Recommended

Garis Batas 51: Ada Indonesia di Uzbekistan

Ozoda dan murid-muridnya (AGUSTINUS WIBOWO)

Ozoda dan murid-muridnya (AGUSTINUS WIBOWO)

Tidak banyak negara seperti Uzbekistan. Bukan hanya terkunci daratan, semua negara yang mengelilinginya di keempat penjuru pun sama-sama tak punya lautan. Demikian jauhnya Uzbekistan dari laut, sampai ke utara, selatan, timur, barat, untuk mencapai lautan harus lewat setidaknya dua negara. Tetapi itu bukan berarti orang sini tidak peduli dengan Indonesia, negeri romantis berdebur ombak nun jauh di seberang lautan sana.

“Setangkai anggrek bulan…, yang hampir gugur layu….” lagu tempo doeloe mengalun lembut di gedung kepemudaan Samarkand, kota bersejarah Uzbekistan yang terkenal dengan untaian monumen peradaban. Para penonton yang terkesima, ikut berdiri, dan mengayun-ayunkan badannya mengikuti irama lagu kepulauan yang mendayu-dayu.

Kalau tidak diberi tahu bahwa yang menyanyi bukan orang Indonesia, melainkan orang Uzbek tulen, saya pun tak percaya. Lafal penyanyinya fasih, iramanya pas, dan emosinya sudah tepat, walaupun kemudian saya menemukan bahwa penyanyinya sendiri tidak tahu apa artinya.

Tepuk tangan bergemuruh mengakhiri persembahan lagu Indonesia oleh sepasang penyanyi Uzbek itu. Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan tari-tari tradisional, yang nama-namanya pun tidak semuanya saya kenal, macam Badinding, Sukaria, Piring, Batik, Puspito, dan Yapong. Semuanya dibawakan oleh pelajar-pelajar Uzbek dari Samarkand, dan saya hanya bisa terkesima.

Saya dibawa ke sini oleh staff penerangan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tashkent. Ada sepasang suami istri di Samarkand yang begitu cintanya dengan kebudayaan Indonesia, sampai menggelar konser-konser untuk pengenalan budaya Indonesia, dengan inisiatif sendiri.

Ozoda Kosimova namanya, 31 tahun, wanita campuran Uzbek-Tajik ini, menyambut rombongan kami dengan bahasa Indonesia patah-patah,

“Senang sekali Anda datang ke sini.” Ozoda masih sibuk mendandani murid-muridnya dengan pakaian tari Indonesia warna-warni menyala. Sebagian besar pinjam dari KBRI.

Nigina dengan tari Puspito sempat melaju ke kontes tingkat nasional. (AGUSTINUS WIBOWO)

Nigina dengan tari Puspito sempat melaju ke kontes tingkat nasional. (AGUSTINUS WIBOWO)

Boleh dikata Ozoda mempunyai andil besar memperkenalkan kebudayaan Indonesia di Samarkand. Kecintaannya pada budaya Nusantara ini bermula dari ketertarikannya pada Bahasa Indonesia. Kebetulan dulu dia tinggal serumah dengan Anora, mahasiswi sastra Indonesia, yang sering menghafalkan kosa kata Bahasa Indonesia keras-keras.

Di telinga Ozoda, bahasa ini terdengar unik dan lembut. Dari buku-buku Anora, Ozoda pelan-pelan belajar. Ozoda juga tidak malas menghafalkan kamus. Dan rasa hausnya untuk terus memperdalam Bahasa Indonesia menghubungkan Ozoda dengan beberapa staf KBRI yang memberikan bimbingan via e-mail plus mengirimi buku-buku dan majalah anak-anak.

Sebuah kunjungan ke Tashkent membuka mata Ozoda. Mbak Murtie Djuffan, lulusan Institut Seni Indonesia yang sengaja diundang KBRI sebagai guru tari sekaligus duta kesenian dan kebudayaan Indonesia, menunjukkan beberapa video tarian tradisional.

“Langsung saya minta Mbak Murtie ajari,” ungkap Ozoda dengan kosa katanya yang terbatas, “dan Mbak Murtie mengajari tari-tarian Indonesia.”

Berawal dari Yapong dan Badinding, Ozoda memperkenalkan tari-tarian Indonesia kepada murid-muridnya di Samarkand. Responnya luar biasa.

“Murid-murid senang sekali. Kata mereka tarian Indonesia bagus, cantik. Semua mau belajar.”

Murid-murid Samarkand menarikan Badinding. (AGUSTINUS WIBOWO)

Murid-murid Samarkand menarikan Badinding. (AGUSTINUS WIBOWO)

Utkir Utanov, 33 tahun, suami Ozoda, selain sedang menempuh pendidikan keguruan, juga bekerja sebagai penyanyi. Lagu-lagu yang dikuasainya adalah lagu tradisional Uzbek yang rancak dan berirama cepat, tetapi lagu-lagu Indonesia yang membawa aroma kepulauan yang lembut dan membuai pun meluluhkan hatinya.

Setangkai Anggrek Bulan dan Kisah Kasih di Sekolah, mengalun merdu dari bibir Utkir, diiringi petikan rebab yang memadukan denting-denting melodi Timur Tengah dengan mendayunya musik Indonesia. Favorit Utkir memang lagu yang iramanya mendayu-dayu. Utkir sama sekali tidak bisa Bahasa Indonesia, tetapi bagaimana ia bisa menguasai lagu-lagu Indonesia dengan sempurna?

“Sebenarnya,” jelasnya dalam bahasa Rusia, “kalau kita mengerti melodi, kata-kata itu bukan masalah. Asalkan tahu melodinya, saya bisa menyanyikan lagu dalam bahasa apa pun. Kata-kata tinggal dipelajari dan dihafal saja.”

Dia memegang secarik kertas berisi lirik lagu yang sudah dilengkapi dengan tanda-tanda nada. Bukan hanya belajar sendiri, Utkir juga mengajari famili dan keluarganya untuk menyanyikan lagu-lagu Indonesia, termasuk sepasang penyanyi muda di konser gedung kepemudaan Samarkand yang berhasil menghanyutkan suasana.

Gadis Rusia dengan baju bodo (AGUSTINUS WIBOWO)

Gadis Rusia dengan baju bodo (AGUSTINUS WIBOWO)

Tak kalah bahagianya adalah Mbak Murtie, yang selain berhasil memopulerkan tari-tarian Indonesia di Samarkand, juga punya cukup banyak murid di ibu kota Tashkent. Setiap minggu, Mbak Murtie rajin mengajar mahasiswa seni di Konservatori, yang sudah belajar tari-tarian dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi, misalnya Tari Saman dan tari Jawa kreasi baru buah karya Pak Bagong Kusudihardjo. Sudah beberapa kali para penari Uzbek dan Rusia murid Mbak Murtie diundang untuk pementasan seni dan budaya Indonesia di Tashkent.

Kedutaan Indonesia di Tashkent terbilang sangat aktif dalam memperkenalkan kebudayaan Indonesia di Uzbekistan. Selain membuka restoran masakan Indonesia, KBRI juga sering mengadakan pameran dan pertunjukan. Saya sempat menghadiri acara pameran produk meubel Indonesia di Tashkent. Acara dibuka dengan pertunjukkan gamelan, yang dimainkan oleh ibu-ibu diplomat, darma wanita, dan staf orang Uzbek dan Rusia yang sudah sangat piawai juga dalam bermain not-not slendro. Kemudian disambung pertunjukan tari Saman oleh murid-murid Mbak Murti, yang mengundang tepuk tangan gemuruh para penonton yang terkesima dengan pertunjukan unik ini. Tak kalah menariknya adalah barisan model-model Rusia yang tinggi dan cantik berbungkus baju bodo dan kebaya.

“Sekarang orang Uzbek hanya tahu tentang India, tentang musik dan tari-tarian India. Masih belum banyak yang tahu tentang budaya Indonesia,” Ozoda pernah berkata, “saya hanya ingin suatu hari nanti semua orang di Samarkand, juga di seluruh Uzbekistan, bisa menari dan menyanyi tarian dan lagu Indonesia.”

Bendera Indonesia dan Uzbekistan berukuran sangat besar tergantung berdampingan di ruang pameran. Betapa indahnya persahabatan ini. Ada perasaan haru dan bangga mendesir dalam hati saya, merasakan serpihan-serpihan peradaban Indonesia yang bertabur di bumi Uzbek.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 15 Mei 2008

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*