Recommended

Afghanistan (2007-2009)

Perjalanan Kirghiz: Di Manakah Rumah?

Nama dari surga itu tersebar di seluruh Afghanistan. Kau bisa menemukannya di toko, di restoran, di supermarket, di hotel, biro tur, perusahaan, organisasi sosial, dan bahkan di pesawat terbang. Tidak berbeda dengan Shangri-La, Pamir telah menjadi sebuah mitos utopis—sebuah surga pegunungan yang dilimpahi keindahan dan kedamaian abadi, begitu jauh sampai tak seorang pun yakin tempat itu apakah benar ada. Untuk mencapai Pamir, saya pergi ke Koridor Wakhan yang sangat terpencil. Itu adalah sebuah lidah yang cukup kikuk yang seperti ditempelkan secara paksa ke ujung timur-laut Afghanistan. Daerah itu berupa segaris tanah sempit yang memanjang, hanya 11 kilometer pada sisi tersempitnya, membentang 300 kilometer, dijepit oleh Tajikistan di utara, Pakistan di selatan, dan China di timur juah. Koridor Wakhan terbentuk pada abad ke-19 sebagai zona penyangga antara India Inggris dan kekaisaran Rusia. Saya membutuhkan sepuluh hari untuk bepergian dari Kabul, dengan membonceng berbagai kendaraan hingga mencapai ujung terakhir jalan tak beraspal yang rusak parah di sepanjang aliran Amu Darya. Di sini petualangan dimulai. Saya membonceng sebuah karavan yang terdiri dari empat tentara Afghan dan seorang komandan mereka yang hendak berpatroli ke perbatasan. Mereka punya empat kuda, dan dua warga desa disuruh memandu. Jalan setapak hanya selebar 30 sentimeter, tertutup kerikil dan [...]

April 22, 2016 // 6 Comments

A Blanket of Dust—New Edition

My first book, A Blanket of Dust (Selimut Debu) is going to be republished with new cover and new photos, to be launched by Gramedia Pustaka Utama this coming 29 September 2011. [Agustinus] tak ingin hanya menjadi penonton isi dunia. Ia mau terlibat sepenuhnya dalam perjalanan itu. Ia tak sekadar melihat pemandangan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengenal budaya dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. –Kompas– Afghanistan. Nama negeri itu sudah bersinonim dengan perang tanpa henti, kemiskinan, maut, bom bunuh diri, kehancuran, perempuan tanpa wajah, dan ratapan pilu. Nama yang sudah begitu tidak asing, namun tetap menyimpan misteri yang mencekam. Pada setiap langkah di negeri ini, debu menyeruak ke rongga mulut, kerongkongan, lubang hidung, kelopak mata. Bulir-bulir debu yang hampa tanpa makna, tetapi menjadi saksi pertumpahan darah bangsa-bangsa, selama ribuan tahun. Aura petualangan berembus, dari gurun gersang, gunung salju, padang hijau, lembah kelam, langit biru, danau ajaib, hingga ke sungai yang menggelegak hebat. Semangat terpancar dari tatap mata lelaki berjenggot lebat dalam balutan serban, derap kaki kuda yang mengentak, gemercik teh, tawa riang para bocah, impian para pengungsi, peninggalan peradaban, hingga letupan bedil Kalashnikov. Agustinus Wibowo menapaki berbagai penjuru negeri perang ini sendirian, untuk menyibak misteri prosesi [...]

September 17, 2011 // 4 Comments

National Geographic Traveler Indonesia: Kilau Warna dalam Selimut Debu

Perang puluhan tahun tak mengoyak kemolekan alam apalagi impian, tradisi, dan kehormatan pemegang peradaban kuno ini.

Kata apa yang paling sering dihubungkan dengan nama Afghanistan? Perang? Kemiskinan? Taliban? Teror? Bagi kebanyakan orang, Afghanistan membawa kesan kelabu dan melankolis. Tetapi di negeri yang tak kunjung usai dihajar perang puluhan tahun ini ternyata juga ada impian, tradisi kuno, kebanggaan, dan peradaban.

July 27, 2011 // 3 Comments

Garis Batas – Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah (Borderlines)

My second published travel writing book, on journey to Central Asian countries (The “Stans”). Indonesian language. Borderlines – Journey to the Central Asian States Everyday, Afghan villagers stare to “a foreign country” which is just a river away. They look at passing cars, without even once experiencing sitting inside the vehicles. They look at Russian-style villas, while they live in dark mud and stone houses. They look at girls in tight jeans, while their own women are illiterate and have no freedom to travel. The country across the river seems magnificent—a magnificent fantasy. The same fantasy brings Agustinus Wibowo travel to the mysterious Central Asian states. Tajikistan. Kyrgyzstan. Kazakhstan. Uzbekistan. Turkmenistan. The “Stan brothers”. This journey will not only bring you step on snowy mountains, walk accross borderless steppes, adsorbing the greatness of traditions and the glowing Silk Road civilization, or having nostalgy with Soviet Union communism symbols, but also finding out the mystery of fate of human beings who are always being separated in the boxes of borderlines. Paperback, 528 pages Published April 14th 2011 by Gramedia Pustaka Utama ISBN13 9789792268843 primary language Indonesian original title Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah url http://www.gramedia.com/buku-detail/84515/Garis-Batas ————– Garis Batas: Perjalanan [...]

April 25, 2011 // 4 Comments

Reader’s Digest Indonesia (2010): Menyingkap Selimut Debu Afghanistan

N U K I L A N READER’S DIGEST INDONESIA DESEMBER 2010 Menyingkap Selimut Debu Afghanistan Perjalanan menelusuri raga negeri yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan bangunan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum, akan membuka mata Anda kepada prosesi kehidupan di tanah magis itu. Oleh Agustinus Wibowo “Selimut Debu” oleh Agustinus Wibowo; diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, 2010 Khaak adalah Afghanistan. Dalam bahasa Dari dan Pashto – dua bahasa resmi Afghanistan, khaak berarti debu. Tak ada yang bisa lari dari khaak. Kerudung pria Afghan tidak menghalangi khaak. Khaak terbang menembus kisi-kisi burqa yang membungkus kaum perempuan. Bulir-bulir debu mengalir bersama angin, menyelinap melalui setiap rongga udara, langsung menembus ke sanubari. Debu memang menyelimuti seluruh penjuru Afghanistan, dari utara hingga selatan, dari timur hingga barat, menjadi makanan sepanjang hari, mengalir bersama embusan napas. Namun khaak juga bisa berarti tanah kelahiran, tumpah darah, segenap hidup dan mati. Saya melewati portal garis batas Pakistan. Sekitar 20 meter di depan saya, tampak gapura Afghanistan. Saya berdiri terseok-seok, bersama khaak dan setumpuk mimpi. Jubah qamiz dan celana kombor shalwar bekas yang saya pakai sudah lusuh. Khaak sudah memenuhi ronga mulut, kerongkongan dan paru-paru. Ada bimbang dalam hati, ketika melangkah perlahan di antara [...]

November 26, 2010 // 8 Comments

Mashhad – The Empty Border

The dusty border Two years ago, when I came to Iran for the first time through the Islam Qala border, I was astonished by the scene of hundreds of wild Afghan men fighting to pass the border line, to quit their homeland and reach hope in rich Iran. But now, it’s not anymore the scene. The Afghan-Iranian border in Islam Qala is quite empty. Iran has tightened up the visa approval for Afghans. Land crossing is no more permitted for ordinary Afghans. The Iranian visa from Kabul is mostly stamped “For Air Travel Only”, putting them to obtain roundtrip ticket only with Iranian airlines. In some cases, visa applicants need to spend at least 1000 dollars just to get the entry visa. Indeed, one’s passport determines his or her fate. I arrived in Afghan immigration hall after 100 meter walk. People are sitting idly to wait for the officers come back from their lunch break. There are three officers behind the table. One is examining the passports, one is stamping, and the last one is noting down t he data before distributing the passports. All Afghans have to pay 10.000 Rial or 40 Afghani to the man who stamped the [...]

June 9, 2009 // 1 Comment

Kabul – End of Journey?

Mama, wearing my academic dress. She did not finish her primary education, as the school was forced to close by the Suharto regime. But her dream is to learn, learn a lot, and be a real university student The last few weeks were very difficult time for me. Once my dad called from Indonesia, “Your mom is going to have an operation. Please pray for her.” It’s very unlikely that my mom gets sick, as my mom is a very active woman, doing physical exercise almost on daily basis. In late few years I have never heard she fell into serious sickness, even for once.The news was not too good. It turned out to be tumor, cells which grow abnormally. It sounds not so serious, my mom just complained of pain in her abdominal. Operation was conducted. It’s not a simple tumor. Doctor said it was malignant tumor, euphemism of saying ‘your mom got cancer’. My mom ovary was lifted. The next diagnosis saying that the cancer has spread to her intestine, and they claimed my mom got a Stage-3C cancer. <!–more–> My days turn dark. I feel guilty, worry, fear, anxiety, … I make dozens of international calls a [...]

May 28, 2009 // 31 Comments

Lion Air Magazine (2009): Surga di Bumi Afghan

May 2009 LionMag SURGA DI BUMI AFGHAN Teks dan foto-foto: Agustinus Wibowo Adakah surga di Afghanistan? Lupakan gurun tandus dan desingan badai pasir. Lupakan perang, mayat bergelimpangan, ledakan bom. Di sini yang ada hanya kesunyian dan kedamaian di padang rumput hijau membentang, dikelilingi gunung bertudung salju yang bagaikan dinding berjajar di segala arah. Danau biru hening memantulkan kelamnya langit. Anak gembala mengiring kawanan ratusan domba dan yak, perlahan melintasi gunung cadas.   Pegunungan Pamir boleh jadi adalah tempat paling terpencil di negara ini. Letaknya di ujung terjauh di timur laut, dikelilingi oleh Cina, Tajikistan, dan Pakistan. Orang lebih mengenalnya dengan nama Atap Dunia di mana awan begitu rendah, nyaris tergapai. Di sini waktu pun seperti berhenti mengalir. Bangsa pengembara tinggal di kemah bundar, berpindah-pindah padang seiring bergantinya musim, mencari mata air dan rumput untuk menghidupi mereka sepanjang tahun. Ini adalah cara hidup yang sama seperti nenek moyang mereka ratusan tahun silam. Surga –kalau boleh kedamaian di tengah kecamuk perang Afghanistan ini disebut– sungguh tak mudah dijangkau. Ketika di zaman modern ini pesawat terbang sudah mewujudkan fantasi manusia untuk menjelajah bumi dengan kecepatan seribuan kilometer per jam, di pegunungan ini perjalanan masih berarti merayap perlahan di atas punggung kuda atau keledai [...]

May 11, 2009 // 16 Comments

Jalanjalan (2009): The Secret World of Kirghiz

 Jalanjalan (May, 2009) The Secret World of Kirghiz Gadis-gadis yang tak pernah melihat dunia menikah dengan mahar seratus ekor domba. Gulagula dilempar ke angkasa dan pertandingan polo buzkashi dengan domba tanpa kepala digelar guna mengobati ratapan mereka. Agustinus Wibowo pergi ke Pegunungan Pamir dan menyaksikan ritual pernikahan suku Kirghiz itu. Dari pelosok Afghanistan, ia menuturkan kisahnya. “Semua orang punya mimpi,” kata Khudainazar, “Mimpi gadis-gadis Pamir adalah memperoleh suami yang kaya, ternak yang melimpah, dan anak yang banyak. Sederhana, karena mereka tidak pernah melihat dunia di luar Pamir.” Salju mengguyur Lembah Manara di Pegunungan Pamir. Pada ketinggian lebih dari 4.500 meter, musim panas di sini tak pernah benar-benar panas. Sebaliknya, hujan dan salju lebat terkadang melumat padang rumput hijau di tengah keroyokan gunung raksasa. Tak ada hari yang bisa dilewatkan tanpa meringkuk di tepi perapian. Hanya bangsa nomaden Kirghiz yang mampu bertahan di alam sekeras ini, di ujung terjauh negeri Afghan. Khudainazar, pria empat puluh tahunan berjaket hitam tebal berlapis, menuang teh susu yak yang hambar ke mangkok saya. Ia menyeringai ramah, memamerkan barisan gigi depannya yang tonggos. “Bagaimana tidurmu semalam? Cukup hangatkah?” tanyanya ramah. Di tempat sedingin ini, hangat bersinonim dengan nyaman. Kami duduk di tepi perapian yang hangat. Pagi [...]

April 29, 2009 // 1 Comment

Bomb in front of Indonesian Embassy in Kabul

I am not in Kabul at this moment, but was very much shocked to read a friend’s SMS: Bomb outside of Indian and Indonesian embassies in Kabul. Casualties. All Indonesian friends are safe. Building damaged. Later, I read more on the Internet. The bomb happened at 8:25 a.m., the busy hour when dozens of visa applicants queueing in front of the Indian embassy. The Indonesian embassy was not the target, but unluckily it was located right next to the Indian embassy. The location is on sensitive area of Ministry of Interior street, heavily guarded everyday during office hours as a deadly bomb blast in 2006 here. On the same street is also the Pajhwok Afghan News Office, where I used to live in Kabul. Here is a photo of the scene after the bomb blast, taken by photographer colleague of Pajhwok, Ahmadullah Salemi The deadly bomb blast At the right side, far behind, the white building is the Indonesian embassy. Despite of the worsening security in Kabul, the embassy still puts its office right beside the main street. The result of this blast, the building is damaged and some diplomats are wounded. Body pieces even reached the tennis lawn, about [...]

July 7, 2008 // 6 Comments

Kabul – Welcome to Ariana Flight

The boarding room of Kabul International Airport. Everybody is ready to fly … The first encounter with Ariana – the Afghan national carrier – is not always thrilling. It might be a unique experience from the Afghan land. In last several months I have been working as a consultant for UN. This, more or less, has changed my preference in traveling. Probably I got spoiled already with those amenities, facilities, and luxuries. Today, the first day of me turning back to be a backpacker again, I feel a sudden shock. Usually I prefer to take overland trip, but this time, on my way going to Iran for a short holiday to change the routine in Kabul, I chose to fly Ariana. The Kabul – Herat’s 1000 kilometer distance can be reached through three different routes. The northern route, through Mazar-e-Sharif, takes at least four days, killing unpaved road full of dust of the desert Dasht-e-Laila at the end of its leg. I have experienced this in 2006 and am not so keen to try again. The second option is the Central Route, through Bamiyan, Ghour, and Heart provinces. Most of the roads are unpaved, hitchhiking is required, and in my [...]

June 9, 2008 // 3 Comments

Women’s Silk Factory in Kabul

AZANA is an Afghanistan women’s small enterprise aiming to a much bigger dream Not only they weave silk, they also weave their future. “AZANA has changed my life,” says Nazdana, a 16-year-old girl who just recently learned how to weave silk shawls in AZANA, a silk factory managed by a woman director and operated mostly by woman workers, in deep alley of Kabul, where job opportunities for women are still scarce. “Before joining AZANA, I used to only do house works. There are 14 people in my family, and I knew only how to cook food, wash their clothes, and clean our house. But, now I am very happy because I start to earn money from my own hands. Not only does Nazdana learn about silk weaving, now she starts to grab pens to write. Ms Shaima Breshna, the director of AZANA silk factory, provides literacy class for the female employees of the factory. Nazdana remembers, “At the first time [joining the class], I even did not know how to hold pencil. Other colleagues laughed at me. I felt ashamed and wondered whether I could really be learned. Even I could not do the simplest thing.” Ms Breshna with her [...]

June 2, 2008 // 0 Comments

Kabul – Assassination Attempt

He has managed to escape several assassination attempts. Who knows what happens next. Since the beginning of 2008, there had not been any big incidence in Kabul yet, until today, when the government and people of Afghanistan was proudly celebrating the victory of the Holy War, to commemorate the withdrawal of Russian troops. I did not go to the scene myself, as the program is restricted to accredited journalits (I am now a freelancer), but some colleagues from Pajhwok went there for reportage since early morning. Nobody expected that the yearly military parade turned to be assassination attempt to President Karzai, and the attack turned bloody. Some TV cameramen and photographers lost their cameras amid the chaos. Here is the updated news: http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601087&sid=atvXzZBpxTPI&refer=home ——————– Afghanistan’s President Karzai Is Safe After Attack (Update1) By Jay Shankar April 27 (Bloomberg) – Afghanistan President Hamid Karzai and foreign dignitaries are safe after an attack on a military parade in the capital, Kabul, the government said. At least one person was killed, Agence France-Presse reported. “The national police and army acted swiftly and are doing their job,’’ the government said today in an e-mailed statement. Karzai was escorted to safety from the parade ground [...]

April 27, 2008 // 1 Comment

Kabul – Women Carpenters from Afghanistan

Woman carpenters from Dasht Barchi. Most if not all of them are Hazaras. Most people believe that carpentry is a man’s trade, but for the 60 carpentresses of Kabul’s Dasht-e-Barchi district, it simply isn’t true. “Women are able to do all kinds of work that men do,” they proclaim proudly. Hidden among mud houses which sit idly off of the main road, the center for carpentry is a local shura (council) where women learn about basic carpentry and build various items from cupboards, tables, computer desks, chairs to sandalis (heaters). A middle-aged woman is too happy to take me to the production center, where everything seems to happen all at once, located inside a small hut. “See, we are now able to handle heavy machinery,” she points out to several woodworking equipments that are modern-looking, where two or three women work in tandem to produce wood chops or create nail punctures and screw holes. Nails, chisels, hammers, sawing machines, screwdrivers are as familiar to these women as the pots and pans hanging inside their kitchens. Fatima Akbari, 42, is one among a handful of optimistic war-widow who promotes carpentry for women in her neighborhood. She encourages them to become involve [...]

April 3, 2008 // 3 Comments

Mazar-i-Sharif – Perayaan di Makam Suci

The holy flag in the holy shrine Perayaan Naoruz pun dimulai. Pukul 6 pagi, barisan orang sudah mengular di depan keempat pintu gerbang menuju Rawza Sharif, makam suci Hazrat Ali. Bangunan ini megah berdiri dengan kubah-kubahnya yang bak fantasi negeri seribu satu malam. Dindingnya berukir mozaik indah. Orang asing biasa menyebutnya sebagai Blue Mosque, walaupun gedung ini tidak biru dan sama sekali bukan masjid. Mazar, artinya kuburan. Sharif berarti yang agung. Mazar Sharif menjadi ternama karena dipercaya jenazah Hazrat Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad, beristirahat di kota ini. Umat Sunni menganggap Ali sebagai khalifah keempat sedangkan Syiah menganggapnya sebagai Imam pertama. Di kalangan umat Syiah sendiri sebagaian besar menganggap tempat peristirahatan Ali (A.S) ada di Najaf, Iraq. Tetapi di Asia Tengah ada Mazar Sharif dan Shakhimardan (Uzbekistan) yang punya klaim yang sama. Bangunan megah Rawza terletak di tengah taman. Bangunan ini dibangun pada abad ke-13. Berbagai kesaksian mengenai kesucian tempat ini selalu menghiasi buah bibir orang Afghan. Makam suci Hazrat Ali dipenuhi oleh ribuan merpati putih. Konon merpati hitam yang datang akan dengan sendirinya berubah menjadi putih dalam 40 hari. Demikian pula ribuan orang yang datang ke Rawza di hari Naoruz ini. Semuanya menantikan mukjizat dari [...]

March 20, 2008 // 1 Comment

Mazar-i-Sharif – Malam Naoruz

Busy Mazar street and business before the great holy day Proses mengurus izin liputan Naoruz memang ribet. Saya mesti bolak balik ke kantor urusan kebudayaan, minta surat sana-sini, ketemu pejabat ini itu. Akhirnya kami baru sampai pada tahap akhir: penitipan kamera. “Kawanku,” kata bapak tua yang bertugas di kantor itu, “jangan lupa nanti kirim hadiah padaku ya.” Bapak itu berbicara bahasa Rusia. Entah mengapa di sini banyak sekali orang yang lebih bangga berbahasa Rusia dengan orang asing. Si bapak, walaupun baru ketemu pertama kali, sudah minta saya mencatat nomor telepon dan alamat di Indonesia. Mau kirim surat katanya. Kamera, lensa, batera, memory card kepunyaan saya, ditambah mikrofon dan kaset perekam milik Zabiullah, semuanya kami titipkan di kantor ini. Sudah ada antrean panjang jurnalis dan kameraman Afghan dan mancanegara. Petugas yang menerima pentitipan barang-barang berharga ini tampak begitu serabutan, bahkan untuk mencatat pun malas sekali. “Jangan kuatir,” katanya, “tidak akan ada yang rusak. Serahkan saja pada kami.” Bapak yang tadi minta kiriman hadiah itu juga meyakinkan saya, “besok pagi, jam 6 pagi, kamu tinggal datang ke Makam Hazrat Ali untuk mengambil barang-barang ini.” Kami cuma diberi secarik tanda terima sederhana, lebih kumal daripada karcis bus, tanpa kartu pengenal apa pun. “Ini [...]

March 19, 2008 // 0 Comments

Mazar-i-Sharif – Orang Pashtun

Pashtun guys having fun in Mazar Kantor Pajhwok Afghan News dipenuhi orang Pashtun. Selain Zabiullah Ehsas dan adiknya yang tinggal di sini, hari ini mereka kedatangan serombonan tamu dari Kabul. Sebagian dari tamu ini saya kenal sebelumnya, karena kami pernah bekerja di kantor yang sama di ibu kota. Suasana lantai atas hotel ini semakin ramai oleh kedatangan tamu-tamu ini. Dalam sekejap, saya menjadi sangat kikuk. “Jangan sekali-sekali kau bicara bahasa Persia di sini,” kata Israr, seorang pemuda Pashtun dari Kunar yang pernah memperoleh gelar juara dalam lomba programing internasional, memperingatkan dengan tegas, “di sini cuma boleh ada bahasa Pashtu!” “Orang Tajik itu brengsek,” kata yang lain, “mereka sama sekali tidak taat dan banyak melakukan dosa. Bahasa mereka sama sekali tidak terhormat.” Saya merasa tidak enak dengan Naqeeb yang mengantar saya ke sini, karena Naqeeb adalah orang Tajik. Tetapi Naqeeb bisa berbahasa Pashtu dan para pemuda Pashtun ini sama sekali tidak tahu ke-Tajik-an Naqeeb. Primordialisme etnik adalah fenomena yang sangat kuat di Afghanistan. Semua suku punya kebanggaan kesukuan yang luar biasa, jauh melebihi segala-galanya. Identitas Islam tidak cukup kuat untuk mengikat semua suku ini bersatu. Dalam sejarah Afghanistan kita teringat bagaimana semua suku Afghan bersatu padu melawan invasi Rusia tetapi kemudian [...]

March 19, 2008 // 5 Comments

Mazar-i-Sharif – Keluarga Naqeebullah

Donor, projects, humanitarian, NGOs, UN, etc are the vocabulary of today’s Afghanistan Seperti malam sebelumnya, malam ini saya bermalam di rumah Naqeeb. Saya belum pernah bertemu Naqeeb sebelumnya. Saya mengenalnya melalui perantaraan seorang kawan Indonesia. Tetapi walaupun demikian, keluarga Naqeeb ramah menyambut saya. “Rumah ini adalah rumahmu,” demikian kata Naqeeb berulang-ulang. Naqeeb masih muda, tetapi kumis dan jenggotnya membuatnya nampak jauh lebih tua. Sekujur tubuhnya pun ditumbuhi bulu. Saya sempat berpikir dia berumur tiga puluhan. Ternyata dia bahkan masih lebih muda daripada saya. Naqeeb bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah NGO asing. Ke mana-mana ia selalu membawa radio HT. Dia harus terus mendengar kabar dari kantornya dan memantau situasi keamanan. Naqeeb sedang dapat tugas shift malam. Setiap sore pukul 6 ia berangkat ke kantor dan baru pulang keesokan paginya pukul 7. Sebagai satpam tentunya ia berjaga hampir sepanjang malam. Cuma tidur dua sampai empat jam sehyari sudah cukup baginya. Walaupun ia tuan rumah, saya jarang bertemu dengannya karena waktu kerjanya. Tetapi masih ada anggota keluarganya yang lain. Rumah Naqeeb cukup besar, ditinggali oleh banyak orang. Ada ayahnya yang sudah tua tetapi masih bekerja, abang-abangnya, dan hampir selusin keponakan. Hampir semua orang dewasa di rumah ini adalah pekerja sosial. Selain Naqeeb [...]

March 18, 2008 // 0 Comments

Mazar-i-Sharif – Ata Muhammad dan NATO

Busy atmosphere of the holy shrine before the New Year. “Berada di Rawza pada saat upacara janda bala? Itu terlalu berbahaya!” kata Naqeeb. Sebuah gambar di buku tua An Historical Guide to Afghanistan tulisan Nancy Hatch Dupree, diterbitkan tahun 1977, selalu membuat saya terbayang akan nuansa penuh fantasi di Mazar. Gambar itu adalah perayaan Naoruz di kota ini. Latar belakangnya adalah bangunan megah mausoleum Hazrat Ali. Ada ratusan orang di halaman, bersorak-sorai menyambut sebuah bendera besar bangkit dari tanah. Bendera itu adalah ‘janda’ yang dipercaya mempunyai kekuatan magis. “Keamanan sekarang sudah tidak baik,” kata Naqeeb, “kalau kamu ingin melihat janda, kita lihat di televisi. Nanti kalau keramaian sudah mereda, kita berangkat bersama-sama.” Naqeeb bukan jurnalis. Dia bekerja sebagai satpam di sebuah organisasi internasional. Naqeeb tak punya hasrat untuk mengejar semua peristiwa. Apalagi baginya perayaan janda bala ini bukan sesuatu yang istimewa. Dari ke tahun sama saja, dan sudah disiarkan di televisi. Kerumunan ribuan orang yang ingin melihat pengibaran bendera mukjizat itu dikhawatirkan akan mengundang penjahat, aksi teror, dan sebagainya. Akhirnya saya terpaksa mencari cara lain, menghubungi jurnalis Pajhwok Afghan News di kota ini, yang mungkin bisa membantu saya. Zabiullah Ehsas, umurnya masih 24 tahun, tetapi sudah memegang kantor wilayah Pajhwok [...]

March 18, 2008 // 0 Comments

Mazar-i-Sharif – Secuplik Masa Lalu

During Taliban era, celebrating Naoruz was forbidden “Sekarang semua serba mahal. Waktu zaman Taliban, semuanya murah,” Obaidullah (32 tahun), kakak Naqeebullah memulai selasar kenangannya tentang kehidupan Mazar di masa lalu. Harga barang yang terus melambung tinggi belakangan ini menjadi bahan kegelisahan hampir semua orang. Roti nan yang tahun kemarin masih 5 Afghani sekarang sudah jadi 10 Afghani (sekitar 2.000 Rupiah). Harga sepiring nasi di Salang sekarang 100 Afghani, dua dollar. Obaid berkumis tipis, berkaca mata, dan bertubuh besar. Sekarang bekerja sebagai insinyur di sebuah NGO lokal bernama CHA (Coordination for Hummanitarian Assistance). Bahasa Rusianya bagus sekali karena ia melewatkan waktu bertahun-tahun sebagai insinyur di Uzbekistan dan beberapa bulan di Turkmenistan. Sering kali ia lebih suka berbicara dalam bahasa Rusia daripada bahasa Dari dengan saya. Bahasa Inggrisnya pas-pasan. “Waktu zaman Taliban dulu, sewa rumah tak sampai 40 dolar. Sekarang, sudah ratusan dolar per bulannya.” Tetapi itu bukan berarti hidup di zaman Taliban lebih mudah. Walaupun harga murah, tetapi orang tak punya uang. Tak ada pekerjaan. Dan semua dirundung ketakutan. “Siapa yang tak takut, potongan tangan digantung di pohon, untuk memperingatkan orang akan kejamnya hukuman bagi para pelanggar.” Obaidullah menceritakan bagaimana Taliban melaksanakan hukum rajam dan gantung di lapangan. “Waktu pertama kali, [...]

March 17, 2008 // 0 Comments

1 2 3 4