Recommended

National Geographic Traveler Indonesia (2013): Kampung Halaman Seberang Lautan

Perasaan terhadap negeri leluhur selalu istimewa. Orang bilang, karena di situlah akar kita. Namun di mana sebenarnya “akar” itu?Apakah berupa sebuah tempat spesifik, seperti dusun gersang di pelosok Cina Selatan, tempat Kakek dahulu melarikan diri dari kemiskinan? Atau hutan bambu di bukit belakang, tempat para buyut bersembunyi dari serbuan tentara Jepang?

July 2013

National Geographic Traveler Indonesia

10 Perjalanan ke Tanah Leluhur

1307-NGT-Indonesia-Pulang-ke-Kampung-Halaman-1

Kampung Halaman Seberang Lautan

MENJADIKAN SEMUA TEMPAT SEBAGAI RUMAH

Teks dan foto oleh AGUSTINUS WIBOWO

 

Jauh di seberang lautan sana adalah kampung halaman kita. ” Mama lirih berbisik pada malam- malam yang biasa, “Cepat, cepatlah besar. Kalau kau besar nanti, kau akan pergi jauh. Pergilah ke Tiongkok sana, pulanglah ke tanah leluhur… “

 

Secuplik memori masa kecil saya bawa ketika menginjakkan kaki di negeri leluhur, Cina. Saya datang membawa begitu banyak fantasi dari dongeng-dongeng yang sempat mengiring mimpi-mimpi indah masa kecil. Ada Dewi Bulan yang rupawan namun selalu kesepian, ada Kera Sakti yang begitu gagah membasmi para siluman, juga si Ular Putih yang kisah cintanya harus berakhir ditindih Pagoda Petir. Tak lupa pula para jagoan kungfu Shaolin yang tak takut mati.

Negeri ini begitu luas, membentang 5.000 kilometer dari Utara ke Selatan, 5.000 kilometer dari Timur ke Barat, membanggakan sejarah panjang 5.000 tahun. Ke mana saya mencari perwujudan dari mimpi-mimpi itu?

Perasaan terhadap negeri leluhur selalu istimewa. Orang bilang, karena di situlah akar kita. Namun di mana sebenarnya “akar” itu?Apakah berupa sebuah tempat spesifik, seperti dusun gersang di pelosok Cina Selatan, tempat Kakek dahulu melarikan diri dari kemiskinan? Atau hutan bambu di bukit belakang, tempat para buyut bersembunyi dari serbuan tentara Jepang?

Tampaknya, delapan tahun saya menetap di ibu kota Beijing, masih kurang lengkap jika saya belum mencoba merunut masa lalu, memahami perjalanan panjang yang mengawali kisah hidup saya sendiri- seorang Indonesia Tionghoa generasi ketiga.

“Ada apa di tempat jauh itu?” saya bertanya pada Mama, pada suatu malam yang biasa. Dan Mama memulai kisahnya: “Di tanah Hokkien di Tiongkok sana, orang Jepang mengobrak-abrik dusun, membakar rumah-rumah, menyiksa para wanita. Seorang lelaki muda angkat senjata, dia bunuh orang-orang Jepang itu pada malam gelap. Dia lalu berperahu hingga ke Singapura. Dia pahlawan pemberani. Di Singapura, dia terus melawan Jepang. Sampai akhirnya dia lari ke sini, ke Jawa sini. Dialah ayahku. Dialah kakekmu.”

Menginjakkan kaki di tanah Hokkien-atau dalam ejaan Cina sekarang disebut Provinsi Fujian, saya tidak lagi menemukan desa-desa miskin yang dikisahkan orang-orang tua dahulu. Semua telah menjelma menjadi kota modern dengan barisan bangunan tinggi, jalan tol mulus, jembatan gantung.

Di Hokkien, negeri Tiongkok terasa begitu dekat. Perawakan mereka tidak terlalu tinggi dan besar seperti halnya di Beijing. Kulit mereka pun tidak terlalu putih. Bahasa yang mereka ucapkan pun bukan Mandarin, melainkan dialek seperti dipakai orang Tionghoa di Medan.

“Kamu mau cari amoy di sini? Cantik-cantik!” sopir taksi terkekeh begitu tahu saya dari Indonesia.

Meskipun saya tidak bisa berbahasa Hokkien, saya dapat mengira-ngira isi pembicaraan mereka. Begitu banyak kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Hokkien. Tahu, taoge, taoco, bakmi, bakwan, cakue, teh, kwetiaw, siomay, micin… hampir semua tentang makanan. Masih ada juga amoy, kongkalikong, loteng, lihai, kuli, teko, wayang, potehi, bahkan sampai kata gua dan lu.

1307-NGT-Indonesia-Pulang-ke-Kampung-Halaman-2

Cina memang tidak pernah terlalu jauh. Cina ada di mana-mana. Mulai dari pensil sampai radio, dari kaus oblong sampai mesin cuci, semua bertabur tulisan Made in China. Di era globalisasi, mustahil bagi kita hidup tanpa benda berbau Cina.

Globalisasi itu sesungguhnya sudah berlangsung berabad silam, seiring maraknya perdagangan antarbangsa. Kota pelabuhan di pesisir Hokkien ini adalah salah satu pilar utamanya. Nama Quanzhou hari ini mungkin hanya kota industri kecil di pesisir tenggara Cina. Tetapi pada masa kejayaannya, Marco Polo pernah memujanya, “Tidak ada pelabuhan di muka bumi yang lebih besar daripada Quanzhou.”

Dari kota pelabuhan ini, kakek saya dahulu memulai perjalanan panjang dan berbahaya

menuju Nusantara. Ia hanya satu kisah kecil dari ribuan perjalanan bahari bertolak dari Quanzhou, yang kelak mengubah sejarah Asia dan dunia.

Pada masa keemasannya sebagai kota maritim, Quanzhou adalah kosmopolitan, seperti halnya New York atau Paris kini. Quanzhou adalah titik ujung dari jalur perdagangan bahari yang dijuluki sebagai “Jalur Sutra Laut.” Kota ini merupakan perhentian penting bagi para saudagar Arab, Persia, India. Armada Cina berbondong-bondong melayari lautan lepas, membawa teh dan keramik melintasi Selat Malaka, Selat Sunda, lalu menyeberangi Samudra Hindia dan Teluk Persia hingga ke Turki.

“Selamat pulang, saudaraku, ke kampung halamanmu,” ujar pejabat Museum Jalur Sutra Laut di Quanzhou kepada saya, setelah mengetahui kakek saya berasal dari sebuah dusun kecil tak jauh dari Quanzhou.

“Selamat pulang.” Begitu dia berkata, bukan “selamat datang.” Pulang? Saya tidak kenal siapa- siapa lagi di kota ini. Namun “pulang” punya makna jauh lebih dalam dari sekadar kembali ke rumah,

berjumpa dengan sanak keluarga. “Pulang” adalah bagian penting dari perjalanan, sebagaimana seorang filsuf Cina pernah berkata, “Kita melakukan perjalanan adalah untuk pulang.”

“Perjalanan,” kata perempuan itu, “membuat Quanzhou mengenal dunia. Hampir semua orang Quanzhou punya saudara atau kerabat di luar negeri. Dan Quanzhou jadi maju juga berkat para perantau yang pulang.”

Berbeda dengan warga ibu kota Beijing yang lebih nyaman dengan jabatan pemerintahan, warga daerah pesisir Cina Selatan terkenal dengan tradisi merantau. Seabad lalu, keluarga nenek saya bermigrasi dari Hokkien ke Pulau Jawa karena didera kemiskinan. Kakek saya meninggalkan kampung halaman karena invasi Jepang. Ratusan ribu lain berperahu melintasi samudra, semua dengan mimpi sama-kehidupan yang lebih baik.

Keluarga besar saya berserakan mulai dari Cina, Jepang, Indonesia, Malaysia, sampai ke Eropa, Amerika, dan Kanada. Katanya, di mana ada Matahari bersinar dan air mengalir, di situ pasti ada Tionghoa. Masing-masing keluarga perantau Tionghoa punya sejarah dan legenda tentang perjalanan panjang yang telah dilalui. Turun temurun, cerita kebanggaan itu dikisahkan dari generasi ke generasi, melalui dongeng-dongeng pengiring tidur. Terciptalah fantasi indah tentang kampung halaman moyang di seberang lautan. Tentang akar, rumah, dan impian untuk pulang.

1307-NGT-Indonesia-Pulang-ke-Kampung-Halaman-3

 

“Bawa saya pulang ke Indonesia,” kata seorang lelaki renta dalam bahasa Indonesia yang fasih, “Apa pun caranya, saya ingin pulang. Selama-lamanya.”

Setengah abad lebih, Zhang Meidong tinggal di Hokkien. Di usianya yang sudah 73 tahun, Meidong menyebut dirinya, “anak Betawi asli.” Dipungut dan dibesarkan oleh keluarga Tionghoa Jakarta sejak masih bayi, Meidong yang berdarah Jawa ini bahkan tidak mengenal ibu kandungnya. Nama yang disandangnya berbau gelora revolusi pada zaman itu, artinya: “Timur yang indah.”

Meidong muda datang ke Tiongkok bersama gelombang migrasi “pulang” besar-besaran masyarakat Tionghoa dari Asia Tenggara, terutama dari Indonesia dan Vietnam yang dilanda kemelut politik pada era 1950-an hingga 1960-an. Sejumlah besar anggota keluarga saya juga menjadi bagian dari migrasi ini, bangga menyebut diri sebagai guiqiao, “perantau yang pulang.” Masing-masing mereka membawa mimpi tentang tanah leluhur: rumah, saudara sebangsa, hidup layak.

Tetapi balon-balon mimpi itu dalam sekejap diletuskan oleh realita komunisme Cina. Paspor mereka langsung disita oleh pemerintah-“pulang ke negeri leluhur” berarti tidak boleh ke mana-mana lagi. Dahulu, di Indonesia, mereka adalah perantau Cina. Sementara di Cina sekarang, mereka berubah identitas jadi perantau Indonesia. Cina yang selama ini begitu dekat di hati, ternyata hanyalah Cina dalam imajinasi sendiri. Kenyataannya, tanah leluhur itu begitu asing, begitu jauh, begitu dingin.

Bekerja dan berniaga adalah dosa besar di negeri komunis, tanah leluhur mereka sendiri. Semua hanya dari negara dan untuk negara. Mereka yang tidak bisa bahasa Mandarin, atau sudah terlalu tua untuk disekolahkan, dikirim ke unit-unit kerja yang disebut Lahan Perkebunan Perantau Tionghoa (Overseas Chinese Farms). Meidong mengenang masa mudanya bekerja di perkebunan: saban bulan mendapat gaji ala kadarnya. Overseas Chinese Farms tersebar di berbagai daerah Cina Selatan. Di Hokkien ada beberapa titik, salah satunya di pinggiran kota Xiamen (Amoy), tempat tinggal Meidong.

Mengunjungi perkebunan ini pada masa sekarang, sulit bagi saya membayangkan beratnya kehidupan pada masa silam. Gedung-gedung apartemen berkilau, barisan bendera negara-negara ASEAN, bangunan museum sejarah perantau yang menampilkan foto-foto tua dan tas koper bulukan yang mereka bawa dari Indonesia, toko-toko penganan dan batik, restoran bermenu nasi kuning, alunan musik tari lenggang dan Teluk Bayur menyeruak. Lelaki Cina pegawai perkebunan dengan bangga memamerkan resor agrowisata organik, perhotelan, dan perumahan mewah, tak lupa menjajakannya pada saya, “Ayo, berinvestasilah di kampung halamanmu! Investasi di Cina sekarang pasti untung!” Ya, perkebunan ini telah menjelma menjadi tempat wisata abad milenium.

Berpuluh tahun berlalu, kerinduan para mantan perantau terhadap kampung halaman seberang lautan tidaklah surut. Mereka adalah duta budaya yang sesungguhnya, sepanjang hayat. Kala senggang, para kakek dan nenek itu memakai peci sarung, dan kebaya. Dengan senyum ceria, mereka berlatih tarian tradisional Sumatra dan Jawa di atas panggung, suguhan bagi para wisatawan.

Akar. Sekali lagi tentang akar. Bagi para perantau yang telah melintasi perjalanan panjang dan hidup dalam identitas yang berdimensi-dimensi, selalu tercipta kerinduan dan fantasi akan kampung halaman. Perantau Tionghoa di Indonesia bernostalgia tentang negeri leluhur, sementara perantau Indonesia di Tiongkok juga menciptakan fantasi walaupun memori mereka tersekap tentang Nusantara pada era 1960-an. Saya pun melewati fase-fase itu. Impian tentang kampung halaman di seberang lautan kini tak lagi mendera. Perjalanan ke negeri leluhur justru membuat saya belajar menjadikan semua tempat sebagai rumah, semua identitas sebagai “akar.”

Di hadapan saya, Meidong yang sebatang kara mendendangkan sebait lagu gubahannya: “Jauhlah sudah berlayar. Mungkin nanti jauh merayu. Hilang tertinggal kampungku sayang. Air mataku berlinang.

 

 

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

2 Comments on National Geographic Traveler Indonesia (2013): Kampung Halaman Seberang Lautan

  1. really touchy story
    thank for sharing

    best wishes
    Trisia

  2. Meilinda Tan // July 25, 2013 at 11:14 am // Reply

    “Root Searching” is a filial mission. I had learned a precious and priceless life learning lesson through “root searching” to Meizhou China. All started from a blind search which was full of miraculous experiences.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*