Recommended

U-Mag (2010): Agustinus di Titik Nol

November 2010

Rubrik Adam

U-MAG

1011-adam-U-Mag-Interview_Agustinus-1

Agustinus di Titik Nol

Dikenal sebagai backpacker sejati, bertahun-tahun dia berjalan tanpa pernah pulang. Agustinus Wibowo adalah nomaden yang mengumpulkan aneka identitas dari setiap negara yang dia kunjungi.

Qaris Tajudin

TITIK NOL PERTAMA:

Lumajang, Republik Indonesia (112°53’-113°23’ Bujur Timur dan 7°54’-8°23’ Lintang Selatan)

Di bawah konstelasi bintang berbentuk singa dan dalam naungan sayap ayam jago (8 Agustus 1981), dia lahir. Bulan kelahirannya diambil untuk salah satu kata dalam namanya: Agustinus Wibowo.

Beberapa tahun kemudian, dia mengoleksi prangko luar negeri, jendela sempit yang memungkinkan dia mengintip negeri terjauh. Ketika guru sekolah dasarnya bertanya, “Apa cita-citamu?”, dengan lantang dia berteriak: “Aku pengen jadi turis!” Gurunya mungkin melongo, tapi segera mengatakan bahwa orang tak boleh bercita-cita menjadi turis, karena itu bukan pekerjaan.

Agustinus Wibowo lalu mengganti cita-citanya. Dari pendeta, polisi, hingga guru. Sempat juga ingin menjadi ahli bahasa. Tapi semangatnya menjadi turis tidak berhenti. Saat menginjak kelas III SD, dia bertekad menulis novel. Ceritanya tentang sebuah keluarga yang ingin berkeliling dunia, start dari Inggris. Peta dan rute perjalanan sudah disiapkan. Rencananya, setiap halaman bercerita tentang satu kota. Rencananya juga, setiap hari dia menyelesaikan satu halaman. Pada hari kesepuluh dia berhenti. Catatannya lalu hilang.

Kelak, catatan perjalanannya (juga cita-citanya menjadi penguasa sejumlah bahasa) berlanjut. Tidak dimulai dari waktu nol di Big Ben, London, tapi dari titik nol kedua.

1011-adam-U-Mag-Interview_Agustinus-2

TITIK NOL KEDUA:

Beijing, Republik Rakyat Cina (39°54’Lintang Utara, 116°23’ Bujur Timur)
Menjelang munculnya konstelasi bintang berbentuk singa dan dalam naungan sayap ayam jago (Juli 2005), dia bergerak. Liburan musim panas datang. Seharusnya mahasiswa ilmu komputer Universitas Tsinghua itu pulang ke titik nol pertama, Lumajang.Tapi pulang tidaklah mudah. Biaya tak sedikit dan dia bukan dari keluarga kaya.

Maka, bermodal sedikit uang, dia mewujudkan cita-cita masa kecil: menjadi turis. Perjalanan dimulai dari Beijing dan akan berakhir di Afrika Selatan dalam lima tahun. Dia tak takut kehabisan uang di jalan, karena dia bisa bekerja apa saja untuk menyambung perjalanan. Dari Cina dia ke Tibet, Nepal, India, Pakistan, Afganistan, Iran, Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

Semua itu ditempuh dalam waktu empat tahun. Betul, ini terlalu molor dari waktu yang dijadwalkan, tapi Agus punya dua alasan. Pertama: “Dulu membayangkan bisa jalan cepat-cepat. Tapi aku menyadari kemudian, semakin lambat aku berjalan, semakin aku menikmati perjalanan itu,” katanya.

Alasan kedua, soal musibah. Di Uzbekistan, dia kehilangan semua uangnya. Semua modal perjalanan selalu dia bawa dalam bentuk uang kontan. Karena layar sudah terkembang, dia pantang surut ke belakang. Agustinus lalu kembali ke Afganistan untuk bekerja dan mengumpulkan uang. “Kerja di Afganistan dua tahun, tapi masih travel ekstensif,” katanya.

Tahun lalu dia mendapat kabar yang mengharuskannya memutar haluan: ibundanya di Lumajang sakit keras. Sebagai putra sulung dari dua bersaudara, Agustinus berkewajiban mendampingi ibunya melewati masa sulit itu. Beberapa bulan lalu, ibunya meninggal. Kehilangan besar ini tak menyurutkan niat Agus berkeliling dunia lagi. Kini, di Beijing dia tengah bekerja untuk menyambung perjalanannya.

1011-adam-U-Mag-Interview_Agustinus-3

Dia belum berhenti. “Sebenarnya aku menganggap, sekarang pun–ketika aku balik lagi ke titik nol di Beijing– adalah bagian dari perjalanan itu juga. Bagian dari pendewasaan dan perenungan. Kembali ke titik nol adalah sebuah bagian penting, pengempasan manusia yang berusaha meraih citacita,” katanya.

Dia kini seperti anak penyu yang terempas ombak dan kembali ke pantai. “Di titik nol ini aku kembali merenungi apa yang sudah aku lalui, lebih realistis untuk melihat ke depan.” Apa hasil perenungan itu? Destinasi akhir tak lagi penting. Afrika Selatan terengkuh atau tidak, bukan hal utama. Yang penting betapa pengalaman yang dia peroleh di jalan menjadi sedemikian berharga. Afrika Selatan cuma titik terjauh dari Beijing yang bisa dia tempuh dengan jalan darat. “Yang lebih penting adalah lika-liku perjalanannya,” ujarnya kepada U-Mag.

Apakah ada kerinduan yang tumbuh dalam setiap perjalanan? “Sebenarnya hampir enggak ada lagi,” kata Agus. Perjalanan membikin dia tidak lagi terlalu terikat dengan keinginan-keinginan yang tak bakal tercapai–menurut ukuran dia. Jadi, “Cuma aku jalani saja,” katanya. Kerinduannya sewaktu di Pakistan dulu adalah ingin ke Afganistan, sewaktu di Afganistan dia rindu ke Timur Tengah, begitu terus, setapak demi setapak.

Setiap kali dia menapakkan kaki ke sebuah negara, ada tiga hal yang dia ambil sebagai cendera mata: prangko, bahasa, dan kepribadian baru. Dua tahun di Afganistan membuatnya jadi seperti orang Afgan. Kalau ngomong dengan orang asing tentang orang Afgan, dia menggunakan kata ‘We Afghans’, bukannya ‘They Afghans’. “Kayaknya sudah ada bagian keafganan yang masuk jadi jati diriku,” kata dia.

Tapi hal itu agaknya lumrah bagi Agustinus Wibowo. Di mana pun berada, dia bisa begitu. Sekarang pun, menurut dia, ada identitas mainland China yang mengalir bersama darahnya. Juga berbagai identitas negara yang pernah dia kunjungi.
Identitas itu tak hanya ada di dalam hati, tapi juga kerap muncul ke permukaan. Kerap kali Agus mengecupkan bibir ke udara seperti orang Iran untuk mengatakan tidak; atau menyalami orang kalau tidak sengaja menyenggol, seperti orang Mongol; juga meletakkan tangan kanan di dada kalau bersalaman, seperti orang Uzbek.

Soal bahasa, dia sudah belajar 15 bahasa sampai sekarang. Sepuluh di antaranya masih bisa dia pakai dengan aktif. Kebanyakan dari rumpun Turki, yang banyak dipakai di negara-negara berakhiran “stan” yang pernah dikunjunginya. “Belajar bahasa seperti menambah kepribadian. Waktu kita belajar bahasa asing, kita belajar cara berpikir baru, dan membuat cara berpikir kita makin multidimensi,” katanya.

Dia merasa, perjalanan telah banyak mengubah dirinya. Sebelum melakukan travelling, dia merasa dirinya sebagai pusat dunia. “Aku bisa begini, aku ingin begini, aku mau mengubah dunia,” ujarnya. Tapi kini, sesudah aneka perjalanan itu, dia merasa dirinya bukan siapa-siapa lagi. Tak ada lagi “aku”, tapi “kita”. Manusia, katanya, cuma bulir debu kecil di hadapan alam. Yang penting bagaimana sebagai bulir debu kita tetap berarti.

Tentang bulir debu, dia sudah menuliskannya dalam buku perjalanannya yang pertama: Selimut Debu. Kini, dia sedang menulis buku selanjutnya, tentang mimpi dan garis-garis batas yang memisahkan manusia. “Dari batas negara, kebudayaan, bahasa, kewarganegaraan, gender, sampai garis batas impian.” Maksudnya? “Misalnya begini: di perbatasan, orang Afgan memandangi Tajikistan sambil bermimpi, ‘Oh negara di seberang itu negara bebas, betapa enaknya di sana.’ Tapi di Tajikistan, ternyata realitasnya tidak seperti yang diimajinasikan orang Afgan. Di sana ekonomi babak-belur dilanda perang. Mereka memimpikan Rusia, karena di Rusia orang bisa bekerja dan mendapat uang banyak. Di Rusia, impian mereka mungkin lain lagi. Mereka memimpikan kebebasan seperti di Amerika.” Impian manusia, dalam pandangan Agus, bertingkat-tingkat.

Apa impianmu? Dia tak menjawab. Dia hanya ingin melanjutkan perjalanan, ke negeri-negeri berikutnya: Rusia, Irak, hingga entah di mana. Suatu saat, dia ingin menetap dan meninggalkan cara hidup nomaden. “Belum tahu kapan, tapi aku rasa semua manusia butuh sebuah tempat yang disebut sebagai ‘rumah’.”

Ya, dia membutuhkan tempat menjejakkan kaki yang lebih lama. Titik nol ketiga, yang dia sebut rumah.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

2 Comments on U-Mag (2010): Agustinus di Titik Nol

  1. terus berjalan mas, tapi apa mas gak kepingin keliling indonesia ? kan juga gak kalah menarik

  2. spechless, segala jati diri sebagai manusia rasanya tergambar didirinya, dengan menulis dan berjalan sebagai sebuah bentuk “pembelajaran kemanusiaan dan ritualnya dengan alam”

    Semoga perlindungan dan keberuntungan dalam perjalanan ke depan tetap selalu menyertai, begitu banyak orang-orang yang tetap menanti cerita dan petualanganmu Weng, dan juga aku, tetap sehat ya …

Leave a comment

Your email address will not be published.


*