Recommended

Garis Batas 48: Do Svedania, Kazakhstan

 

Selangkah sebelum Uzbekistan (AGUSTINUS WIBOWO)

Selangkah sebelum Uzbekistan (AGUSTINUS WIBOWO)

Perbatasan antara Kazakhstan dan Uzbekistan terletak beberapa puluh kilometer di selatan Shymkent. Perjalanan dengan marshrutka – semacam angkot – dari Shymkent ke Zhibek Zholi merupakan pemandangan terakhir Kazakhstan yang nampak di mata saya. Hamparan salju putih membungkus bukit-bukit sejauh mata memandang.

Saya kembali menghitung sisa Tenge yang masih bertahan dalam dompet saya. Tak banyak. Hanya beberapa keping uang receh seratusan. Seorang penumpang, nenek Rusia dengan wajah yang selalu cemberut, langsung menyumpahi supir yang seenaknya saja menaikkan harga secara mendadak karena sudah dekat tahun baru. Uang Tenge saya langsung hanya tersisa satu keping setelah membayar karcis.

Desa perbatasan, Zhibek Zholi, yang artinya Jalan Sutra, sangat sibuk. Bus-bus besar berdatangan dari penjuru. Wanita-wanita gemuk berkerudung bertebaran di sana sini, menggeret-geret dan memaksa orang untuk tukar uang. Pria-pria juga tak kalah sibuknya, membawa berkantong-kantong barang bawaan, ke arah Uzbekistan.

Dari Tenge ke Sum, seketika saya merasa kaya. Uang logam 100 Tenge, satu-satunya yang tersisa di kantong, langsung berubah jadi selembar uang 1.000 Sum. Beberapa tahun belakangan ini, uang Uzbekistan terus anjlok. Sekarang kursnya 1.250 Sum per Dolar Amerika. Uang kertas seribuan Sum, yang nilainya tidak sampai 1 dolar dan hanya senilai uang receh di Kazakhstan, adalah pecahan mata uang terbesar di Uzbekistan.

            “Ayo…, ikut saya, saya akan membawa kamu ke perbatasan,” tiba-tiba sepasang tangan gemuk seorang wanita tua menggeret saya dengan penuh semangat perjuangan. 
            “Tidak perlu. Saya cuma ingin menukar Sum. Saya bisa menyeberang perbatasan sendiri,” saya menolak.            “Ayo! Ayo!” nenek ini semangatnya tak kalah dengan atlet aerobik. Dalam hitungan milidetik, datang tiga atau empat nenek-nenek lainnya bergabung.”Ayo! Ayo! Nanti menyeberang perbatasannya gampang,” kata yang satu.

“Tidak bakal ada masalah kalau kamu pergi bersama kita,” kata yang lain.

“Ayo! Nggak usah kuatir. Cuma kasih saya bir Tenge, satu Tenge,” kata yang terakhir, tidak kalah gendutnya.

Semuanya bicara bahasa Rusia, meluncur dari mulut yang separuh ompong separuh bergigi emas mengkilap. Semuanya penuh semangat perjuangan pantang mundur. Memang kedengarannya menarik. Satu Tenge saja? 75 Rupiah? Tetapi buat apa? Saya punya semua dokumen lengkap, dan tidak ada alasan untuk harus dibantu untuk menyeberang.

“Ayo! Ayo!”

Sekarang sudah bukan cuma omongan lagi, tetapi tangan-tangan gemuk itu sudah mulai bertindak. Ada yang mendorong, ada yang menyeret. Nenek-nenek berkerudung itu berusaha sekuat tenaga menunjukkan jalan yang benar pada saya.

Tahu-tahu saya sudah didorong sampai ke sebuah gang kecil, membelok tepat di depan pintu gerbang perbatasan. Gang ini tidak sampai satu meter lebarnya, membelok ke kanan, membelok lagi ke kanan, sekarang berjalan sejajar dengan perbatasan Kazakhstan-Uzbekistan, dipisahkan oleh barisan rumah. Sekarang saya berada di tengah kampung, rumah-rumah sederhana berukuran rendah. Perbatasan internasional itu tampak samar-samar di balik pagar.

Baru saya mengerti. Nenek-nenek desa ini ingin saya melintas ke Uzbekistan dengan ‘aman dan selamat’, lewat jalan tikus yang menghindari pos-pos imigrasi.

Tidak! Buat apa? Mengapa saya harus diselundupkan? Saya punya paspor, visa, registrasi, semua lengkap. Dan kalau saya masuk Uzbekistan dengan cara ini, bagaimana nanti saya bisa keluar dari negara ini?

Tidak! Saya berusaha menerobos kerumunan nenek desa ini, kembali ke jalan semula. Mereka sekuat tenaga menghalangi saya, dan saya pun sekuat tenaga melarikan diri.

Sekarang teriakan-teriakan penuh semangat itu tiba-tiba berubah menjadi rengekan.

“Tolong…, satu Tenge…, bayi-bayi kami masih sangat kecil. Kami butuh uang….” Satu Tenge, bukan? Tiba-tiba, entah dari mana, sekeping satu Tenge saya temukan di dasar kantong saya. Langsung saya beri ke salah seorang nenek itu.

Si nenek terkejut. Entah sudah berapa lama dia tidak melihat uang satu Tenge. Keping logam yang bisa diabaikan nilainya sudah lama hampir menghilang dari peredaran uang Kazakhstan.

Uang satu Tenge itu cuma dilihat-lihat sebentar. Lalu, sambil tertawa ia mengembalikan uang itu logam itu pada saya.

Ok yo’l,” katanya, selamat jalan.

Seorang tentara Kazakh yang sejak tadi mengamati insiden saya dengan nenek-nekek itu tertawa geli. Ketika dia melintas, masih dengan menyimpan tawa, dia menyapa, “Hai, brat, ada apa?” Brat dalam bahasa Rusia artinya brother dalam bahasa Inggris.

Perbatasan ini ramai sekali. Banyak para pedagang yang melintas dengan segala macam bawaan. Penduduk Kazakhstan dan Uzbekistan boleh saling melintas perbatasan hanya dengan paspor saja. Tentara yang tadi menjaga backpack saya menyuruh saya ke loket imigrasi.

“Avgustin…. nama yang menarik,” kata petugas imigrasi sambil tersenyum mengamat-amati paspor saya.

“OK. Sekarang kamu melihat ke kamera.”

Klik. Foto saya yang lagi tersenyum menghadap kamera langsung muncul di komputer.

“Sekarang apa lagi ya… oh ya… paspor kamu dicap,” kata si petugas, “nih… visanya sudah dicap. Selamat jalan ke Uzbekistan….”

Petugas imigrasi masih sempat melambai-lambai ke arah saya.

Do svedania,” katanya, sampai jumpa.

Do svedania, Kazakhstan,” balas saya.

Saya melangkah ke arah gerbang Uzbekistan. Setelah mengisi formulir-formulir deklarasi, paspor langsung dicap. Semua lancar. Saya menghirup segarnya udara Uzbekistan.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.Dimuat di Kompas Cyber Media pada 12 Mei 2008
About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Garis Batas 48: Do Svedania, Kazakhstan

  1. cerita yang menarik mas, tetapi saya tidak mengerti, buat apa nenek tersebut meminta uang 1 tenge terus cuman dilihat baru dikembalikan? hahhaha.. lucu mas..

Leave a comment

Your email address will not be published.


*