Recommended

Leiden, 5 November 2016: Garis Batas di Atas Kertas

161105-nl-leiden-journey-border-1“Maaf, Tuan, kami tidak bisa mengizinkan Anda naik ke pesawat,” kata petugas di balik konter China Airlines, saat saya melakukan pelaporan di bandar udara Svarnabhumi, Bangkok, Thailand, untuk penerbangan saya menuju Belanda.

Kepada petugas yang seorang lelaki muda Thai ini, saya telah mengakui bahwa saya belum memastikan tanggal berapa saya akan meninggalkan Eropa, dan saya juga tidak memiliki tiket pulang.

“Tetapi saya hendak ke sana melakukan riset,” kata saya, “Mustahil bagi saya untuk memastikan kapan riset saya akan benar-benar selesai. Lagi pula, saya memiliki visa yang panjang, untuk satu tahun.”

Petugas itu kembali mengamati stiker visa yang tertempel di dalam paspor saya. Visa saya adalah Visa Schengen untuk kategori C, visa tinggal jangka pendek, yang artinya saya bisa tinggal di negara-negara Eropa penandatangan perjanjian Schengen selama maksimal 90 hari dalam setiap masa 180 hari.

Lelaki itu menggeleng. “Saya sudah tanya atasan saya,” katanya, “Untuk kategori visa C, wajib untuk mempunyai tiket pulang yang sudah terkonfirmasi.” Dia lalu menutup buku paspor saya, dan mengembalikannya kepada saya tanpa pas naik. “Maaf, Tuan, Anda harus punya rencana yang pasti.”

Saya tetap berdiri di sana beradu argumen, sementara petugas itu berusaha meyakinkan bahwa saya bisa membeli tiket pulang dan membatalkannya begitu saya sampai di sana. Di mata saya, itu adalah trik maskapai untuk memeras uang penumpang.

161105-nl-leiden-journey-border-3

Setengah jam berlalu, waktu sudah melewati tengah malam, sementara jadwal penerbangan saya yang pukul 2.05 dini hari sudah semakin dekat. Atasan dari petugas itu, seorang perempuan Thai, datang dan membolak-balik paspor saya, mengamati visa saya, dan terus menggeleng. “Tidak bisa… Tidak bisa…,” katanya.

Saya memasang wajah memelas. “Tetapi saya sudah sering ke Eropa, dan tidak pernah sekali pun petugas imigrasi Eropa menanyakan tiket pulang saya,” bantah saya. “Kenapa kalian membuat ini menjadi masalah?”

Petugas itu menanyakan apakah saya punya bukti pemesanan hotel atau bukti kemampuan finansial. Buat saya ini sudah pertanyaan yang sangat menghina. Ketika para pemegang paspor Eropa bebas melenggang, mendapatkan pas naik hanya dalam kurang dari lima menit, dan demikian juga dengan orang-orang Malaysia dan Timor Leste (mereka tidak perlu visa untuk ke Eropa), saya yang memegang paspor Indonesia harus menunjukkan bukti keuangan! Bukti bahwa saya bukan orang kere yang akan menjadi imigran gelap yang tidak akan pulang ke negara saya sendiri!

Saya menundukkan kepala, mencari-cari selembar surat dari dalam tas punggung saya. Itu adalah surat undangan sponsor seseorang dari Belanda, yang menyatakan bahwa dia bertanggung jawab untuk semua aktivitas saya di negara itu.

Atasan dari petugas konter pelaporan itu mengangguk-angguk membaca surat yang dalam bahasa Belanda dan distempel oleh kantor walikota itu. Dia harus meminta bantuan seorang penumpang yang bisa bahasa Belanda untuk menerjemahkan isinya. Dia kemudian berpaling kepada saya, berkata, “Anda tunggu di sini dulu sebentar, kami akan memanggil orang dari Kedutaan Belanda untuk ke sini dan minta pendapatnya untuk kasus Anda.”

161105-nl-leiden-journey-border-2

Wah! Untuk kasus saya pun mereka harus memanggil orang dari Kedutaan! Pada tengah malam begini! Setengah jam saya berdiri di depan konter seperti seorang pesakitan, iri memandangi para penumpang lain yang karena kewarganegaraan dan kertas-kertas mereka tidak perlu mengalami apa yang saya alami. Ya, garis batas itu berwujud kertas, bernama paspor dan visa.

Akhirnya, orang dari Kedutaan itu datang. Seorang lelaki paruh baya berkulit putih bertubuh tambun dalam balutan kemeja, dasi, dan jas hitam. Dia membolak-balik paspor saya dari halaman paling depan, dan tampak puas dengan visa-visa dan cap negara-negara Eropa yang ada di sana. “Tidak masalah sama sekali,” kata lelaki itu, “Toh kalau ada apa-apa, sponsornya yang akan bertanggung jawab.”

Para petugas China Airlines pun meminta saya untuk menunggu lagi, sementara mereka menyiapkan surat pernyataan untuk saya tanda tangani. Isinya adalah, jika terjadi masalah pada imigrasi Eropa atas diri saya, maskapai tidak bertanggung jawab dan saya harus membayar sendiri semua biaya yang ditimbulkan.

Saya kemudian berjalan melewati pemeriksaan keamanan, imigrasi, dan menuju gerbang keberangkatan. Para penumpang lain cukup diperiksa pas naiknya, sedangkan pada giliran saya, ketika pas naik saya ditempelkan di mesin pembaca, tiba-tiba mesin itu membunyikan alarm, lampu merah menyala, dan terdapat tulisan di layar: “CANNOT BOARDING”. Seorang petugas tergopoh-gopoh mengambil paspor, lalu menempelkan di alat pemindai di samping gerbang, memindai pada halaman foto dan halaman visa, sebelum akhirnya mengizinkan saya masuk. Ketika saya benar-benar duduk di bangku penumpang China Airlines, di situlah saya baru bisa menghela napas lega.

161105-nl-leiden-journey-border-4

Penumpang di samping saya, seorang perempuan warga Thai yang menikah dengan orang Belanda, mengaku mendapat perlakuan yang sama. Dia juga membeli tiket satu arah ke Eropa, dan diminta menunjukkan KTP Eropa—yang dia belum punya. Dia sudah bolak-balik ke Belanda, tetapi China Airlines hampir tidak mengizinkannya terbang dengan alasan yang sama.

Tiga belas jam penerbangan menuju Belanda saya lewati dengan kecemasan. Berbagai pertanyaan ‘bagaimana jika’ memenuhi benak. Ketika matahari pagi mulai menyingsing, di luar sana akhirnya terlihat sosok negeri Belanda. Pulau-pulau kecil yang kebiruan, dihubungkan dengan jembatan-jembatan panjang yang meliuk dikelilingi lautan yang biru kelam. Kincir-kincir pembangkit listrik tenaga angin bertaburan, dan busur pelangi mendarat di atas tanah yang berkilau dibasuh hujan. Ini adalah sebuah dunia berbeda, batin saya.

161105-nl-leiden-journey-border-5

Antrean panjang mengular di depan pos imigrasi bandara Schipol. Pemegang paspor Eropa dipisahkan dari pemegang paspor “internasional”. Saya mengamati, orang-orang berkulit putih umumnya melewati pos imigrasi dengan cepat tanpa perlu berkata apa-apa, sedangkan orang-orang Asia atau Afrika setidaknya harus menjawab beberapa pertanyaan baru bisa melintas. Seorang turis perempuan dari Thailand di belakang saya, yang pertama kali ke Eropa dan mendapat visa 30 hari, mengaku deg-degan membayangkan pertanyaan apa yang harus dia jawab.

Saya menyapa petugas dalam bahasa Belanda. Petugas itu tersenyum, bertanya kembali dalam bahasa Belanda mengenai apa yang hendak saya lakukan di sini. Dia juga bertanya berapa lama saya tinggal, dan akan tinggal di mana. Dia meminta saya memindai empat jari tangan kiri saya.

Tap. Saya mendengar paspor saya distempel. Saya memasuki negeri Belanda.

Beberapa puluh tahun lalu, pemegang paspor Indonesia pernah diizinkan masuk ke Belanda tanpa menggunakan visa. Tetapi sekarang, ketika negara-negara Eropa meleburkan perbatasan di antara mereka, mereka harus memperkokoh batas terluar mereka, untuk melindungi serikat kebebasan mereka yang mereka anggap telah menjadi idaman seluruh dunia. Visa Schengen menjadi salah satu visa yang paling sulit di dunia. Pemohon harus menunjukkan surat sponsor, konfirmasi akomodasi dan pesawat, asuransi, bukti keuangan (saya malah menambahkan surat akta rumah!), dan harus dipindai sepuluh jarinya. Terlebih lagi dengan arus pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika Utara, maraknya serangan terorisme religius radikal, plus memburuknya ekonomi, membuat Eropa semakin sensitif soal migrasi.

161105-nl-leiden-journey-border-7

Saya menuju kota tua Leiden, yang hanya sekitar 20 menit perjalanan dari bandara Schipol dengan kereta. Di sini saya bersantap siang di sebuah kedai kebab Turki di sudut jalan Harleemerstraat. Makanan Turki kini telah menjadi salah satu makanan paling populer di negara-negara Eropa, seiring dengan banyaknya imigran dari Turki dan Timur Tengah.

Pegawai di kedai Turki ini adalah seorang pemuda Arab dari Baghdad, justru tidak bisa bahasa Turki sama sekali. Hussain al-Ateghi, pemuda klimis dengan jenggot pendek pada ujung dagunya, sudah enam tahun tinggal di Belanda. Dia meninggalkan negerinya yang dilanda kemelut perang saat masih berusia empat belas tahun.

“Bahasa Inggrismu bagus,” puji saya.

“Dulu waktu di Irak lebih bagus, karena saya di sana belajar di sekolah bahasa Inggris,” katanya sambil tertawa, “Sejak di sini saya setiap hari bahasa Belanda, Belanda, Belanda, jadi Inggris lupa semua.”

“Belanda negara yang cantik, negara yang bagus, bukan?”

“Ya, sedikit lebih bagus daripada Irak. Tapi tidak terlalu banyak,” katanya.

“Sudah punya paspor Belanda? Atau masih paspor Irak?”

“Paspor Belanda.”

“Bukankah itu bagus? Kamu bisa keliling dunia dengan bebas,” puji saya.

Dia justru menggeleng. “Tidak. Ini tidak ada artinya buat saya. Ini hanya sekadar kertas. Saya punya paspor Belanda, tapi saya bukan orang Belanda. Saya orang Irak, ke mana pun saya pergi, saya akan diperlakukan hanya sebagai orang Irak. Kenapa saya tidak bisa menggunakan paspor Irak saya untuk keliling dunia?”

161105-nl-leiden-journey-border-8

 

 

 

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

8 Comments on Leiden, 5 November 2016: Garis Batas di Atas Kertas

  1. sedih pas liat halaman Garis Batas tinggal setengah buku lagi. It means gada buku Pak/Kak/Om Agustinus yg bs dbc lg ):

  2. Wah informasi penting jg ni mas . Thanks for sharing.

  3. Nasib pemegang paspor hijau. Dimana2 kalo ke negera maju selalu persyaratannya ribet.

  4. Ganteng kak Hussein Attegi..😁. Handasome😉

  5. Waaah mas agus bakal lama ya di eropa, selamat riset mas, tetep update blognya ya saya pembaca setia blog mas agus

  6. Agustinus, the most humble yet an amazing young man whom I’ve ever contacted. He replied my email within a day.
    I have spread all his book (GROUND ZERO) to all my friends and family. To let them know that Indonesian is not as weak as many white-people thought.
    God bless you with long life and good prosperity.
    I read your book slowly to absorb your heart-wrenching journey.
    Hopefully we could see each other one day.

    Keep writing Agustinus!
    Your journey is my journey too!

  7. coba ceritain dong tentang pedagang asongan disana. katanya ada pedagang asongan jual kerupuk di kereta api di belanda. eh iya orang belanda itu jarang mandi udah itu pelittt banget

  8. Aduh…baca soal ketatnya pemeriksaan dan bebalnya petugas airlines itu bikin stress. tapi seru.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*