Recommended

Garis Batas 79: Menuju Antah Berantah

Bendera Turkmenistan (AGUSTINUS WIBOWO)

Bendera Turkmenistan (AGUSTINUS WIBOWO)

Tak sampai sebulan berselang, saya sudah berada di Bandara Internasional Mehrabad, Republik Islam Iran. Dingin langsung menyambut saya, yang menginjakkan kaki kembali ke tengah negeri-negeri yang tak pernah pupus dari mimpi.

Dingin yang sama digemakan oleh pilar-pilar, koridor, eskalator. Bandara Mehrabad sudah tua umurnya. Kosong, lengang, tak beraturan. Tak bernyawa. Saya hanya merasa berada di sebuah bandara. Tak kurang tak lebih.

Pesawat kami terbang dari Kuala Lumpur, tempat belanja favorit orang Iran di Asia Tenggara. Setiap penumpang membawa berkoper-koper barang, sepertinya tak ada yang mau menyia-nyiakan kesempatan berbelanja di sebuah surga shopping dunia.

Roda bagasi berputar perlahan-lahan. Satu per satu barang bawaan muncul entah dari mana. Di antara barang-barang itu, ada banyak kotak besar berisi makanan bubuk dan popok bayi. Aneh-aneh saja belanjaan favorit orang Iran ini.

Dua ratusan penumpang Iran berbaris dengan sabar di depan bea cukai, yang sangat teliti memeriksa semua barang. Saya malah melengang begitu saja, mungkin karena mereka tidak tertarik dengan ransel kumal saya.

Tak banyak yang saya lakukan di kota Tehran, selain mengurus visa Uzbekistan dan Turkmenistan. Yang pertama sangat gampang. Dengan berbekal surat undangan dari Tashkent, paspor saya langsung ditempeli stiker visa hanya dalam waktu lima menit.

Yang bikin pusing adalah visa Turkmenistan, negeri aneh yang mengunci dirinya rapat-rapat dari dunia luar. Negeri ini tak pernah bermurah hati mengundang orang asing menginjakkan kaki di wilayahnya. Terisolasi. Misterius. Negeri antah berantah yang hanya hidup dalam imajinasi.

Secuil Turkmenistan saya intip di kedutaannya di Tehran. Tersembunyi di antara rumah-rumah mewah di sebuah gang kecil di daerah Farmaniyeh, kedutaan ini memang sangat susah dicari. Saya harus berganti-ganti kendaraan sampai lima kali. Dan itu pun hanya berurusan dengan manusia super dingin di balik jendela mungil.

“Datang lagi tujuh atau sepuluh hari lagi,” kata si bapak konsul yang tak pernah terlihat wajahnya itu dari balik jendela. Saya hanya menyerahkan foto kopi paspor dan visa Uzbekistan.

“Tapi pak, saya belum mengisi formulir apa-apa,” protes saya yang kebingungan.

Sebuah tangan melemparkan formulir kosong ke arah saya.

“Silakan pergi. Kedutaan sudah tutup,” bentaknya. Jendela dibanting, tertutup rapat-rapat dalam hitungan detik, tanpa menunggu ratapan saya yang kebingungan.

Keesokan paginya, dengan membawa formulir visa yang sudah saya isi dengan sepenuh hati dan segenap jiwa, saya kembali menempuh perjalanan hidup mati berganti-ganti bis kota hingga sampai ke Kedutaan Turkmenistan yang tersembunyi dalam kelok-kelokan gang Farmaniyeh.

Seorang backpacker cewek Perancis bahkan sudah membawa setangkai mawar dan sekotak coklat, yang akan dipersembahkan dengan penuh rasa cinta kepada manusia dingin di balik jendela, agar bermurah hati membagikan sebuah stiker visa Turkmenistan.

Saya tak membawa apa-apa.

“Tak ada yang bisa kamu lakukan,” kata suara yang masih dingin itu, menambah dinginnya musim dingin, “kamu tunggu saja 7 sampai 10 hari.”

Ternyata memang begitu prosedurnya. Fotokopi paspor dan visa Uzbek sudah cukup untuk mengajukan visa transit, satu-satunya jenis visa yang bisa saya dapatkan. Fotokopi paspor saya sudah dikirim ke Ashgabat, ibu kota Turkmenistan, untuk menunggu penyelidikan mendalam dan persetujuan dari pemerintah Turkmen sana. Untuk visa 5 hari saja waktu tunggunya sampai tujuh sampai sepuluh hari.

Tak ada yang tahu pasti bagaimana nasib pengajuan visa ini. Apakah diterima, apakah ditolak, semuanya tergantung suasana hati orang-orang anonim di Ashgabat sana.

Demikianlah seminggu saya di Iran dilewatkan hanya dengan kegelisahan dan panjatan doa-doa, demi visa Turkmenistan ini, visa negara yang hanya hidup dalam imaji.

Delapan hari berselang, saya datang kembali ke Kedutaan Turkmenistan tercinta ini, membawa harap, ragu, cemas, dan gelisah. Sejatinya kedutaan buka pukul 9. Sudah belasan orang Iran berbaris di depan jendela mungil yang biasanya mengurung seorang pria tak berwajah di baliknya. Tetapi jendela itu tak terbuka. Hanya sebuah papan kayu yang memisahkan kami, para pemohon visa yang malang, dengan sebuah dunia imajinatif Turkmenistan di balik sana.

Sumpah serapah mulai mengalir, ketika arloji menunjukkan pukul 10. Jendela itu masih setia dalam kebisuannya. Para pemohon visa ini kebanyakan adalah supir truk yang hilir mudik perbatasan untuk mengangkut barang dagangan. Mereka mengajukan visa 6 bulan, multiple entry, yang surat undangannya saja sudah seharga 300 dolar. Golongan kedua pemohon visa adalah para pebisnis, mengajukan visa satu bulan, yang harganya 91 dolar ditambah 100 dolar untuk surat undangan. Hanya saya saja yang turis, mengajukan visa yang hanya 5 hari, dengan pengorbanan dirundung beban batin selama seminggu penuh.

Jarum jam menunjukkan pukul 10:45, jendela kayu itu mulai bergeser. Sebuah jari mengetuk-ngetuk papan meja, dan paspor-paspor pun berbaris penuh takzim.

Ketika sampai giliran saya, yang resah gelisahnya sudah melebihi Obbie Mesakh yang melihat barisan semut merah, suara manusia tanpa wajah di balik jendela sana tiba-tiba terdengar begitu merdu.

“Pengajuan visa kamu sudah OK!”

Saya membayar 31 dolar, menyerahkan formulir lengkap dengan fotokopiannya, foto diri dan fotokopi paspor.

“Datang lagi besok untuk ambil paspor,” kata suara itu, yang entah kenapa hari ini terdengar jauh lebih lembut daripada sutra Margilan. Saya merasa sudah terbang di awang-awang.

Hari ini adalah kali keempat saya mengunjungi kedutaan Turkmen. Saya sudah hapal di luar kepala seluk beluk gang, hapal rumah-rumah yang berbaris di sini, dan saya yakin kemahiran saya naik angkutan umum di kota Iran sudah cukup untuk menulis buku panduan berjudul “Teknik Jitu Menemukan Kedutaan Turkmenistan”.

Visa Turkmenistan, stiker sederhana dengan coret-coretan tangan yang semrawut, sudah tertempel di lembar paspor saya. Tak ada hal yang lebih menggembirakan dari ini, tak ada pelepasan yang lebih melegakan dari ini, besok saya sudah bisa melangkah menuju ke Turkmenistan, sebuah negeri antah berantah yang terus bercokol dalam angan.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 24 Agustus 2008

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

2 Comments on Garis Batas 79: Menuju Antah Berantah

  1. Congratulations 🙌🙌🙌

Leave a comment

Your email address will not be published.


*