Recommended

Byron Bay, 31 Juli 2014: Negara Orang Tua

Pramugari Qantas

Pramugari Qantas

“Australia adalah negara orang tua,” kata Celine, pelajar asal Indonesia yang sudah tinggal di Melbourne selama empat tahun untuk belajar teknologi pangan, “Setelah jam lima semua toko tutup dan sepi. Sama sekali tidak fun.”

Saya dan Celine berbagi tempat duduk dalam pesawat menuju Sydney. Saya menuju Gold Coast, dan dia transit menuju Melbourne. Biasanya dia menumpang Garuda, yang mempunyai layanan penerbangan langsung dari Jakarta ke Melbourne. Tetapi karena tidak kebagian tiket, dia terpaksa menumpang pesawat Qantas ini.

Begitu memasuki pesawat, semua penumpang disambut pramugari bertubuh gemuk dan berbibir tebal dengan lipstik mengilap, usianya saya duga sudah mendekati setengah abad. “Welcome, Sir,” katanya sambil tersenyum ramah. Kalau di negara kita, ataupun di kebanyakan negara Asia lainnya, pramugari umumnya gadis muda, tinggi, semampai, berwajah atraktif, para pramugara di penerbangan Qantas ini adalah lelaki paruh baya berkepala botak sedangkan para pramugarinya juga berumur setidaknya empat puluh tahun dan sama sekali tidak bisa dibilang ramping. Saya sempat bertanya-tanya, apakah kita orang Indonesia telah melakukan diskriminasi terhadap orang tua dan orang jelek untuk banyak jenis profesi?

Saat pesawat mengudara, para pramugari dan pramugara memeragakan petunjuk keselamatan, mengikuti penjelasan panjang lebar dari corong pengeras suara dalam bahasa Inggris dan Melayu Malaysia. Penjelasan ini sangat mendetail, penumpang bahkan diingatkan bahwa “setiap penerbangan Anda mendapat tempat duduk yang berbeda, sehingga letak pintu darurat bagi Anda pun akan berbeda. Perhatikanlah letak pintu terdekat dan tanda yang menunjukkan pintu darurat …” Setelah itu, penumpang masih diberi penjelasan panjang lebar tentang penyakit DVT (Deep Vein Thrombosis), bahwa darah bisa menggumpal pada pembuluh darah vena dalam perjalanan panjang, bahwa kita bisa mencegahnya dengan sedikit melakukan gerak fisik di bangku (yang juga dijelaskan dengan mendetail), dan bahwa kita juga bisa mengatasinya dengan banyak minum air. Setelah pesawat stabil pada ketinggiannya, penumpang diberitahu bahwa pramugara dan pramugari akan membagi makanan dan bahwa “dalam penerbangan ini semua penumpang dilarang tidur di lantai, termasuk anak-anak.”

Celine tertawa tergelak-gelak. “Serius mereka perlu kasih pengumuman untuk itu? DVT sudah, cara makan cara menyalakan layar televisi sudah, sekarang tidur pun harus diajari?”

Untuk mengurus visa Australia, saya harus mengisi formulir yang sepanjang 21 halaman, yang begitu banyak kolom dan pertanyaan harus dijawab, beberapa pertanyaan seperti ujian psikologi (“Jika YA silakan melanjutkan ke bagian F, jika TIDAK lanjutkan ke pertanyaan berikut”). Sebelum mengisi visa, kita harus mempelajari aturan visa Australia, yang banyak sekali jenisnya dan keterangannya. Belum lagi aturan keimigrasian Australia, tentang barang-barang apa yang bisa dibawa masuk dan tidak, yang dijelaskan dengan begitu mendetail setidaknya untuk 10 halaman. Saya berencana mengirimkan minyak telon kepada seorang teman di Melbourne melalui pos, dan untuk itu saya harus membaca 4 halaman mendetail tentang bagaimana cara jenis-jenis cairan yang bisa dikirim atau tidak dan bagaimana cara mengepaknya supaya aman.

Kami masing-masing mendapat kertas yang berisi pilihan menu dalam penerbangan, menggunakan bahasa Inggris yang diterjemahkan dengan sangat teliti ke bahasa Melayu (Saya sempat berpikir keras apa itu “nasi kukus” sebelum saya melihat bahasa Inggris-nya: steamed rice). Too much information adalah frasa yang digunakan Celine untuk menggambarkan Australia. Sebagai frequent flyer Qantas, dia baru saja menerima pemberitahuan dari Qantas bahwa maskapai itu sedang mengalami kesulitan keuangan, bahwa mereka telah mengurangi jumlah pegawai, dan bahwa mereka berharap para pelanggan tetap menaruh kepercayaan pada mereka. “Padahal jika mereka tidak bilang-bilang, aku juga tidak tahu,” kata Celine, “Gara-gara surat itu aku tahu mereka lagi bangkrut.”

Australia adalah negara yang terkenal paling ketat aturan beacukainya

Australia adalah negara yang terkenal paling ketat aturan beacukainya

Pesawat mereka, sebagaimana etos kerja mereka, selalu menekankan punctuality, ketepatan waktu.Dalam perjalanan pesawat dari Sydney ke Gold Coast (yang mengalami keterlambatan 30 menit dan sudah membuat para penumpang mengeluh keras-keras), penumpang di bangku samping saya adalah seorang perempuan Australia paruh baya bernama Katrina Robinson, seorang tenaga pengajar kepemimpinan di Universitas Wollongong. Dia bertanya kesan saya akan Australia, dan saya menceritakan tentang betapa detailnya pemberitahuan dan peraturan di Australia.

Dia tertawa tergelak. “Ada yang bilang, Australia adalah negara yang over-regulated. Terlalu banyak aturan,” katanya.

Datanglah pramugara menawari kami minuman. “So you want something to drink? Juice or softdrink?”

“Apple juice, please?” saya menjawab.

Orange juice?

What juice do you have?

Orange juice, and…,” katanya sambil menggoyangkan kotak jus jeruk di tangan kirinya sementara tangan kanannya meraih kotak jus lain di kereta dorong, lalu menunjukkannya padaku, “Orange juice.

Kristina tertawa dan bertanya padaku, “Do people have this sense of humor in Indonesia? Apakah lelucon ini tidak akan membuat orang Indonesia tersinggung?”

Kristina pernah ke Bali 15 tahun lalu, dan itu merupakan culture shock baginya. Klakson di sini, macet di sana, gubuk-gubuk kumuh bertebaran, pengemis dan penipu uang turis. Benar, dia tahu maskapai penerbangan Indonesia mendapat penghargaan untuk pelayanan terbaik, tetapi dia tidak yakin orang Australia akan mengapresiasi itu. Baginya, cara pramugara Qantas bergurau padaku adalah sebuah pelayanan yang tak akan terlupakan, karena humor itu personal. Sedangkan di Thailand atau Indonesia, para pramuniaga atau pramugari tersenyum dengan senyum yang cantik yang sama, dan memberikan senyum itu pada semua orang.

Saking sempurnanya, saking cantiknya, saking universalnya, semua itu menjadi generik. Indah, tapi takkan membuat berkesan.

Mobil yang mengangkut saya dari bandara Gold Coast menuju Byron Bay melaju di atas jalan beraspal mulus yang melintasi padang-padang rumput dan hutan tanpa penghuni di kiri dan kanan. Luas Australia hampir empat kali lipat luas Indonesia, dengan jumlah penduduk hanya sekitar 23 juta jiwa, tak sampai sepersepuluh penduduk Indonesia. Gold Coast sudah terbilang kota besar di Australia (urutan ke-6), walaupun penduduknya tak sampai 600 ribu jiwa, bahkan lebih kecil daripada kabupaten di Indonesia. Jalan beraspal mulus Australia melintasi padang dan hutan tanpa penduduk, sedangkan di Indonesia, banyak daerah yang penuh penduduk tapi tak punya jalan.

Pantai Byron Bay

Pantai Byron Bay

Byron Bay adalah kota kecil yang sunyi, merupakan salah satu pusat wisata di Australia yang terkenal oleh keindahan pantainya. Di sini tidak ada gedung tinggi, semuanya masih dipertahankan secara tradisional. Negara orang tua, seperti kata Celine, aku juga melihat pengumuman berbagai organisasi yang memberikan layanan perawatan kaum manula, atau layanan kesehatan, atau rumah peristirahatan. Saya dengar, berbeda dengan festival penulis yang pernah saya hadiri di Indonesia yang penuh dengan mahasiswa dan anak muda, festival penulis yang akan saya hadiri di Australia ini pesertanya akan didominasi kaum lanjut usia. Jumlah penduduk berusia di atas 65 tahun terus meningkat, sementara prosentase generasi muda dan angkatan kerja terus menurun. Hal ini sehubungan dengan meningkatnya ekonomi (dibandingkan tahun 1970an), menurunnya fertilitas, bagusnya layanan kesehatan dan keamanan sehingga penduduk berusia lebih panjang.

Negeri ini tampaknya memang sangat nyaman untuk melewatkan hari tua, di tengah kedamaian dan kerapian total. Rumah-rumah vila bertebaran jarang-jarang, dengan halaman rumput hijau dan pohon-pohon rindang. Begitu teratur. “Dilarang mendirikan tenda” tulis rambu di samping trotoar, disambung tulisan “Dilarang parkir”, disambung tulisan “Dilarang membunyikan klakson, pelanggar akan didenda 1000 dolar”.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

25 Comments on Byron Bay, 31 Juli 2014: Negara Orang Tua

  1. Wah! Padahal saya tahunya Byron Bay iti kota hippie yang dipenuhi anak muda yang bersantai-santai. Apa udah banyak berubah ya?

  2. Status yg puanjang…. #ngos2an

  3. Selalu suka dengan hal kecil namun personal, macam juice dan pramugari tadi..

  4. Dilarang membunyikan klakson, pelanggar akan didenda 1000 dolar” kalo diberlakukan di jkt pemda cepet kaya :)

  5. Menarik sekali….:)

  6. Pramugari gemuk ?? Hmm.. Menarik

  7. Sama spt klm, pramugarinya sdh tua dan gemuk. Selama sy naik Qantas/jetstar kok belum pernah pramugarinya ngajarin hal2 yg ngga penting ya

  8. Waow.. di larang membunyikan klakson. Asik ituh!

  9. Kerren bangett tulisanya, saya sebagai pembaca merasa tidak bosan membacanya m/. Ditunggu tulisan selanjutnya mz (҂’̀⌣’́)9
    Mz agustinus kapan2 mau yaa jadi guru di akademi berbagi jember share pengalaman dan ilmunya (´▽`)/

  10. Enakan di Indonesia ya

  11. Nah dugaan saya, karena di negaranya over regulated makanya banyak turis dari australia yang berlibur di bali kayak orang gak tahu aturan. Misalnya naik sepeda motor gak pake helm, mabuk sambil teriak2 di jalan

  12. kita harus eksodus kesana.tempatnya masih lega bro.

  13. Kalo di pikir2, bener juga ya orang Indonesia terbiasa mengasosiasikan beberapa profesi dengan mereka2 yg masih muda, cantik & tampan.

  14. mantap ulasannya sdh lama aku tak membaca tulisan mas Agustinus

  15. Kpn dibukukan mas? Asia kan sdh. Skrg merambah ke australi ya. Nunggu petualangan mas agus ke antartika..:)

  16. Wah ini bakal buku baru yaa??

  17. Hi Bro Agustinus ,first visit to Australia? Negeri yg nyaman buat pensiun meski horornya disana gak ada istilah looking after ur parents. Kalau udah tua ya ditinggal di panti jompo. Setiap kamar dikasi tombol, setiap hari hrs pencet sekedar penanda kalau ybs masi hidup….

    Hehehe anyway have a great holiday! i like all ur books ! Excellent work.

    Jeremy

  18. Sekali klakson 1000 dolar, lumayan ya :3

  19. Tulisannya setiap kali mmbacanya sslu berimajinasi,,,,atraktif

  20. Begitu banyak hal yg masih jd pr…!

  21. Well, kami di NZ, terutama di luar Auckland, sangat menikmati toko dan mal yang tutup di atas jam 5. Kenapa? Ada lebih banyak waktu untuk bersama keluarga. Pekerja2 di toko masih punya banyak waktu di rumah setelah kerja. Taman2 tersedia gratis untuk dinikmati dengan segala fasilitasnya, pantai hanya 5 menit dari rumah bebas macet, dan fasilitas untuk orang tua dan anak2 sangat bagus sekali. Mungkin kawan2 yang tinggal di Jakarta dan kota besar di Indonesia harus mulai mengurangi konsumerisme dan jalan2 di mal.

  22. di GIA masih ada sih beberapa saya jumpai pramugari dan pramugara yang sudah senior,tapi tetap selalu saja ada Gadis-gadis muda yang cantik dan selalu tersenyum ramah ke pelanggan

Leave a comment

Your email address will not be published.


*