Recommended

Titik Nol 115: Mencari Identitas

 

Sudahkah saya seperti orang Pakistan? (AGUSTINUS WIBOWO)

Sudahkah saya seperti orang Pakistan? (AGUSTINUS WIBOWO)

Bhai jan, aku sudah seperti orang Pakistan? Bagus tidak?” tanya pria Inggris ini kepada sopir rickshaw, memamerkan pakaian shalwar kamiz yang baru saja didapat dari tukang jahit seharga 1.000 Rupee.

Bukan hanya sopir rickshaw, tapi semua orang Pakistan yang dijumpai – tukang jual pisang, penjaga losmen, toko obat, sopir taksi, kondektur bus,…

Namanya Al Malik, warga negara Inggris keturunan Pakistan. Umurnya tiga puluhan, tetapi masih belum menikah. Tubuhnya tambun, wajahnya ditumbuhi kumis dan jenggot pendek, tajam-tajam seperti duri. Pandangannya menghunus tajam dari matanya yang berwarna coklat indah itu. Saya pertama kali berjumpa dengannya dalam pertunjukan malam Sufi, di mana ia terpesona oleh suasan mistis yang menghanyutkan. Juga meriahnya musik qawwali yang membuatnya merasa telah mencapai tujuan perjalanannya.

Dalam sebulan terakhir, Al telah  mengunjungi empat negara Muslim – Turki, Suriah, Iran, dan sekarang Pakistan.

“Suriah, aha, negara itu sangat bebas. Tehran sangat modern. Tetapi justru di sini, di Pakistan, aku menemukan apa yang aku cari. Kesenian Islam modern yang inovatif!” katanya dalam bahasa Inggris dengan logat Britania yang kental.

Al, menurut pengakuannya sendiri, adalah pengamat seni. Ia mengunjungi negeri-negeri Muslim untuk mencari kesenian Islam kontemporer, modern, yang bakal digemari penikmat seni Eropa. Kemarin Al mengajak saya ke sebuah galeri lukisan di Lahore.

Excellent! Excellent! I have been looking for this for ages!” tak hentinya ia berucap.

Saya pun terpesona oleh permainan warna, bentuk, dan nuansa dalam barisan lukisan kaligrafi yang dipajang. Ayat-ayat Qur’an digambarkan sedemikian rupa menjadi perahu, bulan, bintang, lautan, malam yang cerah, api membara.

Tidakkah ia menemukan yang seperti ini di Iran, republik Islam negara tetangga yang juga tersohor peradaban Persia-nya?

“Tidak ada yang seperti ini! Tidak ada yang bisa menandingi ini!” Wajahnya bersinar seperti orang yang menemukan harta karun setelah pencarian panjang di padang gurun.

Dari gayanya melakukan perjalanan, motivasinya, ketebalan budgetnya, Al bukan seorang backpacker. Tetapi bagaimana ia bisa kesasar dalam losmen sempit di mana sepuluh orang turis miskin dijejalkan dalam satu kamar? Itu pun bagian dari pencariannya. Berdasar buku panduan yang ia baca, losmen tempat kami menginap ini adalah tempat terbaik untuk bertukar informasi tentang pertunjukan qawwali dan malam Sufi.

Tetapi ia tak betah.

“Tak pernah aku tinggal di tempat semenderita ini,” keluhnya, berbisik-bisik dengan saya yang tiba-tiba menjadi teman curhatnya.

Di tengah ‘penderitaan’-nya, Al masih menyempatkan diri untuk mencicip sedikit kesenangan dan kemewahan. Saya diajaknya ke sebuah restoran untuk menikmati sizzler, makanan Barat yang pertama kali saya incip seumur hidup saya. Restoran ini katanya tempat orang kalangan atas Lahore bersantap. Suasananya remang-remang. Semua yang datang tipe-tipe parlente. Kaum perempuan pun berpakaian gemerlap dan rambut tergerai. Sungguh kontras dengan pemandangan Lahore yang awut-awutan, rumah kumuh, gemuruh rickshaw yang selevel dengan bajaj Jakarta dan tukangnya berbaju kumal, atau pedagang buah-buahan di pinggir jalan.

Di sisi lain, Al adalah orang yang sangat membumi. Tak segan-segan ia berbicara dengan sopir rickshaw, penjaga warung di pinggir jalan, pedagang pisang, satpam, bocah penjual jus, mempraktekkan bahasa Urdunya yang pas-pasan. Semua orang ditanya pertanyaan yang sama, apakah baju shalwar dan kamiz-nya sudah membuatnya persis orang Pakistan, apakah peci yang dipakai, selimut yang dilingkarkan di pundak, sudah membuatnya tak beda dengan penduduk asli negeri ini.

Accha. Bohut accha hai.. Bagus sekali,” puji sopir rickshaw.
Bhai jan, men Musliman hun. Saudara, aku ini Muslim. Aku orang Pakistan,” Al dengan sangat bangga melanjutkan pembicaraan.
Mashallah. Masya Allah,” sopir rickshaw terperangah, lalu tanpa henti memuji

Al, lahir dan besar di Inggris. Keluarganya tergolong kaya, punya rumah mewah di Eropa dan Amerika. Walaupun keturunan Pakistan, Al tak bisa membaca huruf Urdu dan Arab. Kalau dulu ditanya tentang identitasnya, pastilah ia menjawab ‘Inggris’ terlebih dahulu sebelum ‘Pakistan’. Tetapi kini, betapa bangga ia menyebut dirinya sebagai Pakistani, dan ia dengan gembira memperkenalkan dirinya, “I am a Muslim.”

Belakangan ini ia tergila-gila untuk belajar lebih dalam tentang Islam, agamanya sendiri, agama orang tua dan sanak saudaranya. Ia seperti orang yang baru saja menemukan dirinya kembali, yang selama ini tersembunyi di bawah tumpukan lembar-lembar kepribadian. Selama di Pakistan ia rajin memburu buku-buku bacaan, termasuk buku anak-anak tentang sejarah para nabi.

Al tak tahu sama sekali bacaan doa dalam bahasa Arab. Ketika bersembahyang, ia duduk saja di kursi, menunduk. Saya bertanya kalau bukan bahasa Arab, lalu bahasa apa yang ia ucapkan.

“Bahasa Inggris, tentu saja,” jawabnya, “orang tidak perlu bisa bahasa Arab untuk jadi Muslim.”

Suatu hari saya dibisiki rahasianya, yang tak diceritakannya pada orang Pakistan mana pun.

“Jangan bilang siapa-siapa, saya ini sebenarnya adalah penganut Ismaili. Mungkin orang sini tak begitu suka dengan Ismaili, tetapi di mata saya Sunni, Syiah, atau Ismaili itu tak penting. Yang penting semuanya adalah Muslim.”

Hunza, tanah di barisan gunung salju Karakoram, adalah rumah kaum Ismaili (AGUSTINUS WIBOWO)

Hunza, tanah di barisan gunung salju Karakoram, adalah rumah kaum Ismaili (AGUSTINUS WIBOWO)

Kebetulan sekali. Pengakuan itu membuat saya ingin mengajaknya ikut serta ke Hunza, lembah di pegunungan Karakoram, tempat berdiamnya kaum Ismaili Pakistan. Al pasti akan menemukan lagi lembar demi lembar jati diri yang selama ini ia cari. Saya pun perlu ke sana, untuk menyembuhkan warna kuning di bola mata saya dengan sejuknya alam pegunungan bersalju.

Semula ia ragu.

“Susah tidak perjalanannya? Berat? Di sana nyaman?” Saya meyakinkannya tentang pengalaman Pakistan yang tak ada duanya, dan akan membantunya menemukan jatidirinya sebagai kaum Ismaili.

Saya berhasil membawa seorang pria dari kelas eksekutif Inggris naik bus antar kota Pakistan yang penuh sesak, menuju gunung-gunung di utara, demi pencarian identitas.

Bus menuju Hunza, bertuliskan huruf China – “Aku Cinta China” (AGUSTINUS WIBOWO)

Bus menuju Hunza, bertuliskan huruf China – “Aku Cinta China” (AGUSTINUS WIBOWO)

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 12 Januari 2009

10 Comments on Titik Nol 115: Mencari Identitas

  1. Tampilan webnya baru diganti,mas?

  2. hu um web tampilan baru. yg seri PNG koq gak/blum upload?

  3. Dony Maliki Iya, baru nyoba template baru. ada masukan?

  4. Masfiah Isnaini Sebentar ya… masih lagi dikerjakan :)

  5. lebih bagus yg sebelumnya….yg ini backpacker bgt,bisa jd menggambarkan karakter mas Agustinus yg sederhana namun ceria :)

  6. Quote yang saya suka. ” Jangan bilang siapa-siapa, saya ini sebenarnya adalah penganut Ismaili. Mungkin orang sini tak begitu suka dengan Ismaili, tetapi di mata saya Sunni, Syiah, atau Ismaili itu tak penting. Yang penting semuanya adalah Muslim”…bagian ini saya kok ga liat di buku sampenyan “titik nol” ya mas agus?

  7. Penggalan yg saya sukai “Jangan bilang siapa-siapa, saya ini sebenarnya adalah penganut Ismaili. Mungkin orang sini tak begitu suka dengan Ismaili, tetapi di mata saya Sunni, Syiah, atau Ismaili itu tak penting. Yang penting semuanya adalah Muslim”…bagian ini saya kok ga liat di buku sampenyan “titik nol” ya mas agus?

  8. Dony Maliki iya, saya justru merasa yang lama terlalu ”berat“, justru ingin yang lebih ringan dan fresh

  9. Adam Adikara cerita ini akan ada di Ground Zero, Titik Nol yang versi bahasa Inggris

  10. Bagusan yg kemarin mas. Yg merah koneng. Itu jg ga berat kan ya? Loadingnya cepet dibanding yg lalu. Yg hari ini rasanya sedikit feminin.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*