Recommended

Lion Air Magazine (2009): Surga di Bumi Afghan

May 2009

LionMag

0906-Lion-Air-Pamir01

SURGA DI BUMI AFGHAN

Teks dan foto-foto: Agustinus Wibowo

Adakah surga di Afghanistan? Lupakan gurun tandus dan desingan badai pasir. Lupakan perang, mayat bergelimpangan, ledakan bom. Di sini yang ada hanya kesunyian dan kedamaian di padang rumput hijau membentang, dikelilingi gunung bertudung salju yang bagaikan dinding berjajar di segala arah. Danau biru hening memantulkan kelamnya langit. Anak gembala mengiring kawanan ratusan domba dan yak, perlahan melintasi gunung cadas.

 

0906-Lion-Air-Pamir02

Pegunungan Pamir boleh jadi adalah tempat paling terpencil di negara ini. Letaknya di ujung terjauh di timur laut, dikelilingi oleh Cina, Tajikistan, dan Pakistan. Orang lebih mengenalnya dengan nama Atap Dunia di mana awan begitu rendah, nyaris tergapai. Di sini waktu pun seperti berhenti mengalir. Bangsa pengembara tinggal di kemah bundar, berpindah-pindah padang seiring bergantinya musim, mencari mata air dan rumput untuk menghidupi mereka sepanjang tahun. Ini adalah cara hidup yang sama seperti nenek moyang mereka ratusan tahun silam.

Surga –kalau boleh kedamaian di tengah kecamuk perang Afghanistan ini disebut– sungguh tak mudah dijangkau. Ketika di zaman modern ini pesawat terbang sudah mewujudkan fantasi manusia untuk menjelajah bumi dengan kecepatan seribuan kilometer per jam, di pegunungan ini perjalanan masih berarti merayap perlahan di atas punggung kuda atau keledai yang terengah-engah kekurangan oksigen pada ketinggian lebih dari 4000 meter.

Dua puluh kilometer dalam sehari sudah luar biasa jauhnya. Dan itu pun bukannya tanpa bahaya. Saya memegang tali kendali erat-erat. Kuda ini melangkah perlahan-lahan di atas jalan setapak berpasir halus yang lebarnya cuma sekitar 30 sentimeter –hanya cukup untuk dua telapak kaki. Di sebelah kiri adalah tebing cadas tegak lurus yang puncaknya pun tak terlihat sekalipun kita harus mendongak. Di sebelah kanan adalah jurang menganga, seratus meter di bawah ada sungai yang menggelegak. Bulir-bulir pasir bergulir ke arah jurang menemani setiap langkah kaki kuda mendaki tebing curam. Gemerisiknya langsung ditelan oleh gemuruh sungai. Sedikit saja kuda ini salah langkah, maut siap menghadang. Saya hanya bisa menutup mata sementara kaki terayun-ayun di atas jurang menganga. Pasrah.

“Jangan khawatir, kuda selalu bisa memilih jalan yang terbaik,” kata tentara Afghan yang menemani saya, “hewan ini tidak bodoh.”

Betapa ingin saya mempercayainya seratus persen. Ini adalah pengalaman pertama saya berkuda. Di kala saya masih berlatih menjaga keseimbangan, medan yang harus dilalui begitu menyeramkan. Terkadang mendaki tegak lurus, terkadang menukik di bebatuan terjal. Berkali-kali saya nyaris terpelanting.
Tentara Afghan tertawa mengejek, “Lain kali belajar naik kuda dulu baru keliling Afghanistan. Ini adalah teknik yang paling dasar di negara ini.”

Orang Afghan terbiasa hidup di medan yang keras. Perang selama tiga dekade mengisolasi negeri ini dari dunia luar. Kehancuran di mana-mana. Walaupun pertempuran fisik tak pernah mencapai Atap Dunia ini, tetapi Pamir begitu jauh, terpencil dan terlupakan. Tempat ini terpaksa berjalan dalam dimensi waktunya sendiri. Tak ada jalan raya, mobil, listrik, apalagi internet. Tak ada sekolah, semua orang buta huruf. Tak ada rumah sakit dan obat-obatan, banyak ibu meninggal waktu melahirkan dan bocah-bocah tewas karena penyakit sepele macam disentri.

Di hadapan gunung-gunung raksasa ini manusia adalah makhluk kecil yang tak banyak berdaya. Tetapi di sini justru ribuan bangsa penggembala Kirghiz menggantungkan nasib. Berbeda dengan orang Afghanistan kebanyakan, karakter wajah orang Kirghiz lebih mirip orang Mongol. Nenek moyang mereka dari Siberia dan selama ribuan tahun melintasi padang dan gunung mereka berpindah hingga sampai ke ujung Afghanistan ini. Hingga hari berganti tahun, di padang gembala bersama kawanan domba. Tak banyak impian mereka, selain tumbuh besar, menikah, dan punya domba yang banyak. Di sini tak ada dokter dan obat-obatan. Candu menjadi cara terampuh menghilangkan rasa sakit.

0906-Lion-Air-Pamir03

Candu menjadi cara terampuh menghilangkan rasa sakit. Opium yang dibawa oleh kaum saudagar telah meracuni masyarakat pegunungan ini. Puff…. puff…. puff…. pria tergolek di matras, menghisap nikmatnya candu sepanjang hari. Setiap hembusan, dengan kepulannya yang berbau tajam, membuatnya semakin terbang ke awang-awang. Matanya terpejam dalam kenikmatan. Mungkin opium memang mujarab untuk sejenak melupakan kelengangan dan kemonotonan hidup di kedamaian Atap Dunia.

Saya termenung di hadapan Danau Chaqmaqtin yang membentang dari timur ke barat. Kawanan yak yang
baru datang mendengus keras. Suaranya mirip dengusan babi. Para ibu keluar menyambut dengan timba-timba kecil di tangan. Sore hari adalah waktu untuk memerah susu hewan berbulu tebal ini. Sementara itu, langit mulai mencurahkan butiran salju. Di musim panas sekali pun salju bisa turun. Udara tiba-tiba dingin menusuk tulang. Tak terbayangkan ketika musim dingin menyergap, tempat ini pasti tak tertahankan lagi dinginnya.

“Musim dingin sungguh menjengkelkan,” kata si gembala, “danau raksasa ini beku. Tak ada air untuk minum, sehingga kami harus memanaskan salju dan es. Udara teramat dingin, sepanjang hari kami harus duduk di perapian. Apinya berasal dari kotoran yak, yang harus dikumpulkan sejak musim panas. Hewan-hewan pun tak menghasilkan susu ketika udara terlalu dingin. Mereka lapar, kami lapar. Mereka mati, kami pun ikut mati.”

0906-Lion-Air-Pamir04

Adakah surga di negeri Afghan?
“Entahlah. Saya tak pernah melihat surga,” gembala berkata tanpa ekspresi, “mungkin kalau surga berarti kedamaian, Pamir memang boleh disebut surga. Bagaimana pun beratnya hidup di sini, ini adalah rumah kami. Setiap lekuk gunung, setiap helai rumput, setiap anak sungai, begitu dekat di hati. Tak ada tempat lain di dunia yang bisa menggantikan Pamir.”

Angin berhembus. Salju semakin deras. Gunung-gunung itu membisu, hilang ditelan kabut.

 

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

16 Comments on Lion Air Magazine (2009): Surga di Bumi Afghan

  1. keep posting brother.. I guess you are in Indonesia right now. how is your mom? God bless you..

  2. how are you doing mas agus??

    are you gonna continue your journey? how is your mom’s health?

  3. Negri atap dunia, negri dengan pemandangan yang sangat indah. Membaca mengenai kehidupan disana mungkin hampir sama dengan kehidupan suku Badui Dalam, suku Rimba, dan mungkin masih banyak suku-suku di pedalaman Indonesia yang belum terkontaminasi modernisasi.

  4. keren banget Gus perjalananmu ke Afghanistan…i hope someday i’ll be there too..may the Universe always shares positif energy for you always…
    how is your momm?God Bless her too.

  5. Irene Natalia // July 16, 2009 at 12:45 pm // Reply

    it’s good to read your posting again!!! :)

  6. mAS…Apa KabaAR?
    gimana kabar ibunya,,udah baik kah??
    seneng deh bisa tulisan mas agus lagi…
    mana bukunya,,,udah agustus nih,,,
    kalo masih dalam tahap revisi,,aku mw ngasih saran dong…foto2nya yang banyak ya mas…aku suka liat foto2 jepretan mas agus,,,kayaknya real bgt.
    Salam buat Ms.Lam li
    Tetep semangat ya mas agus….

    Ciaaaao

  7. wow, its kinda cool..
    asiknya yang bisa travelling kemana mana..
    hmm…
    semoga saya juga bisa seperti anda,Mas! 😉
    tulisannya juga bagus2..ak sampe ng.link di blogku, supaya bisa keep reading your blog ;D

  8. apa kabar? mamanya apa kabar?

  9. Dear Agus,

    As you proceed further your journey in Afghanistan, I am wishing you good health and safety as things are not looking pretty good over there.

    Folks at UNAMA has been sharing me that security situation has been worsening. Please take care of yourself and we may cross our path, perhaps I may maneuvering to undertake new assignment with UNAMA soon after this one concludes.

    Hugs from West Africa, as I checks onyour site from time to time.

    Cheers,
    :-)

  10. Indah sekali!!! Tapi kalo harus tinggal disana, depressive mungkin ya. Indah untuk dikunjungi buat liburan, tapi tidak untuk ditinggali hehe…
    very well written article bro!

  11. salam kenal mas agus, saya mengikuti kisah perjalanan anda yang ditulis di kompas.com. Seru sekali ceritanya, gaya bertutur dan foto-fotonya juga keren =))
    sama seperti teman2 lainnya yang menggemari tulisan anda, saya “kecanduan” membacanya tapi sekarang sayangnya dah gak lanjut lagi ceritanya padahal ditunggu2 banget. Di blog ini agak susah mengikuti cerita-ceritanya karena kurang lengkap, maap ya he he
    oh ya… membaca kisah petualangan mas agus akhirnya menginspirasi saya untuk menuliskan kisah keseharian saya, yang sekarang juga lagi di luar negeri. Sebagian tulisan juga dimuat di koran lokal Indonesia, anak cabang Jawapos. Jangan lupa mampir dan beri komen kalau sempat yaa…
    semoga sehat selalu, dan saya tunggu banget kisah-kisahnya :))

  12. wasis bintoro // February 22, 2010 at 5:54 am // Reply

    Menurut saya, …memang indah.
    Hal seperti itulah seharusnya bumi diperlakukan. Dalam sebuah ekosistem yang seperti itu, semua terjadi dan berjalan natural, alamiah. Tuhan mengaturnya. Seringkali, manusia yang selalu ingin menggapai kemudahan, kenyamanan diri sendiri yang lebih (atas orang lain atau individualistik) secara sadar atau tidak sadar merusak keseimbangan ekosistem itu. Tentu, akibatnya adalah semakin banyak masalah yang muncul, dan efeknya pasti akan semakin banyak juga persoalan yang harus diselesaikan dan ditutup, bahkan dengan cara yang mungkin lebih banyak salahnya juga. Dan itulah awal mula dari sebuah kehancuran….
    Semoga Tuhan memberikan berkah dan kedamaian bagi kaum yang memelihara pemberianNYA.

  13. tetap saja mulut ini ternganga kalo lagi baca tulisan perjalananmu gus, walaupun ini kali pertama setelah satu tahun kehilangan jejak dari kompas.com
    ( it’s not really extreem but it’s beautiful journey gus….BRAVO!!)

  14. kita harus bersukur bisa tinggal di negeri yang subur makmur ini, “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

  15. bner” disana surga bagi qta..tp bagi mereka mngkn disinilah surga..nice pict n story..salam adventure bung..

  16. awesome..bner” disana surga bagi qta,tp mngkn bagi mereka disinilah surga itu..nice pict n story.how lucky u are.sy suka gaya brcerita’y..salam adventure :))

Leave a comment

Your email address will not be published.


*