Recommended

Articles by Agustinus Wibowo

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

[Detik]: Panggung Agustinus Wibowo dan Yu Hua di BIBF 2016

Detik Beijing – Bermula dari Beijing, Agustinus Wibowo bermimpi ingin melakukan perjalanan ke Afrika Selatan. Ia pun melakukan perjalanan dari Tibet, Nepal, India, Pakistan, dan negara-negara lainnya. Di ajang Beijing International Book Fair (BIBF) 2016, Agustinus bersama Yu Hua membicarakan tentang identitas, perjalanannya menulis dan soal budaya dua negara. Penulis ‘Titik Nol’ itu membicarakan tentang identitas ketika dirinya lahir. “Saya dibilang orang Cina dan ketika saya belajar di negara ini, saya dibilang Indonesia. Sebenarnya saya ini dari mana. Karena itu saya mau mencoba menjadi traveler. Selalu ada pikiran yang baru di setiap tempat dan saya mencari Indonesia itu seperti apa,” ucapnya ketika berbicara di sesi Writer’s Stage di BIBF 2016, Rabu (24/8/2016). Dengan berjalan mengunjungi banyak negara, Agustinus keluar dari zona nyamannya. Dia menceritakan ketika turis asing dilarang bepergian ke Tibet, pria asal Lumajang Jawa Timur justru ke sana. Saat dia belajar jurusan komputer, dia juga tak mau hanya menjadi sarjana dengan lulusan tersebut. “Saya mau jadi jurnalis tapi kuliah nggak sesuai yang di mau. Tapi saya bisa motret dan menulis, kenapa nggak jadi jurnalis saja. Kita traveling ke mana saja dan bersama siapa itu nggak penting, yang penting adalah merasakan kehidupan baru dan orang lain. Dan itu yang membuat [...]

August 25, 2016 // 0 Comments

[Detik]: Diskusi Buku Agustinus Wibowo dan Yu Hua Perkuat Hubungan Dua Negara

Detik Beijing – Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Soegeng Rahardjo hadir dalam sesi diskusi ‘Zero: When The Journey Takes You Home’ yang berlangsung hari ini di Beijing International Book Fair (BIBF) 2016. Sesi kali ini menampilkan dua penulis kenamaan dua negara, Agustinus Wibowo dan Yu Hua. Dalam sambutannya, Soegeng mengatakan hadirnya untuk pertama kali Indonesia di BIBF makin membuka peluang pengenalan sastra Indonesia ke publik dunia. Sekaligus, mempererat hubungan antar dua negara. “Dengan adanya Agustinus dan Yua Hua hadir untuk memberikan cerita-ceritanya tentang dua negara dan pesan yang disampaikan akan menyebar ke masyarakat Indonesia dan Tiongkok,” ujarnya di atas Writer’s Stage di gedung China International Exhibition Center (new venue), distrik Shunyi, Beijing, Rabu (24/8/2016). Di diskusi ‘Zero: When The Journey Takes You Home’ yang terselenggara berkat kerja sama Komite Buku Nasional Indonesia dan Paper Republic ini membicarakan tentang pengalaman mereka tentang Tiongkok, baik personal maupun sejarah. Karya Yu Hua ‘To Live’ telah diterjemahkan oleh Agustinus ke dalam bahasa Indonesia. Sedangkan karya lainnya tengah disiapkan untuk segera diterjemahkan dan diterbitkan di Tanah Air. Seperti apa hasil diskusi keduanya? Simak laporan [...]

August 25, 2016 // 0 Comments

[BIBF]中印对话的桥梁 ——走近印度尼西亚作家、翻译家翁鸿鸣

2016-08-23 纸托邦 零点——走向回归的远行 作为将余华作品翻译引入印度尼西亚的第一人,如同余华成名作《十八岁出门远行》,翁鸿鸣也在十八岁离开家门,踏上中国的土地,开始了他背负祖辈多代人乡愁的寻根之旅。 始于寻根的旅行 翁 鸿鸣的父辈身在印尼,心念故国。由于印尼过去复杂的政治环境,华裔在印尼处境艰难,他们在印尼被当作外人,始终无法融入印尼主流社会,遭受各种形式的歧视 和排挤。对翁鸿鸣的父辈来说,回归故土是一桩萦绕心头的难了心愿。翁鸿鸣生于印尼从未到过中国的外婆,曾看着一幅中国地图流泪伤心,“我们原来中国是一个 很大的海棠叶啊,现在就是一个鸡的形状了。”正是这份叠加几代人的牵念,牵引着翁鸿鸣在十八岁时离开印尼,来到清华读书,由此也开启了他十余年不停歇的旅 程。 来 到中国的翁鸿鸣发现,真正的中国现实和父辈口中传颂的故国形象之间,有着巨大的鸿沟。父辈对中国的“所有记忆也仅停留当初第一批移民华人离开中国时的样 子”,“当初对中国所有印象和概念都是一片片”,“印尼华人当初对于自己的‘根’只是一个国家的概念,没有那个省市村,就是中国,地图上的那个版块”。他 回到的不是祖辈魂牵梦萦的故土,而是一片崭新又陌生的土地。 [...]

August 24, 2016 // 0 Comments

The Weekend West Magazine (Australia): Ground Zero Book Review

Page turners WILLIAM YEOMAN Like so many travellers before him, Agustinus Wibowo left home in search of something intangible —in the case of this young Indonesian of Chinese heritage, who had long felt like a foreigner in his homeland, a place he would feel welcome, a place he could call his own. “In my pocket was an Indonesian passport and two thousand American dollars in cash, and in my heart was the dream of a colossal adventure: to travel overland from Beijing to the furthest destination possible: South Africa. I believed that somewhere out there, when I reached the end of the long and winding road, I would become a completely new man. There would be happiness there.” It was July 2005 and Agustinus had already been away from home for several years, studying computer engineering at university in Beijing, spending his days and nights in pursuit of high marks. This, he decided, was not the life for him. It took him months to wear down his angry father, who had such high hopes for his son in “the land of the ancestors”, but when Agustinus finally received his blessing, he bought a train ticket, loaded his backpack and headed [...]

August 22, 2016 // 0 Comments

“ZERO” in Beijing International Book Fair

ZERO—When The Journey Takes You Home Sponsored by: BIBF Curated by: Paper Republic Co-organized by: Paper Republic, Indonesia National Book Committee Date: Aug 24th, Wednesday, 13:00-15:00 Address: Writers’ Stage, BIBF Venue Guests: Agustinus Wibowo, Yu Hua Join Yu Hua and writer Agustinus Wibowo in conversation about stories of the Chinese experience, both personal and historical. Yu Hua needs no introduction: from early works such as To Live, to the more recent blockbuster Brothers, he is among China’s foremost portraitists of modern Chinese society. Wibowo is an Indonesian translator and author of Chinese descent: his translation of Yu Hua’s To Live is already published in Indonesia, and Brothers and Chronicle of a Blood Merchant are forthcoming. At a young age he ventured to China in search of his roots and, finding China not at all as he’d imagined it, embarked on a ten-year journey through the world, which is the subject of his new book, Zero: When the Journey Takes You Home. Yu Hua and Wibowo discuss their authorial relationship, the similarities between China’s recent history and the history of the Chinese in Indonesia, and the role of the individual in historical narrative. “零点:走向回归的远行”   主办:北京国际图书博览会(BIBF) 策划:纸托邦(Paper Republic) 联合协办:纸托邦(Paper Republic)、印尼国家图书委员会 时间:8月24日星期三13:00-15:00 [...]

August 21, 2016 // 0 Comments

DETIK: Agustinus Wibowo Hadir di Beijing International Book Fair 2016

Detik.com Jakarta – Sukses di Bologna Book Fair dan London Book Fair pada Maret serta April 2016 lalu, Indonesia akan hadir di ajang Beijing International Book Fair (BIBF) pada 24-28 Agustus mendatang. Salah satu penulis kenamaan Tanah Air Agustinus Wibowo untuk pertama kalinya hadir di pameran buku tersebut. Penulis ‘Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan’ merasa terhormat dapat menghadiri BIBF. “Eksibisi buku ini membawa penulis-penulis dunia untuk mengunjungi Tiongkok. Saya akan hadir menjadi penulis Indonesia pertama yang tampil di BIBF, dalam salah satu acara dari rangkaian program Literary Salon bersama penulis kenamaan Tiongkok, Yu Hua,” ucapnya, seperti dikutip dari situs resmi Agustinus, Senin (15/8/2016). General Manager Gramedia Pustaka Utama, Siti Gretiani mengungkapkan rasa bangganya terhadap salah satu penulis yang karyanya diterbitkan oleh Gramedia. “Ini panggung yang tepat bagi Agustinus Wibowo untuk mewakili Indonesia, karena selain fasih berbicara dalam bahasa Mandarin, Agustinus bisa memperkenalkan literatur Indonesia ke pasar Tiongkok,” katanya kepada detikHOT, belum lama ini. Karya-karya Yu Hua juga diterjemahkan oleh Agustinus ke dalam bahasa Indonesia serta diterbitkan Gramedia. “Sehingga ajang ini juga bisa menjadi semacam pertukaran budaya lewat literatur,” tambah Greti lagi. Di ajang BIBF, Indonesia akan menampilkan 200 judul buku pilihan dan memberikan wawasan tentang industri penerbitan di Indonesia. Agustinus [...]

August 21, 2016 // 0 Comments

Pulau Imaji: Penulis Indonesia Agustinus Wibowo Hadir di BIBF 2016

Setelah keberhasilan Indonesia di Bologna Book Fair dan London Book Fair pada Maret dan April 2016 lalu, buku-buku dari Indonesia kini hadir di Stand Indonesia dengan lokasi E2F28 di Bejing International Book Fair (BIBF 2016) pada 24-28 Agustus 2016. Inilah kali pertama penerbitan Indonesia tampil di BIBF secara kolektif karena sebelumnya anggota penerbit Indonesia hanya hadir sebagai pengunjung. Selama lima hari pameran di Beijing, Indonesia menampilkan 200 judul buku pilihan dan memberikan wawasan tentang industri penerbitan di Indonesia. Indonesia akan menghadirkan penulis Agustinus Wibowo yang didampingi penulis terkenal Yu ha dalam acara ZERO: When The Journey. Takes You Home disponsori BIBF bekerja sama dengan Paper Republic pada Rabu, 24 Agustus, pada pukul 13.00-15.00 bertempat di Writers’ Stage, BIBF Venue. Dalam acara Introduction to the Asean Market yang digelar di EAST HALL 2, Rabu 24 Agustus, jam 14.00-15.00, Ketua Komite Buku Nasional, Laura Prinsloo, hadir sebagai pembicara yang mempresentasikan Indonesia “Islands of Opportunity” menjabarkan potensi yang dimiliki negara ini dari berbagai sisi: seperti demografi, ragam bahasa, kebebasan berekspresi, dan pertumbuhan industri penerbitan di Indonesia. “Kami juga akan mengundang Duta besar Indonesia untuk Tiongkok, Soegeng Rahardjo untuk hadir dalam program-program yang kami adakan,” papar laura di kantor KBN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan [...]

August 13, 2016 // 0 Comments

Beijing International Book Fair 2016 作家来袭,讲述永不完结的故事

It’s a great honour for me to be the first Indonesian author featured in the Beijing International Book Fair (BIBF). The Book Fair also organizes the Literary Salon programs, which are a series of events taking placing during and around the BIBF, bringing authors from around the world into close contact with Chinese audiences. This year’s theme is “Never Ending Stories”, highlighting the continuing and essential importance of literary narrative, even as storytelling branches out into other media. The Salons will be conducted in various venues in Beijing, for the week of August 20 to 28. http://book.sina.com.cn/news/c/2016-08-12/1737815998.shtml 作家来袭,讲述永不完结的故事 2016年08月12日17:37   第23届北京国际图书博览会 再过22天,第23届北京国际图书博览会即将开展,图博会今年30岁了,BIBF文学沙龙系列活动也与读者相伴近7年了。今年,我们如约而至。 与往年一样,来自世界各地的几十位作者将齐聚北京。我们举办“文学沙龙”的目的,就是让北京读者与这些作者亲密接触,促成他们与中国作者对话,让所有来自 不同文化背景却对文学、书籍怀着同样热爱的人走得更近 Never Ending Stories [...]

August 13, 2016 // 0 Comments

Kiunga 14 Oktober 2014: Penyakit OPM Hanya Satu

Sudah dua minggu ini saya berada di Kiunga menggali kisah kehidupan para pengungsi dari West Papua, atau Papua Indonesia yang kini bermukim di Papua Nugini. Tetapi aktivitas saya telah memancing kecurigaan. Saya mendengar dari seorang pastor di Gereja Katolik, sudah ada rumor beredar di kalangan pengungsi bahwa saya adalah mata-mata yang dikirim Indonesia. Harus saya akui, identitas saya sebagai warga Indonesia menyebabkan saya tidak bebas bergerak di sini. Walaupun Kiunga adalah kota yang sangat aman menurut standar Papua Nugini—hampir tidak ada raskol, dan orang asing bebas berjalan sendiri tanpa khawatir dirampok—saya selalu merasakan ada tatapan tidak bersahabat dari orang-orang tertentu, khususnya di daerah sekitar pesisir sungai yang dihuni para pengungsi. Pernah saya dihampiri seorang pemabuk, yang meneriaki saya dalam bahasa Melayu, bahwa saya mata-mata Indonesia. Pastor kawan saya yang berasal dari Flores itu mengatakan, jangankan saya yang baru datang, dirinya yang sudah bekerja bagi mereka bertahun-tahun pun terkadang masih merasakan kecurigaan itu. Pernah ada seorang pastor yang mengunjungi kamp pengungsi West Papua di Iowara untuk melakukan penelitian tentang kehidupan pengungsi, justru kamera dan komputernya dirampas oleh sekelompok oknum pengungsi yang mencurigainya, sehingga semua hasil kerjanya sia-sia. Tetapi bagaimana pun juga, mereka adalah orang-orang yang bekerja demi ketuhanan dan kemanusiaan, sehingga [...]

June 13, 2016 // 17 Comments

Dome 9 Oktober 2014: OPM Juga Manusia(2)

Sudah tiga puluh tahun para pengungsi dari Papua tinggal di desa Dome, Papua Nugini. Seiring waktu, konflik antara para pendatang dengan penduduk setempat semakin meluas. Warga lokal sering menuduh para pengungsi menggunakan perempuan mereka untuk menggoda para lelaki Papua Nugini, dengan tujuan untuk mendapatkan kewarganegaraan Papua Nugini. Kasus itu terjadi pada Jenny Wuring, warga Papua Nugini yang kini sedang mengurus perceraian dengan suaminya. Dia bilang, seorang gadis pengungsi Papua berumur 16 tahun pernah menggoda suaminya yang berumur 40 tahun, sehingga Jenny membawa kasus ini ke pengadilan. Ayah dari gadis itu adalah seorang anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebuah gerakan separatis yang memperjuangkan kemerdekaan Papua dari cengkeraman Indonesia. Selain itu, Jenny juga mencurigai para pengungsi itu menguasai ilmu sihir sehingga sering membunuh dengan menyantet warga asli. Dia curiga, ayahnya yang tiba-tiba meninggal sepuluh tahun lalu itu adalah gara-gara sihir dari warga pengungsi. Orang-orang Papua Nugini di Dome memang memanggil para pengungsi dengan istilah bahasa Melayu, sobat. Tetapi itu seperti panggilan tanpa makna. Konflik di antara mereka semakin parah dan belakangan ini sering menjadi kontak fisik. Misalnya, penduduk asli Dome yang marah sering menebangi pohon-pohon pisang yang ditanam para pengungsi. Peristiwa terparah adalah pembakaran sekolah yang dibangun para pengungsi, yang terjadi pada [...]

June 10, 2016 // 4 Comments

Dome 8 Oktober 2014: OPM Juga Manusia (1)

Sekilas, Dome tidak tampak berbeda dengan kebanyakan desa di Western Province, Papua Nugini: terbelakang, nyaris tanpa sentuhan pembangunan apa pun. Tetapi di sini para pengungsi separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) dari Papua Indonesia hidup berdampingan dengan penduduk lokal Papua Nugini. Dan mereka sama sekali tidak bisa dikatakan akur. Dome tidak terlalu terpencil. Untuk mencapai Dome, orang bisa menumpang minibus yang melintasi jalan utama yang menghubungkan kota besar Kiunga dengan Tabubil, kota pertambangan nan makmur di pegunungan utara. Ini sebuah jalan berdebu bergerunjal dan memualkan, yang di negeri ini sudah disebut sebagai highway. Dua jam perjalanan kemudian, kita mesti meninggalkan jalan utama, berbelok ke barat, sampai ke tepi sungai Ok Tedi, di mana kita mesti menumpang perahu untuk menyeberangi sungai keruh dan beracun itu untuk mencapai Dome. Desa Dome terbelah dua. Desa asal, yang dijuluki sebagai Dome-1, dihuni penduduk warga Papua Nugini, terletak di tepi sungai. Sedangkan permukiman para pengungsi OPM, kini dijuluki sebagai Dome-2, terletak di belakangnya, jauh dari sungai. Garis batas pemisah keduanya adalah sebuah tanah lapang yang berfungsi sebagai pasar. Walaupun masih di desa yang sama, mayoritas berbicara bahasa Yomgom yang sama, memiliki hubungan kekerabatan dari nenek moyang yang sama, dan telah hidup berdampingan selama tiga puluh tahun, [...]

June 4, 2016 // 8 Comments

Perjalanan Kirghiz: Di Manakah Rumah?

Nama dari surga itu tersebar di seluruh Afghanistan. Kau bisa menemukannya di toko, di restoran, di supermarket, di hotel, biro tur, perusahaan, organisasi sosial, dan bahkan di pesawat terbang. Tidak berbeda dengan Shangri-La, Pamir telah menjadi sebuah mitos utopis—sebuah surga pegunungan yang dilimpahi keindahan dan kedamaian abadi, begitu jauh sampai tak seorang pun yakin tempat itu apakah benar ada. Untuk mencapai Pamir, saya pergi ke Koridor Wakhan yang sangat terpencil. Itu adalah sebuah lidah yang cukup kikuk yang seperti ditempelkan secara paksa ke ujung timur-laut Afghanistan. Daerah itu berupa segaris tanah sempit yang memanjang, hanya 11 kilometer pada sisi tersempitnya, membentang 300 kilometer, dijepit oleh Tajikistan di utara, Pakistan di selatan, dan China di timur juah. Koridor Wakhan terbentuk pada abad ke-19 sebagai zona penyangga antara India Inggris dan kekaisaran Rusia. Saya membutuhkan sepuluh hari untuk bepergian dari Kabul, dengan membonceng berbagai kendaraan hingga mencapai ujung terakhir jalan tak beraspal yang rusak parah di sepanjang aliran Amu Darya. Di sini petualangan dimulai. Saya membonceng sebuah karavan yang terdiri dari empat tentara Afghan dan seorang komandan mereka yang hendak berpatroli ke perbatasan. Mereka punya empat kuda, dan dua warga desa disuruh memandu. Jalan setapak hanya selebar 30 sentimeter, tertutup kerikil dan [...]

April 22, 2016 // 6 Comments

Pakistan: Ketika Tuhan Menjadi Negara

Perbatasan Wagah (disebut Attari oleh India) terletak hampir tepat di tengah jarak antara Lahore di Punjab Pakistan dengan Amritsar—kota suci umat Sikh di Punjab India. Walaupun ini satu-satunya perlintasan resmi sepanjang 2.900 kilometer garis batas kedua negara, perbatasan biasanya sepi sepanjang hari. Sangat sulit bagi penduduk mereka untuk saling mendapatkan visa; minat saling berkunjung juga rendah. Perbatasan ini sesungguhnya adalah pseudo-stadion, dengan tribun-tribun berhadap-hadapan bagi penonton, di sisi Pakistan maupun India. Menjelang sore, perbatasan mendadak ramai oleh penduduk kedua negeri yang membanjiri tribun masing-masing seperti suporter sepak bola fanatik. Di sisi India, dari lautan manusia berbaju warna-warni memenuhi tribun di seberang garis batas dan berkilau keemasan dibilas matahari senja, terdengar meriahnya dendang musik pop Bollywood, juga gemuruh pekikan: “Hindustan Zindabad!” Hiduplah India! Di sisi Pakistan, di bawah bayang-bayang Gerbang Kebebasan, kami tak mau kalah, memekik sekencang-kencangnya, “Pakistan Zindabad! Pakistan Zindabad!” Pemandu sorak kami adalah seorang kakek berjenggot putih. Konon dia tak pernah absen agar semangat kami Pakistan jangan sampai kalah dari India. Dia selalu mengenakan pakaian hijau yang sama, bergambar bulan sabit dan bintang—lambang Islam dan lambang Pakistan—dan bertuliskan huruf Urdu: Pakistan Zindabad. “Nara e Takbir!!!” Pekikkan kebesaran Allah! kakek itu berteriak. “Allahuakbar!” [...]

April 14, 2016 // 12 Comments

Kiunga 2 Oktober 2014: Membujuk Pengungsi Papua Merdeka untuk Pulang

Di wilayah Western Province, Papua Nugini, yang berbatasan dengan Indonesia, masih banyak tinggal para pengungsi dari Papua. Mayoritas dari mereka adalah pendukung gerakan Papua Merdeka. Kini Indonesia membuka pintu bagi mereka untuk pulang ke kampung halaman. Tetapi bagi mereka, ini bukan masalah semudah mengatakan ya atau tidak. Kebetulan pada saat saya berada di Kiunga, datang rombongan dari Konsulat Jenderal Indonesia di Vanimo bersama Pemerintah Provinsi Papua untuk bertatap muka dengan para pengungsi Papua yang tinggal di kota itu. Delegasi pemerintah Indonesia berupaya membujuk para pengungsi untuk pulang. Sesudah pertemuan itu, rombongan pemerintah Indonesia mendatangi ke Gereja Katolik, yang selama ini menaungi sebagian besar pengungsi dari Papua. Saya diundang seorang pastor dari Flores untuk ikut pertemuan di Gereja. Pertemuan dihadiri oleh sejumlah anggota Gereja dan warga pengungsi Papua. Kepada Uskup Gereja, Konsul Jendral Indonesia, Jahar Gultom dengan penuh semangat mengatakan bahwa pertemuan dengan para pengungsi tahun ini cukup memuaskan. “Tahun lalu poin mereka hanya satu. Hanya Merdeka,” katanya, “Tapi kemarin ada banyak warga yang bertanya tentang pemulangan. Ada pula yang berkomentar, ‘Saya tidak tahu saya ini siapa, apakah saya orang Papua Nugini atau orang Indonesia.’” Para pengungsi adalah orang tanpa identitas. Sebagian besar pengungsi bermigrasi dari Indonesia ke Papua Nugini pada [...]

April 13, 2016 // 10 Comments

Terorisme Tidak Punya Agama—Benarkah?

Awal tahun lalu Paris dikejutkan dengan penembakan keji di kantor koran satir Charlie Hebdo, yang sering menerbitkan karikatur yang mengolok-olok Islam (di samping Kristen, Yahudi, dan berbagai kelompok lain di dunia). Pada November tahun yang sama, Jumat tanggal 13, Paris kembali diguncang ledakan bom simultan dan penembakan di sejumlah kafe, restoran, sebuah teater, menewaskan setidaknya 130 orang. Pelakunya adalah para radikal Muslim yang berkaitan dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Kemudian giliran Belgia, minggu lalu mengalami aksi teror paling mengerikan dalam sejarahnya: dua bom meledak di bandara Brussel dan satu bom di stasiun metro, menewaskan setidaknya 38 orang. ISIS juga mengaku bertanggung jawab untuk serangan ini. Berbeda dengan masa dahulu, aksi teror tidak dilakukan oleh orang asing. Para teroris dalam serangan di Paris dan Belgia adalah warga Eropa sendiri, generasi keturunan migran Muslim yang lahir dan besar di Eropa. Itu salah kalian sendiri. Begitu komentar Donald Trump, calon presiden Amerika dari Partai Republik terhadap insiden teror di Brussel. Trump sebelumnya sempat meneriakkan ide “gila” bahwa dia akan melarang semua pengunjung Muslim dari negara-negara Muslim (termasuk Indonesia) masuk ke Amerika Serikat, demi melindungi keamanan AS dan rakyat AS. Mayoritas warga Amerika tidak setuju dengan ide Trump ini, tetapi tidak sedikit [...]

April 11, 2016 // 66 Comments

Kiunga 30 September 2014: Benderamu Menghalangi Matahariku

Sudah hampir 30 tahun John Wakum tinggal di Papua Nugini. Dia adalah salah satu orang yang paling dihormati kalangan masyarakat pengungsi Papua Barat di kota ini. Dia seorang aktivis OPM (Organisasi Papua Merdeka). Tiga puluh tahun sejak dia datang ke negeri ini, impiannya masih sama: Papua harus merdeka dari Indonesia. Lelaki 67 tahun ini kurus kering. Jenggot putih tebal menyelimuti janggutnya. Syal melingkar di lehernya. Dia terus terbatuk, mengaku sudah dua hari dia tidak bisa turun dari ranjang, dan baru hari ini dia bisa keluar menikmati matahari. Kami duduk di beranda rumahnya yang terbuat dari kayu. Di dalam rumah itu, tepat di hadapan pintu masuk, terpampang sebuah bendera besar dengan lambang bintang dan garis-garis putih biru. Itu bendera Bintang Kejora. Bendera Papua Merdeka. John Wakum berasal dari Biak, menuntut ilmu tata negara di Universitas Cendrawasih. Pendidikan tinggi yang ditempuhnya di Indonesia justru membuatnya selalu bertanya kenapa negerinya masih juga terjajah. Dia pernah menjadi kepala bagian sebuah badan pembangunan, sehingga dia bekerja ke daerah-daerah terpencil dan rawan di pedalaman Papua. Misalnya di Asiki, dia bekerja pada proyek pengasapan karet dan di Nabire untuk pembuatan sagu. Selama bekerja di pedalaman Papua, dia terus menanamkan pemahaman tentang kemerdekaan terhadap orang-orang Papua yang ditemuinya. [...]

March 16, 2016 // 18 Comments

Kiunga, 29 September 2014: Pengungsi Papua Merdeka

Dari Kuem menuju kota besar Kiunga, saya akan melintasi daerah paling aneh dari perbatasan Indonesia dan Papua Nugini: “benjolan” Sungai Fly. Saya menumpang perahu motor milik Raven, lelaki paruh baya dari Kuem yang hendak berjualan ikan mujair ke Kiunga. Kami berangkat pukul dua dini hari. Ketika matahari sudah mulai bersinar, perahu kami sudah memasuki daerah benjolan Sungai Fly yang menjadi pemisah kedua negeri. Sinar matahari kemerahan menyapu sungai yang bagaikan cermin panjang, dan menerangi pekatnya rimba di kedua sisinya. Kalau kita melihat di atas peta, perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini berwujud garis lurus dari utara ke selatan sepanjang garis 141 derajat Bujur Timur. Pada bagian tengah agak ke bawah, ada “benjolan” yang mengarah ke sisi Indonesia. Daerah itu adalah lekukan Sungai Fly. Karena peranannya yang teramat penting bagi kehidupan masyarakat Papua Nugini, keseluruhan Sungai Fly harus masuk wilayah mereka. Garis batas di selatan “benjolan” Sungai Fly itu sebenarnya tidak lurus dengan garis di atasnya, melainkan agak menjorok sedikit masuk ke wilayah Papua Nugini. Itu adalah kompensasi yang didapatkan Indonesia untuk luas tanah yang hilang setelah memasukkan potongan Sungai Fly ke Papua Nugini. Garis batas negeri membelah kehidupan. Di sebelah kiri sungai teorinya adalah Indonesia, dan di sebelah kanan sungai [...]

March 14, 2016 // 6 Comments

Papua Nugini (5) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Sungai yang Mengering

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. “Dumori desa kami adalah surga,” kata Mama Ruth saat kami bersama menumpang kano menuju desanya di muara Sungai Fly, “Itu tempat terbaik di dunia.” Kano kayu kami terayun-ayun di laut tenang. Perlu waktu 12 jam untuk menempuh jarak 130 kilometer dari Daru ke Dumori dengan kano besar ini. Kami tiba di Dumori tengah malam, badan saya menggigil hebat. “Welcome to Paradise,” kata Mama Ruth. Senyumnya menampilkan barisan gigi putih yang seakan melayang di tengah kegelapan. Surga? Di sekeliling saya hanya tampak air, memantulkan samar sinar bulan. Rumah-rumah panggung dan pohon seperti mengambang. Dulu, Dumori terletak di tebing tinggi dan hampir tak pernah banjir. Sekarang, seminggu dalam sebulan desa ini pasti terendam air. Setelah banjir surut, seluruh desa tertutup lumpur tebal. Kerusakan alam terjadi sangat radikal di Sungai Fly gara-gara aktivitas pertambangan emas dan tembaga Ok Tedi di hulu sana. Saat baru beroperasi tiga puluh tahun lalu, pertambangan itu membuang limbah beracun ke Sungai Fly. Air sungai kini tidak bisa diminum dan penduduk terpaksa mengandalkan air hujan. Sagu makanan utama mereka diolah dengan air sungai, kini hitam dan pahit. Hampir semua orang di sini juga menderita penyakit kulit parah. Pertambangan itu [...]

February 11, 2016 // 8 Comments

Papua Nugini (4) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Orang Hitam dan Orang Putih

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Cargo cult ala Melanesia (sumber: youtube.com) Penduduk desa Tais, kampung halaman Sisi, selalu menyebut saya “orang putih”. Padahal saya orang Asia keturunan China dan warna kulit saya bukan putih. Desa ini terletak di pedalaman hutan, sehingga mereka jarang kedatangan tamu orang asing. Para orang dewasa menyambut saya dengan sukacita, namun anak-anak justru menganggap saya seseram setan. Ketika saya lewat di depan rumah, satu bayi menangis meraung-raung memanggil ibunya. Seorang bocah dua tahun ketakutan sampai berlari dan terjatuh, wajahnya menabrak tanah. Seorang bocah perempuan sampai terloncat melihat saya mendekatinya, seperti disergap binatang buas. Saya sudah membuat lusinan bocah menangis hanya dengan penampakan saya. Kenapa mereka begitu takut dengan kulit putih? Konon menurut legenda yang dipercaya di daerah ini, roh orang yang sudah mati akan terbang ke tempat terbenamnya matahari, dan tubuh orang itu akan berubah dari hitam menjadi putih. Kulit putih identik dengan kematian. Orang putih pertama kali tiba di desa ini pada saat Perang Dunia II, dan itu membuat semua penduduk, baik tua maupun muda, lari ketakutan bersembunyi ke dalam rimba. Sedangkan di abad ke-18, ketika penjelajah Eropa pertama kali datang di kepulauan Kiwai di dekat Daru, penduduk langsung berlutut [...]

February 10, 2016 // 1 Comment

Papua Nugini (3) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Perbatasan Segitiga

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Dauan, Australia (AGUSTINUS WIBOWO) Tidak banyak orang menyadari bahwa Australia terletak sangat dekat dari Papua Nugini. Saking dekatnya kita bisa lihat Australia dengan mata telanjang. Untaian pulau kecil Australia hanya empat kilometer di selatan pantai Papua Nugini. Ber adalah satu desa Papua Nugini yang berhadapan dengan pulau Boigu, Australia. Dilihat dari laut di malam hari, Boigu bagai metropolitan dengan ratusan noktah cahaya berkilauan, sedangkan Ber tampak seperti tiga cahaya lemah yang sering padam, seperti lilin diterpa angin. Sumber cahaya di Ber hanyalah api unggun. Satu-satunya cara untuk mencapai Ber, orang harus naik perahu dari Daru ke arah barat sejauh 100 kilometer melewati lautan Selat Torres yang terkenal ganas ombaknya. Perahu motor yang saya tumpangi nyaris tenggelam ditelan ombak. Ini adalah perjalanan seharian yang basah dan mematikan. Begitu terisolasinya Ber dari daerah Papua Nugini lainnya, desa dengan dua ratusan penduduk ini seperti belum tersentuh peradaban. Mereka tinggal rumah-rumah panggung yang semuanya terbuat dari gedek anyaman daun. Pantai Ber tertutup lumpur, seperti sawah padi yang baru diairi. Ber berhadapan langsung dengan laut, tetapi warga di sini justru jarang ke laut dan ikan nyaris tidak ada dalam menu mereka. Setiap hari penduduk makan [...]

February 9, 2016 // 4 Comments

1 2 3 4 5 66