Recommended

Selimut Debu 59: Melihat Dunia Luar

Di zaman sekarang, informasi tentang dunia luar jauh lebih mudah didapatkan. Orang Afghan tidak perlu harus menjadi pengungsi dulu untuk melihat kehidupan di dunia luar.

Cukup menyalakan televisi, dan voila, fantasi semua penonton digiring pada sebuah kehidupan di dunia yang sama sekali berbeda. Sekarang acara lagi yang populer di televisi Afghanistan, selain siaran berita, adalah sinetron India yang judulnya “Ibu Mertua Juga Pernah Jadi Menantu.” Anehnya, acara opera sabun yang tidak habis-habis ini justru menjadi favorit para lelaki Afghan yang tampak berjenggot dan beringas.

Sumber informasi lainnya bagi orang-orang di Ishkashim datang dari para tentara asing. Hari ini, para tentara gabungan mancanegara (ISAF) datang dan menyebarkan buletin publikasi (atau propaganda) mereka yang berjudul ISAF News. Dalam bahasa Farsi, nama buletin ini berjudul Sada ye Azadi, yang artinya “Suara Kemerdekaan”.

Dua mobil baja besar berisikan tentara Denmark singgah di Ishkashim. Dalam sekejap mereka dikelilingi para penduduk desa yang begitu gembira menerima pamflet informasi dengan gambar-gambar berwarna. ISAF News terdiri dari beberapa halaman, terlihat seperti koran, ditulis dalam tiga bahasa: Inggris, Farsi, dan Pashto. Isinya beraneka ragam, mulai dari foto-foto Piala Dunia, cerita humor Molla Nasruddin, berita dunia, kegiatan ISAF (sepertinya ini yang menjadi poin utama).

Bagian yang menarik adalah sebuah kolom berjudul “Why I am Here?” yang berisikan wawancara dengan para tentara ISAF. Tentara yang dimuat dalam edisi ini adalah seorang letnan Swedia yang dengan penuh gembira (semua pasti gembira!) menyatakan bahwa alasannya datang ke sini adalah karena Afghanistan adalah sebuah negeri yang cantik terutama di musim panas (!), yang sayangnya dihancurkan dalam sepuluh tahun perang dengan Rusia. Dia datang ke sini adalah untuk menolong Afghanistan, bersama rakyat Afghan membangun kembali negeri mereka.

“Perang melawan Rusia” sepertinya agak kurang tepat sasaran untuk dibaca di sini, di Ishkashim, di mana kebanyakan penduduk sangat mencintai mantan pemimpin rezim komunis Afghanistan, doktor Najibullah. Begitu cintanya mereka, foto-foto Najibullah bisa dilihat di mana-mana di sini, mulai dari restoran, toko, hingga kantor polisi. Poster Najibullah bahkan lebih banyak daripada poster Ahmad Shah Massoud.

Para penduduk desa berebutan untuk mendapatkan brosur selebaran ISAF News yang dibagi-bagikan para tentara ISAF. Seorang lelaki dengan bangganya menunjukkan kalau dia berhasil dapat dua eksemplar publikasi itu. Seorang lelaki lain, duduk di pinggir jalan, dengan konsentrasi penuh membaca lembar demi lembar seolah besok mau ujian. Ketika aku memintanya membacakan bagian yang dia baca, dia menyeringai dan mengaku dia tidak bisa membaca. Hal yang sama dialami oleh lelaki tua tadi yang berjuang keras sambil sikut-sikutan untuk mendapatkan dua eksemplar ISAF News. Dia pun buta huruf. Mungkin daya tarik terbesar bagi mereka adalah datangnya orang asing, para tentara bule berukuran raksasa. Para warga desa yang sudah tua ini tersenyum begitu bahaya setelah bersalam-salaman dengan para tentara kulit putih.

Mehruddin dan Muhammad Naim, dua pedagang Afghan yang berbisnis ke Tajikistan, menawariku untuk mandi bersama di “pemandian umum”. Yang ini, kata mereka, gratis-tis, tidak dipungut biaya apa pun. Tentu saja gratis, karena kami mandi di sungai.

Hidup di desa ini begitu sederhana, begitu nyaman. Warung tempat kita menginap tidak mempunyai toilet, sehingga urusan hajat-berhajat bisa dilakukan di mana pun di tanah. Praktis, kita bahkan tidak perlu menggali lubang tutup lubang. Hanya jongkok, dan selesaikan bisnis. Di pagi hari, tanah tempat hajat kami menjadi tanah subur yang penuh dengan pupuk buatan manusia, diproduksi oleh para pegawai warung, tamu, musafir, dan warga desa. Karena itulah aku juga sangat butuh adanya pemandian yang menyegarkan (dan membersihkan, semoga).

Sungai ini kecil, tersembunyi di balik jalan. Sungai ini mengalir menuju sungai raksasa Amu Darya di bawah sana, sungai bersejarah yang menjadi garis perbatasan negeri-negeri. Airnya luar biasa dingin. Mehruddin berkata, di Tajikitan orang-orang mandi dengan telanjang bulat di pemandian umum. Mereka tidak takut ketelanjangan, tapi di Afghanistan wajib hukumnya untuk menutup tubuh dengan pakaian saat mandi bersama. Dia meminjamiku sebuah celana kolor, dan aku pun mulai “berenang” di aliran kecil sedalam 15 sentimeter.

Kembali ke kedai untuk makan siang, mereka sudah menyalakan generator karena para pengunjung sudah ramai dan semua ingin menonton televisi. Ada beberapa tentara yang datang membawa senapan Kalashnikov. Ini bukan pemandangan aneh di Afghanistan. Atmosfer kedai ini juga dipenuhi aroma mariyuana, dan beberapa orang mengulum naswar, semacam tembakau tapi adiktif. Narkoba bukan barang langka di sini.

Bicara soal kebudayaan narkotika dan obat terlarang, Syed Mohabbat Shah (yang namanya berarti Raja Cinta), ahli farmasi berusia 42 tahun lulusan Cekoslowakia, mengatakan bahwa itu adalah masalah terbesar di sini. Dia bekerja di pusat pemulihan ketergantungan obat di Ishkashim, dan pasien yang dia tangani termasuk perempuan dan anak-anak. Tanaman candu tidak tumbuh di Ishkashim, tetapi mereka membeli dari dataran yang lebih rendah seperti Baharak dan Jurm. Di daerah Ishkashim hingga ke Wakhan, hidup para penganut Ismaili, dan sebagian besar dari pencandu adalah orang-orang Ismaili. Adalah pemimpin umat Ismaili, Aga Khan yang kini tinggal di Eropa, yang memulai program rehabilitasi bagi para pencandu. LSM raksasa yang dimiliki Aga Khan juga membawa pembangunan di Afghanistan, tanpa memandang agama maupun ras.

Ketika malam datang, lagi-lagi warung dipenuhi para pengunjung yang mau makan atau menonton televisi. Orang Afghan sangat religius. Tidak hanya mereka selalu membawa syal di pundak mereka (sehingga mereka bisa mendirikan salat kapan pun), mereka juga selalu bersalat tepat waktu. Saat azan terdengar, televisi langsung dimatikan, dan warung langsung kosong karena semua pergi ke masjid.

Televisi juga menjadi media sosialisasi. Sekitar dua puluhan lelaki di warung serius memperhatikan berita di televisi, lalu mendiskusikan isinya. Kebanyakan mereka berlatar pendidikan rendah, seperti sopir truk, petani, mekanik. Diskusi hari ini adalah tentang situasi di Afghanistan setelah Kementerian Amar Maruf Nahi Munkar yang didirikan Taliban dibubarkan. Kebetulan juga berita hari ini adalah tentang seorang waria yang dihukum karena menculik bocah lelaki, karena keinginannya yang menggebu-gebu untuk mengasuh anak. Para pengunjung restoran tertawa tergelak-gelak saat membahas berita itu. Ah, seandainya aku bisa lebih menguasai bahasa Farsi supaya paham apa yang sebenarnya mereka tertawakan.

Para pengunjung warung, semua laki-laki, sekarang terfokus perhatiannya pada Tolo TV. Waktu menunjukkan pukul 20:30. Saat ini, di seluruh negeri Afghanistan, mayoritas orang sedang menonton sinetron “Ibu Mertua Juga Pernah Jadi Menantu”, serial India yang menjadi perhatian semua orang di Afghanistan.

Bukan hanya Tajikistan yang punya pengaruh di sini. Bahkan negeri India yang jauh pun mengantar fantasi para lelaki (beberapa dari mereka bawa senapan Kalashnikov) terbang melayang-layang.

 

 

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

 

1.Kedatangan tentara ISAF langsung mengundang kerumunan warga (AGUSTINUS WIBOWO)

1. Kedatangan tentara ISAF langsung mengundang kerumunan warga (AGUSTINUS WIBOWO)

2.Serius baca walau tak bisa baca (AGUSTINUS WIBOWO)

2. Serius baca walau tak bisa baca (AGUSTINUS WIBOWO)

3.Kolam tersembunyi (AGUSTINUS WIBOWO)

3. Kolam tersembunyi (AGUSTINUS WIBOWO)

4.Cuci baju sambil mandi (AGUSTINUS WIBOWO)

4. Cuci baju sambil mandi (AGUSTINUS WIBOWO)

5.Segarnya sehabis mandi (AGUSTINUS WIBOWO)

5. Segarnya sehabis mandi (AGUSTINUS WIBOWO)

6.Si bocah pekerja kedai teh menyiapkan makan malam (AGUSTINUS WIBOWO)

6. Si bocah pekerja kedai teh menyiapkan makan malam (AGUSTINUS WIBOWO)

7.Bocah-bocah Afghan terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya (AGUSTINUS WIBOWO)

7. Bocah-bocah Afghan terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya (AGUSTINUS WIBOWO)

8.Kakek pun ingin ganteng (AGUSTINUS WIBOWO)

8. Kakek pun ingin ganteng (AGUSTINUS WIBOWO)

9.Kedatanganku sebagai orang asing juga langsung mengundang kerumunan (AGUSTINUS WIBOWO)

9. Kedatanganku sebagai orang asing juga langsung mengundang kerumunan (AGUSTINUS WIBOWO)

10.Bahkan orang di jalan berhenti beraktivitas melihat aku si orang asing (AGUSTINUS WIBOWO)

10. Bahkan orang di jalan berhenti beraktivitas melihat aku si orang asing (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

5 Comments on Selimut Debu 59: Melihat Dunia Luar

  1. Wih, baru baca paragraf pertama aja udh seru… *lanjutin baca

    Regards
    http://travellingaddict.blogspot.com/

  2. gak ono wong elek neng kono yo ?

  3. Nek wis mulai jenggotan yo elek mbak

  4. Mengangkatkah anda problem kecanduan akan narkotika dan kekerasan wanita yg tinggi(KDRT)di Afganistan?

Leave a comment

Your email address will not be published.


*