Recommended

Ayahku dan Laut

170406-lumajang-laut-samudra-hindiaPertama kali aku melihat laut adalah saat umurku lima tahun, ayahku membawaku berhadapan dengan Samudra Hindia. Kami tinggal di pesisir selatan Pulau Jawa, menyebutnya sebagai Laut Selatan. Matahari baru merangkak naik, ombak terus bergemuruh menabrak bongkah batu karang di pantai. Kaki kami menapaki pasir hitam yang dibilas ombak, ayahku menunjuk ke garis cakrawala. Di balik garis itu, dia bilang, ada sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Australia. Jika kau berenang terus ke selatan, kau akan tiba di Australia.

Tapi, Laut Selatan tidaklah mudah diseberangi. Setiap tahun, selalu ada korban. Orang berenang, nelayan, penumpang kapal, bahkan pengunjung pantai yang mencelupkan kaki di air pun bisa terseret arus. Menurut legenda Jawa, ayahku bercerita, ganasnya laut ini adalah karena di dalamnya bersemayam Sang Ratu Laut Selatan, yang selalu mencari jiwa untuk dibawa ke istananya di dasar laut.

Aku mempererat genggamanku pada tangan Ayah.

Ayah tertawa, mengejekku sebagai pengecut.

Jauh di lubuk hatiku, aku bermimpi menjadi ikan yang bebas mengarungi samudra luas, dari negeri ke negeri, dari benua ke benua. Tapi masa kecilku justru terpasung di dalam kamar. Aku takut keluar rumah. Aku takut ketika orang-orang di luar mengolok-olokku karena mata sipitku dan kulit kuningku. “Cina! Cina!

Saat itu aku sering bertanya: siapa diriku sebenarnya? Orang Cinakah, atau Indonesia? Karena ideologi yang berbeda, pada masa Perang Dingin itu kedua negara membekukan hubungan diplomatik. Bagaimana jika terjadi perang betul? Siapa yang harus kubela? Negeri leluhur Cina atau negeri yang membesarkanku Indonesia?

Ayahku sering mengejekku: ulat malang yang tak punya tulang belakang.

Di malam-malam itu, ayahku sering menceritakan padaku rahasia hidupnya. Yang dia ceritakan begitu hati-hati, seolah khawatir tembok pun punya telinga.

Itu masa kemelut 1965-66, setelah peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal tinggi, yang dituduhkan dilakukan oleh kaum komunis. Di tengah kekacauan politik itu, Suharto mulai berkuasa, menamai rezimnya “Orde Baru”. Komunis jadi musuh negara; ratusan ribu hingga jutaan orang yang berhubungan dengan komunisme, atau sekadar dituduh komunis, dibantai di seluruh negeri. Setelah itu, segala hal yang berbau komunis dilarang. Kemudian segala hal yang berhubungan dengan Cina: nama Cina, agama Cina, bahasa Cina, budaya Cina.

Tahun berikutnya, rezim Suharto ingin menerapkan aturan baru: toko-toko milik orang Cina di Indonesia akan disita, untuk diserahkan kepada penduduk pribumi. Aturan itu pertama kali diuji coba di kota kami Lumajang, di pesisir selatan Jawa Timur.

Hari yang panas membakar itu, tiga puluhan pemuda dan pemudi Cina di Lumajang berdemonstrasi di jalan memprotes. Ayahku salah satunya. “Ini rumah kami, ini tanah kami. Jangan rampas milik kami!” mereka berteriak. Tiba-tiba, dari seluruh penjuru ada puluhan lelaki beringas, mengacung-acungkan celurit, arit, parang, dan batu gamping, membalas, “Mana rumahmu? Mana tanahmu? Pulang sana ke negara asalmu!”

Polisi datang, meringkus orang-orang Cina yang berdemonstrasi itu ke dalam penjara. Sebagian besar mereka dibebaskan setelah seminggu. Tetapi ayahku adalah salah satu yang dipandang yang paling revolusioner, masih tertinggal di penjara. Siksaan para aparat di punggung meninggalkan luka menganga begitu perih, yang mereka taburi dengan garam dan cuka. Mereka terus menyiksa, menunggu pengakuan seorang komunis.

Setahun kemudian, dia keluar penjara, kembali menghirup udara bebas di kota kelahirannya Lumajang. Kota kami ini, dalam bahasa Cina disebut “Aliran Laut Selatan”. Dia mendengar radio propaganda Cina, Radio Peking, memuji perjuangan mereka. “Wahai pemuda dan pemudi Aliran Laut Selatan, yang teguh berjuang membela hak, kalianlah teladan!” Pujian itu membuatnya semakin setia mempelajari setiap kata dari pemikiran Ketua Mao.

Memiliki ayah seperti dia menimbulkan kontradiksi dalam diriku. Di sekolah, kami belajar bahwa Suharto adalah pahlawan besar, menyelamatkan negeri ini dari ancaman komunis. Sedangkan di rumah, ayahku sembunyi-sembunyi mengisahkan cerita-cerita terlarang, yang aku khawatirkan akan meracuni “ideologi Pancasilaku yang murni”.

Suatu hari, sekolah kami mengadakan lomba mengarang untuk memperingati kesaktian ideologi kami Pancasila mengalahkan komunis. Aku juara pertama. Aku bangga membawa pulang piala berkilau keemasan. Tetapi ayahku justru menangis. Ayah yang tak pernah kulihat menangis itu, hari itu menangis.

Tiga puluh dua tahun berkuasa, rezim Suharto akhirnya tumbang pada tahun 1998. Itu setelah krisis ekonomi yang begitu parah, diiringi huru-hara anti-Cina di berbagai penjuru negeri. Dan seketika, semua orang bebas bicara. Sejarah yang dulu ditutup-tutupi kini mulai terbuka. Satu demi satu aturan-aturan diskriminatif terhadap orang Cina dihapuskan. Bahasa Cina yang dulu tabu, kini diajarkan di sekolah-sekolah. Agama Cina Konghucu kini menjadi salah satu agama resmi nasional, tahun baru Cina menjadi hari libur nasional. Dan yang terpenting, aku tidak lagi perlu menyembunyikan kulit kuning dan mata sipitku, karena tidak ada lagi orang meneriaki “Cina! Cina!” di jalan.

Ayahku, seorang pedagang telur di kota kecil, bekerja keras dan hidup hemat demi mengirim aku bersekolah ke negeri Cina. Sembilan tahun aku di sana, akhirnya aku pulang ke Indonesia.

Ayahku kini telah menjadi lelaki renta, terbaring tak berdaya di ranjang terserang stroke. Sebagai anak, mungkin ini saat untuk menunjukkan bakti. Aku berkata, “Papa, cepat sembuh. Nanti akan kubawa Papa mewujudkan impian selama ini. Pulang ke Tanah Air. Pulang ke tanah leluhur.”

“Bukan. Bukan begitu,” sahutnya, “Itu namanya bukan ‘pulang ke tanah air’. Itu namanya cuma ‘pergi ke Tiongkok’. Tanah air kita di sini. Indonesia.”

Aku hampir tidak bisa memercayai apa yang kudengar. Begitu banyak kepahitan yang dia alami, begitu banyak amarah. Tapi tampaknya, semua amarah itu luruh sudah. Dia bilang, Indonesia telah menerimanya apa adanya, dan kini dia pun menerima negeri ini sebagai rumahnya.

“Semua itu berasal dari hati,” dia berkata, “Kalau kau merasa dirimu minoritas, maka selamanya kau adalah minoritas. Kalau kau merasa dirimu adalah korban, maka selamanya kau adalah korban.”

Matanya menerawang jauh. “Anakku,” katanya lembut, “ingatkah kau waktu kita berdua pertama kali melihat laut? Laut, dari pantainya kau mungkin hanya akan melihat amukan badai dan ganasnya gelombang, mungkin malah tsunami. Tapi dari angkasa, kau lihat laut, itu adalah ketenangan yang tak berbatas. Ketenangan yang tak berbatas.”

Kulihat dia, lelaki tua yang telah bersatu dengan lautnya.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

17 Comments on Ayahku dan Laut

  1. Terima kasih mas Agus untuk ceritanya. Selalu menarik mengikuti setiap cerita yang mas Agustinus tuliskan.

    Salam

  2. salut… beribu jempol… tulisanmu selalu perkaya batin….

  3. Claudius Nugroho // April 7, 2017 at 2:10 pm // Reply

    Semua itu berasal dari hati. Betul. Salam.

  4. ..tulisan ini menyayat hati..

  5. Kisah yang mirip dengan kami, orang aceh…

  6. Suka ceritanya,, jadi kangen ayah.. :(

  7. habib fatkhurrohim // April 19, 2017 at 11:01 am // Reply

    wowww ,merinding mas

  8. mataku basah membacanya … jadi ingat alm. Papaku …

  9. tahun 1998 adalah puncak diskriminasi thd etnis tionghoa. entah bagaimana kejadian bermula tp untuk saat ini sebenarnya masyarakat sudah tdk mempermasalahkan perbedaan etnis. kecuali ada segelintir orang yg punya kepentingan politik atau tujuan pribadinya sendiri.

  10. God bless the tip on your pen

  11. Dua Samudera // May 11, 2017 at 12:10 am // Reply

    Kalau kamu adalah Jawa dan Islam lalu tinggal di Indonesia, maka kamu tidak akan mengenal apa artinya “minoritas”.

    Sebenarnya tidak juga sih. Bahkan yang sesama Islam pun bisa jadi minoritas karena tinggal di kalangan Islam yang berbeda. Manusia memang sangat berbeda.

    Mayoritas, minoritas, semua datang dari hati. Kata-kata yang cukup benar dan berarti.

  12. untuk kesekian kali saya merinding membaca tulisan beliau :’)

  13. Akhh memang tulisanmu selalu masuk diakalku. Terima kasih untuk setiap pelajaran yg kadang teorinya kita dapat dibangku sekolah namun kami sendiri masih nol pengaplikasiannya. Dengan membaca ini kukira memang benar.benar pelajaran yg sangat berharga. Terima kasih sekali lagi.

  14. “Semua itu berasal dari hati,” dia berkata, “Kalau kau merasa dirimu minoritas, maka selamanya kau adalah minoritas. Kalau kau merasa dirimu adalah korban, maka selamanya kau adalah korban.”

    Matanya menerawang jauh. “Anakku,” katanya lembut, “ingatkah kau waktu kita berdua pertama kali melihat laut? Laut, dari pantainya kau mungkin hanya akan melihat amukan badai dan ganasnya gelombang, mungkin malah tsunami. Tapi dari angkasa, kau lihat laut, itu adalah ketenangan yang tak berbatas. Ketenangan yang tak berbatas.”

    Kutipan kata-kata yang selalu menginspirasi
    Terima kasih telah berbagi kisah mas agus
    Buku terbarunya selalu saya tunggu

  15. tulisan yang ini bikin saya menerawang jauh di kampung halaman karena kebetulan saya juga tinggal di pesisir pantai utara, bedanya mas agustinus selatan dan saya utara. sehat sehat terus mas agustinus..

  16. Berlian Cahyadi // June 27, 2017 at 6:39 pm // Reply

    Kisah nostalgia pribadi yang cukup membuka wawasan saya akan sejarah masa lalu Indonesia yang dipenuhi dengan desas-desus, bias problematika, juga kebenaran yang tabu. Terimakasih banyak atas tulisan pendek yang tidak sependek esensi yang terkandung di dalamnya ini mas Agus. :)

    Saya juga pernah mengalami pengalaman pahit yang kurang lebih mirip. Disisihkan atas dasar ras yang dianggap berbeda dari kebanyakan. Namun kini saya sadar, tidak perlu lagi berupaya menjadi mayoritas demi lolos dari kotak minoritas. Terimakasih sekali lagi atas tulisannya yang sungguh mengedukasi dan menginspirasi. :)

  17. You right mas. Semuanya berasal dari hati.. dan sangat menyentuh seklai ketika papa kamu bilang, tanah airnya adalah Indonesia. He was a great papa, GBU mas

Leave a Reply to Berlian Cahyadi Cancel reply

Your email address will not be published.


*