Recommended

Titik Nol 203: Romantisme

Gandengan tangan, berangkulan, berpelukan antara sesama pria adalah hal lazim (AGUSTINUS WIBOWO)

Gandengan tangan, berangkulan, berpelukan antara sesama pria adalah hal lazim (AGUSTINUS WIBOWO)

Mungkin ini termasuk kotoran yang dipandang Wahid dengan tatap mata penuh jijik.

Baru saja saya berhasil menghindar dari pria Pashtun yang mengaku dirinya sebagai Prince, pangeran – entah dari kerajaan mana lagi, yang menawarkan angkutan murah meriah menuju Afghanistan.

Perjalanan menuju Afghanistan nantinya akan melewati daerah-daerah berbahaya. Pemerintah Pakistan mewajibkan orang asing yang akan melintas untuk dikawal tentara bersenjata. Orang asing juga tidak diijinkan untuk naik kendaraan umum, harus menyewa kendaraan sendiri. Bagi saya dengan kantong backpacker ini, biaya menyewa taksi yang bisa sampai seribu Rupee tentu saja membuat gundah.

Prince, dengan aura kepangeranan yang terlalu dipaksakan, terus memantau kedatangan orang asing di Peshawar. Ia punya jaringan kuat dengan semua hotel di kota ini. Setiap ada backpacker yang datang, dengan sigap ia langsung nyanggong di hotel yang bersangkutan untuk bertemu dengan si turis. Lalu ia akan memamerkan foto-fotonya, tindakan amal apa saja yang pernah dia lakukan, gambar ratusan anak asuhnya, juga foto ribuan turis yang terpuaskan oleh layanan angkutan dan tour guide-nya.

Ia memamerkan dua buku tebal testimonial para turis yang ditulis dalam pelbagai bahasa, mulai dari Inggris, Jepang, Perancis, hingga Mandarin. Para turis itu terpikat oleh aroma romantisme keganasan perbatasan Afghanistan, dan tentu saja semua melantunkan puja dan puji kepada Prince yang ‘ramah tamah’, ‘banyak membantu’, ‘cerdas’, ‘baik hati’, ‘pemurah’, dan seterusnya.

Pria setengah baya, berkumis tebal dengan raut wajah yang keras, selalu bertopi koboi. Ia tak pernah berhenti bicara dengan Bahasa Inggris yang sukar dipahami. Semula saya tertarik sekali dengan kisahnya sebagai ‘pangeran’, tetapi omongannya tidak pernah nyambung. Selalu saja beloknya ke anak asuhnya, turis-turis yang terpuaskan, angkutan, dan layanan tour guide.

Tentu bukan karena karena keterpikatan saya, kalau akhirnya saya ikut ke kantornya, di mana katanya ia ingin bicara saja berdua dengannya.

“Jangan khawatir, my friend. Saya akan kasih kamu harga murah…,” demikian katanya berulang-ulang, membuat saya semakin tergiur untuk memakai jasa angkutannya.

Walaupun si Prince itu agak sinting, tetapi orangnya baik, demikian Lam Li si petualang perempuan dari Malaysia merekomendasikan Prince yang pernah mengangkutnya sampai ke Afghanistan dengan cuma-cuma.

Prince menjanjikan untuk mencarikan teman seperjalanan menuju ke perbatasan Torkham, sehingga saya bisa berbagi ongkos taksi.

“Kemarin ada dua backpacker dari Inggris,” kata Prince meyakinkan, “nanti saya usahakan untuk menyelipkan kamu ke dalam kendaraan mereka. Turis-turis itu akan berkunjung sepanjang Khyber Pass. Jangan khawatir, saya akan bantu kamu, my friend.”

Sambil bicara jarinya mengelus-elus wajah saya. Saya tidak tahu apakah ini memang adat orang Pashtun. Saya pernah lihat di film, orang Afghanistan juga mengelus-elus jenggot lawan bicara. Saya diam saja, mendengarkannya berceloteh tentang segala kebanggaan dirinya. Lagi-lagi hal yang sama – ratusan anak asuh, ribuan turis yang terpuaskan, sekolah yang dibangun, pengalaman Khyber Pass yang tiada duanya, dan seterusnya. Benar-benar pangeran nyasar.

Jam 10 malam. Kantor itu gelap dan tidak ada siapa-siapa lagi. Sambil bicara, jari-jarinya terus bergerak liar di wajah saya. Sekarang mulai menggelitik daun telinga saya. Saya sudah merasa mual. Saya menghindar. Setelah menenggak habis botol Coca Cola yang dihidangkannya, saya langsung permisi pergi.

Sebagai tanda perpisahan, Prince memberi kenang-kenangan. Seuntai kembang.

Tak lebih dari tiga menit saya lepas dari si pangeran tua ini, saya sudah dihadang dua manusia dari jenis yang sama, ketika menaiki tangga-tangga gelap di losmen murah tempat saya menginap.

Yang satu kurus, satu gemuk. Dua-duanya pakai shalwar kamiz. Dua-duanya berkumis, tak berjenggot. Yang gendut berumur empat puluhan, yang kurus jauh lebih muda. Mereka bicara bahasa yang tidak saya mengerti. Bahasa Pashto. Saya ajak berbicara bahasa Urdu, mereka juga tak bisa. Mungkin memang orang Afghan.

Mereka terus bicara. Tapi saya tak paham sama sekali. Si gemuk menunjukkan dompetnya, sambil mengeluarkan lima atau enam lembar uang seratusan Rupee. Entah apa maksudnya.

Si gemuk kemudian mengepalkan tangan kanannya, dan menepuk-nepuk genggaman itu dengan tangan kirinya. Si kurus membuat lingkaran dengan dengan telunjuk dan ibu jari tangan kirinya, kemudian menggesek-gesekkan telunjuk kanannya, keluar masuk. Ini gestur yang buruk sekali. Mereka ingin menggagahi saya.

Na. Tidak. Dard hoga. Nanti sakit,” saya masih bersopan-sopan menghindar.
Bukannya membiarkan saya pergi, si gendut mulai ‘merayu’ saya.
“Hanya satu menit. Tidak sakit. Semua uang ini akan jadi milik kamu” dan sebagainya.

Saya tidak tertarik. Sejak kapan harga diri saya diobral jadi cuma 600 Rupee?

Tangan si gemuk mencoba meraih saya. Tak berhasil. Si kurus menyibakkan jubah kamiz-nya dan memperlihatkan ‘sesuatu’ di balik shalwar-nya. Saya terkejut bukan main melihat pertunjukan eksibisionis itu.

Saya serta merta kabur dan mengunci kamar saya. Saya tutup semua tirai jendela rapat-rapat, matikan lampu, sambil terus merenungi nasib sial macam apa yang saya alami hingga harus berjumpa orang-orang macam ini berentetan sepanjang malam.

Sialnya, kedua orang ganas itu tidur di kamar sebelah. Semalam suntuk saya tak berani keluar.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 15 Mei 2009

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

8 Comments on Titik Nol 203: Romantisme

  1. Mas Agus yg hand in hand foto nya pasti lbh seruu 😊

  2. Astaga Gus… Total berapa kejadian percobaan semacam ini?

  3. Kenapa ya setiap pria yang berkawan akrab dengan pria dan pada beberapa momen terdapat kedekatan fisik langsung dicap homo?

  4. lagian di luar rumah kebanyakan laki semua..

  5. oh… di “titik nol” ada cerita ini juga (baru baca 1/4-nya), pertama kali saya baca di “selimut debu” mohon koreksi jika ada kesalahan

Leave a comment

Your email address will not be published.


*