Recommended

Travelist : Agustinus Wibowo – Seorang Musafir

Juni-Juli 2011

Travelist

Interview

Travelist-1.cdr

Majalah Travelist Edisi Perdana
http://the-travelist.com/index.php?option=com_content&view=article&id=51:first-one&catid=34:slideshow-items&Itemid=44

Agustinus Wibowo – Seorang Musafir

Gus Weng adalah panggilan akrab seorang Agustinus Wibowo. Ia adalah pelajar IT saat pertama kali mencoba untuk menjelajahi dunia. Destinasi yang ia pilih pun ‘tidak biasa’, sebenarnya apa sih yang membuat ia memilih destinasi tersebut?

Travelist-1.cdr

Dalam buku Selimut Debu, Gus Weng menyebut diri adalah backpacker, tetapi editor anda menyebut anda explorer, bukan traveler. Sebenernya Gus Weng itu tipe traveler seperti apa?
Sebenarnya label-label itu tidak penting. Saya tidak menyebut diri saya sebagai backpacker, tetapi kebetulan pada saat menulis perjalanan itu, saya melakukan perjalanan dengan cara backpacking atau traveling secara independen dengan anggaran minim, jadi saya adalah backpacker. Tetapi bukan berarti ada tanda sama dengan antara Agustinus Wibowo dengan backpacker. Demikian juga turis, traveler, explorer, observer, dan sebagainya, buat saya itu adalah label-label saja. Ada backpacker yang menolak dirinya disebut turis dan keukeuh minta disebut traveler. Buat saya lucu juga, karena sebenarnya pada hakikatnya backpacker itu juga turis –mencari hal-hal yang “eksotik” yang berbeda dari kehidupannya demi kesenangannya sendiri.

Kalau memang dipaksa harus menyebut, mungkin saya lebih suka disebut sebagai musafir. Ini adalah kata yang punya artian luas, karena musafir bukan hanya melakukan perjalanan perpindahan tempat, tetapi juga perpindahan dalam kehidupan. Kita semua adalah musafir dalam kehidupan kita masing-masing, musafir yang selalu belajar dari kehidupan.

Gus Weng kan anak IT, kok malah kesasar di dunia travel, bisa ceritain sedikit?
Saya dulunya kuliah IT di Beijing, tapi sebelum lulus saya kebetulan sempat ke Aceh untuk jadi sukarelawan bersama beberapa kawan jurnalis. Di sana saya kemudian tergerak untuk menjadi jurnalis, karena saya melihat jurnalis adalah pekerjaan yang mulia, jadi saya ingin berubah haluan dari insinyur komputer menjadi jurnalis. Tentu ini adalah proses yang berat untuk berpindah dari zona nyaman saya, menjajal kehidupan yang sama sekali baru, apalagi saya tidak pernah punya latarbelakang pendidikan di bidang ini. Jadi setelah lulus saya memutuskan untuk melakukan perjalanan keliling dunia seorang diri untuk belajar fotografi dan jurnalisme selama di jalan, dan memimpikan bisa jadi jurnalis di Afghanistan –yang saat ini sudah terwujud.

Travelist-1.cdr
Interview 24|25 | Travelist | Juni-Juli 2011

Perjalanan Gus Weng pertama kali kapan dan kemana?
Tahun 2002, ke Mongolia, waktu masih kuliah di Beijing. Perjalanannya Cuma 3 minggu saja, berkemah keliling Mongolia dari utara ke selatan. Itu yang kemudian membuat saya cinta traveling ala backpacker.

Sampai sekarang jumlah total perjalanan udah berapa, dan kemana?
Wah, saya tidak pernah menghitung jumlah perjalanan, karena menurut saya perjalanan itu adalah “uncountable noun” atau kata benda yang tidak bisa dihitung. Bagaimana kita bisa menghitung perjalanan? Saya pun tidak lagi menghitung jumlah negara atau jumlah visa di paspor, karena menurut saya itu absurd. Bagi saya perjalanan adalah proses pembelajaran, yang membedakan adalah sedalam apa kita belajar, sedalam apa kita melepas ego, jadi bukan dihitung dengan jumlah.

Kenapa malah milih solo traveling? Padahal traveler lain biasa travel in pair?
Karena dengan solo traveling kita mendapat lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk/daerah yang kita kunjungi, atau dengan kata lain lebih banyak kesempatan belajar. Kita juga lebih harus bertanggung jawab kepada diri sendiri, dan ini penting untuk pembelajaran pembentukan karakter juga.

Oiya, Gus Weng terkenal akan perjalanan ke Afgan dan Asia Tengah. Tetapi kenapa bukan memilih tuk keliling Indonesia saja? Padahal kalo cari thrill kan ada perang suku di Papua, ato hutan belantara di Kalimanatan?
Kebetulan karena memang saya dulu mahasiswa di Beijing, dan lulusnya dengan uang ala kadarnya saya cuma bisa melakukan perjalanan dengan jalan darat, dan Asia Tengah serta Afghanistan itu semua adalah negara tetangga China. Tentu saya ingin keliling Indonesia. Tetapi pada saat ini, mengingat usia yang masih muda, saya ingin melakukan perjalanan di mana saya bisa belajar lebih banyak, misalnya perjalanan di Afghanistan yang sangat berat itu, atau pada usia muda kita juga lebih cepat belajar bahasa.

Saat ini saya masih ingin belajar lebih banyak bahasa baru dan budaya yang sama sekali asing. Bagaimana pun juga indonesia adalah “rumah” saya, tentu saya akan kembali untuk “menemukan” rumah saya, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda.

Travelist-1.cdr

Gus Weng kan udah keliling Asia, juga udah nerbitin dua buku, berarti udah pengalaman kan soal travel writing. Menurut Gus Weng sendiri, tulisan travel yang baik tuh gimana?
Travel writing itu adalah potret dari serpihan kehidupan yang bisa memberi gambaran yang lebih luas kepada pembaca tentang kehidupan di satu lokasi atau kehidupan kelompok masyarakat. Travel writer tidak melakukan survei dengan ribuan responden untuk menguatkan teori, travel writer hanya menulis pengalaman dan perenungannya. Tetapi bagaimana dari pengalaman yang personal itu bisa memberi gambaran yang lebih luas? Di sini diperlukan kejelian observasi sang penulis, serta kerendah-hatiannya dalam menerima realita yang ada yang seringkali bertentangan dengan konsep yang ada di benaknya.

Selain itu, travel writing bersifat timeless, tetap relevan dibaca kapan pun. Travel writing bukan sekedar promosi tempat wisata, tetapi pengalaman personal sang penulis, di mana pembaca juga bisa meraba bagaimana karakter sang penulis lewat tulisannya. Tetapi di sini, penulis adalah pencerita, bukan tokoh utama atau lakon tulisannya. Fokus tulisan tetap berada di lokasi/masyarakat yang ia ceritakan.

Travelist-1.cdr

Kalo gitu contohnya penulis travel favorit Gus Weng?
V.S. Naipaul, Jasper Becker, Ryzard Kapuscinski,Paul Theroux, dan sebagainya.

Dari foto-foto Gus Weng pas menjelajah Asia kelihatan banget kalo foto potretnya bisa dapet ekspresi manusia yang sangat natural, gimana si caranya biar bisa kayak gitu?
Kalau potret yang manusia yang bisa bercerita, dibutuhkan pendekatan yang sangat erat dengan subjek foto. Di sini dibutuhkan komunikasi, sehingga sang subjek bukan hanya sekedar orang yang dijepret oleh fotografer, tetapi orang yang dikenal secara personal. Di foto-foto potret itu saya mengobrol dulu dengan subjeknya, membina kepercayaan, mengetahui sedikit banyak kisah hidupnya, dan mengambil fotonya dalam keadaan yang paling natural. Karena ketika si fotografer sudah diterima subjek foto, foto yang dihasilkan seolah-olah si fotografer seperti sudah tidak ada, dan fotonya bisa jadi natural. Selain itu, komunikasi juga penting untuk mengenal si subjek foto luar dalam, sehingga bisa lebih jelas digambarkan ekspresinya.

Kalo gitu fotografer acuan Gus Weng siapa?
Saya tidak terlalu punya acuan. Bagi saya fotografi itu feeling, ungkapan seni juga. Saya hanya memotret dengan perasaan sendiri saja. Saya tidak terlalu punya acuan. Bagi saya fotografi itu feeling, ungkapan seni juga. Saya hanya memotret dengan perasaan sendiri saja.

Travelist-1.cdr

Terakhir ya Gus Weng. Menurut Gus Weng, traveling yg beretika itu seperti apa?
Traveling di mana si pejalan sudah meluruhkan egonya, ia bukan lagi orang yang “mau mengubah dunia” tetapi “orang yang belajar dari dunia”. Kalau orang masih ingin mengubah dunia, ia akan menuntut ini itu, atau membuat destinasi wisata yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya supaya nyaman. Contohnya saja, di gunung-gunung di Nepal sudah tersedia hotel yang menyediakan hot shower, pizza, spaghetti, dan sebagainya, ini karena tuntutan kebutuhan para turis yang akhirnya jadi mengubah “dunia”. Kita juga lihat berbagai “racun turisme” yang ada di tempat-tempat wisata dunia di mana pun. Kalau si pelaku perjalanan bisa mengorbankan egonya, meluruhkan dirinya, ia akan berusaha meminimalkan pengaruh (negatif) keberadaannya terhadap daerah/lingkungan yang dikunjungi.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

2 Comments on Travelist : Agustinus Wibowo – Seorang Musafir

  1. ya.. bagaimana melepaskan ego nya…. :)

  2. Gus Weng…Nama yang bagus untuk seorang traveller…(ini traveler apa anak kyai ya? ) Hahahahah

Leave a comment

Your email address will not be published.


*