Recommended

Cosmopolitan Men (2008): Negeri Antah Berantah

June-November 2008

COSMOPOLITAN MEN

TRAVEL.indd

Negeri Antah Berantah

Pernahkah Anda membayangkan negeri-negerinya yang berdiri di atas padang rumput dan gurun pasir luas Asia Tengah? Atau malah memimpikan ada di negeri-negeri yang bertabur keajaiban, terkunci daratan, terpencil di jantung benua raksasa Eurasia? Jika iya, jangan lewatkan kisah yang dituturkan oleh Agustinus Wibowo, seorang petualang (backpacker) sejati.

 

TRAVEL.indd

Daratan Abad Emas

Saya hampir tak percaya melihat visa negara Turkmenistan tertempel di paspor saya. Di antara lima negara Asia Tengah yang semuanya berakhiran Stan. Turkmenistan adalah yang paling terisolasi, penuh misteri!

Mendapatkan visa Turkmenistan sangatlah sulit. Hanya mereka yang sanggup merogoh kocek dalam-dalamlah yang sanggup membayar tur menjelajahi negeri terisolasi ini. Untuk kantung backpacker, yang paling memungkinkan hanya visa transit, cuma lima hari dan harus menunggu waktu berminggu-minggu untuk mendapat persetujuan dari Ashgabat.

Ashgabat. ibu kota Turkmenistan, berarti kota cinta. Tetapi jangan bayangkan negeri ini bertabur cinta. Ketika memasuki pintu gerbang Turkmenistan dari desa miskin Bajgiran di Iran. saya langsung berhadapan dengan petugas perbatasan negeri Turkmen. Semua isi ransel saya digeledah. Setiap buku ditanyakan apa isinya. Semua isi kantong dan dompet harus dipamerkan di hadapan bea cukai. Bukan main!

Tetapi begitu melewati gerbang ini. saya dicengangkan oleh pemandangan fantastis! Ashgabat adalah kota pualam yang megah di tengah keringnya padang pasir. Air mancur bergemerincing. membuat kita lupa sedang berada di negeri nan “kering kerontang”. Puluhan patung emas sang pemimpin. Turkmenbashi (yang artinya Bapak Orang Turkmen) bertebaran di seluruh penjuru kota. Ada pula monumen raksasa di tengah kota yang bisa terlihat dari segala penjuru Ashgabat. Di puncaknya terdapat patung emas Sang Turkmenbashi yang tingginya mencapai 12 meter. Dan ini bukanlah patung emas biasa! Sepanjang hari benda ini berputar otomatis, mengikuti perputaran matahari! Lalu. di barisan gedung pualam yang megah itu terbentang pula slogan-slogan tentang keberhasilan negeri ini – Abad XXI merupakan abad emas bagi bangsa Turkmen.

 

Jalan Hidup

Di abad emas. rakyat hidup makmur sejahtera, demikian janji Turkmenbashi. Di abad tersebut semua hal gratis dan rakyat hidup bahagia. Saat ini harga karcis bus kota hanya sekitar 20 Rupiah, harga seliter bensin cuma 120 Rupiah, dan tiket pesawat terbang 15.000 Rupiah saja. Air, gas. listrik, pendidikan gratis. Untuk menyiapkan rakyatnya menghadapi gemilang abad Emas. beliau menulis sebuah buku berjudul Ruhnama, yang artinya kitab jiwa. Dalam buku bacaan wajib semua orang ini selain dikisahkan tentang sejarah bangsa Turkmen yang memimpin dunia, juga ada banyak kisah tentang kepahlawanan Sang Turkmenbashi, tauladan ibundanya, perjuangan sang ayahnya, dan semangat pantang menyerah dari kakeknya. Pendeknya, keluarga Turkmenbashi ini adalah anugerah Tuhan bagi orang Turkmen.

Putra-putri Turkmenistan adalah pecinta Ruhnama. Setiap akhir pekan mereka melantunkan puja dan puji dan tarian indah bagi keagungan Sang Turkmenbashi, kesucian Ruhnama, dan kemilaunya Abad Emas yang membentang di hadapan Turkmenistan.

 

TRAVEL.indd

Mata-Mata

Bertualang di Turkmenistan berarti harus siap berurusan dengan mata-mata dan tentara yang berpatroli di setiap ujung jalan sampai ke gang kecil sekalipun. Pemerintahan yang represif tidak mengizinkan rakyat bicara apa-apa lagi selain Ruhnama dan abad emas. Internet dilarang, demonstrasi akan berujung penyiksaan di penjara.

Saya sungguh tak berhati-hati ketika memotret sebuah patung emas Turkmenbashi yang berdiri gagah di depan gedung kementrian. Dalam sekejap, saya pun sukses digiring oleh polisi untuk menjalani pemeriksaan dengan tuduhan mata-mata lawan.

Betapa terkejutnya saya. dua hari kemudian di perbatasan Turkmenistan – 700 kilometer jauhnya dari Ashgabat – ketika saya berusaha meninggalkan negeri ini menuju Uzbekistan, petugas perbatasan sudah mengetahui setiap detail diri saya, dari A sampai Z. Mereka tahu saya datang dengan kereta api apa, membayar karcis berapa, duduk di kursi nomor berapa. Negeri ini memang penuh mata-mata!

Tak mudah untuk masuk Turkmenistan. Keluarnya lebih susah lagi. apalagi nama saya sudah tercatat dalam daftar orang yang patut dicurigai. Saya menghabiskan waktu dari pagi sampai sore hanya untuk menyeberang perbatasan Turkmenistan menuju negeri kuno Uzbekistan.

 

Uzbekistan dan Masa Lalunya

Dibandingkan negeri tetangga yang gegap gempita menyambut Abad Emas, Uzbekistan lebih berkilau mengenang masa lalunya. Saya sempat terjebak dalam gang-gang sempit dan menyesatkan di kota suci Bukhara. Siapa yang tak terpekur di bawah keagungan Bukhara. dengan masjid agung, barisan madrasah dari zaman berabad silam? Siapa yang tak terbayang cendekiawan muslim menemukan rahasia alam dan para pujangga menemukan kebesaran Tuhan? Bukhara. pernah menjadi pusat dunia.

Di tengah gurun Pasir Merah ada kota Khiva (kota kuno yang pernah menjadi pusat perdagangan budak Asia Tengah). Khiva terletak di jantung Khorezmia, tempat kelahiran sang ilmuwan Muslim Al-Beruni. Kota ini berwarna cokelat, tetapi sentuhan pualam hijau di kubah-kubah masjid berkilau menyemburatkan sejarahnya yang gemilang.

Masa lalu Uzbekistan menari lebih dahsyat lagi di kota Samarkand, di mana gedung-gedung raksasa dengan arsitektur fantastis dari abad XV tersebar di segala penjuru. Di hadapan bangunan kuno ini, manusia hanya seujung jari besarnya. Mudah sekali membayangkan Aladdin terbang di atas permadani, di antara kubah dan menara yang berbalut mozaik, menyembunyikan asma Allah dan Rasul dalam detail dan motif.

 TRAVEL.indd

Pernikahan Ala Uzbek

Jantung peradaban Uzbekistan sebenarnya berada di Ferghana, di ujung timur negeri yang terjepit daratan ini. jalan bebas hambatan menghubungkan Samarkand dengan ibu kota Tashkent, dilanjutkan jalan gunung sampai ke lembah Ferghana.

Di sinilah letaknya bahasa Uzbek yang paling murni. Di sini pulalah kebudayaan Uzbek yang masih asli dapat ditemui. Saya beruntung menghadiri sebuah acara pernikahan Ferghana. menikmati lezatnya nasi plov, larut dalam tari-tarian kaum wanita, dan terhanyut dalam air mata sang pengantin wanita. Air mata tenis mengalir di pipinya. Tetabuhan lagu tradisional yor-yor tak berhenti. Kata-kata sendu semakin menggugah emosi. “Jangan menangis gadisku, pernikahan ini adalah milikmu”. Inilah air mata seorang wanita yang terpisah dari rumahnya, memasuki rumah bani yang asing sama sekali baginya, menjalani kehidupan bani dengan seorang pria tak dikenal. Di sini yang berlaku adalah kawin ala Siti Nurbaya.

 

Saking sucinya, di tempat ini burung hitam pun akan berubah menjadi putih dengan sendirinya.

 

Kota Suci Ali

Kota terakhir Uzbekistan adalah Termez. kota panas di ujung selatan, berhadapan dengan pintu gerbang Afghanistan di seberang Jembatan Persahabatan yang melintasi Sungai Amu Darya.

Takdir menuntun saya kembali ke Afghanistan. Menyeberangi jembatan tersebut, dalam sekejap roda zaman seakan diputar mundur lagi beberapa ratus tahun. Gadis-gadis Uzbek yang molek dengan pakaian seksi sudah menjadi kenangan. Di seberang sungai ini. yang ada hanya debu dan laki-laki berjubah kamiz. Kaum wanitanya sama sekali tak tampak. Yang ada di jalan, bisa dihitung jumlahnya, semua berbungkus burqa biru dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Lalu tibalah saya di kota Mazar-i-Sharif. kota paling suci di Afghanistan. Orang percaya di sinilah Sang Hazrat Ali, Ali bin Abi Thalib, paman sekaligus menantu Nabi Muhammad, dimakamkan. Begitu sucinya tempat ini. hingga yang ada hanya burung berwarna putih. Burung hitam akan berubah menjadi putih dengan sendirinya dalam waktu 40 hari. Wow!

Di hadapan makam megah Ali yang gemerlap, saya merenungi perjalanan panjang kali ini. Gunung salju, padang rumput, gurun pasir, patung-patung emas, buku suci, polisi garang, madrasah kuno. kota terpencil, masjid raksasa, sampai pengantin yang menangis di hari pernikahan. Semuanya adalah lembaran kenangan indah dalam perjalanan hidup saya.

0806-cosmopolitan-men-asia-tengah-artikel-5

Kontributor:

Agustinus Wibowo. Sang backpacker sejati yang iri tertarik pada bahasa. Di edisi kali iri. pria yang pernah melintasi benua Asia dengan jalan darat ini akan berbagi cerita dan gambar soal perjalanannya menyusuri dua negeri indah.

 

CM_COVERMEN-Cenvert.indd

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

5 Comments on Cosmopolitan Men (2008): Negeri Antah Berantah

  1. mas Agus, saya sangat terharu membaca kisah petualangan anda. anda bisa menyaksikan peninggalan kejayaan islam, hidup di tengah2 nilai Islam yg sekarang sdh banyak ditinggalkan..anda tlh memberikan manfaat yg besar bg org lain melalui tulisan2 anda. semoga anda mendapatkan manfaat yg sama besarnya dari perjalanan anda. saya doakan semoga anda senantiasa dalam lindungan-Nya.

  2. Koreksi dikit, Nus … Ali bin Abi Thalib itu bukan Paman sekaligus menantu Nabi Muhammad, tapi SEPUPU sekaligus menantu Nabi Muhammad. Kalo Abi Thalib itu Ayah dari Ali bin Abi Thalib, paman Nabi Muhammad

  3. haha,yuanfen~ wo ye shang le Cosmopolitan July2008 de zhgongwen ban…hug~

  4. bro, you really are awesome !
    i’m so proud of you, a lone ranger from Indonesia :)
    keep going, bro !!

  5. Syed Khalid Gilani // March 20, 2009 at 10:04 pm // Reply

    hi Avgustin,
    Hope you are fine – its long to see you. today i was looking your site its very good to see some of your beautiful articals with eye catching images in different international magazines. keep it up man, hope to see in many more… Take care
    Khalid Gilani

Leave a comment

Your email address will not be published.


*