Recommended

Selimut Debu 52: Pulang

“Suatu saat, kamu harus kembali ke titik awal. Dan saat itu, kamu akan berpikir bagaimana caranya untuk kembali ke tempat sebelumnya, untuk melanjutkan perjalananmu ….”

Demikian Lam Li, sahabat Malaysiaku itu pernah berkata padaku saat kami berdua berada di Kandahar. Kami berdua telah berkelana begitu panjang. Aku memulai perjalananku hampir setahun lalu dari Beijing. Lam Li lebih lama lagi, dari Malaysia jalan darat melintasi Asia Tenggara, Tibet, Nepal, India, Pakistan, sekarang di Afghanistan, dan terus dia akan menuju Eropa.

Setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan, sangatlah umum para pejalan mulai mengalami “mimpi buruk”.

Apakah “mimpi buruk” para pejalan?

Itu adalah terpaksa pulang. Ke titik asal. Ke rumah.

Lam Li sering mengalami mimpi seperti ini. Di dalam mimpinya itu, tiba-tiba dia sudah kembali ke rumah. Dan di rumah itu, dia sibuk berpikir, bagaimana caranya kembali ke titik terakhir perjalanannya, kembali melanjutkan perjalanan yang telah terpotong.

Seperti nubuat, ini pun terjadi pada diriku.

Perjalananku dimulai pada 28 Juli 2005. Jadi, hanya seminggu lagi maka genap setahun sudah aku hidup di jalanan. Dari metropolis Beijing yang sibuk, aku sudah melewati jalan yang teramat panjang, melintasi dataran China yang luas hingga k tanah bangsa Uyghur di barat, lalu mendaki pegunungan Atap Dunia hingga masuk ke Tibet, menyelundup dan kejar-kejaran dengan polisi hingga sampai ke Nepal. Aku jatuh cinta pada pegunungan Annapurna, tapi aku harus berjuang menghadapi para penipu di New Delhi. Warna-warni Rajasthan memberikan sekilas pandang tentang beragamnya warna India, dan aku terkesiap oleh jurang kemiskinan yang begitu mencolok di New Delhi.

India mengajarkan padaku bahwa dalam hidup ini semua sudah diatur. Aku jatuh sakit. Aku mengalami titik terendah dalam hidupku. Aku berjuang sendirian dan tidak percaya bisa pulih kembali.

Aku pergi ke Pakistan untuk beristirahat total. Para umat Ismaili di Pakistan utara begitu bersahabat, membantu aku kembali memulihkan semangat. Lalu aku terpukau oleh semangat hidup para korban (lebih tepatnya: survivor) gempa di Kashmir.

Kembali lagi jatuh sakit di gurun Thar, aku dirawat dengan penuh cinta oleh keluarga di sana. Mereka bahkan masih sempat mengajarkan padaku, “Dalam hidup ini tidak penting berapa banyak yang kau kumpulkan, tapi berapa banyak yang kau bagikan, dan bagaimana membuat hidupmu berarti buat orang lain.”

Sekarang aku tinggal di Afghanistan. Dan aku pun masih berjuang di negeri yang keras ini. Kecopetan, ancaman ranjau, kekerasan, kemiskinan, kekasaran, ketakutan, kengerian, fundamentalisme, teroris, bahaya, kekeringan, kepanasan, bahasa, …, tidak mudah untuk beradaptasi dengan negeri ini. Perjalananku masih panjang, dan aku akan melintasi berbagai perjalanan yang berat dan penuh ketidakpastian untuk mengelilingi Afghanistan.

Tetapi, tiba-tiba, kutemukan diriku terlempar kembali ke Beijing.

Aku tidak tahu bagaimana dan mengapa, aku kembali lagi ke titik 27 Juli 2005, ketika aku mengantre di depan loket tiket kereta api di Beijing, masih berusaha memikirkan bagaimana mewujudkan impian perjalanan panjang Grand Overland Journey.

Inilah sindrom pejalan jangka panjang yang disebutkan Lam Li padaku dulu. Mimpi buruk.

Aku begitu sedih harus kembali ke titik awalku. Aku telah mengalami begitu banyak hal dalam setahun terakhir ini, dan aku bahagia karenanya. Semua itu adalah masa laluku, memori yang aku kenang. Tapi aku tidak mau siaran ulang, memutar kembali semua yang telah aku lewati.

Dalam mimpi ini, aku berpikir keras bagaimana caranya harus kembali ke Kunduz dari titik awalku di Beijing, tanpa harus melewati lagi perjalanan yang berat dan panjang. Bahkan ketika aku sedang tidur, bermimpi, otakku berpikir keras tentang jarak, peraturan visa, biaya, risiko bahaya, ….

Tiba-tiba otakku memberikan solusi: PAKISTAN.

Ini adalah nama negara yang muncul langsung dalam otakku. Inilah negara yang paling kucintai, dan paling bisa dicapai dengan mudah dari China, langsung menuju Afghanistan. Visanya tidak susah, dan yang paling penting, Pakistan telah menawarkan cinta padaku. Bahasa mereka pun sudah aku kuasai, dan begitu banyak teman yang aku punya di sana. Aku mau kembali lagi ke Pakistan, berjumpa lagi dengan para sahabat, tempat dulu aku berbagi canda, kegembiraan, juga kesedihan. Mereka adalah teman berdebat politik dan agama, bersama mereka aku berbagi makanan dan air mata.

Bahkan ketika aku sudah terbangun dari mimpiku, nama Pakistan masih menyangkut di otakku.

Aku yakin betul, hari itu aku tidak bermimpi. Itu adalah hari terakhirku di Pakistan, di mana tidak sedetik pun aku bisa terlelap. Meninggalkan Pakistan begitu berat. Semua memori tentang Pakistan dimainkan ulang di otakku. Seorang sahabat meneleponku malam ini, suaranya menenangkan. Tetapi itu semakin membuatku berat meninggalkan negeri ini.

Dalam mimpi, semua memori tentang Pakistan telah menjadi romantis dan berlebihan. Inilah sindrom kerinduan yang kudapatkan, setelah hampir setahun berkelana. Sindrom ini bukannya melemparkanku ke kepulauan Nusantara, tapi justru membawaku ke kesedihan dan kerinduan mendalam…

… untuk kembali ke Pakistan.

 

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

 

Sebuah impian untuk kembali ke... Pakistan (AGUSTINUS WIBOWO)

Sebuah impian untuk kembali ke… Pakistan (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

4 Comments on Selimut Debu 52: Pulang

  1. Apa kabar, mas Agus? Sehat?

  2. Mas , sy favoriting Titik Nol. Bikin bayangan ttg india pakistan afganishtan yg serem jadi lbh manusiawi n beralam indah..

  3. rasanya saya seperti faham perasaan kuat untuk kembali ke pakistan setelah beberapa waktu di sana. saya yang sudah pulang ke malaysia sejak 6 bulan lepas masih terbayang keindahan bumi pakistan, penduduk lokalnya yang melayan kita seperti keluarga, layanan baik luarbiasa.. saya akan kembali ke sana..soon. keep writing!

Leave a comment

Your email address will not be published.


*