Recommended

Titik Nol 96: Dunia Tikus

Tikus-tikus suci dari kuil Karni Mata (AGUSTINUS WIBOWO)

Tikus-tikus suci dari kuil Karni Mata (AGUSTINUS WIBOWO)

India, negeri raksasa dengan semilyar penduduk, beratus bahasa, lusinan agama yang memuja berlaksa dewa. Segala macam budaya, pemikiran, keajaiban berpadu, berbenturan, melebur menjadi satu. Dan salah satu hasilnya – kuil pemujaan tikus.

Alkisah hidup seorang suci atau dewi bernama Shri Karni Mata, Sang Bunda Karni, berasal dari kasta Charan. Karni Mata melakukan banyak mukjizat dan dipercaya sebagai titisan Dewi Durga, Sang Dewi Perang. Suatu hari, seorang bocah kerabatnya meninggal dunia. Karni Mata langsung bertemu dengan Yama, Dewa Kematian, untuk memintanya menghidupkan kembali nyawa anak yang malang itu. Yama menolak karena roh bocah itu sudah menitis. Karni Mata naik pitam. Ia bersumpah bahwa untuk seterusnya roh kasta Charan akan menitis sebagai tikus dan lepas dari campur tangan Yama.

Itulah asal muasal 20.000-an ekor tikus hitam yang berlarian ke sana ke mari di chua mandir, kuil tikus. Kuil Karni Mata di desa padang pasir Deshnok, 20 kilometer di selatan kota Bikaner di tepi barat Rajasthan. Dari luar mandir (kuil) ini nampak biasa saja. Tetapi di balik pintu gerbang tinggi berwarna emas itu, ada pemujaan yang tiada duanya di dunia – pemujaan tikus.

“Ini bukan tikus biasa,” kata penjaga kuil, “ribuan kaba (tikus) yang ada di sini adalah titisan dewa. Semuanya adalah makhluk suci yang harus dihormati.”

Dalam agama Hindu, dewa bisa menitis dalam bentuk makhluk hidup apa pun, mulai dari sapi, ikan, burung, anjing, sampai tikus. Tikus adalah vahana atau kendaraan dewa Ganesh (Ganesha), putra Dewa Syiwa. Sebagai vahana, tikus pun mendapat tempat terhormat dalam pemujaan.

Mengelilingi ‘kolam’ susu (AGUSTINUS WIBOWO)

Mengelilingi ‘kolam’ susu (AGUSTINUS WIBOWO)

Sejak pagi, peziarah tak berhenti mengalir memasuki kuil ini. Memasuki kuil Hindu, kita harus melepas kasut. Lantai pualam kotak-kotak seperti papan catur menghampar. Saya melangkah perlahan, takut-takut. Kaki saya lengket di lantai yang sudah berlimpah air liur dan kencing tikus.  Hewan mungil, hitam, berbulu, muncul dari segala sudut dan mengisi segala penjuru. Mereka berlarian penuh semangat, berlompatan, beristirahat, makan remah kue, minum susu. Malah ada yang bergaya bak fotomodel di hadapan para pemuja itu. Tak sedikit yang berlompatan ke arah orang-orang yang beribadah.

Seorang gadis kecil menangis ketakutan ketika tikus-tikus menggerayangi kakinya. Ibunya yang berkerudung selendang merah menyala menenangkan, “Jangan takut, meri jan – sayangku, jangan takut pada Durga!”

Di antara semua tikus di dunia, mungkin tikus-tikus dari kuil Karni Mata inilah yang paling beruntung. Umat yang beribadah di sini membawa kue-kue, nasi, manisan, susu, dan berbagai makanan lainnya sebagai prasad atau sesaji. Prasad ini kemudian dipersembahkan kepada tikus setelah diberi jampi-jampi oleh pandit (pandita).

Susu yang dibawa umat mengalir tanpa henti mengisi bak besar dari kaleng. Tikus hitam berbaris rapi mengelilingi bak itu, menghisap ‘kolam’ susu. Sehabis kenyang, mereka berlarian kembali. Tempat yang kosong segera diisi tikus lain.

Mereka tak perlu menjalani takdir seperti tikus di tempat lain: mencuri makanan, dijerat penjebak tikus, dibasmi dengan pestisida, dimakan kucing. Hidup mereka damai sentausa, berlimpah makanan dan dipuja-puja. Tak heran tikus-tikus di sini berbadan gemuk dan riang gembira.

Prasad yang sudah dimakan tikus, bercampur air liur hewan mungil itu, dianggap sudah diberkahi. Para pemuja tak segan untuk memakan bola-bola nasi yang sudah digigit separuh oleh tikus gemuk.

Pandita menghaturkan puja di altar (AGUSTINUS WIBOWO)

Pandita menghaturkan puja di altar (AGUSTINUS WIBOWO)

“Makanan bekas tikus ini adalah berkah,” kata seorang sadhu (pertapa) dari Gujarat, “makanan ini menjauhkan kita dari penyakit.”

Ajaib, sejak pemujaan tikus ini dimulai 600 tahun silam, desa Deshnok tidak pernah dilanda wabah penyakit apa pun.. Ribuan tikus hanya tinggal di dalam Kuil Karni Mata, bahkan tidak keluar sejengkal pun. Kuil ini adalah dunia mereka, surga mereka. Sedangkan di luar sana, ada ular, burung pemangsa, manusia. Penduduk Deshnok percaya bahwa tikus-tikus inilah yang menolak turunnya bala di desa ini.

Air liur tikus kuil dianggap punya kekuatan sakti. Pandit sampai harus tengkurap menyembah di hadapan ribuan tikus itu, menyajikan prasad di hadapan altar Bunda Karni. Seorang pengunjung juga tidak segan-segan memegang tikus, percaya akan mukjizat dan keberuntungan yang akan dibawa dari mengelus bulu hewan hitam itu. Seorang pertapa tidur di lantai, tubuhnya digerayangi puluhan tikus. Pertapa lainnya lagi makan dari piring yang sama dengan tikus. Di sudut lain kuil ada dapur dengan panci raksasa, untuk memasak makanan istimewa bagi para tikus.

Sore hari, sebuah ritual pemujaan terhadap Karni Mata dimulai. Pandit memimpin, membacakan mantra yang berirama. Para pengikutnya mendentingkan genta, mengiringi melodi mantra. Suasana khidmat menyelimuti ruang pemujaan Karni Mata yang sempit dan gelap. Hanya tikus yang berani bermain dan berlarian di tengah seriusnya ibadah ini.

Di antara para tikus yang dipuja ini, ada seekor atau dua tikus putih, yang kedudukannya jauh lebih tinggi daripada 20 ribuan tikus hitam. Mereka yang berhasil melihat tikus putih akan mendapat keberuntungan. Saya menemukan tikus putih di tengah kerumunan tikus hitam di balik pagar. Ia tidak berlarian liar memunguti makanan seperti tikus-tikus hitam lainnya. Kaba putih hanya berdiri tenang di undak-undakan, bak seekor selebritis.

Memegang tikus suci ini dipercaya akan membawa keberuntungan (AGUSTINUS WIBOWO)

Memegang tikus suci ini dipercaya akan membawa keberuntungan (AGUSTINUS WIBOWO)

Matahari semakin berkurang teriknya. Lantai pualam menjadi lebih sejuk. Tikus-tikus semakin ramai berlarian ke segala penjuru, keluar dari persembunyiannya, bangkit dari tidur siang mereka, merayakan datangnya malam. Saya merenungkan arti kepercayaan, pemujaan, spiritualitas. Dari kekhidmatan para pemuja ini saya belajar, bahkan di dalam tubuh hewan yang seringkali kita anggap menjijikkan ini, ada roh suci yang patut dihormati.

Di luar kuil terpampang baliho besar bertuliskan “Kuil Karni Mata – Keajaiban Dunia yang Kedelapan.” Saya juga merasakan keajaiban luar biasa, karena sandal saya terasa lengket sekali berlumuran liur tikus. Entah mengapa, saya merasa bahagia. Mungkin akan ada keberuntungan tak terduga yang ditularkan oleh tikus-tikus suci pengikut Karni Mata.

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 16 Desember 2008

11 Comments on Titik Nol 96: Dunia Tikus

  1. Buku yg sangat bagus untuk dibaca…..Sukses selalu untuk Mas Agustinus ditunggu buku berikutnya……

  2. cari bukunya susah gak dapet2

  3. Telpon Gramedia mbak…saya juga susah dapatnya.. tapi Alhamdulilah saya bisa dapat semua bukunya…

  4. Senang…..AW hadir di dindingku lagi

  5. Ditunggu buku selanjutnya, sir.

  6. Pajang foto micky mouse aja mas. Jd nggak menjijikkan ‘gtu.. :(

  7. Buku kisah perjalanan berikutnya Kapan terbit Mas? Ditunggu…

  8. Akhirnya mas Agus bisa share lagi. Seneng. Ditunggu karya selanjutnya.

  9. Terima kasih banyak teman-teman. mohon maaf untuk keterlambatan mengupdate, karena kesibukan selama dan sesudah perjalanan di papua nugini. buku baru yang segera terbit adalah versi bahasa Inggris dari Titik Nol: Ground Zero. juga buku foto 😀

Leave a comment

Your email address will not be published.


*