Recommended

Garis Batas 81: Semua Gratis di Abad Emas

Kompleks istana kepresidenan dengan kubah emas, dibangun oleh perusahaan konstruksi Perancis Bouygues. (AGUSTINUS WIBOWO)

Kompleks istana kepresidenan dengan kubah emas, dibangun oleh perusahaan konstruksi Perancis Bouygues. (AGUSTINUS WIBOWO)

Tiga puluh kilometer perjalanan dari perbatasan membawa saya ke Ashgabat, ibu kota Turkmenistan. Ashgabat artinya ‘kota cinta’. Tetapi seperti Tashkent yang bukan tempat mencari batu, saya juga tidak mencari cinta di sini. Ashgabat, dalam benak saya, adalah kota fantasi yang megah di tengah padang pasir luas.

Rita, nama wanita ini, yang mengantar saya naik bus kota menuju pusat Ashgabat. Umurnya sekitar empat puluh tahunan, bekerja sebagai pegawai imigrasi di perbatasan. Warga keturunan Rusia. Rambutnya pirang, hidungnya mancung, matanya biru.

“Berapa harga karcisnya?” saya bertanya.

            “Lima puluh manat,” jawab Rita.

            “Lima puluh ribu manat?” saya belum yakin.

            “Bukan. Bukan lima puluh ribu. Lima puluh. Hanya lima puluh Manat,” dia menyimpan sebuah senyuman di wajahnya. Lima puluh manat. Dua puluh rupiah, harga karcis bis kota di ibu kota negeri Turkmen.

Rita mengerti keheranan saya. Dan itu justru membuatnya bangga. Dengan sukarela Rita membayarkan karcis saya, yang masih kebingungan karena tidak punya uang kecil.

“Di sini, semuanya gratis – air, listrik, gas, layanan kesehatan. Semuanya. Kami memang tidak punya uang. Tetapi semuanya gratis. Kami tidak perlu banyak uang untuk hidup.”

Gaji Rita 75 dolar per bulan. Sebagai pegawai imigrasi di pos internasional, gajinya lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata orang Turkmenistan.

Bus terus melaju melintasi jalan-jalan kota Ashgabat. Jalanan lebar. Barisan gedung-gedung putih dari marmer berjajar rapi. Taman-taman hijau menambah sejuknya jalanan. Semuanya nampak harmonis dalam keteraturan dan kemegahan.

            “Ashgabat kota yang indah. Kamu lihat sendiri kan,” seloroh Rita.

            Apakah ini kota yang makmur dengan orang-orang yang semua kaya raya?

            Rita tergelak. “Hah. Mungkin saja. Tetapi kami tidak punya uang. Mereka yang kaya, kami tidak.” Dia menekankan intonasi pada kata ‘mereka’.

Walaupun menjadi bangsa minoritas, Rita sangat bangga menjadi warga Turkmenistan. Dengan isolasi ketatnya, paspor Turkmenistan memang tidak akan membawanya ke mana-mana.

“Apa gunanya ke luar negeri? Negara ini sudah bagus dan semua gratis. Saya cukup hanya tinggal di Turkmenistan saja.”

Arch of Neutrality (AGUSTINUS WIBOWO)

Arch of Neutrality (AGUSTINUS WIBOWO)

 

Perlahan-lahan bus mulai penuh oleh penumpang. Rita mengingatkan saya untuk tutup mulut. Tidak baik terlalu banyak bicara yang aneh-aneh di tempat ramai seperti ini. Mata-mata ada di mana-mana.

Saya turun dari bus tepat di tengah kota, mencari-cari tempat penginapan di Ashgabat yang murah meriah. Ashgabat memang bukan ibu kota yang ramai. Jalanan yang lebar sangat lengang. Sesekali ada mobil yang melaju kencang melewati barisan gedung-gedung yang masih mulus seperti baru dibangun kemarin sore.

Tak seperti di negara-negara kakak beradik Stan lainnya, saya sama sekali tidak melihat huruf Rusia di sini. Yang ada hanya huruf Latin, bukti tekad yang maha bulat untuk membebaskan diri dari bayang-bayang masa lalu.

Kota ini bertabur slogan, semuanya dalam bahasa Turkmen yang mirip-mirip bahasa Turki.

XXI asyr – Turkmening altyn asyrydyr“. Abad ke-21 adalah abad emas bangsa Turkmen. Slogan ini menjadi hiasan wajib gedung-gedung tinggi departemen negara. Semboyan lain,

Halk, Watan, beyik Turkmenbashi“. Artinya rakyat, negeri, dan Turkmenbashi yang Agung. Turkmenbashi artinya Pemimpin Bangsa Turkmen. Semboyan ini mirip-mirip dengan slogan Hitler – Ein Volk, Ein Reich, Ein Führer.

Posisi Pemimpin Agung di sini tak lain dan tak bukan adalah Saparmurat Niyazov, presiden agung yang baru saja meninggal dunia beberapa bulan lalu.

Abad emas Turkmenistan datang bersama buku panduan yang diturunkan oleh sang bapak suci Turkmenbashi. Nama buku ini adalah Ruhnama, Kitab Ruh, untuk menyucikan roh dan jiwa. Sang Turkmenbashi konon mendapat ilham langsung dari Tuhan untuk menulis buku ini. Di sepanjang jalan, saya selalu diingatkan bahwa, “Ruhnama, bizing Yolumyzdyr“, Ruhnama adalah Jalan Kita. Semua warga Turkmenistan harus dites dulu hapalan dan pengamalan Ruhnama-nya, mulai dari zaman sekolah, bikin SIM, sampai melamar pekerjaan.

Abad emas, memang sudah dinanti-nantikan kedatangannya. Ashgabat berlapis emas di mana-mana. Di pusat kota ada monumen raksasa, setinggi 75 meter. Monumen yang namanya penuh jargon ini, Arch of Neutrality, merayakan keputusan maha agung Turkmenistan untuk menjadi negara netral, yang konon dielu-elukan seluruh penjuru bumi. Di atas monumen berkaki tiga itu, ada patung emas sang Turkmenbashi, setinggi 12 meter, melambaikan tangan, berputar mengikuti matahari.

Saya teringat Kazakhstan yang juga merayakan datangnya masa-masa gemilang, memilih Altyn Adam, sang Manusia Emas, sebagai lambang kemakmurannya. Manusia Emas Kazakhstan berasal dari zaman prasejarah, patung tentara perang dari empat ribu keping emas murni dari abad ke-5 SM. ‘Manusia emas’-nya Turkmenistan berasal dari masa kini, sang pemimpin Saparmurat Turkmenbashi pembawa pencerahan dunia dan pengantar abad emas kepada rakyat Turkmen.

Kazakhstan dan Turkmenistan, dua negeri yang paling beruntung di Asia Tengah, dilimpahi sumber minyak dan gas, memilih jalan hidup yang sama sekali berbeda. Kazakhstan dengan bangga menjadi kapitalis. Turkmenistan masih ingin bernostalgia dengan masa lalunya yang serba sentralisme.

Rita si pegawai perbatasan sama sekali tidak tertarik dengan gaji tinggi yang dinikmati warga Kazakhstan.

“Apa gunanya gaji besar kalau sepiring makanan harganya 5 dolar? Enakan di sini. Semua gratis.”

Ashgabat, memang kota cinta. Saya melihat kecintaan pada abad emas, kecintaan kepada Ruhnama, dan kecintaan tiada bandingan bagi sang Turkmenbashi.

Tetapi gambar cantik Ashgabat berangsur-angsur sirna ketika saya melintasi gang-gang kecil di belakang barisan gedung pualam. Di balik kemegahan gedung-gedung modern dan gemerincing air mancur sepanjang jalan, ada rumah-rumah tua yang berbaris dalam kekumuhan, seakan menantang gedung-gedung putih dan patung emas Turkmenbashi yang menaungi seluruh penjuru kota.

Di sini ada sebuah dunia yang lain, berjalan paralel dengan kegemilangan abad emas. Di tempat ini, abad emas adalah fantasi yang masih ribuan tahun cahaya jauhnya. Meskipun bayang-bayang patung emas masih jatuh di sini, meskipun gemerincing air jernih dari kolam pualam masih terdengar dari sini, rumah-rumah kumuh ini adalah dunia Turkmenistan yang disembunyikan di bawah karpet.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 26 Juni 2008

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Garis Batas 81: Semua Gratis di Abad Emas

Leave a comment

Your email address will not be published.


*