Recommended

Garis Batas 22: Keluarkan Saya dari Sini!!!

 

Dusun Karakul di pinggir danau (AGUSTINUS WIBOWO)

Dusun Karakul di pinggir danau (AGUSTINUS WIBOWO)

Terjebak di tempat terpencil ini dengan visa yang sudah hampir habis berarti bencana. Penjara Tajikistan bukan tempat yang asyik bagi wisatawan. Tetapi, saya hampir tak tahu lagi bagaimana caranya keluar dari sini.

Sebenarnya, kemarin ada truk yang melintas. Khurshed berteriak-teriak memanggil saya dan menyarankan untuk ikut dengan truk yang akan pergi ke Kyrgyzstan. Namun, karena batas waktu visa saya masih dua hari lagi, saya katakan saya masih ingin menikmati indahnya danau Karakul yang menyimpan kesunyian penuh misteri ini.

Hari ini, saya bangun pagi-pagi, menyaksikan cantiknya matahari merekah di atas kesunyian danau dan barisan rumah-rumah balok. Angin dingin bertiup kencang, menerpa wajah, dan membekukan setiap partikel kotoran dalam hidung. Sakit sekali. Di tengah dinginnya angin, di bawah langit biru yang kemudian berubah menjadi gelap berselubung awan, saya menanti kendaraan lewat.

Dua jam menunggu, sejauh mata memandang, 25 kilometer ke utara dan 10 kilometer ke selatan, sama sekali tidak ada kendaraan yang tampak. Saya lihat truk Kamaz melintas tepat pukul dua belas siang. Ini adalah kendaraan pertama yang saya lihat sejak pagi tadi. Begitu kecewanya saya mengetahui bahwa penumpang sudah penuh.

Saya tahu betapa membosankannya bekerja di sini sebagai tentara perbatasan. Yang ada hanya jalanan kosong melompong. Dua jam berikutnya saya menunggu. Masih di jalan yang sama. Kosong melompong. Sunyi dan membosankan. Tak ada kendaraan. Mahluk pun tak ada yang melintas.

Khurshed, yang kasihan melihat saya kelaparan menunggu di bawah terpaan angin dingin pegunungan, mentraktir makan siang di stolovaya, kantin kecil di tengah dusun. Baru pertama kali ini ia melihat agen mata-mata yang begitu miskin yang tidak sanggup membayar makan siang, guraunya. Saya tersenyum getir.

“Jangan khawatir. Kan masih ada besok,” katanya.

“Tetapi visa saya kadaluwarsabesok.”

“Ya tidak apa-apa. Kalau besok kamu tidak dapat kendaraan, visa kamu kan kadaluwarsa. Nah kemudian giliran kami yang bekerja, membawa kamu ke Khorog. Di sana kamu akan dapat makan gratis, tempat tinggal gratis, di penjara indah di negeri Tajikistan!”

Hah?

Dia tertawa terkekeh-kekeh.

Sebagai tentara perbatasan, tugas Khurshed adalah memeriksa setiap kendaraan yang lewat. Dia berjanji, sebagai teman, ia akan minta semua supir truk yang lewat untuk mengangkut saya ke Kyrgyzstan. Masalahnya sekarang, tidak ada yang bisa dibujuk karena sama sekali tidak ada mobil yang lewat di sebuah highway yang membentang kosong ini.

Sejak truk yang lewat pagi tadi itu, tidak ada kendaraan lain lagi. Saya sudah menunggu empat jam lebih. Angin terus saja menderu, membuat semangat saya berbalik menjadi loyo dan semakin loyo.

Sudah sore. Khurshed sudah berulang kali membujuk saya untuk menunggu di rumah Tildahan saja. Saya menggeleng. Rasa cemas menggelayuti saya, ingin rasanya cepat-cepat meninggalkan Tajikistan sebelum semuanya terlambat. Tetapi, tak mungkin orang bisa terburu-buru di negara seperti Tajikistan, di mana yang ada hanya kekosongan dan kesunyian.

Wanita Khirgiz dengan kedua anaknya. (AGUSTINUS WIBOWO)

Wanita Khirgiz dengan kedua anaknya. (AGUSTINUS WIBOWO)

Penduduk desa juga menghibur saya. Mereka mengatakan besok sore, seperti biasanya sekali dalam seminggu, ada angkutan jeep yang berangkat dari Murghab sampai ke Osh di Kyrgyzstan. Tetapi apakah ada tempat kosong untuk penumpang dari Karakul ? Tidak ada yang berani menjamin.

Anak-anak sekolah berlarian riang keluar dari gedung sekolah mungil di utara dusun. Hari ini adalah hari pembagian susu. Aga Khan, sang pemimpin spiritual umat Ismaili, memang masih menyuapi orang-orang yang hidup di provinsi GBAO. Setiap minggu anak-anak sekolah kebagian susu kotak yang diproduksi di Kazakhstan. Khurshed sang komandan tentara perbatasan, dengan gagahnya menghentikan anak-anak SD itu. Bak preman dari Tanah Abang dia menyuruh anak-anak mungil itu  menyerahkan kotak-kotak susu mereka.

Anak-anak itu berbisik-bisik.

            “Kumpulkan dari teman-temanmu yang lain, ya. Semakin banyak semakin baik,” kata Khurshed. Anak-anak itu berlarian kembali ke gedung sekolah, ke habitat mereka yang penuh oleh bocah-bocah berjas hitam yang asyik menyedot kotak-kotak susu.

Sekejap kemudian, lima bocah datang kembali menyerahkan delapan kotak susu. Khurshed bilang kurang, tetapi bocah-bocah itu bilang sudah tak ada yang lain. Khurshed memberi mereka selembar uang 5 Somoni.

“Sudah, kamu bagi-bagi sendiri uangnya!”

Saya kebagian dua kotak susu. Sisanya untuk Khurshed sendiri – stok mingguan.

Untungnya Aga Khan tidak ada di sini. Apa yang dia pikir kalau melihat susu-susu pemberiannya bukannya disedot anak-anak sekolah, tetapi malah nyasar ke perut gendut seorang tentara komandan dan perut kurus seorang mata-mata gadungan?

Malam pun menjelang. Suami Tildahan membujuk saya untuk tidak gelisah. Tapi, sulit untuk tidak gelisah. Makan pun rasanya tak enak. Yang saya pikirkan hanya keluar dari Tajikistan. Saya mencoba tidur, tetapi tak bisa memejamkan mata. Kalaupun terlelap yang muncul dalam mimpi saya hanya dua hal, visa dan penjara.

Tengah malam saya keluar rumah. Toilet keluarga Tildahan di luar rumah, harus memanjat-manjat batu cadas dulu. Anjing besar melolong bersahut-sahutan. Saya mendongakkan kepala ke atas, ke jutaan bintang yang bertaburan pada langit kelam yang cerah.

Beberapa garis terang meluncur di angkasa. Ada bintang jatuh. Say a wish.

Saya berteriak, “Keluarkan aku dari Tajikistaaaaaaan!!!!!”

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan ulang sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 4 April 2008

Leave a comment

Your email address will not be published.


*