Recommended

Terlahir Kembali… Dengan Roh Berbeda/西递宏村的沧海桑田

111111-china-anhui-xidi-hongchun-0111 November 2011

Nenek moyang mereka adalah saudagar hebat.  Kejayaan para saudagar Anhui sudah membahana dan menjadi buah bibir orang-orang di seantero negeri.

Era emas serikat dagang Anhui, yang dikenal sebagai Huishang, berlangsung pada zaman Dinasti Song dan Tang, ketika para saudagar keluar dari lingkungan kampung mereka di Huizhou dan merajai bisnis perdagangan di seantero tanah Tiongkok, bahkan sampai ke Asia Tenggara, termasuk di kepulauan Nusantara. Saking pentingnya pengaruh para saudagar Anhui ini, ada ungkapan legendaris: “Tanpa saudagar Anhui, kota pun tidak akan menjadi kota”.

Lima abad berlalu, dusun Xidi dan Hongchun di selatan kota Huangshan adalah sisa peninggalan ketangguhan nenek moyang. Sejak tahun 2000, kejayaan para saudagar Anhui bukan lagi hanya sekedar kebanggaan warga setempat, tetapi juga menjadi bagian khazanah sejarah dunia. Xidi dan Hongchun dimasukkan ke dalam daftar warisan sejarah UNESCO.

Belasan tahun lalu, saya datang kali pertama ke Xidi. Kala itu, dusun ini belum terbuka bagi kunjungan orang asing. Sopir berani menyelundupkan saya ke sini hanya karena wajah saya mirip warga Tiongkok. Pesannya cuma satu: saya dilarang keras bicara. Karena begitu saya buka mulut pasti langsung ketahuan bahwa saya orang asing, dan tentunya kami akan terlibat masalah. Alhasil, saya hanya bisa menyimpan kekaguman saya dalam bisu. Rumah-rumah kuno dan gelap, disinari secercah percikan sinar matahari yang menyeruak dari lubang di atap, sungguh seperti melemparkan saya ke masa lalu. Jiwa saya membuncah. Tetapi mulut saya tetap terkatup.

Hari ini, di tahun 2011, saya kembali datang ke Xidi. Namun nuansanya jauh berbeda. Tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Dusun ini terbuka bagi siapa saja. Rombongan kami bahkan penuh dengan kolega yang berkulit putih, masing-masing membawa kamera digital berukuran besar.

Danau di tepi dusun masih seperti yang dulu. Kabut pagi baru saja menyingsing, menyisakan refleksi gerbang dusun yang terpantul di atas air yang membiru. Masih nuansa mistis yang sama. Nenek moyang meninggalkan mereka sebuah dusun yang penuh sesak dengan rumah-rumah tua, masing-masing dengan kemolekan arsitektur, kerumitan dekorasi, dan lembaran sejarah yang berbeda. Dan inilah yang sekarang menjadi daya tarik utama Xidi sebagai bagian dari magnet pariwisata di Anhui.

Pintu gerbang Xidi (AGUSTINUS WIBOWO)

Pintu gerbang Xidi (AGUSTINUS WIBOWO)

Arsitektur kuno menjadi daya tarik utama di Xidi dan Hongchun (AGUSTINUS WIBOWO)

Arsitektur kuno menjadi daya tarik utama di Xidi dan Hongchun (AGUSTINUS WIBOWO)

Industri turisme di Xidi terbilang “matang”. Ini berarti, sejak dibuka untuk turisme pada tahun 1989 dan masuk daftar UNESCO pada tahun 2000, pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung terus digenjot, dan dusun ini semakin kebanjiran turis dalam dan luar negeri. Para guide pun disediakan gratis di pintu masuk, berseragam jaket merah, siap memandu barisan turis. Perjalanan tipikal di Xidi: masuk rumah kuno, mendengar penjelasan pemandu soal arsitektur dan sejarah, keluar, berjalan di gang sempit, masuk rumah kuno berikutnya. Ini adalah perjalanan “dari rumah ke rumah”.

“Coba lihat altar ini. Dalam kultur Huizhou kita selalu mengutamakan keindahan yang simetris. Tetapi altar ini tidak simetris. Mengapa?” Sang pemandu, gadis mungil bertopi putih yang bicara melalui mikrofon elektrik, melemparkan pertanyaan yang kemudian dijawabnya sendiri. Mata saya masih merambahi sudut-sudut ruangan remang-remang itu perlahan. Hanya dua menit. Pemandu tadi sudah keluar ruangan. Kini dalam ruangan yang sama, sudah datang pemandu lain, dengan rombongan selusin turis lokal yang lain. “Coba lihat altar ini! Dalam kultur Huizhou kita selalu mengutamakan keindahan yang simetris….”

Suara puluhan pemandu sambung-menyambung seperti echo dengan interval dua menit. Cerita yang sama diulang ribuan kali, sama persis.

Dari sudut ruangan, menjerit seorang gadis berambut pirang. “Ayo! Belilah! Belilah! Kami adalah pemilik rumah ini, jadi tidak perlu membayar uang sewa. Murah! Murah! Semua barang bisa diskon 30 persen!” Ia duduk di atas kursi tua yang usianya setara dengan usia nenek buyutnya, di hadapan meja tua yang diseraki barisan buku-buku dan suvenir.

Rumah peninggalan nenek moyangnya kini adalah destinasi wisata wajib para turis ke Xidi, salah satu yang terindah di dusun ini. Sejarah, baginya, bukan sekedar kisah di atas buku. Sejarah adalah nafasnya. Ia tinggal dalam sejarah, hidup bersama sejarah. Pemerintah menetapkan rumah keluarga ini sebagai bagian dari warisan sejarah. Mereka masih diizinkan tinggal di sini, tetapi tidak boleh merusak, mengubah, atau menambah apa pun tanpa persetujuan dari pemerintah, yang mempertimbangkan banyak aturan ketat atas nama pelestarian peninggalan sejarah. Untuk pemeliharaan ini, mereka mendapat kompensasi dari pemerintah dan pemasukan rutin dari biro tur yang membawa turis.

Mereka juga wajib membuka pintu mereka bagi aliran manusia yang serba asing, ratusan tamu-tamu tak dikenal setiap hari yang dengan liar menjepretkan kamera ke semua sudut rumah mereka. Jejak-jejak kaki ratusan manusia asing mengotori halaman dan balairung rumah, tetapi pintu harus senantiasa terbuka: tujuh hari seminggu tanpa jeda, sepanjang jam kerja loket penjual tiket.

Ini sangat kontras dengan kehidupan nenek moyang mereka 500 tahun silam. Coba tengok, arsitektur tradisional khas Huizhou. Rumah-rumah di sini dibangun dengan tembok tinggi, terlihat dingin dan datar. Mereka memegang teguh prinsip implisitas (hanxu), tidak memamerkan kekayaan terhadap orang luar. Orang kaya menghiasi rumahnya dengan ukiran yang detail dan dekorasi mahal, tetapi itu hanya dalam interior rumah, sama sekali tidak kasatmata bagi orang luar. Tengoklah juga bagaimana rumah-rumah di sini tidak memiliki jendela, sehingga semua mengandalkan rongga di langit di halaman sempit yang tertutup tembok tebal. Ini karena para pemuda dari keluarga saudagar melanglang buana mengeruk kekayaan, sehingga yang tertinggal di rumah hanyalah orang tua dan anak-anak. Kekayaan yang melimpah ini tentu menjadi incaran para perampok dan pencoleng, karena itu mereka membangun rumah dengan dinding tinggi tanpa jendela ditambah pengamanan pintu berlapis-lapis. Jelaslah, betapa tertutup sifat nenek moyang itu.

Turisme memberi arti baru terhadap arti kata privasi. Garis batas privasi sudah bergeser dari pintu gerbang utama lebih jauh ke dalam rumah, atau ke loteng. Generasi penerus yang masih tinggal di sini harus menerima kenyataan bahwa tempat tinggal mereka adalah milik negara dan sebagian rumah mereka menjadi arena publik.

Leluhur mereka dulunya adalah para pedagang ternama. Keturunan mereka kini adalah penjual buku dan kartu pos (AGUSTINUS WIBOWO)

Leluhur mereka dulunya adalah para pedagang ternama. Keturunan mereka kini adalah penjual buku dan kartu pos (AGUSTINUS WIBOWO)

Semua yang tinggal di desa ini kini hidup dari turisme dan sangat menyambut datangnya turis. Tapi ingat pesan di tulisan di mana-mana: "No Photo!" (AGUSTINUS WIBOWO)

Semua yang tinggal di desa ini kini hidup dari turisme dan sangat menyambut datangnya turis. Tapi ingat pesan di tulisan di mana-mana: “No Photo!” (AGUSTINUS WIBOWO)

Dulu, pada zaman keemasan saudagar Anhui, komoditas utama mereka adalah garam, teh, dan sutra, membawa mereka merajai dunia perdagangan. Kemudian, seiring dengan pergantian dinasti dan penguasa berkali-kali, kejayaan itu menyuram. Keturunan para saudagar besar dan pejabat kuno itu malah menjadi kaum tani miskin di dusun terbelakang. Turisme, yang datang di penghujung abad XX, perlahan membangkitkan kembali dusun ini. Pintu gerbang perlahan terbuka, ekonomi perlahan membaik, gaya hidup perlahan berubah. Generasi kedelapan saudagar garam bermaga Hu (semua orang di Xidi bermarga Hu) kini duduk menawarkan buku dan brosur wisata, sedangkan generasi kedelapan pejabat tingkat sanpinguan (sekarang setara gubernur) menjajakan kartu pos. Di dusun Hongchun—dusun serupa yang tata letaknya menyerupai seekor lembu—generasi kedelapan seorang saudagar kaya pemilik rumah besar sibuk membubuhkan tanda tangan dan cap istimewa di atas buku sejarah lokal yang dijual seharga 40Y. “Buku ini adalah tulisan pakar terkenal,” katanya. Pakar itu bukan dirinya sendiri.

Kisah jaya-ambruk-bangkit yang paling tragis mungkin adalah keluarga terkaya di Hongchun, Wang Dinggui (汪定贵yang namanya berarti “Pasti Berharga”). Saudagar kuno ini saking kayanya sampai menggunakan 4 kilogram emas murni 24 karat untuk melapisi ukiran di dalam rumahnya. Ada beberapa ruangan besar di sini, termasuk vihara kecil dan ruangan para selir. Pintu rumahnya punya empat lapis pengaman, mulai dari kunci gembok, kayu penyangga, sampai bodyguard manusia. Dia juga sanggup membeli gelar pejabat sebagai wupinguan (setingkat walikota zaman sekarang).

Tetapi, keturunannya tidak satu pun yang tersisa di sini. Pada zaman Revolusi Kebudayaan, orang kaya macam keluarga saudagar ini, yang juga memiliki berhektar-hektar tanah di sekitar kampung, adalah kelompok tuan tanah yang menjadi musuh kaum proletar. Semua keturunannya kocar-kacir, melarikan diri sampai ke Kanada, Amerika, Hong Kong, bahkan Malaysia. Para tetangga yang ingin melindungi rumah ini dari perusakan berinisiatif menutupi ukir-ukiran indah dan mahal dalam rumah ini dengan menggunakan semen, kemudian masih disamarkan di bawah selubung banner slogan-slogan komunisme.

Desa Hongchun yang berada di tengah air (AGUSTINUS WIBOWO)

Desa Hongchun yang berada di tengah air (AGUSTINUS WIBOWO)

Apakah kita para turis adalah kaum voyeur? (AGUSTINUS WIBOWO)

Apakah kita para turis tak lebih dari kaum voyeur—pengintip yang mencari kepuasan dari mencuri lihat privasi orang? (AGUSTINUS WIBOWO)

Turisme, lagi-lagi, adalah penyelamat sejarah. Rumah kuno Wang Dinggui dikkukuhkan menjadi bangunan peninggalan sejarah, lalu direstorasi. Ukir-ukiran terselubung di balik semen yang memadat kini sudah dipulihkan, dan masih memancarkan sedikit kemilau emas dari zaman keemasan itu. Rumah besar ini dikunjungi jutaan orang, semua tentu berdecak kagum akan kekayaan Wang Dinggui dan citarasa seninya yang luar biasa. Rumahnya adalah sebuah perjalanan sejarah: hidup, mati, lalu terlahir kembali dalam esensi berbeda—sebagai museum.

Menyusuri Xidi dan Hongchun adalah perjalanan merenungi lintasan dimensi sejarah. Naik turun, jatuh bangun, membuat saya mau tidak mau jadi teringat pepatah ampuh bangsa Tionghoa: kekayaan tidak akan melewati tiga generasi (semoga kemiskinan juga tidak lebih dari tiga generasi). Nenek moyang mereka, para saudagar Hui yang tersohor itu, begitu gagah berani mendaki gunung, menuruni lembah, melintasi gurun, menyeberangi lautan, melanglang dunia sampai ke negeri jauh di seberang lautan untuk berdagang. Keturunan generasi kedelapan justru tersekap di rumah tua bersama kebanggaan akan nenek moyang, memperdagangkan buku, VCD, brosur wisata, dan pernak-pernik suvenir kepada turis yang datang dari seberang lautan. Rumah-rumah kuno dan kebanggaan masa lalu kini berubah fungsi menjadi losmen, warung, dan toko yang menjual semua jenis suvenir, mulai dari baju, kain, kalung, poster, sampai regalia komunisme era Mao.

“Kehidupan sekarang jauh lebih baik,” kata kakek yang juga keturunan ke-8 marga Hu pemilik rumah besar di jalan utama Xidi, “Sebelum pariwisata dibuka, kami sangat miskin. Siapa yang sanggup merawat rumah tua ini kalau bukan berkat pemerintah? Dan karena turis, kami jadi dapat uang.”

 

Refleksi dari desa tua (AGUSTINUS WIBOWO)

Refleksi dari desa tua (AGUSTINUS WIBOWO)

 

 

Translated by Gao Shiyuan

 

西递宏村的沧海桑田

印尼语部记者 Agustinus Wibowo

他们的祖先是成功的商人。徽商创造的传奇广为流传,谱写了中国经济史上的一段佳话。

历史上,徽商所经历的黄金时期,约在唐宋年间。当时的徽商从古徽州出发,其经商路线不仅遍布全中国,还曾至抵东南亚,当然也包括今天的印度尼西亚。在中国流传着这样一句话,“没有徽商,市不成市。”由此足见徽商在中国经济史上举足轻重的地位。

弹指一挥间,五百年也好似匆匆而过。坐落在黄山市南部的西递、宏村是祖辈留给后人的珍贵遗产。2000年,这两个村被联合国教科文组织列入《世界文化遗产名录》。自此,徽商的历史成就不再仅仅是当地居民的骄傲,也成为世界历史遗产中独具特色的一部分。

十几年前,笔者第一次来到西递。当时,这个村子还没有对外国人开放。司机大胆邀请我来这里参观,只因我是个长着“中国脸”又热爱中国文化的外国人。但是对我提了个苛刻的条件——严谨说话!因为一旦开腔说话,我这个“老外”身份必然露馅儿。因此,我只能默默地在心里表达自己对这个地方的喜爱……一缕缕明媚的阳光透过徽派古民居的天井照耀在脸上,那一刻,我仿佛被掷回时光的彼岸,内心深深震撼,却依然紧闭双唇。

Betapa makmurnya para pedagang Anhui yang membangun desa ini ratusan tahun silam (AGUSTINUS WIBOWO)

Betapa makmurnya para pedagang Anhui yang membangun desa ini ratusan tahun silam (AGUSTINUS WIBOWO)

如今,在2011年,我到西递故地重游,感觉这里的氛围与当年有着天壤之别。无须遮遮掩掩,这个村子已经完全对外开放。我们的记者团成员不乏惹眼的白人“老外”,而且每个人手中都抓着沉甸甸的专业单反相机,却可以“长驱直入”,用相机镜头记录下我们在这个村子里的所见,可谓尽情尽兴。

尽管物换星移,小村外围的一泊湖水却一如当年的清澈与沉静。晨雾刚刚散去,碧蓝的湖面映着村头石牌坊的倒影,此情此景,仍似当年,笼罩着神秘的气息。在这个江南村庄里生活过的祖祖辈辈,给世人留下了如许别致的徽派建筑——典雅的外观、精细的内部装潢,沧海桑田的历史瞬间也以层层叠叠的方式留存其中,令人回味悠长。西递村美轮美奂的徽派建筑群,现已成为安徽境内重点旅游观光景区之一。

可以说,西递旅游业的发展已相当成熟。这意味着,自1989年实施旅游开发到2000年列入联合国教科文组织的《世界遗产名录》,再到致力于向世界推广安徽旅游的今天,西递一直致力于完善其基础设施建设、努力提高游客的舒适度,吸引了大批海内外游客。在村口,还有一批身着红色夹克衫、训练有素的导游,随时准备着免费引导游客游览村庄。典型的西递之旅包括:零距离探访古老的徽派建筑、聆听导游讲述当地的建筑与历史、走出老宅、徒步经过狭窄的胡同、进入下一个房子——我想,这就是中文所谓的“挨家挨户”吧。

“请看这个祭坛。在徽州文化中,我们始终视对称为美。但这个祭坛却是不对称的,为什么呢?一位戴着白帽子、手持电子麦克风的导游小姑娘抛出了一个问题,随后又自问自答起来。约莫只有两分钟,当我的眼睛还在慢慢适应房间昏暗的光线,导游就已带领大家走出了房子。紧接着,刚才那个房间便立刻涌入了另一个导游和十几个游客。“看看这神坛!在徽州文化中,我们始终认为对称的是最美的……”现在这位导游的声音仿佛是两分钟前的“回音”,同样的情景继续在同样的地方上演,简直可以说是“一模一样”。

这厢,房间的角落里,一个染着金发的姑娘对大家说:;来看看吧!需要点什么?这房子是我们自家的,不用付租金,所以价钱非常非常便宜!所有东西都可以打七折哦!只见这位店主坐在年龄与她祖母相当的古旧椅子上,面前的桌子上摆满了待售的旅游画册和纪念品。

祖辈留下的老房子,是西递村最美的风景,也使这座徽派村落成了远近闻名的旅游目的地。历史,对西递来说,绝不只是记在书页上的故事,而是她的呼吸和命脉。西递是历史的遗存,她的价值也恰因历史而彰显。西递的徽派民居,尽管已被政府列为历史遗迹,但居民仍可居住在他们的老宅里,其要求是:为了保护文物,必须严格遵守相关规定,没有政府的许可,绝不能擅自破坏、改变、或增任何建筑设施。屋主们会从政府获得相应的房屋保养费,并从带团前来参观游览的旅行社获得一部分收入。

Ratusan turis membanjiri desa ini setiap harinya (AGUSTINUS WIBOWO)

Ratusan turis membanjiri desa ini setiap harinya (AGUSTINUS WIBOWO)

Rumah mereka telah menjadi domain publik (AGUSTINUS WIBOWO)

Rumah mereka telah menjadi domain publik (AGUSTINUS WIBOWO)

这里的居民习惯了向外面的世界敞开大门,每天总有数百名素不相识的观光客,手执相机疯狂地抓拍他们家的各个角落,院子和房间也因此变得嘈杂。尽管如此,房门却是每周七天全天开放,工作时间无限售票。

可以说,上述生活方式,与他们祖先500年前的生活大相径庭。接下来,就让我们一起看看典型的徽派传统建筑吧。这里的房屋建在高墙之内,看上去有些冷清和平淡。他们坚持“含蓄”的原则,不向外人炫耀财富。家底殷实的大户人家,只会在房屋内部用丰富而昂贵的的雕刻装进行装饰,因此,仅从房屋外观来看,外人完全难以分辨屋主的家庭状况。再想象一下,这里的房子是没有窗户的,在高墙的遮蔽下,光线仅仅来自不大的天井。当年,由于村里的青壮年大都外出经商,留守在家的往往只是老人和小孩,家中的财富当然会招惹强盗和小偷,因此他们建造有窗户的屋子,并辅以上高高的院墙和层层的房门,才感到安全。由此,我们或许可以推断,当地人的祖先性格较为封闭和保守。

旅游,给“隐私”一词赋予了新的含义。在这个特殊的地方,隐私的边界已经跨过第一层院门,“登堂入室”,直至房间和阁楼。

早先,在徽商的鼎盛时期,凭借其主要商品盐、茶叶、丝绸而参与到世界贸易中。随后,随着历代政权的更迭,曾经声明显赫的徽商渐渐走了下坡路,他们的子孙有些甚至失了家业,沦为最贫困的村民。兴起于20世纪的旅游业,给这个古老的徽州村落带来了复苏的生机。随着开放的程度日益加深,当地经济也渐渐跟紧了时代的步伐,当地人的生活方式也随之悄然改变。

在一位胡姓盐商(西递大多数人家都姓胡)的第八代传人家中,售卖图书和旅游小册子,而一位当年三品大员(相当于现在的省长)的第八代传人,则在家中出售各色各样的明信片。在位于古黟县一座奇特的牛形古村落——宏村中,当地某大户人家的第八代传人正忙着给家里出售的当地地方史图书加盖印章,这本书的售价为40元。“这本书是由著名专家撰写的,不是我写的。”他说。

由盛而衰的徽商故事中,最悲惨的可能要属汪定贵了。(汪定贵—他的名字的是“定然福贵”之意。)。这名古徽州的富商用百余两纯金给房中的雕刻镶边。在他的宅子里,包含一个小寺庙和若干妾室的偏房。他家设有几层防盗锁,从门锁、木栅到“保安”,一应俱全。他还为自己买了官,相当于今天的市长职位。

可惜,他的后人中没有任何一个得以留在大宅里守业。文革期间,村里拥有豪宅和良田的富商作为地主,是批斗的对象。因此富商的后代便作鸟兽散,远赴加拿大、美国、香港、甚至马来西亚定居了。邻居们为了帮助保护这座宅子,用水泥覆盖了房中昂贵精致的雕饰,并在房前屋后写下标语,最终使之得以留存至今。

此外,旅游,也是古建筑的拯救者。王定贵的豪宅被列入历史遗迹,并在政府和村民的努力下成功复原。隐藏在水泥下的雕刻重见光明,依然泛着微微的金色光泽,记录着当年王家极盛的“黄金时代”。千万名游客曾瞻仰过这座豪宅,无不惊叹于王家当年的财富和宅子所体现的建筑艺术。这座房屋经历的兴衰与嬗变,也正如历史发展的轨迹:生、死、然后脱胎换骨——作为博物馆(或博物馆的藏品),以另一种形式重新面对世界。

Bangunan kuno di sini merupakan destinasi favorit untuk lokasi foto pernikahan (AGUSTINUS WIBOWO)

Bangunan kuno di sini merupakan destinasi favorit untuk lokasi foto pernikahan (AGUSTINUS WIBOWO)

Lukisan keabadian masa lalu dan masa kini (AGUSTINUS WIBOWO)

Lukisan keabadian masa lalu dan masa kini (AGUSTINUS WIBOWO)

漫步西递、宏村,是见证和思考安徽旅游业发展历史轨迹的过程。潮起潮落、跌宕起伏,让我不禁想起一条中国谚语:富不过三代。(我希望贫穷也不要超过三代)。村民们的祖先——闻名世界的徽州商人们,勇敢地翻山越岭、漂洋过海,到世界各地做贸易。如今,他们的第八代传人们,守着祖先遗留下来的老屋和声誉,在家中向海内外游客处售书籍、光碟、旅游宣传册、纪念品和小饰物等。这些古徽州的民居,如今大都改成了旅馆、咖啡馆和出售服装、食品、饰品和明信片的商店。

“现在的生活比过去好太多了!”一位老爷爷如是说。他是西递某大户人家的第八代传人。“发展旅游业之前,我们的生活很困难,如果不是政府的扶持,谁有能力斥巨资修复和保护这些老房子呢?因为游客的到来,我们的收入也增加了。“

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

3 Comments on Terlahir Kembali… Dengan Roh Berbeda/西递宏村的沧海桑田

  1. “Ia duduk di atas kursi tua yang usianya setara dengan usia nenek buyutnya.”

  2. Beberapa hari ini mas agus gak posting tulisan perjalanan di papua nugini lagi
    Penasaran banget lo mas agus kelanjutannya..hehe

  3. Sobar Castro Sabar ya, saya perlu break dulu beberapa hari biar segar lagi. Dalam waktu dekat saya lanjut lagi :)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*