Recommended

U-Mag (2009): Iran, Setelah 30 Tahun

May 2009

U-MAG

0905-umag-iran-article01

IRAN, SETELAH 30 TAHUN

Di Teheran, ibu negeri Iran, puluhan ribu warga meledak dalam kegembiraan pesta pada 10 Februari lalu. Mereka berpekik-sorak, berpawai, meluapkan emosi yang tumpah-ruah. Di tengah hawa sejuk pengujung musim dingin, mereka menggelar perayaan hari jadi ke-30 Revolusi Iran. Nun di utara Ibu Kota, keriaan pesta menjalari permukiman elite, namun jauh dari “suasana revolusi”. Pesta-pesta ilegal direntang sampai jauh malam. Alkohol ditenggak bebas. Para wanita muda merenggut kerudung mereka, lalu berdansa dalam rok mini dan stiletto. Setelah tiga dekade revolusi, inilah sekeping wajah Iran yang direkam dengan hangat oleh mata hati dan kamera Agustinus.

U MAG MEI 09.indd

Marg ba Amrika! Marg ba Israil!” Pekikan itu membaung dari mulut ribuan orang, yang tengah merangsek dari kawasan Medan Revolusi, Teheran, menuju Medan Kebebasan. Sepanjang lima kilometer, kaum lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak, tentara, polisi, pedagang, guru, berdesakan. Dengan gairah menyala-nyala, mereka berpawai akbar, memperingati 30 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran.

Pada 10 Februari 1979—atau 22 Bahman dalam penanggalan Persia—sepuluh hari setelah kepulangan Khomeini ke Iran, Revolusi Iran meletus. Raja terakhir ketika itu, Reza Shah Pahlavi, ditumbangkan dari takhta. Berakhirlah tradisi monarki Iran selama ribuan tahun.

Dua bulan setelah peristiwa itu, Republik Islam Iran berdiri. Sembilan bulan sesudahnya, Kedutaan Amerika Serikat diduduki, staf dan diplomatnya disandera selama 444 hari. Hubungan kedua negara memburuk. Amerika memasukkan Iran ke dalam daftar Axes of Evil. Iran menyebut Amerika Sheitoon e Bozorg—Setan Besar.

Hari itu, 10 Februari 2009, saya menyaksikan hiasan aneka lukisan bernuansa politis di sepanjang jalan yang dilewati pawai akbar. Ada patung Liberty berwajah tengkorak, bendera Amerika yang digambar dengan tapak sepatu, Obama bergigi ompong. Juga boneka Bush yang dipukuli, replika Menara Kembar dihujani serbuan pesawat, bintang Israel terbakar, dan lain-lain.

Sebaliknya, replika satelit Omid, 100 persen buatan Iran, yang berhasil meluncur ke orbit seminggu sebelumnya, menjadi penghias Menara Kebebasan. Seolah replika itu hendak mengatakan: “Iran pun bisa.” Para demonstran mengusung slogan tinggi-tinggi bertuliskan “Down to USA” dan “Down to Israel”.

Di atas podium, Presiden Ahmadinejad berpidato, menyerukan Iran telah bangkit menjadi adidaya dunia. Anggota Hizbullah dari Libanon yang hadir mengucapkan selamat kepada rakyat Iran. Seruan mereka disambut dengan gegap-gempita, lalu dilanjutkan salat berjemaah.

U MAG MEI 09.indd

Malam sebelum 22 Bahman, tepat pukul sembilan malam, para pendukung revolusi bersama-sama berseru “Allahuakbar” dari rumah mereka. Ada yang naik ke loteng, memekik sekuat-kuatnya dalam kesenyapan malam. Seruan kemenangan ini sama persis dengan malam 30 tahun lalu. Ketika itu, pemimpin Revolusi Iran, Imam Khomeini, meminta pengikutnya menyerukan “Allahuakbar” pada pukul Sembilan malam. Mereka menggemakan kemenangan Revolusi.

Di kejauhan, kembang api menciprati langit malam Teheran. Saya menginap di Medan Pasteur, dekat istana presiden. Di situ, tinggal pula ratusan anggota Garda Revolusi. Saat para tetangga masih sibuk menjeritkan yel-yel Revolusi, seorang teman menggeret saya ke sebuah pesta di bagian utara Teheran.

Dengan taksi kami melewati Medan Tajrish, lalu menyusuri perumahan mewah Elahiyeh. Satu unit apartemen di sini bernilai belasan miliar rupiah. Taksi terus merambat. Kian dekat ke arah pegunungan di utara, harga tanah makin mahal, penduduknya kian elite.

“Siapa yang bisa tinggal di sini?” saya bertanya.
“Oh… banyak,” kata kawan saya. “Kamu tidak tahu betapa kayanya para hartawan Iran. Pengusaha, artis, pejabat pemerintah, diplomat. Satu juta dolar tak ada artinya di sini.”

Paradoks. Semangat revolusioner yang menggebu-gebu di Medan Kebebasan di Teheran selatan teramat kontras dengan kemewahan di Teheran utara. Pembagian kelas di kota ini terlihat nyata secara geografis. Daerah utara dihuni kalangan berpunya. Di sini jarang terlihat chador hitam panjang yang dikenakan perempuan Iran kebanyakan.

Wanita di belahan utara Teheran umumnya mondar-mandir dalam celana jins ketat dipadu jaket pendek manteau. Banyak gadis muda mengecat rambutnya kuning atau perak. Jambul rambut mereka indah menyembul, wajahnya berpoles kosmetik. Kerudung dikenakan sekadar memenuhi syarat pemerintah. Kian modern, kian banyak jambul yang dipamerkan. Dan semakin pendek kerudungnya. Kerudung mini yang lebarnya hanya sejengkal tangan pernah pula populer.

U MAG MEI 09.indd

Kaum prianya tak mau kalah. Pemuda Teheran senang menggosongkan kulit dalam mesin solar. Kulit berwarna tembaga seperti terbakar matahari menjadi tren. Operasi plastik, terutama operasi hidung, sedang popular di Ibu kota. Saat berjalan di Teheran, kita akan sering melihat anak muda dengan hidung diplester. Artinya, dia baru menjalani operasi hidung.

Kami sampai di sebuah perumahan di pinggang bukit. Bangunan di sini serba megah dan angkuh, bak istana dari pualam.

“Salam,” kata tuan rumah menyambut kami dengan hangat disusul rangkulan, pelukan, dan ciuman pipi tiga kali. Di dalam apartemen luas ini sudah ada 20-an tamu, laki-laki dan perempuan. Bau alkohol meruap. Musik berdentum keras, memainkan lagu disko berbahasa Farsi. Musik disko dan rap dilarang pemerintah. Yang sekarang beredar adalah hasil karya musisi bawah tanah atau dari komunitas diaspora Iran di luar negeri—dikenal sebagai Tehrangeles, Los Angeles versi Persia.

U MAG MEI 09.indd

Aha… rupanya saya berada di pesta bawah tanah. Ilegal, tentunya. Dan bukan untuk merayakan kejayaan Revolusi. Lupakan “Marg ba Amrika”. Di sini topik pembicaraannya justru: “Bagaimana cara beremigrasi ke Amerika?”

Kaum perempuan melepas kerudung dan manteau. Tiba-tiba mereka terlihat lebih muda belasan tahun. Yang tadi di pintu seperti ibu-ibu, kini, menjelma menjadi gadis muda dibalut rok mini dan blus ketat. Rambutnya tergerai indah. Tangan dan paha mereka yang putih mulus melenggak-lenggok diiringi dentuman lagu hip-hop.

“Aku rela mati demi kamu…”, “Datanglah malam ini juga di sisiku…”. Lirik-lirik disko Tehrangeles menggebrak kemeriahan pesta. Lampu dimatikan. Dalam remang-remang, kaum perempuan berdansa dalam pelukan para pria. Tuan rumah sibuk menyajikan anggur, bir, vodka, dan wiski.

Ini mungkin pesta biasa bagi ukuran kehidupan malam Jakarta, tapi di Iran, tempat semua kemeriahan dilarang, diskotek pindah ke rumah-rumah pribadi. Mengadakan pesta seperti ini amatlah berbahaya. Kalau ada tetangga yang melaporkan, semua bias ditangkap. “Justru karena besok adalah hari Revolusi, kami berpesta sekarang,” kata tuan rumah berseloroh. “Karena kami tahu pasti, saat ini semua polisi dan Garda Revolusi berada di selatan, sibuk memekikkan ‘Allahuakbar’ dan menonton kembang api. Di sini aman!” dia meneruskan.

Underground, demikian orang menyiasati peraturan pemerintah yang ketat. Alkohol, erotisme, musik Barat, konser rap, gosip politik, sekularisme, romantika, seks bebas, dadah, kosmetik, parabola, siaran berita asing, fashion terbaru, komik subversif, komunisme, semuanya ada. Semuanya hidup dengan berdaya setelah 30 tahun Revolusi, kendati tersembunyi di balik tembok-tembok privat yang kokoh.

0905-umag-iran-article06

Sehari setelah peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran, semangat nasionalisme Persia kembali diaduk-aduk di stadion sepak bola Azadi. Azadi berarti kebebasan, nama amat populer di negara ini. Stadion, jalan, sekolah, gang, halte, stasiun, universitas, medan, toko, saluran radio, dan percetakan diberi nama Azadi. Tapi ternyata tidak semua orang bebas untuk datang ke Stadion Kebebasan ini.

Stephanie, gadis Australia keturunan Korea, bertekad menonton pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara tim nasional Iran dan Korea Selatan. Di bawah guyuran hujan deras, kami sampai di pintu gerbang stadion yang dijaga tentara. “Tidak. Perempuan tidak boleh masuk!” kata tentara yang berupaya ketat menjalankan perintah agama. Tapi kami lihat hidungnya diplester, tanda baru dioperasi plastik.

“Tapi kami ini orang asing. Gadis ini dari Korea, khusus datang jauh-jauh untuk menyemangati tim negaranya,” saya membujuk. Tetap tidak boleh. Perempuan Iran diharamkan masuk stadion untuk menonton pertandingan sepak bola bersama kaum lelaki. Kami mencoba peruntungan di gerbang lain, sekitar 200 meter jauhnya. Berhasil. Kami bisa membeli tiket dan menerobos sampai ke gedung utama.

U MAG MEI 09.indd

Di dalam stadion, kami menyadari bahwa Steph satu-satunya perempuan di tengah kerumunan ribuan orang. Itu sebelum rombongan suporter Korea Selatan yang dikoordinasi kedutaan besar mereka datang. Banyak perempuan Korea juga hadir. Mereka tidak perlu menerima “hukuman” seperti kami karena mereka datang berombongan dengan beberapa bus pariwisata.

Satu sektor stadion disediakan khusus untuk pendukung tim Korea. Dalam sekejap, orang-orang Korea yang amat terorganisasi ini mendistribusikan alat-alat pembangkit semangat yang didatangkan khusus dari negeri mereka: bendera raksasa, genderang, trompet, spanduk, dan sebagainya. Tetabuhan dimulai. “Dae-hanminguk! Korea Raya Berjaya!” mereka berpekik.

Suporter Iran, yang memenuhi segala penjuru stadion, membalas dengan membahana. “Iran chekaresh mikone? Iran bakal ngapain?” teriak ribuan orang di sector seberang. “Iran surokh-surokhesh mikone! Iran bakal melubangi mereka!” ribuan suara lain membalas. Bunyi trompet bersahut-sahutan, memekakkan telinga.

U MAG MEI 09.indd

Saya terhanyut oleh lantunan musik, gelombang tepuk tangan, sorak-sorai, hingga doa-doa yang meluncur dari barisan pendukung Iran. Sektor demi sektor bersorak bergantian, sering bersamaan, bagai terjangan tsunami spiritual yang dahsyat. Bukan hanya slogan olahraga, nama Allah, Muhammad, Ali, Hussein, dan Fatimah Zahra ikut didaraskan sebagai penolong mencapai kemenangan.

Gegap-gempita berubah menjadi keheningan di menit-menit terakhir hingga pertandingan usai. Iran, yang semula memimpin 1-0, kebobolan gol balasan dari Korea. Pertandingan berakhir seri. Ribuan pendukung meninggalkan stadion tertunduk lesu, nyaris tanpa suara.

“Tak perlu membayar, Tuan! Aku adalah pelayanmu,” kata sopir taksi.
“Tidak, Tuan! Tolong, terimalah uangku ini,” demikianlah saya harus memohon.
“Sungguh. Jadilah tamuku.”
“Tuan, saya tidak akan tenang kalau Anda tidak menerimanya. Terimalah, Tuan, tolong….”
“Ah… baiklah, Tuan. Dua ribu toman saja.”

Demikianlah ritual sehari-hari yang harus kita jalani hampir setiap kali membayar taksi, atau sewaktu membeli barang di toko, atau sehabis makan di restoran. Terkadang “drama” tidak perlu terlalu panjang, tapi mereka baru menerima uang setelah dirayu lebih dari tiga kali. Tak jarang pula, ujungnya malah menarik ongkos lebih mahal dari semestinya.

Ini kultur ta’arof , bagian dari keseharian orang Iran, identitas Iran yang senantiasa eksis setelah ribuan tahun. Basa-basi atau sopan-santun kalau menurut cara kita. Tapi orang Iran melakukannya dengan lebih ekstrem. Pertama kali, saya tercengang menyaksikan betapa semua orang bermulut manis dan menawarkan ini-itu. Kultur ini mengajarkan, bila kita memuji milik seseorang, ia serta-merta harus mempersembahkannya bagi kita.

“Arlojimu bagus.”
“Tuan, arloji ini milikmu,” demikian pria Iran ini berkata sembari melepas arloji dari pergelangan tangannya.

Tapi ta’arof juga mengajarkan agar kita tahu diri. Sangatlah tidak beradab kalau kita sampai mengucap terima kasih lalu mengambil arloji itu. Ta’arof menuntut orang Iran merendahkan diri dan meninggikan lawan bicara. Seorang antropolog Iran mengibaratkan ta’arof bagai sebuah kompetisi menjadi yang paling sopan. Kalau ada hal yang membuat kultur Iran bertahan di tengah gempuran dominasi kultur asing, itu adalah ta’arof.

Orang asing yang baru datang ke Iran mungkin belum terbiasa dengan ta’arof, yang membenarkan kebohongan untuk menyenangkan lawan bicara. Seorang kawan dari Afrika di Mashhad sungguh tersentuh hatinya ketika sopir taksi menolak dibayar, mengundangnya menjadi tamu demi “persahabatan antarbangsa”. Tapi, begitu pria kulit hitam ini turun dari mobil, si sopir taksi langsung berteriak marah, “Hei! Mau ke mana kamu? Masak, pergi tanpa bayar?”

“Saya tahu bahwa orang asing tak terbiasa dengan kultur ta’arof,” kata Majid, seorang teman yang berprofesi sebagai juru kamera. Ia berkata begini karena secara tidak sengaja saya baru saja membuatnya malu. Kami makan bersama di restoran jus
susu. Majid menawarkan membayar semua minuman. Saya mengucapkan terima kasih. Begitu di depan kasir, ia bersiap membayar sembari menunjukkan dompetnya yang kosong melompong.

“Tapi bagaimana lagi? Kultur ini sudah mengalir bersama darah saya,” ujarnya, tersipu.
“Ini bagian hidup kami. Justru kalau kita tidak ber-ta’arof, orang akan menganggap kita tidak sopan.”

Di sini, tidak semua omongan manis boleh ditelan mentah-mentah.

U MAG MEI 09.indd

Kaum pria Iran ternama untuk kejantanannya walau bicara mereka bisa lemah lembut dan manis. Selain jago sepak bola, Iran jagoan dunia di pentas angkat berat dan gulat. Ternyata olahraga berat sudah mengakar dalam kultur Iran, jauh sebelum masuknya Islam.

Mari berkunjung ke zurkhuneh—pusat kebugaran ala Iran. Zur berarti kekuatan, khuneh berarti rumah. Begitu memasuki gerbangnya, Anda akan disambut tetabuhan kendang dan lantunan selawat, lengkap dengan pasangan foto Imam Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei. Di dinding, terpampang ratusan foto hitam-putih menampilkan kejayaan para atlet zurkhuneh sejak masa Iran masih dipimpin raja-raja.

Jangan bayangkan pusat kebugaran ini seperti gym di Jakarta. Lupakan barbel dan cakram atau barisan kursi untuk melatih otot. Yang ada di sini adalah barisan gada mirip kepunyaan Betara Kala atau Flinstone, dari ukuran mungil sampai raksasa. Ada pula tongkat-tongkat kayu pendek dan busur yang dipasangi kerincing besi. Lupakan binaragawan yang mati-matian membentuk perut menjadi six-pack. Atlet zurkhuneh kebanyakan sudah tua, berperut besar, berbadan kekar. Celana mereka terbuat dari kulit, ketat melekat di paha, mirip atlet gulat.

Ruangan zurkhuneh yang saya datangi di Yazd ini sudah berumur seratus tahun lebih. Selain ratusan foto kuno yang menggambarkan sejarah panjang gedung olahraga ini, nuansa zurkhuneh yang seakan-akan sudah berbeda dimensi waktu dari Teheran membuat saya terkesima. Tempat ini tersembunyi di tengah gang-gang kota kuno Yazd yang semrawut seperti benang kusut. Ruangannya tak besar. Di tengah ruangan utama ada cekungan besar berbentuk oktagon sedalam satu meter. Di dalam cekungan inilah para atlet zurkhuneh berlatih.

Ding-ding-ding… ding… ding….

Seorang pemusik bersuara dalam dan keras menabuh kendangnya. Ia melantunkan pujian, bermelodi panjang dan merdu. Isinya berupa pujian kepada Allah, Hazrat Ali, dan Imam Hussein. Para atlet kemudian serempak menyambung dengan lantunan selawat.

Allah huma saleealaa Muhammad wa ali Muhammad!”

U MAG MEI 09.indd

Satu per satu orang melompat ke dalam cekungan oktagonal. Tetabuhan kendang terus membahana, mengiringi latihan. Zurkhuneh bukan tempat pendatang baru bisa bergabung seenaknya. Setiap gerakan dalam latihan ini berharmoni. Butuh latihan panjang untuk mengikuti ritmenya. Para pria mengelilingi lingkaran, mengambil tongkat kayu, dan melakukan gerakan push-up mengikuti aba-aba, tetabuhan kendang, serta lantunan melodi religius. Push-up dua tangan, satu tangan, naik, turun, naik, turun. Kemudian satu per satu mereka menuju ke tengah lingkaran, berputar cepat bak gasing sambil melompat di udara.

Saya teringat pada aliran sufi di Asia Tengah yang berputar-putar tanpa henti dalam perjalanan spiritual mereka. Semakin cepat berputar, semakin cepat roh lepas dari badan, semakin terasa kedekatan dengan Yang Mahakuasa. Gerakan di zurkhuneh sungguh kental nuansa religinya, dan sudah ada jauh sebelum datangnya Islam. Ketika bangsa Arab menjajah Persia, agama kuno Zoroaster tenggelam, zurkhuneh sempat diharamkan. Olahraga ini dihidupkan lagi setelah unsur pagan dihilangkan, diganti unsur islami.

Pahlawan agung yang menjadi idola atlet zurkhuneh adalah Rustam. Kisah tentang dia ada dalam Shahnameh (Kitab Raja-raja) yang ditulis pujangga besar Ferdowsi. Rustam adalah pahlawan Iran. Dia tak gentar menghadapi singa dan naga. Kecintaan pada bangsanya membuat dia secara tak sengaja membunuh anaknya sendiri yang dibesarkan musuh. Rustam digambarkan amat perkasa, bisa menghancurkan segala kekuatan jahat.

Kini zurkhuneh bukan sekadar olahraga. Setiap gerakannya adalah ibadah. Ini juga bukti identitas Persia tak akan luntur sekalipun harus bercampur dengan berbagai macam kebudayaan dan nilai.

0905-umag-iran-article11

Sejarah peradaban Iran membentuk superioritas mereka terhadap bangsa-bangsa tetangga yang dianggap lebih barbar. Di tengah reruntuhan Persepolis yang berumur lebih dari 2.500 tahun, saya mencoba memahami arti rasa kebanggaan itu. Iran—di bawah Dinasti Achaemenid yang dipimpin Cyrus Agung dan dilanjutkan Darius—adalah pusat dunia.

Di tembok kuno Persepolis terlukis bagaimana 23 bangsa di bawah kekuasaan Persia datang ke kota kuno ini untuk menghunjukkan hormat dan upeti kepada Sang Raja Segala Raja, penguasa terbesar di muka bumi. Orang Samarkand mempersembahkan unta berpunuk dua. Bangsa India membawa rempah-rempah. Dari Ethiopia, datang gading gajah. Arab pun bersoja di bawah pengaruh Persia.

Reza Shah Pahlavi di kemudian hari menggunakan kebanggaan ini untuk menahbiskan kedudukannya. Pada 1971, Shah menggelar pesta besar merayakan 2.500 tahun berdirinya Kerajaan Persia. Dia mempromosikan Iran dan Persepolis ke seluruh dunia. Jutaan dolar dihamburkan untuk mengundang lebih dari 60 kepala negara ke Persepolis. Tenda-tenda mewah dibangun, bagai hotel bintang lima.

Raja berfoya-foya dengan uang negara, rakyat jelata melarat hidupnya. Sentimen anti-Shah pun merebak. Popularitas dia setelah pesta Persepolis jeblok. Delapan tahun kemudian, Shah digulingkan. Republik Islam Iran tegak, berjaya hingga sekarang. Tenda-tenda mewah yang dulu dibangun untuk pesta besar di Persepolis dibakar para pendukung Revolusi. Yang tersisa kini hanyalah barisan tiang berkarat.

Kemenangan atas perjalanan panjang itulah yang dirayakan besar-besaran pada 10 Februari lalu. Sepuluh tahun perang dengan Irak, ditambah blokade seluruh dunia, tidak membuat Iran tunggang-langgang. Ia mampu hidup, bertegak dengan kukuh. Ya, mereka layak berpesta setelah 30 tahun perjalanan panjang. ●

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

8 Comments on U-Mag (2009): Iran, Setelah 30 Tahun

  1. trims atas cerita irannya mas agus, sangat membuka mata..

  2. There’s always confusion here and there, but overall I can understand ur articles. The difference between Bahasa Indonesian and Bahasa Malaysia is not that much :)

  3. Hehe…lucu juga ya ta’arof nya Iran..bersyukurlah..biarpun orang Indonesia suka basa basi, tapi ga separah di Iran. Jadi senyam senyum sendiri baca kisah yang tentang ta’arof di Iran. Salute ‘Gus!!

  4. asik nih liputan perjalanannya. sering diisi donk gus. jangan ditelantarin website kamu ini

  5. Very inspiring Gus. Keep moving!

  6. ternyata, iran begitu ..
    hhhf, terlalu banyak tidak untuk iran dari saya..

    keep in link, Gus !

  7. Harap saudara / saudari jangan percaya dengan cerita bohong seperti ini yang berusaha merusak citra Iran sebagai negara Islam yang sebenarnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*