang hanya dihuni Muslim. Bagi non-Muslim yang bertahan untuk tinggal di Pakistan, hidup tak pernah mudah.

Daerah hunian Bhata-2 di Bahawalpur adalah sebuah permukiman kumuh yang umumnya dihuni warga Kristen. Kekumuhan ini secara mencolok terletak hanya di seberang jalan dari salah satu sekolah paling besar dan paling elite di Pakistan, Sadiq Public School. Tidak satu pun dari para bocah di perumuhan ini yang pernah terpikir untuk bisa masuk ke sekolah itu, yang terlihat seperti istana marmer dari luar gerbangnya. Kontras antara dua sisi jalan ini seperti antara surga dan neraka. Memasuki perumahan, rumah-rumah kumuh berbaris rapi sepanjang jalan lurus, bau teramat busuk menebar dari genangan air pekat yang berasal dari selokan buntu. Tiba-tiba, dari lubang gorong-gorong di jalan, menyembul sebuah kepala hitam, lalu tangan, dan pundak bersimbah air hitam. Pemuda berambut kekuningan itu tersenyum, menampilkan gigi putih, raut gembira itu seperti habis berenang di kolam renang. Saya terkejut dan bertanya pada orang-orang di sekeliling, apa yang dia lakukan di bawah sana. Para lelaki tertawa, mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan biasa orang Kristen: menjadi pembersih gorong-gorong.

Orang Kristen yang bekerja sebagai pembersih gorong-gorong. Bagi kaum minoritas ini, mencari pekerjaan yang layak sangat susah. (AGUSTINUS WIBOWO)

Orang Kristen yang bekerja sebagai pembersih gorong-gorong. Bagi kaum minoritas ini, mencari pekerjaan yang layak sangat susah. (AGUSTINUS WIBOWO)

Pervez Masih adalah salah satu warga dari perumahan kumuh ini. Dia seorang lelaki Katolik dengan mata yang tidak ceria dan pipi yang cekung. Dia pernah bekerja sebagai penjaga gerbang sekolah misionaris St Dominic’s, di bawah gereja Katolik. Gereja itu diserang teroris, dan sejak itu dia terlalu takut untuk kembali bekerja. Hingga hari ini dia masih tak punya pekerjaan.

Pervez segan untuk mengakui, dia sebenarnya mendapat uang dengan membuat alkohol di rumahnya. Di Republik Islam ini, alkohol ilegal bagi Muslim, tetapi beberapa warga Muslim sering datang ke perumahan ini diam-diam untuk membeli alkohol dari keluarga Kristen. Aku punya teman-teman Muslim yang mengatakan bahwa orang Kristen miskin karena malas. Pervez dengan tegas menolak tuduhan ini. “Kita rajin bekerja,” katanya, “sebagai penyapu jalan, pemulung sampah, pekerjaan kantor rendahan, pembantu di rumah orang kaya. Itu bukan karena kami malas, tapi mereka tidak memberikan pekerjaan lain.

Di negara ini, oang Kristen dan orang Hindu dengan kasta rendah dipandang hina dan najis. Hanya mereka yang hina saja yang bisa melakukan pekerjaan hina. Muslim tidak mau menjadi pembersih got, karena bagi mereka menyentuh kotoran bisa membuat mereka najis. Seorang Muslim yang terkena najis tidak diizinkan melakukan kewajiban keagamaan, termasuk sembahyang, kecuali jika dirinya telah dibersihkan melalui ritual penyucian. Orang Kristen mau jadi tukang masak atau pelayan di restoran pun tak mungkin, karena orang Muslim menganggap makanan mereka najis apabila disentuh tangan “kafir”. Selain itu, di pengadilan, kesaksian seorang lelaki Kristen hanya dihargai separuh lelaki Muslim, dan kesaksian perempuan Kristen hanya seperempatnya.

Minggu pagi itu, aku pergi ke gereja St. Dominic’s untuk menghadiri misa. Bangunan gereja didominasi bata merah dengan salib yang tidak terlalu besar di puncaknya. Tiga tentara bersenapan menggeledah isi tasku dan bertanya apakah saya Kristen.

Saya percaya Tuhan, saya percaya Yesus, maka baiklah saya mengangguk. Saya diizinkan masuk.

Umat Nasrani melaksanakan misa di girjah – tempat berjatuh (AGUSTINUS WIBOWO)

Umat Nasrani melaksanakan misa di girjah – tempat berjatuh (AGUSTINUS WIBOWO)

Gereja ini kelihatan sangat Islami bagi saya. Sandal dan sepatu harus dilepas di luar gedung. Pemisahan gender berlaku: para perempuan beribadah sisi sebelah kiri, para lelaki di sebelah kanan ruang altar yang bercat hijau itu. Hanya ada belasan umat. Mereka duduk di karpet. Di ruangan altar ini tidak ada tempat duduk kecuali sederet bangku rusak di barisan paling belakang untuk orang tua yang tak sanggup berdiri. Para lelaki kebanyakan memakai shalwar qameez satu warna. Sedangkan semua perempuan memakai shalwar qameez warna-warni, dipadukan dengan syal putih yang mereka gunakan untuk menutup kepala seperti halnya kerudung perempuan Muslim. Misa diiringi puji-pujian yang menggunakan tabuhan kendang dan harmonium qawwali seperti tradisi Muslim. Mereka menyebut Tuhan sebagai Khuda, sebutan yang universal digunakan oleh Kristen dan Muslim Pakistan. Umat beribadah dengan berlutut, berdiri, berlutut lagi, berulang-ulang—membuatku memahami arti harfiah dari gereja dalam bahasa Urdu, “girjah”, “tempat untuk berjatuh”.

Seusai misa, aku diundang Pastor Nadeem Joseph ke kantornya. Dia menceritakan bagaimana gereja ini, lima tahun lalu, menyaksikan pertumpahan darah.

28 Oktober 2001, enam lelaki berjenggot, berpakaian kemeja katun longgar tak bertopeng, berkendara tiga sepeda motor, menembakkan Kalashnikov mereka pada polisi penjaga gerbang sebelum memasuki gereja yang padat umat. Polisi itu, hanya seorang diri karena tiga temannya yang lain pergi sarapan, mungkin tidak menyadari ada yang salah sebelum senapan dikeluarkan dari tas-tas para penyerang. Dan itu sudah terlambat baginya. Juga bagi seratusan umat yang masih di dalam gereja. Hari itu, kebetulan jemaat Protestan yang berkongsi gereja Katolik, bertukar jadwal misa. Pukul 8:45, jemaat Protestan itu baru saja mengakhiri kebaktian mereka, pendeta melangkah keluar, diikuti umat berbaris untuk bersalaman. Saat itulah para penyerang mengunci pintu dan memuntahkan tembakan pada misa Protestan, menyisakan lubang-lubang di dinding gereja. Enam belas Kristen tewas. Sehari sesudah itu, satu grup militan mengklaim tanggung jawab, mengancam tidak akan menghentikan teror kepada Kristen Pakistan apabila Amerika tidak menghentikan serangan di Afghanistan.

“Persaudaraan Islam,” kata Pastor Nadeem, “adalah yang membawa tragedi ke ini. Para penyerang marah ingin memberi pelajaran kepada Bush dengan membunuh “saudara-saudara Kristennya” yang ada di Pakistan sini. Tapi kami tidak suka Bush, kami juga bukan orang Amerika. Apakah Bush juga bakal peduli pada kami? Apakah Bush pernah anggap kami saudaranya?”

Komunitas Kristen, hanya 2,5 persen penduduk Bahawalpur, masih hidup dalam ketakutan. Sejak serangan, gereja selalu sepi. Serangan di Bahawalpur ini adalah teror pertama kepada Kristen Pakistan, tetapi tentu bukan yang terakhir. Baru beberapa bulan lalu, dua ribuan Muslim menyerang umat Kristen di Sangla Hill, Punjab, karena adanya isu penghujatan agama yang dilakukan seorang Kristen yang membakar beberapa halaman Quran (yang ternyata tidak benar). Kasus kartun Denmark juga menyebabkan banyak gereja dan sekolah dan rumah orang Kristen dihancurkan. Dan yang paling baru terjadi, di Lahore, seorang lelaki Kristen minum air dari satu gelas umum yang diikat dengan rantai besi, untuk publik. Warga Muslim memarahinya karena dianggap telah “mengotori gelas itu”, sehingga dia dipukuli massa, yang semakin beringas karena ada yang berteriak bahwa barangsiapa yang memukuli “anjing Kristen” ini akan mendapat pahala surga.

“Kami hanyalah orang Kristen,” keluh Pastor Nadeem, “Kami tidak pernah dianggap orang Pakistan. Mereka tidak peduli bahwa kita memuliakan Satu Tuhan yang sama.”

Tuhan kami, Tuhan kamu, kenapa harus ada pertumpahan darah? Saat ini sebagian Muslim telah mengganti ucapan salam tradisional mereka “Khuda hafiz”—Tuhan Melindungi—menjadi frasa bahasa Arab yang bahkan tidak ada di Arab: “Allah hafiz”, Allah Melindungi. Khuda adalah nama yang sudah bersejarah lama untuk menyebut Tuhan, berasal dari era Zarathustra Persia, dan digunakan di Asia Selatan oleh berbagai agama dan bahasa. Tetapi sekarang nama Tuhan harus lebih total lagi kemurniannya, lebih asli lagi, lebih spesifik lagi, lebih bisa membedakan ini Tuhan kami bukan Tuhan kamu.

Banyak orang mungkin lupa, Pakistan dulunya adalah negeri suci umat Hindu dan Buddha. Biksu Tang Xuanzang, dalam perjalanan ziarah ke baratnya di abad ke-7 terpukau oleh patung-patung Buddha Gandhara yang terukir di gunung-gunung dan gua-gua, juga betapa kuatnya tradisi dan pengetahuan Buddhis di negeri yang bertaburan beratus kuil dan beribu biksu ini.

Katas, kota kecil di provinsi Punjab sekitar dua ratusan kilometer dari perbatasan India, adalah contoh dari sedikit yang tersisa dari peradaban pra-Islam. Ini kota sepi berdebu dan gersang yang tidak istimewa hari ini. Dulunya ini kota suci umat Hindu, konon di sinilah jatuh setetes air mata Dewa Syiwa saat menangisi kematian istrinya. Air mata itu menggenang, membentuk danau suci yang kemudian di sekelilingnya dibangun sebagai kuil pemujaan raksasa. Shri Guru Nanak pendiri agama Sikh pernah datang ke tepi danau suci ini untuk bermeditasi, sedangkan ilmuwan tersohor Muslim Al Biruni dari Asia Tengah juga datang untuk belajar bahasa Hindi dan menghitung diameter bumi.

Dari jauh, kuil Katas masih tampak megah, belum sepenuhnya menjadi reruntuhan. Tetapi dari dekat, ini serupa istana mati ditinggal empunya. Lumut dan sulur-suluran menenggelamkan. Serangga bersarang di dalamnya, atapnya ambruk, temboknya bolong. Tak ada patung tersisa, cuma lorong gelap, bau kencing, penuh coretan grafiti si Ahmad atau si Mahmud berkunjung ke sini. Di dinding lorong-lorong gelap yang sangat dalam, aku menemukan beberapa potongan gambar dewa memudar, lolos dari perusakan. Katas meredup di tengah kepungan bukit-bukit garam Punjab yang suram.

“Sudah tak ada orang Hindu tinggal di sini,” kata seorang pemuda desa yang bersiap berenang di danau kuil, sebuah genangan biru kehijauan yang memantulkan kelabunya tembok batu kuil serupa benteng yang mengelilinginya. Pada saat Partisi, umat Hindu di sini telah berbondong-bondong pindah ke India.

Danau ini sebenarnya adalah satu lokasi penting dalam kisah epos Mahabarata (“India Akbar”). Di tepian danau inilah dikisahkan raja Yudistira sang pahlawan Pandawa Lima, menjawab ujian filosofis pelik dari burung jenjang jelmaan Yaksha. Percakapan antara Yudistira dan Yaksha itu adalah babak istimewa dalam Mahabarata, menyajikan esensi keluhuran filosofi Hindu. Dengan 1,8 juta baris, Mahabarata adalah puisi terpanjang yang pernah ditulis manusia. Dia bukan hanya merupakan kebanggaan orang India tetapi merupakan roh peradaban kami di Jawa, walaupun mayoritas orang Jawa berganti dari Hindu menjadi Muslim lima abad silam.

Saya bertanya apakah ada dari mereka para pemuda desa ini yang mengagumi Yudistira sang pahlawan Mahabarata itu. Mereka memandangi saya dengan tatap bingung, balik bertanya, apa itu Mahabarata.

Danau suci dan kuil agung yang kini tinggal puing-puing (AGUSTINUS WIBOWO)

Danau suci dan kuil agung yang kini tinggal puing-puing (AGUSTINUS WIBOWO)

Pakistan adalah negara baru abad ke-20 yang berdiri atas dasar agama abad ke-7. Tetapi ribuan tahun sebelum kelahiran Yesus, Pakistan adalah lokasi salah satu peradaban tertua di dunia, yang melahirkan agama-agama Timur. Sebenarnya Pakistan lebih pantas menyandang nama India, karena di sinilah beradanya sebagian besar Sungai Indus—yang menjadi asal nama “India”, tempat lahirnya bahasa Sanskerta, dan peradaban tua mereka. Beberapa penyeru Pakistan sempat mengusulkan nama Dinia—anagram “India” dari kata bahasa Arab din yang artinya “agama”, tetapi Jinnah memilih nama yang lebih berbau Islami, “Pakistan”, “Negeri yang Murni”, dan mengira India akan menggunakan nama kuno Bharat. Betapa marahnya Jinnah mengetahui negara tetangga yang diceraikannya itu tetap memakai nama India peninggalan kolonial Inggris yang berasal dari peradaban tua ribuan tahun. India mempertahankan masa lalunya, Pakistan terpotong dan terceraikan darinya.

Sejarah Pakistan, menurut versi resmi dan buku pelajaran sekolah, baru dimulai saat jenderal Arab Muhammad bin Qasim datang menaklukkan Sindh dan Multan pada abad ke-8, menghancurkan kerajaan Brahmanabad yang dipimpin para petapa Brahmin, membakar habis kuil-kuil dan berhala mereka. Beberapa buku menyebut bin Qasim sebagai “orang Pakistan pertama”. Dari situlah awal masuknya Islam, titik nol Pakistan, sejarah mulai dihitung. Sedangkan sebelum itu, tak ada sejarah, tak ada peradaban, tak ada kebanggaan, hanya masa lalu yang gelap.

Pakistan seperti sedang berusaha mengarabkan diri. Mungkin Partisi membuat mereka merasa perlu untuk meyakinkan diri maupun dunia bahwa mereka bukan India, membuat mereka menjauhkan diri dari segala hal berbau India—separuh diri mereka sendiri yang telah mereka tolak dan ingkari.

Duduk menatap senja di tepi genangan air mata dewa yang kini menjadi kolam renang, saya terpaku menyaksikan para pemuda mencemplung dengan shalwar kombor mereka, menggelembung di air seperti balon, di samping kawanan bebek. Melihat kondisi kuil-Nya hari ini, mungkin Syiwa sekali lagi akan menangis.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

12 Comments on Pakistan: Ketika Tuhan Menjadi Negara

  1. Ya itulah…konsep daulah islamiyah. Kaum tabiin memberikan sampel seperti itu

  2. Banyak orang beragama tetapi lupa menerapkan ajaran moral dari agamanya..

    Agama sebenarnya diturunkan agar manusia menjadi mahluk yang cinta damai, jujur, dermawan dan serta hidup harmonis dengan manusia lain yang memiliki kepercayaan berbeda.

  3. Bangsa yang bodoh,telah mengingkari asal usul nenek moyang mereka…semoga Tuhan memberikan pengampunan dan pencerahan bagi mereka

  4. semoga indonesia tdk spt pakistan yg kehilangan jatidirinya.

  5. Pemimpin suatu bangsa adalah cermin dari rakyat yg dipimpinnya.

  6. kalimat penutup yg sangat bagus

  7. Semoga menjadi cermin untuk indonesiaku, terimakasih mas agus

  8. Karena dalam Islam, tidak ada ajaran tentang ‘membunuh non-Islam’ agar mendapat pahala dari Allah SWT. Membunuh satu jiwa sama dengan membunuh semua manusia.

    “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu. sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi”. (QS. al-Maa’idah : 32)

  9. islam tidak pernah memandang non islam itu najis. selain itu tidak semua najis harus dibersihkan melalui suatu ritual. hanya najis berat spt kontak dgn anjing dan babi yg meninggalkan bekas. sedangkan najis medium dan ringan spt kontak dg kotoran bintang dll cukup dibersihkan dg air biasa. sekali lg dlm islam tidak ada dalil yg menyatakan tangan non islam itu najis. hanya saja bila kita ke rumah non muslim kemudian disuguhkan makanan diharap hati hati karena khawatir kuali/wajan yg digunakan pernah untuk memasak daging anjing/babi. khawatir terkontaminasi kecuali sudah dibersihkan dg air tanah tujuh kali dan untuk membersihkanya pun tdk perlu dengan doa

  10. Saat ini saya sedang berada di timur tengah untuk melanjutkan studi saya. saya memiliki banyak sekali teman-teman India dan Pakistan. Tapi nampaknya, ini adalah India dan Pakistan yang tidak terbebani oleh sejarah permusuhan bangsa mereka yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad. Mereka hidup bersama dengan damai, walaupun ya, menjadi orang Indonesia di tengah-tengah mereka cukup menjengkelkan juga. karena banyak sekali budaya kita yang bertabrakan dengan budaya mereka.

    Tapi jika dikatakan apakah mereka fanatik dengan negaranya, maka jawabannya adalah tentu saja. Orang India fanatik dengan kemodernan dan kemajuan bangsanya sedang orang Pakistan fanatik dengan ‘kepekatan’ unsur Islam dalam segala aspek kehidupan bernegaranya.

    Identitas mereka begitu kontras. Pakistani lebih suka memakai shalwaar qameez sebagai pakaian utamanya sedang Hindi (begitu mereka menyebut dirinya) menggunakan kemeja dan jeans. Secara kepribadian dan pola pikirpun mereka sangat berbeda. Ketertarikan Hindi pada hal yang agamis tidak setinggi Pakistani. Sebaliknya, Pakistani ogah mengukur dan memaknai sesuatu diluar aspek yang tidak bersinggungan dengan agama. Masih banyak lagi hal-hal yang menjadi karakter mereka.

    Namun diatas semua perbedaan itu semua, mereka berbicara dalam satu bahasa yang tunggal-majemuk: campuran Hindi dan Urdu. Dalam satu kalimat, bisa jadi digunakan 2 kata dalam Urdu dan 3 kata dalam Hindi. Untuk mempernyaman percakapan, biasanya mereka akan berbicara bahasa Urdu. Mereka berbeda dalam banyak hal, namun sama dalam bahasa -dan selera makanan. Agaknya, hanya itu satu-satunya hal yang mengingatkan mereka bahwa dulunya mereka senegara. Tapi kesenegaraan itu diputus dengan perbedaan sikap yang seakan ingin meneriakkan Saya Hindi dan Saya Pakistani.

  11. Mks mas Agus. Perlu pencerahan bahwa kita bersaudara.

  12. Zombie Arab

Leave a comment

Your email address will not be published.


*