Recommended

Garis Batas 91: Ruhnama

Monumen Ruhnama di Berzengi (AGUSTINUS WIBOWO)

Monumen Ruhnama di Berzengi (AGUSTINUS WIBOWO)

“Wahai Turkmen! Segala cintaku hanya bagimu. Segala penderitaan hanya untukku” demikian tulis Sang Turkmenbashi dalam buku panduan jiwa, Ruhnama, yang menjadi bacaan wajib semua orang Turkmen.

Siapa pengarang buku terlaris di Turkmenistan? Tak perlu terkejut kalau untuk posisi ini pun, Sang Presiden Turkmenbashi menjadi jawaranya. Lihat saja toko-toko buku milik negara yang bertebaran di seluruh Ashgabat. Hampir semua buku yang dijual adalah buah karya Sang Presiden. Warna hijau dan merah kitab suci berjudul Ruhnama memenuhi rak-rak.

Ruhnama, dari kata ruh dan nama, artinya ‘kitab jiwa’. Tujuannya untuk mempersiapkan roh dan jiwa bangsa Turkmen menyambut datangnya era baru, Abad Emas yang telah berabad-abad dinantikan kedatangannya. Bukan hanya ditulis dalam bahasa Turkmen, tetapi juga ada versi terjemahan Bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, China, Jepang, Arab, Hungaria, Ceko, Korea, Hindi, Thai, sampai Zulu. Lebih dari 25 bahasa dunia. Turkmenbashi ingin cita-cita dan buah pikirannya pun dibaca seluruh umat manusia di dunia, sebagai sumnbangsih negerinya pada peradaban dan perdamaian di muka bumi.

Saya yang terkagum-kagum dengan kedahsyatan toko buku Ruhnama ini, langsung mengeluarkan kamera dan siap menjepret. Mbak penjaga toko serta merta dengan judes berteriak, “Dilarang potret-potret!”

Yang jelas, walaupun belum diterjemahkan dan diekspor ke Indonesia, Ruhnama sudah siap dibaca oleh mahluk luar angkasa. Pada tanggal 27 Agustus 2005, pemerintah Turkmen dengan kebanggaan tiada tara mengumumkan, “Ruhnama telah menaklukan angkasa luar”, ketika sebuah roket Rusia berhasil mengorbit di luar sana. Bersama-sama dengan Ruhnama diterbangkan juga bendera nasional Turkmenistan, berwarna hijau dan dihiasi dekorasi permadani nan cantik. Semuanya ini adalah kebanggaan nasional Turkmenistan, buah karya Sang Presiden yang tak tertandingi keluhurannya.

Mengorbitnya Ruhnama mengelilingi bumi, dalam sebuah kapsul luar angkasa yang kelak akan populer dipakai untuk mengirim mayat ke antariksa, disebut-sebut sebagai kemenangan bangsa Turkmen yang memperkenalkan nilai luhur kemanusiaan dan perdamaian kepada masyarakat dunia.

Ruhnama harus menjadi pusat alam semesta. Dalam semesta ini, semua masalah kosmik dari masa sekarang dan masa depan terus berputar, dalam gaya tarik, gaya sentripetal, dan orbit Ruhnama.” Demikian termaktub dalam kitab agung itu.

Di dalam negeri, Ruhnama mengiringi detak jantung, hembusan nafas, dan sirkulasi darah dalam jiwa setiap manusia Turkmen.

Buku ini adalah buku wajib yang harus dibaca semua warga negara, mulai dari bayi hingga orang jompo, yang sudah tak terbantahkan lagi kesempurnaannya. Semua harus belajar Ruhnama, dan harus siap dites hafalannya, pemahamannya, dan pengamalannya. Di negara antah berantah ini, bahkan untuk mengambil Surat Izin Mengemudi pun orang harus lulus ujian Ruhnama dulu.

Ruhnama, kitab tebal dengan kualitas kertas sangat bagus dan sampul hardcover dijual dengan harga cuma 50.000 Manat, tidak sampai dua dolar. Seorang ibu guru SD memborong beberapa lusin buku Ruhnama, ditambah kitab-kitab lain karangan Presiden seperti Ruhnama Jilid II, “Engkau adalah Turkmen” dan “Takdir Turkmen adalah Takdirku.” Pasti untuk murid-muridnya yang sudah tidak sabar menantikan suapan rohani disampaikan di ruang-ruang kelas.

Di masjid-masjid, selain ada Al Qur’an, alim ulama pun tak lupa memberi dakwah dengan menyitir Ruhnama.

Ruhnama dalam berbagai bahasa (AGUSTINUS WIBOWO)

Ruhnama dalam berbagai bahasa (AGUSTINUS WIBOWO)

Presiden Turkmenbashi pernah bertitah, “Saya sudah meminta Allah untuk mengizinkan orang yang membaca Ruhnama tiga kali – di rumah, waktu subuh dan maghrib – supaya langsung masuk ke surga.”

Apakah Ruhnama benar-benar setara dengan Kitab Suci? Sang Pemimpin tidak pernah berkata demikian. Dalam Ruhnama, Turkmenbashi berulang kali menuliskan jangan sekali-sekali menyamakan Ruhnama dengan Al Qur’an, karena Ruhnama bukan buku agama, juga bukan buku sejarah. Di pintu masuk Masjid Turkmenbashi, di kota kelahirannya Gypjak yang dijadikan pengganti naik haji ke Mekkah bagi orang Turkmen, tertulis besar-besar semboyan suci, “Ruhnama Mukaddes Kitapdir, Gurhan Allahin Kitaby“, Ruhnama Kitab yang Suci, Qur’an Kitabnya Allah.

Tetapi bagi orang Turkmen, kedudukan Ruhnama memang bukan sekedar kitab jalan hidup seperti halnya kitab Pedoman Pengamalan dan Penghayatan Pancasila. Ada nuansa mistis yang mengiringi setiap lembarnya. Saya ingat pernah dimarahi orang-orang Turkmen yang histeris ketika saya membuat catatan kecil di pojok-pojok halaman kitab itu..

“HAH!!! Apa yang kamu lakukan? Ini kitab bagus!”

Tidak boleh ditulisi. Kitab ini harus diperlakukan seperti Al-Qur’an.

“Kamu tahu Qur’an? Itu buku suci. Ruhnama juga begitu. Tidak boleh disobek, ditulis-tulisi, dan harus diletakkan di tempat yang tinggi,” katanya mengajari saya bagaimana harus membaca Ruhnama. Halamannya harus dibuka perlahan-lahan, diiringi doa agar ilmunya dapat diresapi dan diamalkan.

Agama Islam pun bercampur aduk dengan segala mukjizat Turkmenbashi. Di satu sisi, saya melihat ibu-ibu tua mendirikan salat di sebuah sudut pasar yang ramai. Di sisi lain, seorang gadis muda penjaga kafeteria yang bangga sebagai Muslim Turkmen mengaku tidak tahu artinya kalimah laillahaillalah. Dengan jujur si gadis cantik beralasan belum pernah belajar bahasa asing. Masjid-masjid super megah dan besar terus dibangun di penjuru Ashgabat, tetapi selalu kosong melompong nyaris tidak ada jemaah sama sekali.

Turkmenbashi, yang dulunya pentolan partai komunis Soviet dari Turkmenia, kini mendengung-dengungkan keislaman sebagai ciri khas bangsa Turkmen, yang berasal dari kata Turk dan Iman. Dari seorang komunis sejati, beliau tiba-tiba berubah figur menjadi agamis, pemimpin jiwa dan spiritual bangsa yang dipimpinnya, dari sebuah negeri kuno yang baru merdeka dan menapaki masa depan yang gemilang.

Saya sebenarnya juga ingin memborong Ruhnama, lumayan untuk oleh-oleh buat kawan yang ingin dibersihkan rohnya, juga pasti jadi bacaan asyik selama perjalanan. Tetapi kitab ini kelewat tebal dan berat. Jarak spasi antar baris terlalu besar, sehingga kesannya memang untuk membuang-buang kertas. Mungkin Turkmenbashi juga mengejar target jumlah halaman minimal. Alhasil saya cuma berhasil menyumpalkan sebentuk kitab Ruhnama ke dalam tas ransel saya.

Sekarang, mari kita bersama-sama membasuh jiwa kita dengan Ruhnama.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 10 Juli 2008

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

8 Comments on Garis Batas 91: Ruhnama

  1. Potret sebuah negara yang hidup dalam kediktatoran. Sang pemimpin mengagungkan dirinya laksana seorang dewa…

  2. nek tatakan rake kayak ngene yo bosen tenan nang toko buku

  3. Aku blm baca garis batas mu.. Ijin share ya

  4. mas Agustinus Wibowo bisa dibahas detail ga soal Ruhnama ? penasaran euy 🙂

  5. Ruhnama mau dibahas ya? Asyik… Penasaran banget apa aja isinya:)

  6. Trukmenbashi pentolan partsi komunis mendengungkan keislaman & menjadikan Ruhanma sebagai kitab suci. maka tdk berlebihan jk sy bilang.. Hem MINCURIGAKEN.
    dari pada baca Ruhanma mending baca komik. Heheeee…

  7. Sekarang, mari kita bersama-sama membasuh jiwa kita dengan Ruhnama. Ooohh My…. maaf klo saya ngakak jadinya

  8. Henpriadi koto // September 9, 2021 at 11:21 pm // Reply

    Pedoman penghayatan dan prngamalan pancasila lho mas…

Leave a comment

Your email address will not be published.


*