Recommended

Titik Nol 199: Perempuan Pakistan di Mata Seorang Perempuan Malaysia

Lollywood - Hollywood dan Bollywood versi Lahore (AGUSTINUS WIBOWO)

Lollywood – Hollywood dan Bollywood versi Lahore (AGUSTINUS WIBOWO)

Masih ingat Lam Li, gadis Malaysia yang berkeliling dunia seorang diri? Setelah berkeliling negeri sendiri-sendiri, sekarang kami berjumpa lagi di Peshawar, dan saling berbagi pengalaman dari Pakistan.

Sebelum masuk Pakistan Lam Li sudah dipenuhi oleh ketakutan tentang betapa seramnya kelakuan laki-laki Paksitan terhadap perempuan. Banyak cerita backpacker perempuan yang mengalami pelecehan seksual selama di Pakistan, mulai dari gerombolan laki-laki yang tak pernah puas memandangi tubuh wanita dari ujung kepala sampai ujung kaki, hingga kategori lelaki jalanan yang menjamah dan meremas. Jangankan perempuan, sebagai laki-laki asing pun saya sering mengalami pelecehan.

Tetapi ternyata sudah hampir dua bulan Lam Li di sini, sama sekali ia tak mengalami pengalaman tak mengenakkan macam itu. Malah ia sempat terharu oleh keramahtamahan orang Pakistan.  Ketika ia baru menyeberang dari India, di Lahore ia langsung diundang menginap di rumah keluarga tukang rikshaw. Abang si tukang rickshaw adalah resepsionis hotel. Bersama orang tua, istri-istri, dan anak-anak, tiga generasi keluarga besar ini tinggal bersama. Dari rumah mungil inilah, ia mulai mereka-reka serpihan Pakistan.

“Menjadi perempuan asing itu berarti punya identitas ganda,” kata Lam Li.

Ia bebas makan dan ngobrol bersama kaum pria di keluarga itu. Di lain waktu, Lam Li pun punya akses ke bagian terdalam rumah, berbagi cerita dan gosip dengan kaum perempuan anggota keluarga. Ini hampir mustahil dialami oleh lelaki, baik pria Pakistan maupun pria asing mana pun.

Dari berbagai cerita Lam Li, saya sangat terkesima mendengar pelbagai seluk beluk Pakistan yang selama ini tak pernah terjangkau mata saya. Misalnya, barang apa yang ramai dirumpikan oleh kaum wanita Pakistan?

Purdah (AGUSTINUS WIBOWO)

Purdah (AGUSTINUS WIBOWO)

Jangan kaget kalau mereka, seperti perempuan di belahan bumi lainnya, juga suka berdiskusi tentang kecantikan. Kaum hawa Pakistan yang hampir tak nampak sama sekali di jalanan, dan kalau keluar pun selalu terbungkus rapat dalam purdah atau burqa, juga suka merumpikan kosmetik paling mutahir, pelembab yang paling nyaman, bahkan teknik paling manjur untuk menghilangkan bulu badan.

“Sebenarnya hidup mereka sangat nyaman,” Lam Li yang mengisahkan pengalamannya beberapa hari tinggal di sudut rumah keluarga Pakistan, “Mereka hanya menyiapkan sarapan, makan siang, memasak, bersih-bersih rumah. Selepas itu mereka dah boleh lagi berhias.”

Pertama-tama menghias alis mata. Alis yang dicukur rapi menambah indahnya mata mereka yang cantik. Kemudian mengecat kuku dan tangan dengan henna. Ini adalah kegiatan sosialisasi para wanita di rumah itu. Mereka saling mengecat sambil merumpi tanpa henti. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk menorehkan sebuah karya seni yang indah di atas badan mereka, dan begitu keluar rumah, semua kecantikan itu tersembunyi dalam balutan cadar yang tertutup rapat.

Pernah suatu hari Lam Li diajak nonton bioskop bersama seluruh anggota keluarga. Kaum perempuan keluarga itu sedari sore sibuk memilih pakaian, mematutkan diri di kaca, menghiasi sekujur wajah dan tangan dengan berbagai pewarna, belum lagi lusinan gelang, anting, cincin, … Hanya untuk menonton bioskop pun butuh waktu tiga jam untuk berdandan. Dan begitu keluar rumah, sim salabim, rombongan putri cantik itu berubah wujud menjadi sosok tubuh dalam kain hitam pekat. Yang tersisa cuma pasang-pasang mata besar. Kecantikan mereka yang tiada tara itu hanya diperuntukkan bagi para suami tercinta.

Kaum perempuan keluarga itu kemudian berdesakan dalam auto rickshaw mungil milik sang suami. Ketika sampai di bioskop, sementara para pria membeli karcis, Lam Li yang kepanasan ikut keluar. Sontak para perempuan dalam purdah itu menjerit histeris, “Jangan! Jangan! It is very dangerous!”

“Mengapa? Mengapa mereka selalu hidup dalam ketakutan?” sebuah pertanyaan retorik dari hati Lam Li.

Perempuan Afghan di persimpangan (AGUSTINUS WIBOWO)

Perempuan Afghan di persimpangan (AGUSTINUS WIBOWO)

Mereka seperti tercabut dari kenyamanan di balik dinding rumah. Kaum perempuan ini tak pernah menginjakkan kaki keluar rumah sendirian tanpa ditemani lelaki anggota keluarga. Dan begitu mereka berada di luar wilayah nyaman, mereka merasa dunia luar begitu berbahaya.

Lollywood, industri film jiplakan Lahore untuk Hollywood dan Bollywood, sama sekali tak meninggalkan kesan bagus di benak Lam Li.

“Benar-benar kotor. Kalau saja diputar di Malaysia, pasti kena sensor.”

Ceritanya datar saja, kata Lam Li yang tak mengerti bahasa Punjabi dan Urdu. Hanya lelaki yang membawa bedil, kisah asmara, dan perempuan yang menari-nari. Di negara tetangga India, Bollywood menjadi imej cantik negeri itu yang diekspor ke seluruh dunia. Tetapi syukurlah Lollywood bukan imej Republik Islam Pakistan.

Lima belas menit awal, tanpa sebab tanpa alasan adalah gambar tembak-tembakan tanpa henti. Semua pria berkumis membawa bedil. Sang lakon bersimbah darah, tetapi tak terluka. Tiba-tiba, juga tanpa sebab tanpa alasan, film berpindah setting ke hari mandir – kuil Hindu – di mana para perempuan melenggak lenggok dalam tarian.

Aturan ketat di negara ini memang tak memungkinkan adegan buka-bukaan, namun pembuat film mengakalinya dengan gerakan implisit penuh simbolik. Hasilnya malah lebih jorok dan erotis daripada film porno. Misalnya seorang perempuan gemuk berpakaian basah dan agak tembus pandang yang menggoyang pinggulnya di atas air mancur, memperagakan gerakan erotisme yang sangat eksplisit. Kenapa perempuan gemuk? Aneh memang, perempuan bertubuh penuh lemak adalah selera konsumen film di sini.

Scene tari-tarian kaum Hawa ini juga lima belas menit tanpa jeda. Kemudian, bluuurp, pindah lagi ke adegan tembak-tembakan para pria. Lima belas menit nonstop, pindah lagi ke tari-tarian. Pergantian scene sangat kasar, guntingan dua film yang dipaksakan untuk tampil bersama, seolah-olah lagu dan tarian erotis itu memang selingan (atau malah sajian utama?) pertunjukan ini. Begitu terus, berganti-ganti tanpa henti sampai tiga jam penuh.

Lam Li sungguh bosan menonton film ini, nyaris tertidur. Kawan-kawan perempuan Lam Li malah sibuk membangunkan anak-anak mereka, memaksa para bocah malang itu untuk tetap memantengi film yang sebenarnya bukan untuk konsumsi anak-anak. Lam Li hanya bisa melongo melihat tindak tanduk ibu-ibu itu.

Kehidupan perempuan Pakistan sungguh merupakan pengalaman baru baginya. Lam Li yang terbiasa tampil tomboi, dengan kaus lengan pendek, celana, rompi, dan bandana, sering dikira orang sebagai laki-laki. Pernah suatu kali ia pernah dipelototi ibu-ibu penumpang di bus kota karena dikira adalah laki-laki kurang ajar yang nekad duduk di bangku khusus perempuan.

“Sebenarnya,” katanya bijak, “semua ini untuk melindungi perempuan.”

Di bus, tempat khusus perempuan adalah tempat aman dari jelalatan mata kaum lelaki. Di restoran, selalu ada ruang khusus pengunjung perempuan, agar tak terlihat oleh pria lain. Perempuan tak perlu mengantre. Perempuan selalu ditemani dan dikawal kalau keluar rumah. Sungguh perlakuan yang luar biasa. Tetapi kembali lagi, dari mana datangnya kebutuhan untuk selalu terus dilindungi? Ketakutan? Tradisi? Atau justru karena bahayanya laki-laki yang masih menggoda kaum perempuan yang sudah bercadar sekali pun?

Perempuan Pakistan umumnya tidak pergi ke masjid (AGUSTINUS WIBOWO)

Perempuan Pakistan umumnya tidak pergi ke masjid (AGUSTINUS WIBOWO)

Saya teringat seorang penumpang bus di Gilgit yang pernah bekerja di Saudi Arabia dengan penuh rasa iba berkomentar bahwa Indonesia adalah negara miskin.

“Lihat, sampai perempuan pun terpaksa bekerja jauh-jauh ke Arab!” Juga ibu-ibu teman Lam Li yang dengan penuh rasa kasihan melihat gambar para pekerja wanita di Malaysia,
“Aduh…lihat perempuan-perempuan ini….kasihan betul… harus bekerja keras… Mana suami mereka?”

Apa yang cocok bagi kita, belum tentu tepat bagi mereka. Bagi kaum wanita ini, tak ada tempat yang lebih nyaman dari istana di sudut rumah, lebih aman dengan perlindungan suami dan keluarga.

 


(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 11 Mei 2009

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

4 Comments on Titik Nol 199: Perempuan Pakistan di Mata Seorang Perempuan Malaysia

  1. Makcik lam li,apa kabar…

Leave a comment

Your email address will not be published.


*