Recommended

Kompas Cyber Media (2008): Karena Hidup Ini Adalah Perjalanan

5 Maret 2008

Kompas Cyber Media

Travel | Petualang

0804-headline-kompascom

Agus: Karena Hidup Ini Adalah Perjalanan…

“HIDUP ini adalah sebuah perjalanan. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita akan selesai. Begitu pula saya tidak tahu kapan petualangan saya ini akan berakhir. Yang saya tahu, saya masih ingin terus melanjutkan petualangan saya. Masih ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi,” ujar Agustinus Wibowo dalam sebuah perbincangan.

Ketika tulisan ini dibuat, Agus, begitu biasa ia disapa, sedang menetap sementara di Afghanistan. Ia telah hampir tiga tahun melakukan perjalanan tanpa jeda melalu jalur darat melintasi Asia Selatan dan Tengah. Ia sedang melakukan ”misi pribadinya” keliling Asia, bagian dari cita-citanya keliling dunia. Perjalanannya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, China pada tanggal 31 Juli 2005. Dari negeri tirai bambu itu ia naik ke atap dunia Tibet, menyeberang ke Nepal, turun ke India, kemudian menembus ke barat, masuk ke Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan. Ribuan kilometer yang dilaluinya ia tempuh dengan berbaga macam alat transportasi seperti kereta api, bus, truk, hingga kuda, keledai dan tak ketinggalan jalan kaki.

”Saya menghindari perjalanan dengan pesawat. Perjalanan udara menghalangi saya menyerap saripati tempat-tempat yang saya kunjungi. Menyatu dengan budaya setempat, menjalin persahabatan dengan banyak orang di tiap tempat, merasakan kehidupan masyarakat di suatu tempat adalah hal-hal yang tidak mungkin saya dapatkan jika saya menggunakan pesawat terbang. Selain itu, uang saya tidak cukup untuk tiap kali naik pesawat..hehehe…” terangnya.

Agus adalah seorang petualang, pengembara, musafir, seorang backpaker sejati. Bagi banyak orang, aktivitas travelling murah sebagai seorang bakckpaker adalah hobi. Bagi Agus menjadi backpaker adalah hidupnya, napasnya setiap hari.

Ia memulai perjalanannya dengan bekal 2.000 dolar AS hasil tabungannya selama kuliah di Universitas Tshinghua, Beijing, Cina. Ketika duitnya habis ia akan menetap sementara di suatu tempat, bekerja serabutan guna mengumpulkan duit lagi dan kembali melanjutkan perjalanan.

”Kebetulan saya suka fotografi. Saya menjual foto-foto saya dan menulis tentang tempat-tempat yang saya kunjungi untuk saya jual ke beberapa media di China, Singapura dan Indonesia. Selain itu saya bekerja serabutan sebagai apa saja untuk bertahan hidup,” tuturnya.

***

Agustinus Wibowo lahir di Lumajang, Jawa Timur, tahun 1981 sebagai putra pertama pasangan Chandra Wibowo dan Widyawati. Lulus dari SMU 2 Lumajang ia melanjutkan kuliah di Jurusan Informatika Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Hanya satu semester ia di ITS, sebelum memutuskan pindah kuliah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua, Beijing, universitas paling ternama di daratan Tiongkok.

Sejak kecil ia sudah menyimpan harapan untuk berkelana ke negeri-negeri jauh. Waktu SD gurunya pernah bertanya tentang cita-citanya. Dengan polos dia menjawab ingin jadi turis. Gurunya bilang kalau turis itu bukan pekerjaan, bukan cita-cita. Tapi, Agus terus menyimpan mimpi masa kecilnya itu.

Di Lumajang ia tumbuh sebagai anak rumahan, lebih senang menghabiskan waktunya di kamar membaca buku. Jika harus keluar rumah ia memanggil becak. ”Dulu saya ini malas banget jalan siang-siang, panas. Bahkan, untuk pergi 400 meter saja saya pasti naik becak,” aku dia.

Semua itu telah berubah. Ia telah mewujudkan mimpinya menjadi seorang ”turis”. Anak manis yang malas bertemu panas matahari telah menjadi anak kehidupan yang tidur berselimut debu jalanan. ”Saya berubah dari seorang kutu buku tidak berguna menjadi seorang musafir yang tahan banting. Perjalanan mengajarkan saya tentang warna-wani hidup, ragam budaya dan manusia. Perjalanan ini juga memaparkan pada saya bahwa dunia tidak seindah yang kita impikan. Hidup ini cantik sekaligus buruk rupa, bahagia sekaligus muram, berwarna sekaligus kelabu. Saya belajar untuk tidak mengeluh dan belajar untuk selalu bersyukur atas segala hal yang saya terima setiap hari,” ujarnya.

Semua perubahan itu dimulai pada tahun 2002. Saat itu, seorang temannya di Tsinghua menantangnya untuk ”backpack” ke Mongolia. Kebetulan pada saat yang sama ia terinspirasi oleh seorang teman lainnya, seorang perempuan Jepang, yang pernah keliling Asia Tenggara sendirian selama enam bulan. Ia begitu terkagum-kagum ketika teman perempuan Jepang-nya itu bercerita bahwa selama perjalanan ia bertahan hidup dan berkomunikasi menggunakan ”bahasa tarzan” karena sama sekali tidak bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa negara-negara ASEAN.

”Waktu itu saya begitu terpesona oleh cerita petualangan teman Jepang saya ini. Petualangan yang wah, berani, dan penuh tantangan. Saya jadi bertanya sendiri, kapan saya bisa begitu? Maka ketika ada teman yang mengajak saya pergi ke Mongolia saya langsung mengiyakan,” tuturnya.

Ternyata, Agus tidak pernah bisa menghentikan langkahnya sejak saat itu. ”Semakin sering saya travelling sebagai backpaker, semakin dalam keingintahuan saya tentang hal-hal baru di dunia ini. Tidak hanya sebagai penonton, tapi terlibat sepenuhnya dengan seluruh pengalaman perjumpaan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Dunia ini tidak seluas daun kelor. Ada banyak kehidupan lain di luar sana dan ada banyak kebajikan yang kita tidak pernah tahu sebelumnya,” jelas Agus yang karena perjalanannya telah menguasai bahasa Hindi, Urdu, Farsi, Rusia, Tajik, Kirghiz, Uzbek, Turki, dan sekarang dalam proses menguasai bahasa Arab, Armenia, dan Georgia. Selain itu, ia fasih bahasa Inggris, Mandarin, Indonesia dan tentu saja bahasa Jawa.

Kemampuannya menguasai berbagai bahasa ini pernah membuatnya hampir cilaka. Suatu waktu di Afghanistan polisi setempat mencurigai dirinya sebagai seorang teroris dari Pakistan. Tiba-tiba, tanpa sebab dan alasan, sekelompok polisi memukulinya dengan garang. Spontan ia berteriak dan memaki. Namun sial, yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Urdu. ”Seharusnya saya ngomong dalam bahasa Inggris, tapi waktu itu spontan yang keluar bahasa Urdu,” cerita dia. Urdu, tak lain dan tak bukan, adalah bahasa nasional Pakistan.

Tidak cuma sekali dua kali Agus mengalami kejadian-kejadian naas seperti itu. Seorang pengelana mau tidak mau harus berteman dengan marabahaya. Anak mami yang bertahun-tahun hidup dalam kehangatan keluarga itu telah berulangkali ditangkap polisi, ditahan agen rahasia, dipukul preman, diserang perampok, dan bersahabat dengan rasa lapar. Ia pernah putus asa karena kameranya rusak total dan uang bekalnya dicuri orang. Yang paling buruk, karena sembarangan menginap di rumah orang ia pernah salah mampir di rumah pelaku kriminal.

Apakah orang tuamu tidak khawatir Gus? O, tentu saja sangat khawatir. Ia ingat betul pada perjalanan pertamanya ke Mongolia tahun 2002. Setelah tiga minggu di Mongolia ia menelepon ke rumah dan ibunya menjerit begitu medengar suaranya.

Tahun 2003 ia terobsesi mengunjungi Afghanistan. Mendengar nama negara itu saja orang sudah bergidik ngeri karena bayang-bayang kekerasan perang yang tiada henti di sana. Agus pun pergi diam-diam tanpa memberitahu orangtuanya, menuju negeri yang identik dengan darah, Taliban, dan perang. Tapi, toh mereka tahu juga tentang ”perjalanan gelapnya” ini. Sekembalinya dari Afghanistan, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya.

”Tapi itu dulu, sekarang mereka sudah mulai mengerti. Ayah saya akhirnya malah bangga memiliki putra seorang pengembara. Tapi, saya tahu di lubuk hati yang paling dalam mereka berharap suatu saat nanti saya kembali ke Indonesia, menetap dan hidup normal di sana. Mmmm…..bagian itu, saya belum bisa menjawabnya saat ini,” katanya.

***

Bagi Agus, pada batas tertentu, travelling tidak lagi sekadar menikmati keindahan pantai, kesejukan udara pengunungan atau kemewahan spa di hotel berbintang. Bagian terbaik dari travelling adalah ketika kita menemukan apa yang disebutnya sebagai ‘seni mengembara’.

”Itu adalah ketika kita tidak lagi menjadi diri kita sendiri, ketika kita kehilangan identitas kita, masa lalu kita, ikatan norma masyarakat yang selama ini mengikat kita, dan pada akhirnya lepas dari jerat-jerat yang selama ini memasung jiwa kita. Kita menjadi terbuka pada kehidupan dan menerima apa yang diajarkan oleh kehidupan pada kita. Ketika sampai pada titik ini, kita akan melihat dunia dengan mata hati yang baru,” tuturnya bijak.

“Bahkan di negeri-negeri terpencil dan terbelakang seperti lekukan gunung Afghanistan dan padang pasir Pakistan, ada kebijaksanaan maha tinggi yang bisa dikisahkan orang-orang dari pedalaman yang terlupakan dunia,” tambah dia lagi.

Masih di jalanan dia sekarang, entah sampai kapan. ”Cita-cita saya mencapai Afrika Selatan dengan menempuh perjalanan darat, kalau memungkinkan seratus persen, melintasi Kaukasus, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Barat,” ucapnya.

Di pelosok bumi sana, ada negeri-negeri yang hampir tak pernah kita dengar. Abkhazia, Transdniestr, Ossetia, Nagorno Karabakh. Negara-negara itulah yang menjadi obsesi Agus. Sampai kapan perjalanan ini akan terus berlangsung? “Tidak tahu. Saya tidak memberi batas waktu, dan biarlah perjalanan ini mengalir begitu saja,” ungkapnya.

Di Kolom Petualang di Rubrik Travel kompas.com ini Agus menyajikan secuplik kisah perjalanannya melintasi Asia Tengah, yaitu negara-negara yang semuanya berakhiran ‘stan’, mulai dari Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, hingga Turkmenistan. Kita mungkin merasa asing membaca kisah tentang tempat-tempat terpencil yang tertutup gunung dan tidak pernah disebut-sebut dalam peta dunia. Di sana Agus telah menginjakkan kakinya.

Nantikan kisah petualangannya….. (J Heru Margianto)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*