Recommended

Selimut Debu 73: Hadiah Ulang Tahun

Setelah perjuangan panjang dari Qala Panjah menuju Ishkashim (yang di luar dugaan, memakan waktu sampai tiga hari karena parahnya transportasi!), aku berjuang untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat, moga-moga bisa mencapai Kedutaan Indonesia di Teheran untuk merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. (Nasionalisme? Mungkin ini gara-gara perbincangan dengan Arnault sebelumnya). Lagi pula, hari ini 8 Agustus adalah hari ulang tahunku yang ke-25. Semoga saja hari ulang tahun ini melimpahiku dengan keberuntungan. Amin.

Jadi hari ini, kami berdua berangkat menuju Baharak, di mana aku bisa mendapat kendaraan menuju Faizabad, dan Arnault berbelok ke utara ke arah Danau Shewa.

Orang Afghan ini punya konsep waktu yang aneh. Ketika kami masih sarapan jam 6 pagi, sopir memburu-buru kami katanya mobil segera berangkat. Tetapi setelah kami duduk manis di mobil, satu jam kemudian mesin baru dinyalakan dan dua jam kemudian kami baru meninggalkan Ishkashim. Matahari sudah sangat tinggi sedangkan perjalanan ke Baharak memakan waktu minimal tujuh jam.

Sekarang semua berbalik arah. Dulu waktu berangkat dari Baharak ke Ishkashim, Baharak terasa seperti kota pasar yang membosankan tapi jalanannya teramat indah. Sekarang, sepulang dari Wakhan, jalanan bergunung-gunung ke Baharak terasa sangat datar, tetapi Baharak dengan barisan toko-tokonya terasa seperti metropolitan New York. Warung-warung, kios, pedagang asongan, penyemir sepatu, semerbak harum kebab, Coca Cola kalengan, sampai permen karet… semua terasa begitu modern dan luar biasa. Dan makan siang kami adalah nasi palao dengan daging panas, plus yoghurt, … aku sudah tidak ingat kapan terakhir kali aku punya makan siang selengkap ini.

Aku pergi bersama lelaki Tajikistan menuju terminal (bandar) bus menuju Faizabad. Seperti biasa, kehadiran orang asing (diriku) langsung menarik perhatian kerumunan dari orang-orang yang sepertinya cukup menganggur hari ini. Aku seperti selebritis yang dikerumuni ratusan fans. Seorang sopir taksi berusaha merayuku untuk mengambil taksi darbast (artinya: pintu tertutup. Taksi eksklusif yang tidak berbagi penumpang). Tidak perlu, banyak orang yang mau pergi ke Faizabad, dan hanya dua jam dari sini.

Seorang lelaki dengan jenggot hitam yang menyebar radial merata di dagunya seperti pancaran separuh bola matahari, menoleh ke arahku setelah mendengarku berbicara dengan orang Tajikistan itu mengenai sewa mobil. Dengan nada yang teramat tidak ramah, dia berseru padaku dalam bahasa Farsi, “Kamu! Dari mana?”

Aku menjawab dalam bahasa Farsi, sama tidak ramahnya, “Dari sana!”

Seperti orang berkuasa, dia menjerit, “Pasport!”

“Aku punya!” kataku.

“Tunjukkan!”

“Tidak!”

Dia semakin marah. Aku tidak akan menunjukkan pasporku kepada orang tidak jelas, dalam situasi tidak jelas, dikelilingi kerumunan yang tidak jelas, di tengah pasar yang tidak jelas. “Siapa kamu? Kamu polisi? Tunjukkan dulu kartumu!” aku berseru padanya.

Dia tidak punya kartu. Lalu dia bilang, dia punya, dan dia akan pergi mengambilnya. Dia pergi ke kantor polisi terdekat, dan datang dengan seorang lelaki yang mengaku polisi. Lelaki berjenggot bundar laksana separuh matahari itu ternyata adalah seorang sopir bosan yang menanti rezeki, dan sekarang senang sekali mendapat seorang “berkuasa”. Aku melihat kartu identitas polisi itu. Dia tidak memakai seragam. Dia berjenggot lebat, sedangkan foto di kartunya tidak. Aku kesulitan memeriksa apakah itu kartu identitasnya yang asli, karena hanya tergambar bendera Afghanistan, bendera Amerika Serikat, dan semua tulisan dalam huruf Arab kecuali “Border Police Training”. Okelah, aku bersedia menunjukkan pasporku, tapi di sudut pasar untuk menghindari kerumunan para lelaki dan bocah-bocah yang begitu penasaran.

Aku pergi ke pojokan jalan di pinggir sebuah kios sepi, mengeluarkan pasporku dari kantong rahasia di jaketku. Bahaya, pasporku menyangkut bersama dengan semua uangku.

Lagi-lagi kerumunan datang menghampiri. Anak-anak itu, para lelaki itu, para penjual makanan, orang lewat, sopir, calon penumpang, dan lain-lain, dan kawan-kawan, dan rekan-rekan, semua mengerumuni dengan penuh rasa ingin tahu. Bukan polisi itu (yang katanya polisi) yang menghalau mereka semua pergi. Akulah yang menghalau kerumunan itu sendiri, dengan bahasa Urdu (hampir tidak ada yang mengerti, kecuali satu atau dua orang).

Lelaki dengan jenggot berbentuk bundar itu dan lelaki lebih muda satunya yang punya kartu tentara, dengan mata berbinar mengamati pasporku. Aku tidak berharap mereka mengerti bahasa Inggris. Mereka bisa membaca nama negara yang tertulis di pasporku, tapi mereka gagal menemukan siapa namaku. Lelaki tentara itu kemudian melanjutkan ke halaman berikut. Cara memeriksanya sangat tidak profesional, lebih mirip pegawai bank menghitung uang, atau cara kondektur bus kota memeriksa karcis. Sekarang mereka mengamati cap imigrasi Malaysia, cap imigrasi Indonesia, visa China, visa India, visa Nepal, dan sekarang berdecak kagum, “oh… ya… 2005… 2005…”, “oh, 2006”, “no, 2005!” Entah apa hebatnya dengan angka-angka tahun itu.

Lama sekali mereka bermain-main dengan pasporku. Aku merasa sangat tidak nyaman pasporku terus menerus di tangan mereka, dan aku sekarang dikelilingi sekitar 30 orang yang tidak berbuat apa-apa selain hanya memandang, atau mungkin mereka berpikir aku adalah sejenis kriminal atau apa. Akulah yang kemudian menunjukkan pada mereka, “Ini visa Afghanistanku!”, sambil menunjukkan mana-mana tanggal yang penting kalau mereka gagal paham, dan setelah itu aku merampas pasporku dari tangan mereka, memasukkan kembali ke sakuku.

Kemarahanku sudah memuncak. Aku harus berjuang keras menahan diri untuk tidak berteriak. Tapi ternyata, hadiah ulang tahunku belum berhenti di sini.

 

 

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

 

1.Meninggalkan Wakhan, Baharak sungguh terasa bagai metropolitan (AGUSTINUS WIBOWO)

1. Meninggalkan Wakhan, Baharak sungguh terasa bagai metropolitan (AGUSTINUS WIBOWO)

2.Perjalanan di Afghanistan membutuhkan mental dan fisik yang kuat (AGUSTINUS WIBOWO)

2. Perjalanan di Afghanistan membutuhkan mental dan fisik yang kuat (AGUSTINUS WIBOWO)

3.Berpisah dengan Arnault di Baharak (AGUSTINUS WIBOWO)

3. Berpisah dengan Arnault di Baharak (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*