Recommended

Garis Batas 9: Mengintip Afghanistan

Afghanistan, di seberang sungai, terlihat dari Tajikistan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Afghanistan, di seberang sungai, terlihat dari Tajikistan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Saya menumpang sebuah jeep kecil dari Khorog menuju Ishkashim, melalui jalan beraspal di tepian sungai Amu Darya. Jaraknya cuma 106 kilometer, tetapi karcisnya 20 Somoni (6 dollar). Itu pun harus menunggu berjam-jam di terminal karena tidak ada penumpang. Di negara ini, orang hampir-hampir tidak punya uang sama sekali, tetapi harga-harga sangat mahal.

Sepanjang jalan, di seberang sungai di sebelah kanan sana, adalah propinsi Badakhshan Afghanistan. Sungainya sendiri, di bulan Oktober yang sudah mulai dingin ini, menjelma jadi sungai kecil yang hanya sekitar 20 meter saja lebarnya. Tetapi bagaimana pun kecilnya, ini adalah pemisah dua dunia.

Ketika kami menyusuri jalan beraspal mulus dalam sebuah jeep Rusia tua, di seberang sungai sana yang nampak hanya jalan setapak di punggung-punggung gunung. Saya melihat beberapa pria berjubah dan bersurban duduk dengan nyaman di atas keledai. Sesosok tubuh wanita dibungkus rapat-rapat dengan burqa putih, menunggang keledai dengan pasrah mengikuti sang suami. Sedangkan di sini penumpang jeep duduk bersebelah-sebelahan, tak peduli pria wanita, bersenda gurau sepanjang jalan dan bernyanyi-nyanyi. Di sini, di sepanjang jalan saya melihat tiang listrik berbaris, sambung-menyambung. Di seberang sana, tak ada apa-apa lagi selain debu dan rumput yang mulai menguning.

Afghanistan nampak gamblang dari sini, segamblang Tajikistan nampak dari sana. Seorang perempuan tua di seberang sungai sana, dalam pakaiannya yang banyak, berat, dan berwarna-warni, sedang menjemur kotoran sapi di atap rumah batunya ketika jeep kami melintas. Seperti melihat sanak saudara dari dunia lain, ia dengan senyum penuh semangat melambai-lambaikan tangannya. Tak ada interaksi antar dunia di kedua sisi sungai ini, selain lambaian tangan dan rabaan akan kehidupan asing yang penuh fantasi. Sungai ini memisahkan manusia sejauh langit dan bumi. Dunia lain terpapar gamblang di seberang sungai, tetapi tak pernah tertembus dan terjamah. Hanya angan dan imajinasi yang boleh dengan bebas berkeliaran melintas batas internasional ini. Imajinasi tentang kehidupan manusia-manusia di seberang sana, bersama segala penyesalan akan nasib dan takdir.

Bagi orang-orang di Tajikistan sini, selain wajah buruk rupa Afghanistan yang nampak dari seberang sungai, tak banyak lagi yang diketahui.

“Pada zaman Soviet, mereka (orang Rusia) memperingatkan kita untuk selalu berhati-hati dengan orang Afghan,” kata Mohammad, salah seorang penumpang jeep.

“Katanya mereka orang berbahaya. Kami tidak boleh menunjuk-nunjuk ke arah sana, kalau tidak gerombolan orang berbahaya dari sana akan menyeberang ke sini,” tambah dia lagi.

Ini adalah upaya Moskwa untuk menginjeksikan pemahaman yang harus ditelan mentah-mentah penuh iman oleh semua warga negara Uni Soviet. Pemahaman tentang kenistaan negeri Afghan untuk menanamkan kebencian dan kewaspadaan terhadap negeri seberang sungai sana.

Garis batas antara Afghanistan dengan Tajikistan sekarang ini sebenarnya berumur tak lebih dari 120 tahun lalu. Inggris dan Rusia menetapkan Amu Darya (Sungai Pyanj) sebagai batas kekuasaan mereka. Kedengarannya batas yang sangat alami, tetapi sebenarnya kedua raksasa imperialis ini telah mengiris dunia dengan sebuah kapak tajam, tanpa ampun memisahkan desa, keluarga dan sanak saudara dengan dinding pemisah yang kasat mata. Sebuah sungai, yang dulunya menjadi sumber kehidupan, kini menjadi batas pemisah garis takdir manusia.

Bagi saya, Sungai Pyanj punya arti tersendiri. Saya pernah menyuri kedua sisi sungai ini. Tiga bulan yang lalu, ketika saya masih berada di seberang sungai sana, bersama-sama orang Afghan saya ikut berimajinasi tentang kehidupan di Tajikistan, sebuah negeri impian di seberang sungai. Sekarang saya berada di negeri yang diimpikan oleh orang-rang di sana. Saya mendengar ejekan dan olok-olok orang Tajikistan terhadap negara tetangga yang selalu berperang dan hanya berkawan keledai dan kuda. Bagaikan negeri yang terperangkap dalam aliran waktu, Afghanistan tampak dari sini seperti dunia prasejarah.

Orang Tajikistan menjalani garis hidup yang berbeda. Di tengah bulan Ramadan ini, jeep yang kami tumpangi berhenti di sebuah restoran. Tak ada penumpang yang berpuasa. Semua menyerbu makanan yang dihidangkan. Sopir jeep malah dengan riang gembira menenggak vodka, bersama kawan-kawan yang lain. Alkohol yang dibawa oleh penjajah Rusia itu kini sudah menjadi makanan pokok di sini. Di seberang sana, minuman ini menjadi barang haram, tak seorang pun sudi menyentuhnya, apalagi di tengah bulan suci seperti ini.

Sharif, seorang dokter dari kota Ishkashim, berkisah tentang pengalamannya bekerja di Afghanistan.

“Kehidupan di sini jauh lebih baik daripada di sana. Di sana orang-orangnya tidak terpelajar. Pasien perempuan hanya boleh dirawat oleh suster perempuan. Waktu saya di sana, banyak pasien perempuan tetapi tidak cukup dokter wanita. Saya mau bantu tetapi tidak boleh. Dokter-dokternya juga tidak berpengalaman. Menulis resep saja masih sering salah.”

Yang lebih konyol, kata Sharif, adalah waktu dia terpaksa memeriksa pasien perempuan. Harus ada kelambu yang memisahkan dokter dengan pasien. Kalau si pasien sakit giginya, maka si pasien harus menganga di belakang lubang kecil pada kelambu itu, dan si dokter tidak melihat anggota tubuh perempuan itu selain barisan gigi.

Afghanistan, dari kaca mata seorang dokter Tajikistan, memang tidak ada baik-baiknya. Kecuali satu hal. Di sana uang melimpah. Kalau di Tajikistan, seorang direktur perusahaan cuma mendapat 200 Somoni per bulan, bahkan tidak sampai 70 dolar. Gaji rata-rata dokter hanya 80 sampai 100 Somoni per bulan. Tetapi ketika Sharif bekerja di Afghanistan, gajinya 50 Somoni per hari, 15 kali lipat daripada gajinya di sini.

Seperti seorang dokter Tajikistan yang mengintip pasien Afghanistan dari sebuah lubang kecil, seperti orang buta yang meraba-raba gajah dari potongan telinga, belalai, dan kaki, saya mengintip negeri di seberang sungai sana.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan ulang sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 18 Maret 2008

1 Comment on Garis Batas 9: Mengintip Afghanistan

  1. Alam sana menggelegar sekali, cuma bisa baca artikel om agus dan cerita saja 😀

Leave a comment

Your email address will not be published.


*