Recommended

Harian Analisa (2006): Negeri Berjuta Warna

Minggu, 10 September 2006

Harian Analisa (Medan, Indonesia):

0609-Analisa_India_Negeri_Berjuta_Warna

India

Negeri Berjuta Warna

MENJADI salah satu negara terpadat penduduknya dengan jumlah lebih dari 1 miliar jiwa, India adalah sebuah negeri penuh pesona. Salah satu pesonanya, India sangat lekat dengan nilai-nilai tradisi leluhurnya. Kendati budaya westernisasi sulit dihindari masuk ke semua lini hidup masyarakat India, nilai-nilai religi dan tradisi masih dijunjung.

India begitu kaya dengan upacara tradisinya. Nilai -nilai religi yang bersumber dari ajaran Hindu dan Budha menjadikan tatanan kehidupan masyarakat India tak hanya luhur dan suci. juga begitu eksotis di mata dunia.

Salah seorang mahasiswa asal Indonesia, Agustinus Wibowo. melakukan perjalanan mengitari Asia. India menjadi salah satu tempat yang sangat memikat hatinya. Agustinus sempat berbulan-bulan tinggal di beberapa wilayah di India, hingga ke pedalamannya. Dan dia masuk dan merekam jauh ke dalam kehidupan keseharian masyarakatnya. Selain India, Agustinus lelah menjejakkan kakinya di Nepal, Tibet, Thailand, Cina, Afghanistan, dan kini di Iran.

Sebagai salah satu negara penghasil tekstil terbesar, India menyajikan pemandangan keseharian yang penuh warna. Apalagi ditambah dengan kecenderungan masyarakat India yang suka mengenakan pakaian dengan warna-warna yang cerah.

Secara fotografis, merekam India lewat foto menjadi hal yang menarik. Berjuta warna tersaji di setiap sudut kota-kota di India. Dengan kameranya Agustinus tak hanya memotret, tapi dia menikmati setiap interaksinya dengan orang-orang India. “Mereka sangat ramah dan bersahabat,” kata Agustinus.

Hal ini terlihat dari bagaimana Agustinus masuk ke sebuah keluarga dan memotret kehidupan mereka. Kedekatan pribadi Agustinus pada subyeknya, membuat foto-foto Agustinus tak hanya menjadi gambar, tapi visual yang punya jiwa. (andi)

 

Agustinus Wibowo

LAHIR di Lumajang. 8 Agustus 1981. Setelah lulus dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, menyambung ke Teknik Komputer Tsinghua University. Beijing. Selepas dari kuliah, Agustinus meneruskan perjalanannya mengelilingi Asia.

Dasar ilmu komputer ternyata dirasakan masih kurang, maka Agustinus merasa perlu menimba ilmu lagi dari Alam Semesta. Maka Agustinus mendatangi pelosok-pelosok Asia untuk melengkapi pengetahuannya.

Satu tahun sudah dia menjelajah. Awal perjalanan daratnya dimulai dari kota metropolitan Beijing, melintasi padang pasir di China Barat, gunung-gunung es di atap dunia Tibet, kota-kota kuno di Nepal, negeri penuh warna India, reruntuhan gempa di Kashmir, lembah-lembah surgawi di Hunza, kibaran-kibaran jubah dan cadar di Pakistan, hingga aroma mesiu di tengah gunung dan gurun Afghanistan.

Perjalanan ini demikian panjang. Bahkan Agustinus rela berjalan kaki berjam jam untuk masuk ke kawasan pedalaman. Di sana dia menemukan banyak hal yang bisa dipelajari. Manusia-manusia penuh senyum, tangis, tawa. air mata. cinta, rindu, benci, persahabatan, derita, harapan, kemenangan, kegagalan, keputusasaan, membuat Agustinus lebih bijak untuk memahami dam memaknai hidupnya. Agustinus berbagi semua pengalamannya lewat blog nya www.avgustin.net .

Petualangannya memang tak selalu mulus. Bahkan banyak hal yang terjadi di luar rencana. Seperti berjumpa dengan gerilyawan Maois di pegunungan Nepal utara. Kebiasaannya para gerilyawan Maois meminta sejumlah uang dari orang asing yang mereka jumpai. Namun karena kemampuan Agustinus berbicara bahasa Hindi, mereka bercakap-cakap bagaikan seorang sahabat, menceritakan perjuangan mereka menggulingkan kekuasaan raja yang lalim.

Agustinus sangat tertarik pada budaya semua bangsa di dunia. Maka tak heran lelaki ini menguasai banyak buah bahasa asing (Inggris. Jerman. Perancis, Rusia, dan Jepang). Bahkan dalam perjalanannya, Agustinus mempelajari bahasa-bahasa baru dalam antara lain bahasa Urdu, Farsi, dan Turki. Kemampuannya ini yang memudahkan dia berinteraksi dengan penduduk lokal yang ditemuinya.

Perjalanannya masih panjang. Agustinus merasa harus mendatangi semua tempat, sebelum pulang ke Indonesia. Tapi rasa rindu pada tanah air, membuatnya ingin cepat bergegas pulang dan menikmati kepermaian tanah airnya. (andi)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

3 Comments on Harian Analisa (2006): Negeri Berjuta Warna

  1. Dear Agustinus,
    I am so proud of you. Nature does teach us a lot on simplicity and peace.

    Aini

  2. Great job Gus…keep it up. Thanks for the postcard (again)

  3. Dah sampe mana Gus ?
    Keep on rolling to the world. :)
    Keep on writing, i like funny and strange things you found when travelling.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*